chapter · fanfiction · romance

When It Fall { first}


whenitfall
Author : Han Rae In

Title     : When It Fall (first chapter)

Length : Chapter

Genre : Romance, Life, Sad

Rating : NC-17

Cast : – Park Jiyeon
– Cho Kyuhyun

Halooo…aku muncul lagi setelah setahun hilang..eh apa lebih ya? pokoknya udah lama. Ini chapter dan aku janji bakal sampai finish buat yang ini, serius…kok kalian ngga percaya gitu sih? soalnya ini spesial aku jadiin hadiah buat sahabat aku, Kim Il Sung-ssi yang makin dewasa, makanya aku buat ratingnya nc-17 ahaha hadiah kedewasaan :p
buat Kim il sung-ssi, terima kasih ya supportnya selama ini 🙂

~~~

When It Fall

Tak ada musim lain yang bisa mengalahkan aura melankolis dari musim gugur. Belaian angin berhembus penuh perhitungan. Juga daun yang tak sanggup lagi bertahan dan memilih memasrahkan diri dibawa angin sungguh mampu menekan titik sensitif dihati terdalam manusia.
“Huft.” Seorang gadis mendesah pelan diantara pepohonan disepanjang trotoar. Ia membiarkan saja tubuh yang kurus itu hanya terbalut cardigan tipis tak bermerk hingga memberikan kebebasan bagi udara dingin menyapa kulit pucatnya. Namun ia tidak peduli sama sekali. Rasa dingin ini bahkan tak sampai setengah dari dingin yang dulu pernah hampir membunuhnya dimusim dingin tahun lalu saat ia dan Jin goo –adiknya – diusir dari rumah sewa.
Hidup seorang Park Jiyeon memang tidak pernah lepas dari jerat masalah keuangan yang membelenggu. Kehilangan orangtua saat ia masih sangat muda membuat gadis itu selalu bekerja keras dan mandiri, terutama ketika ia tak sendiri melainkan harus membesarkan jin goo juga yang saat itu masih bayi . Sejak dulu ia seperti sudah terlatih menentukan apa yang harus dilakukan dan mana yang tidak, apa yang penting dan tidak penting, termasuk membuang jauh keinginannya dan hanya memenuhi apa yang dibutuhkan saja.
Biasanya ia akan menimbang-nimbang dengan matang juga menghitung secara rinci untung ruginya melalui sudut pandang terbaik. Namun masalah kali ini berbeda. Tak peduli sudah berapa puluh kali ia mencoba memikirkannya,ia tetap tak bisa memilih, meski dirinya sendiri tahu ia harus.
“Haah..” lagi-lagi yang bisa keluar dari bibir tipisnya hanya seuntai lenguhan sarat rasa putus asa. Sungguh pilihan yang terlalu berat untuk gadis yang baru saja menginjak usia 24 bulan lalu itu. Jiyeon tahu jelas semua haruslah dikorbankan jika menyangkut hidup dan mati Jin Goo, tapi dilain sisi sulit baginya melanggar prinsip yang selalu membentenginya untuk selalu berada dijalan lurus.
Secara alami sepasang kakinya berhenti melangkah tepat dimuka jalan karena lampu lalu lintas yang menunjukkan merah untuk pejalan kaki. Membuatnya memiliki 60 detik luang untuk kembali menyuarakan kalimat ‘eotteohkke’ yang menggema dan memenuhi seluruh ruang diotaknya. Hingga ia tanpa sadar memandangi seseorang di seberang jalan sana.
Pria penjaga minimarket pinggir jalan yang baru saja keluar dari pintu kaca tokonya dengan sekotak kecil susu tawar ditangan. Pria itu lalu menghampiri satu pohon yang ada didepan tokonya dan berlutut disana. Tangannya sesekali bergerak menyentuh sesuatu yang tersembunyi dibalik pohon, membuat jiyeon yang tertarik agak menggeser tubuhnya 3 langkah kekiri agar mendapat posisi sempurna untuk memuaskan rasa penasarannya.
Gadis itu cukup terkejut mendapati seekor kucing kampung-lah yang sesungguhnya dibelai lembut pria itu sejak tadi sementara binatang berbulu itu menjilati kotak susunya dengan begitu tenang. Terhitung sudah 3 tahun sejak kakek Han yang sebelumnya menjaga toko itu meninggal pria berkacamata itu bekerja disana. Sepertinya hanya sambilan, karena terkadang pria itu tak ada dibalik meja kasir saat Jiyeon berbelanja beberapa mi instan.
Dalam diam pandangan Jiyeon tak juga lepas dari pemandangan yang entah kenapa membuat pikirannya lebih tenang. Bahkan hatinya terasa lebih ringan. Seperti angin musim gugur membantunya menerbangkan segala beban yang berserakan disana lalu mengangkat tinggi-tinggi dirinya. Begitu tenang dan memancingnya untuk menggurat seulas senyum. Ia sudah memutuskan. Persetan dengan prinsip atau egonya, Jiyeon mengutamakan kesehatan sang adik yang tak bisa menungu lebih lama untuk dibawa keatas meja operasi.
Lampu sudah berwarna hijau, namun alih-alih menyeberang, Jiyeon justru membalik kembali badannya lalu berlari secepat yang ia bisa. Tekad dihatinya sungguh tak bisa ditunda, karena ia tahu pasti akan kembali ragu jika bukan sekarang. Sekilas ia melihat jamnya, pukul 8.30 malam.
“Kutunggu keputusanmu sampai jam 9 malam ini. Jika lewat, kuanggap kau mundur.”
Perkataan Hyeri tadi siang terus berdengung ditelinganya, membuatnya harap-harap cemas semoga ia belum terlambat.
Jiyeon tak sedikitpun menyadari seseorang yang diperhatikannya sejak tadi kini balik menatap dirinya yang tengah berlari. Pria tinggi berkulit pucat dengan air mukanya yang selalu datar itu kini menampakkan ekspresi bertanya-tanya. Sejurus kemudian ia menghentikan belaiannya pada anak kucing untuk sekedar menoleh pada jam tangan casio usang yang bertengger ditangan kanannya. Jam 8.30 malam.
“Bukankah seharusnya gadis itu sudah menyeberang jalan dan mampir ke toko ini?” tanyanya pada kucing kecil berbulu abu-abu tipis yang tak peduli apapun selain pada susu dihadapannya. “Kau tidak mau menjawabku? Baiklah, nikmati saja susumu itu.” Imbuhnya lalu berdiri hendak masuk kembali kedalam mengingat ia keluar ruangan hanya dengan kaos yang tak membantunya menahan dingin.
“Kemana gadis itu pergi sebenarnya?” tanyanya sungguh ingin tahu. Bukan hanya penasaran, tapi memang rasa khawatirnya yang berlebihan untuk gadis yang bahkan namanya saja ia tidak tahu meski 3 tahun belakangan mereka sering bertemu. Setelah sempat berhenti beberapa saat didepan pintu, akhirnya ia memutuskan benar-benar masuk kedalam. Meski sebelumnya menoleh sesaat untuk sekedar melihat punggung sang gadis yang sudah tak terlihat.

~~~

Song Hyeri berdecak kagum kala sesosok wanita beringsut keluar dari ruang ganti seraya menunduk malu. Park Jiyeon selaku objek disana hanya berdiri mematung dengan helaian rambut menutupi sebagian wajahnya, tak tahu harus bertindak atau berkata apa saat Hyeri asyik memutari dirinya untuk menilai penampilan barunya dari segala sudut pandang. Gaun hitam pipa sebatas paha dengan potongan dada melebar sampai ujung tulang selangka namun bertangan panjang itu sungguh melekat dengan sangat baik ditubuh proporsionalnya.
“Kau tahu Jiyeon-ssi? Kau yang tercantik diantara semua.” Puji gadis berambut pirang sebahu itu mengangkat dua jempolnya sebatas dagu. Mendapat pasokan percaya diri, Jiyeon menegakkan tubuhnya lalu tersenyum hangat membalas pujian Hyeri. “Omo omo, jangan tersenyum seperti itu. Aku bisa jatuh cinta padamu nanti.”
“Hyeri-ssi kau membuatku takut.” Jiyeon menyilangkan kedua tangannya didada, berpura-pura takut akan candaan Hyeri. Keduanya tertawa renyah sedetik kemudian.
“Tapi Jiyeon-ssi, kau yakin mau melakukan pekerjaan ini?” wajah sumringah itu sekejap berganti pilu. Sesungguhnya Hyeri menyesal pernah menawarkan pekerjaan sebagai wanita penghibur ini kepada Jiyeon. Saat itu ia hanya asal bicara karena tak menyangka teman sekelasnya saat SMA itu akan memikirkannya dengan serius. Gadis berpikiran lurus seperti Jiyeon tak akan mungkin menerima tawarannya, begitu pikir Hyeri. Namun siapa sangka himpitan ekonomi bisa merubah cara pikir gadis itu?
“Kau sudah bertanya itu lebih dari 10 kali hari ini Hyeri-ssi.” Ucap Jiyeon menenangkan.
“Kau yakin? Walau harus bersabar dengan pria hidung belang itu, juga kalau –“
“Aku yakin. sungguh. Walau harus bersabar dengan para pria mesum itu, merelakan tubuhku dijamah oleh orang yang tidak kukenal, atau dimaki habis-habisan jika sedang sial dan istri pria itu datang kerumahku. Aku sudah siap, Hyeri-ssi. Terima kasih sudah begitu mengkhawatirkanku.” Dengan cepat Jiyeon memotong perkataan temannya itu dan mengakhirinya dengan senyum bermakna ‘aku baik-baik saja’.
Hyeri sendiri tak menyadari sejak kapan cairan bening sudah menggenang dipelupuk matanya, yang pasti ia begitu kagum pada ketegaran Jiyeon. Mengalihkan sesaat wajahnya untuk sekedar memaksa masuk airmatanya Hyeri berpura-pura menutup wajahnya dengan tangan dan menyuruh Jiyeon menghitung mundur dari angka 5. Gadis itu membual bisa membuat suasana kembali ceria setelah hitungan itu habis.
“Aigo..atmosfer suram sama sekali tidak cocok denganku.” Sahut Hyeri menggerutu sambil menarik tangan Jiyeon agar segera duduk sehingga ia bisa memoles wajah polos gadis itu dengan make up yang sesuai. Kuharap orang sepertimu mendapat segala yang terbaik Jiyeon-ssi, dan semoga itu tak lama lagi, bisik Hyeri dalam hatinya sebelum mulai menata rambut Jiyeon.

~~~

Pintu berukir itu terdorong kedalam diikuti masuknya 5 perempuan cantik. Park Jiyeon ada diurutan paling belakang, namun ia merasa 5 pasang mata laki-laki ‘penyewa’ mereka seperti hanya tertumpu padanya. Atau bisa jadi itu hanya perasaannya saja. Bagaimanapun dia hanyalah seorang pendatang baru di dunia ini. Karenanya gadis itu diam ditempat sementara 4 wanita yang masuk bersama dengannya tadi sudah menghambur duduk disamping pria-pria itu.
Jiyeon sendiri tidak mengerti sistem pembagian siapa menemani siapa disini, tapi yang jelas dia menuruti perintah seorang eonni untuk duduk disisi pria yang duduk dibagian tengah sofa setengah lingkaran itu. Jantungnya berdegup kencang seiring langkahnya mendekati pria berwajah rupawan tersebut. Bukan. Degupan ini bukanlah degupan menyenangkan karena rasa takutlah yang memompanya. Ia begitu gugup terutama ketika matanya menatap senyum miring pria itu.
“Kau beruntung bisa menemani si tampan Yunho dimalam pertamamu.” Bisikan Nana yang memang duduk disebelah Jiyeon. Ia tersenyum sambil melirik pada pria berambut hitam pekat disisi kanan Jiyeon, mengatakan kalau pria itulah yang ia maksud.
Sesi pengenalan diri dimulai dan saat giliran Jiyeon tiba 4 pria selain Yunho tak henti-henti menatap lapar juga melempar pertanyaan yang terkadang terlalu pribadi padanya. Mereka bahkan tak segan memuji bagian-bagian tubuhnya. Sementara Jiyeon tak menjawab apapun dan hanya memasang senyum.
“Jadi ini malam pertama kau bekerja, Jean Park?” Belum terlalu akrab dengan nama ‘malam’nya Jiyeon lantas menoleh cepat. “Y..ye? ah iya, ini pertama kalinya bagiku.” Jawab Jiyeon kaku. Mengucapkannya begitu pelan seakan berkata pada diri sendiri. Nyatanya ia memang sedang memberitahu tubuh dan pikirannya untuk cepat beradaptasi.
Sekali lihat pun, pria penganut one night stand seperti Yunho sudah tahu Jean Park atau Jiyeon adalah seorang perawan. Bahkan bibir yang dipoles lipstik warna peach itu diyakininya belum terjamah siapapun. Gadis ini begitu murni, pikirnya. Dan ia sungguh bukan orang yang baik bagi gadis itu untuk melewati pengalaman pertamanya. Tapi ia juga tak bisa melepaskan tangkapan bagus seperti Jiyeon pada temannya yang lain. Ditambah semua yang ada pada diri gadis itu benar-benar membangkitkan hasrat prianya.
“Mau merayakannya ditempat yang lebih private?” tawar Yunho berbisik ditelinga Jiyeon, sementara tubuh gadis itu menegang karenanya. Bertanya-tanya dalam hati apa sudah saatnya untuk melepas mahkota berharganya. Secepat itukah?
Apartemen dilantai 17 itu tergolong mewah dilihat dari furniture juga desain interiornya yang Jiyeon yakin seorang desainer pasti dipekerjakan untuk itu semua. Namun ia tak diberi kesempatan untuk melihat-lihat karena Yunho yang langsung menyergapnya setelah sebelumnya disuguhkan kopi. Ia terhimpit diantara dinding, tubuh kekar Yunho, dan ciuman panas pria itu. Jiyeon hampir kehabisan nafas jika saja dorongannya tidak cukup kuat mendorong yunho menjauh. Tidak jauh sebenarnya karena wajah mereka hanya terpaut jarak sekitar 10 senti.
Setelah dirasakan nafas gadis itu mulai teratur, Yunho kembali mendekatkan wajahnya pada wajah Jiyeon dengan fokus utama bibir terbuka gadis itu. Tapi pria itu hanya bisa menggeram kala Jiyeon justru menolaknya secara tidak langsung dengan menggerakkan kepalanya kekiri. Mengubah haluannya, kini Yunho disibukkan membaui kulit leher Jiyeon yang begitu putih. Ia bisa sangat bebas melakukannya karena potongan gaun juga kepala Jiyeon yang masih menengok kearah lain.
Disisi lain setetes cairan asin meluncur bebas dipipi mulus Jiyeon. Gadis itupun tak mengerti kenapa, tapi ia tahu apa yang kini dilakukannya adalah hal yang salah dan itu bertentangan dengan nuraninya. Karena itukah dirinya menangis? Atau lebih karena keegoisan mengetahui sesuatu yang seharusnya dipersembahkan untuk masa depannya nanti telah terenggut oleh pria lain?
“Ah…” Jiyeon tak bisa menjawab pemikirannya sendiri karena tangan Yunho yang menjambak kasar rambut panjangnya agar menengadah sehingga pria itu lebih leluasa bermain dilehernya. Setetes lagi airmata keluar dari ujung mata cantiknya, disusul kemudian tetesan lain. Jiyeon berakhir menengadah dengan mata terpejam penuh airmata.
“Berhenti.” Kata Yunho penuh intimidasi. Laki-laki pemegang saham terbesar disalah satu perusahaan raksasa itu semakin mencengkeram bahu rapuh Jiyeon, mengguncangnya berkali-kali seraya meneriakkan kalimat yang sama sejak tadi. “Berhenti menangis kubilang, sialan!”
Kalau bisa, Jiyeon pasti sudah menahan lelehan airmata itu tapi pada dasarnya ia tak kuasa. Hingga dibiarkan saja cairan itu menerobos pertahanannya.
Plak.
Diluar kesadaran Yunho sendiri telapak tangannya tergerak keatas lalu menghantam pipi tirus Jiyeon dalam satu tamparan keras. Begitu panas. Juga perih. Tapi mati rasa lebih dominan menyelubungi perasaannya. Aneh, pipinya yang ditampar lantas kenapa hatinya yang terluka? Kenapa paru-parunya yang tidak bekerja normal sampai tak ada oksigen yang terambil dan menyesakkan rongga dadanya? Pria itu bahkan bukan siapa-siapa. Kenapa dia harus merasa kecewa yang sangat saat diperlakukan seperti itu?
“Jangan melawan selagi aku masih memintamu dengan senyum, jalang!” umpat Yunho kasar seraya memukul dinding tembk persis disebelah kepala Jiyeon dengan penuh emosi. Sementara gadis itu tak ubahnya seorang yang nyawanya dicabut paksa. Dengan tangis yang semakin menjadi tubuhnya merosot ke lantai akibat kakinya melemas dan tidak sanggup menahan berat tubuhnya.
Jalang? Sekarang Jiyeon tahu kenapa luka dihatinya menganga lebar saat Yunho berteriak padanya. Bukan karena ia kecewa pria itu yang melakukannya. Bukan, sama sekali bukan. Melainkan nuraninya kecewa pada dirinya sendiri karena membiarkan saja harga diri terinjak seperti sampah tak berguna. Miris jika mengulang kembali status barunya sekarang, ‘jalang’.
Yunho menatap gadis dihadapannya iba, ia pun tak memiliki niat bertindak seperti itu tadi. Salahkan temperamennya yang buruk hingga melakukan hal sekasar itu pada gadis ini. Tapi memang sulit bersabar mendapat penolakan dari gadis itu sedangkan hasratnya sudah menggebu-gebu hanya dengan melihat paras cantik Jiyeon.
Menekan segala keinginannya meniduri gadis itu sekarang juga, Jung Yunho menghela nafas kasar. Tak lama setelahnya pria itu menyodorkan sweater Jiyeon dan membukakan pintu untuknya.
“Pulanglah. Pastikan besok kau bekerja dengan benar. Aku bisa menoleransi hanya untuk hari ini, tapi tidak untuk besok.” Itu menjadi ultimatum penutupnya sebelum akhirnya masuk ke satu ruangan disudut sana lalu membanting keras pintu kamar tersebut. Menyisakan seorang Jiyeon yang masih berusaha meredakan tangisnya yang kemudian dengan langkah terseok berjalan menuju pintu keluar.

~~~

Cho Kyuhyun sudah mencapai lebih dari setengah jalan menuju rumah sewanya saat pria itu disadarkan benda pentingnya tertinggal ditempat kerjanya. Bukan gedung perkantoran yang ia maksud, melainkan sebuah ruko sederhana yang dengan hebatnya disulap menjadi minimarket oleh teman baiknya sepanjang masa, Choi Siwon.
Sambil menggerutu kecil ia memaksakan tubuhnya memutar arah. Kalau saja USB itu tak memuat file penting yang harus dipresentasikan besok, kyuhyun pasti tak akan mau repot-repot kembali. Terutama saat cuaca sungguh tidak menunjukkan dukungannya. Apalagi kalau bukan hujan di musim gugur? Pria itu benar tak suka sedikitpun perpaduan antara musim favoritnya dengan siklus alam bernama hujan. Menurutnya sungguh menyebalkan menemukan genangan air disana-sini, atau yang terburuk tanpa sengaja menginjak dedaunan basah yang selalu memercikkan air, mengotori ujung celana kainnya.
Derasnya titik-titik air turun adalah saksi betapa cepat dan lebar langkah kaki pria itu dibawah naungan payung berwarna biru dongker. Ia serius saat bilang harus mendapat skor sempurna dari dosennya saat presentasi besok mengingat celana yang harus dikorbankannya. Berlebihan memang, tapi itulah karakter asli dirinya yang tertutupi dengan begitu apik oleh benda bernama kacamata. Keras kepala, percaya diri, juga jujur. Ah, terlewat jujur tepatnya. Dua belah bibirnya yang berbentuk khas sulit sekali dihentikan jika sudah berargumen. Tak memasukkan bagaimana perasaan lawan bicara kedalam daftar prioritasnya, pria itu hampir selalu menggunakan diksi yang menusuk hati. Begitu terarah, tepat, dan dalam.
Tapi percayalah, tak semua bulat itu sempurna. Setiap manusia pasti memiliki saat-saat dimana ia menjadi bodoh bahkan pada bidang yang sudah seperti bakat alaminya sejak dilahirkan. Tak terkecuali kyuhyun. Pria itu berhenti mendadak kala dari jauh matanya menangkap bayangan anak adam lain tengah berdiri didepan teras tokonya. Kyuhyun jelas tahu berlindung dari dinginnya air hujan adalah sebab yang menjebak gadis itu tetap disana. Ayolah, dirinya tahu itu, tapi kenapa kaki dan lidahnya terasa kaku disatu waktu? Bekerja samakah mereka untuk menjahili sang pemilik raga?
“Double shit.” Desis kyuhyun terasa seperti mantra yang pada akhirnya menggerakkan kedua kaki itu mendekati bangunan minimarket.

~~~

Lamunan yang terus dirajut sepanjang perjalanan pulangnya itu menemui titik akhir sesampainya dua kaki beralas high heels milik Jiyeon berhenti dimuka sebuah minimarket. Melihat rolling door sudah diturunkan pertanda jam operasional yang sudah habis lagi-lagi gadis itu menunduk lesu. Tentu saja, sudah jam berapa sekarang, pukul 12 malam. Ia benar terpuruk dan butuh membeli beberapa batang coklat. Terlanjur berhenti, Jiyeon memutuskan berteduh disana menunggu hujan reda. Walau nyatanya pakaian dan rambutnya sudah setengah basah karna mengabaikan hujan saat melamun tadi.
Pikirannya terlalu kosong untuk saat ini hingga panggilan Hyeri diponselnya pun tak diindahkan. Pastilah teman merangkap sahabat barunya itu akan mencecar dengan banyak pertanyaan yang membuatnya kembali teringat insiden 1 jam lalu. Ditutupnya kembali ponsel samsung model flip berumur 7 tahun itu setelah memastikan benar Hyeri yang menelpon. Jiyeon tahu benar ia belum siap menceritakan ulang apa yang ia rasakan tanpa menangis nantinya.
Alis Jiyeon mengernyit menyadari ada sepasang sepatu coklat berjarak 2 jengkal dari tempatnya berdiri. Membuat gadis itu otomatis menaikkan pandangannya pada sang pemilik sepatu. Seorang pria berkacamata bulat yang ia kenal sebagai pegawai toko tengah berdiri tegak dihadapannya dengan ekspresi tak terbaca.
Tak satupun dari keduanya melempar senyum, namun saling tatap diantaranya terus berlanjut. Seakan-akan itulah cara mereka berkomunikasi. Hingga diakhiri oleh si pria yang mengambil 3 langkah kedepan, membuat Jiyeon melangkah mundur akibat ingatannya yang masih begitu jelas akan kekasaran Yunho. Namun tampaknya Jiyeon salah kali ini. Bisa ia rasakan pria itu melewati bahu kirinya begitu saja lalu tak lama setelahnya terdengar suara berisik dari rolling door yang dibuka.
Melalui ujung matanya yang sembab Jiyeon bisa melihat pria itu sedang terfokus memasukkan kunci kedalam lubangnya. Setelahnya gadis itu tak tahu lagi karena pikirannya yang terasa menghambur kemana-mana.
“Igeo.” Yang Jiyeon tahu ia sedang menatap genangan air dibawah sana saat seseorang menyodorkan dua batang coklat padanya. Dia lagi.
“Itu barang mendekati expired. Jadi sebelum tidak berguna lebih baik aku bagikan.” Imbuhnya seakan mengerti manakala mulut jiyeon hendak membuka.
“Ah, geurae? Kamsahamnida euhm..”
“Cho Kyuhyun. Itu namaku.” Ujar Kyuhyun cepat. “Dan siapa namamu nona?”
Ada jeda sesaat sebelum gadis itu mendesis pelan. “Jiyeon. Park Jiyeon.”
Kyuhyun terpaku beberapa detik, memberi waktu bagi suara halus itu memasuki indera pendengarannya. Sebelum dirinya sendiri sadar, matanya tak lepas memandangi setiap garis wajah Jiyeon. Dahi pria itu berkerut. Ada yang salah dengan gadis itu, mulai dari merah tak wajar di pipi kirinya sampai pakaian yang sangat mengundang.
“Park Jiyeon-ssi, masuklah. Ada kotak P3K didalam. Akan kuobati lukamu.” Tawar kyuhyun datar namun anehnya Jiyeon bisa merasakan kekhawatiran terkandung didalamnya.
“Shireo. Biarkan saja seperti ini.” Jiyeon mengusap ujung bibirnya yang berdenyut karena perih. Ia hanya tak ingin memanjakan tubuhnya sadar hal seperti itu akan sering a alami dimasa depan mengingat pekerjaan baru yang dilakoninya.
Dengusan kesal kentara sekali kyuhyun tujukan pada sifat keras kepala gadis itu yang baru diketahuinya. Ah tidak sebenarnya, itu lebih kepada air mukanya sendiri yang pasti amat kaku dan tak bersahabat bahkan didepan gadis yang sungguh dipujanya itu, hingga Jiyeon menolak niat baiknya.
“Baiklah, terserah saja.” Kyuhyun menurunkan rolling door untuk menutupi tokonya ketika Jiyeon mengalihkan perhatian pada batangan coklat ditangannya. Disana jelas tertulis ‘Desember 2016’. Gadis tu sampai menyipitkan matanya untuk memastikan. Itu masih 2 tahun lagi, lalu kenapa pria itu berbohong dengan berkata ia memberikan coklat karena barang itu hampir kadaluwarsa? Bolehkah Jiyeon berpikir pria itu memang peduli pada dirinya hingga hafal apa yang sering dibelinya saat gundah? Oh Tuhan, seseorang harus menyadarkannya kalau pria-pria seperti itu hanya ada dalam layar kecil drama. Tidak didunia kejam yang menyiksanya ini.
“Pakailah payung disebelahmu itu, kembalikan saat kau ada waktu. Aku duluan.” Pesan kyuhyun seraya membuka payung lain yang ia ambil dari dalam. Jiyeon melirik setongkat payung yang teronggok tepat disebelah kakinya. ‘Pria ini memang sengaja dari awal,’ pikirnya. Tapi untuk apa? Pribadi dingin seorang kyuhyun sama sekali tidak mungkin melakukan hal-hal terlampau baik itu pada sembarang orang. Itu berarti…
“Cho Kyuhyun-ssi.” Panggilan Jiyeon cukup keras untuk Kyuhyun membatalkan niatnya mengambil langkah kelima. Agak terkejut di awal namun sebisa mungkin mengendalikannya, ia membalik tubuhnya.”Wae?”
Jiyeon menarik nafas dalam dan menahannya sambil menutup mata.
“Apa kau punya 20 juta won?” ungkap gadis itu akhirnya membuang udara yang sedari tadi mengendap di paru-parunya. Perlahan ia mengangkat kepalanya untuk sekedar melihat reaksi Kyuhyun. Tak ada perubahan sedikitpun pada ekspresinya kecuali binar dimata bulatnya yang seperti bertanya-tanya heran.
“Ah apa yang kutanyakan. Aku bodoh menanyakan hal seperti itu padamu.” Tandas Jiyeon sambil terburu-buru membuka payungnya.
“Bagaimana kalau aku punya?” seru Kyuhyun sengaja dengan volume tinggi agar menyaingi gemuruh hujan. Jiyeon yang baru saja melangkah tentu mematung dibuatnya, tergagap.
“N-ne?”
“Kubilang aku punya 20 juta won itu. Jadi kau akan membiarkan aku mengobati lukamu?” timpal kyuhyun sungguh diluar dugaan. Ringan sekali pria itu berbicara dengan sebelah tangan disurukkan kedalam saku.
“Kau bercanda.” Lirih Jiyeon menghalau rasa percaya yang hampir saja terbangun. Sekali dia disadarkan oleh akal sehatnya . Kyuhyun hanya seorang penjaga minimarket, dan tak ada alasan bagi pria itu untuk memiliki nominal sebesar yang disebutkannya tadi. Itu hampir mustahil.
“Ikuti aku kalau kau masih membutuhkan uang itu.” Acuhnya tak menerima penolakan. “Kenapa diam?” tanya pria itu lagi mendapati sang gadis tidak berpindah posisi sedikitpun.
Jiyeon menggigit bibir bawahnya seraya menunjuk pada heels sepatunya yang goyah karena patah. Sudah menjadi sesuatu yang bagus ia bisa sampai disana dengan langkah terseok sejak tadi dan sakit akibat terkilir yang mengganjal kakinya. “Apa itu jauh? Rasanya aku tidak sanggup jika harus berjalan lebih jauh lagi.” Keluh gadis itu untuk pertama kalinya menunjukkan sisi manja yang sungguh membuat Kyuhyun menahan senyum melihat betapa manis gadis yang diam-diam mencuri hatinya itu.

~~~

Begitulah kiranya percakapan pertama mereka yang berakhir menuntun Jiyeon sampai didepan pintu rumah Kyuhyun. Seperti kebanyakan rumah sewa, tempat tinggal pria itu baru bisa dicapai setelah meniti anak tangga yang membentuk zigzag dibagian luar bangunan. Tumpukan batu bata menghiasi dinding-dindingnya yang kokoh, tampak sengaja tak ditutup dengan lapisan semen untuk menonjolkan kesan tua dan hangat yang begitu terasa. Namun jiyeon tak mau terpengaruh suasana nyaman disekelilingnya dengan tetap menjaga jarak 5 langkah dibelakang Kyuhyun.
Bersikukuh menetap diujung anak tangga sembari memandang lekat pria itu yang nampak seperti siluet akibat bias cahaya kuning lampu diatasnya. Pria yang menggendongnya dipunggung sepanjang perjalanan mereka untuk sampai kesana sementara ia bertugas memegangi payung yang melindungi tubuh mereka berdua. Tidak adanya jarak membuat hidung gadis itu tak bisa menepis aroma tubuh Kyuhyun yang harus diakui membuatnya tenang. Sekali lagi otaknya memutar rekaman sepanjang perjalanan itu tanpa persetujuan darinya.
“Kau mau sampai pagi berdiri disana?” tegur Kyuhyun yang ternyata sudah membuka lebar pintu, membuyarkan lamunannya.
Jiyeon mengedarkan pandangannya setelah sebelumnya melepas sepatu dan menggantinya dengan sandal rumah yang ada. Aroma maskulin menenangkan yang sudah sangat familiar di pembauannya menyeruak semakin tajam semakin kakinya memijak lebih dalam. Dengan susah payah tentunya mengingat memar pada pergelangan kaki itu terasa lebih sakit dari sebelumnya.
Gadis itu baru saja mengambil tempat duduk di meja makan kecil yang memiliki hanya dua kursi saat dilihatnya kyuhyun menarik satu kursi lain untuk diletakkan tepat disebelah kursi yang didudukinya, nyaris tak berjarak. Kotak P3K entah sejak kapan sudah ada dimeja kecil disana.
“Akan sulit mengobatinya sendiri, jadi aku membantumu.” Tangkas Kyuhyun membaca gerak bibir Jiyeon yang menyuarakan keberatannya. Setelah mengucapkan kalimat singkat itu tangan Kyuhyun sudah bergerak cepat menekuni robekan kecil dibibir jiyeon hingga gadis itu tak memiliki kesempatan menghindar.
Sadar tak bisa menolak lagi, gadis itu membiarkan saja jari-jari kyuhyun dengan cekatan memberikan antiseptik pada ujung bibirnya. Detik-detik itu terasa panjang bagi jiyeon yang kini merasakan debaran dibagian sekitaran dada. Bagaimana tidak, jika kyuhyun terus memoles jel tipis di permukaan pipinya dengan mata yang terpaku padanya. Seakan mengurung gadis itu dalam-dalam lewat tatapan teduhnya. Merasa tak sanggup lagi, jiyeon memilih memejamkan saja kelopak matanya. Rasanya itu lebih baik ketimbang terus menerus menantang kedua mata indah Kyuhyun yang tak terhalang kacamata. Ya, pria itu memang melepas kacamata bulatnya entah sejak kapan, karena Jiyeon pun baru menyadarinya.
Tanpa sepengetahuan Jiyeon, Kyuhyun bersyukur dalam hati bisa memandangi wajah gadis itu dalam jarak begitu dekat. Menikmati momen dimana jantungnya bertalu begitu keras hanya dengan menyentuh lembutnya kulit wajah Jiyeon. Pria itu harus mengingatkan dirinya sendiri untuk terus berlaku dingin sebagai pengalih agar ia tidak tersenyum lebar. Ini pertama kalinya mereka berinteraksi dan Kyuhyun tidak ingin menghancurkannya dengan tersenyum bahagia sepanjang waktu dan berakhir membuat gadis itu memandangnya jijik. Setidaknya itu yang ia pelajari ketika wanita-wanita dikampusnya selalu berusaha mencuri perhatiannya dengan tersenyum begitu lebar. Itu justru membuatnya muak, bukan tertarik.
Sudah cukup, gadis itu tak boleh lebih lama lagi ada dihadapannya, atau ia akan melakukan sesuatu diluar akal sehat. “Igeo. Tulis sendiri nominal yang kau butuhkan. Aku sudah menandatanganinya, jadi itu bisa dicairkan setelah 1×24 jam.” Selembar cek kosong disodorkan pria itu diatas meja.
Jiyeon termangu. Menimbang-nimbang kiranya asli atau tidaknya cek itu. Sulit dipercaya jika memang cek itu asli. Tapi gadis itu bisa melihat kesungguhan dari ekspresi tegas pria dihadapannya. “Berapa saja boleh? Aku akan mengisinya dirumah saja kalau begitu.”
“Aku pasti akan mengembalikannya secara berkala. Tapi…bukankah seharusnya kau memintaku melakukan sesuatu sebagai ungkapan terima kasih?” ujar Jiyeon menawarkan diri. Murahan memang, namun sebelumnya tak pernah semudah ini seseorang membantunya. Ia terbiasa melakukan pekerjaan kasar untuk yang lain atau bahkan yang terakhir kali, hampir ia menjual tubuhnya.
Dilihatnya kyuhyun menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi seraya menghela nafas, berpikir sepertinya. “Tidak, itu tidak perlu. Lagipula memangnya apa yang bisa kau lakukan sebagai ungkapan terima kasih? Kau juga tidak punya apa-apa.” Sahutnya. Sedikit demi sedikit Jiyeon mulai bisa membaca sifat arogan Kyuhyun.
“Baiklah, aku pamit pulang. Aku akan menghubungimu saat aku punya uang untuk mencicilnya.” Kata Jiyeon akhirnya, agak limbung ketika beranjak dari duduknya.
“Tunggu. Kapan terahir kali kau makan Jiyeon-ssi?” tangan Kyuhyun sudah mencekal lengan gadis itu. Matanya menyipit menunggu jawaban Jiyeon.
“Makan? Sepertinya kemarin pagi? Atau kemarin siang? Aku tidak yakin.” dengan polosnya gadis itu sibuk mengingat-ingat. Sementara Kyuhyun menghembuskan nafasnya berat seakan berkata ‘sudah kuduga’.
“Kalau begitu aku berubah pikiran. Kau harus makan denganku sebagai ungkapan terima kasih. Apa kau keberatan?”tanya Kyuhyun langsung membimbing Jiyeon ke sofa kecil berhadapan dengan layar televisi, jelas tak menerima penolakan. Secara tidak langsung menyuruh gadis itu menunggunya menyiapkan makan malam.

~~~

Riuh rendah suara layar datar 21 inch berhasil mengusik nyenyaknya alam bawah sadar seorang Cho Kyuhyun. Perlahan kelopak matanya membuka begitu asing karena harus menyesuaikan dengan pendar cahaya dari televisi yang berubah, kadang redup kadang terang. Berhasil menegakkan diri dengan sepenuhnya sadar, pria itu lantas teringat akan seorang perempuan yang seharusnya tengah tertidur disisi lain sofa. Namun nihil, seberapa pun ia meraba dudukan sofa disebelahnya, tak ada apapun. Hanya ada dirinya disana yang mengacak kesal rambutnya sendiri. Menyesali keteledorannya yang tertidur karena terlalu nyaman ada gadis itu didekatnya.
Kyuhyun melirik jam dinding yang tergantung tak jauh diatas televisi. Satu jam lamanya ia tertidur. Sudah pukul 2 malam sekarang, itu artinya gadis itu sudah keluar dari rumahnya diwaktu antara pukul 1 dan 2. Park Jiyeon berjalan seorang diri membelah gelapnya malam menyusuri gang-gang kecil dengan pakaian memabukkan itu? Ya Tuhan, memikirkannya saja sudah berhasil membuat Kyuhyun mengeraskan rahangnya karena kesal juga takut. Sungguh, ketakutannya itu pula yang akhirnya membawa gadis itu mampir kerumahnya malam ini. Ia takut gadis itu dijahati orang ditengah perjalanan, dan ia benar tak akan memaafkan dirinya sendiri jika itu terjadi.
Memaksakan diri untuk menapakkan kaki pada lantai kayu, Kyuhyun melangkah kearah dapur. Ia butuh segelas air untuk tenggorokannya yang tiba-tiba terasa kering menyadari hujan yang belum berhenti diluar sana. Lagi-lagi bayangan akan park Jiyeon mengusiknya. Bahkan halusinasinya mulai berlebihan dengan memunculkan sosok gadis itu tengah tertidur pulas dengan bantalan lengannya sendiri diatas meja makan. Pakaian yang menempel ditubuhnya bukan lagi pakaian laknat sebelumnya, melainkan jaket hijau gelap milik Kyuhyun yang tentu saja jadi tampak agak besar ditubuh Jiyeon.
“Huuh…sadarlah Cho Kyuhyun. Kau mulai melewati batas.” Dia memijit pelipisnya cukup keras. Berusaha tak mengindahkan delusinya, namun tak kuasa. Pada akhirnya kedua kaki itu menolak diajak berjalan menuju lemari es dan lebih memilih berdiri diam disamping meja makan. Persetan dengan logika, tangan pucatnya tergerak menyentuh helaian rambut halus yang menutupi sebagian wajah mungil gadis itu. Dahi Kyuhyun dibuat mengerut kala menyadari tangannya benar menyentuh sesuatu. Itu berarti gadis ini benarlah Jiyeon-nya. Bukan imajinasi semata.
Hampir saja Kyuhyun melompat girang karenanya, namun wajah Jiyeon yang terlihat begitu damai berhasil menahan pria itu. Jemari panjang Kyuhyun pun semakin berani mengusap pelan pucuk kepala Jiyeon yang terasa lembut seperti yang sering dibayangkannya. Sesekali menyelipkan anak rambut yang dengan lancang menutupi pemandangan indahnya. Betapa tuhan begitu sempurna menciptakan makhluk dalam pandangannya ini.
“Eungh…” erang Jiyeon akhirnya terusik. Butuh perjuangan bagi gadis itu untuk sedikit membuka kelopak mata juga menegakkan tubuhnya yang terasa kram karena posisi tidur yang kurang nyaman. Jiyeon cukup terbelalak menemukan seorang Kyuhyun tengah berdiri disampingnya dengan senyum terukir. Terkejut, namun tak membuat kontak mata diantara keduanya berakhir.
“Kenapa belum pulang heum?” tanya Kyuhyun begitu lembut.
“Ttadi..tadi kau yang menyuruhku untuk mengeringkan pakaian dulu sebelum pulang.” Ungkap Jiyeon parau. Sekelebat ingatan membuat Kyuhyun merutuki dirinya sendiri. Memang ia yang menyuruh gadis itu mengeringkan diri dulu. Dirinya juga yang memberikan hoodie tebal ber-ritsleting sebagai pakaian sementara Jiyeon sampai bajunya selesai dijemur.
“Apa disini dingin?” tanya kyuhyun tiba-tiba kala menyadari ada semburat merah menyebar disekitar pipi gadis itu. Jiyeon menggeleng. Namun Kyuhyun yang yakin pada instingnya bahwa ada yang salah, langsung mendekatkan wajahnya pada wajah Jiyeon.
“Wae?” tanya jiyeon gugup. Saat itu juga kyuhyun menampakkan senyum miring yang berusaha ia samarkan. Tepat dugaannya. Bau khas dari wine, minuman favoritnya itu tercium kala jiyeon membuka mulut.
“Kau tidak seharusnya mencuri wine orang lain nona.”
Setelahnya Kyuhyun tak bisa lagi mengontrol dirinya sendiri yang kian membungkuk, mengikis jarak antara wajahnya dan wajah gadis itu. Gemas sendiri karena Jiyeon yang bersikeras menundukkan kepalanya, pria itu menggunakan jemarinya membimbing agar mata mereka bertemu. Jiyeon yang sudah membaca apa yang akan dilakukan Kyuhyun hanya memejamkan matanya pasrah. Dia memang agak mabuk, tapi bukan berarti dia bodoh. Bisa saja jiyeon mendorong kyuhyun saat itu juga, tapi ia sadar dan cukup tahu diri kyuhyun sudah mempercayakan uang bernilai besar padanya tanpa embel-embel apapun. Jadi tak masalah jika itu hanyalah sebuah ciuman. Bahkan jika pada akhirnya menuntun keduanya berbuat ‘lebih’ dari itu pun, Jiyeon sudah menyiapkan dirinya. Setidaknya dia melepaskan sesuatu berharganya pada orang yang dianggap tepat.
Jiyeon tak bisa melanjutkan pemikiran yang bersarang dikepalanya ketika bibir pria itu bertemu dengan bibirnya. Hanya berpapasan satu sama lain, namun rasanya gadis itu akan meledak kurang dari 5 detik lagi. Nyatanya jiyeon hanya melebih-lebihkan. Ia masih bertahan disana bahkan setelah ada pergerakan dari material basah itu yang memainkan bibirnya perlahan. dirinya yang tanpa pengalaman juga tahu ada perasaan terselip diantara kegiatan mereka.
Ciuman itu begitu lembut dan Jiyeon bisa merasakan dirinya dihargai sebagai wanita. Itu juga yang membuatnya bergerak dibawah perintah hati dan bukan akal sehat. Membalas setiap perlakuan Kyuhyun pada dirinya dengan rasa menggebu yang sama. Jiyeon bahkan sudah berdiri dari duduknya agar memudahkan posisi Kyuhyun. Dia pasti sudah gila.
Kyuhyun sendiri seperti tak berminat menyudahi apa yang ia mulai. Dirinya tergila-gila akan rasa manis wine yang menempel lekat dibibir Jiyeon seperti candu baginya. Namun oksigen yang sudah menipis memaksanya melepas tautan diantara mereka.
“Hosh..hosh..hosh..” nafas keduanya bersahutan satu sama lain dengan jarak yang masih terhitung dekat. Kyuhyun dibuat takjub menyadari posisi mereka yang tidak bisa dikatakan aman. Tangannya sudah merengkuh bagian pinggang Jiyeon tanpa permisi. Tak berbeda dengan kedua tangan gadis itu yang bertengger dibahu miliknya, ada bekas remasan disana sebagai bukti pelampiasan gadis itu tadi.
Namun itu baru sebagian kecil. Yang tak bisa Kyuhyun percaya adalah dirinya tanpa sadar sudah membuka ritsleting jaket yang dipakai Jiyeon sampai bawah dada serta menurunkan benda itu sampai batas lengan. Memperlihatkan bahu putih gadis itu yang mengundang iblis jahat meracuni pikiran pria manapun.
“Ambil saja…k-keperawananku, Kyuhyun-ssi. Hanya itu yang paling berharga milikku yang bisa kuberikan padamu.” Desis Jiyeon seperti pukulan keras bagi akal sehat Kyuhyun untuk kembali pada tempat seharusnya. Pria itu dengan cekatan menarik tangannya dari pinggang Jiyeon. Dilanjutkan dengan merapikan jaket itu kembali seperti semula lalu menaikkan ritsletingnya sampai bawah dagu. Tak berhenti sampai disitu, Kyuhyun juga membungkus kepala Jiyeon dengan tudung jaket yang semula menganggur.
“Astaga, apa yang aku lakukan?” desah Kyuhyun frustasi. Matanya menatap ke segala arah karena terlalu bingung. Menyisakan jiyeon dengan ekspresi bertanya yang sangat kentara. Apa kyuhyun sangat menyesal hampir saja menyentuhnya? Apa dirinya tak pantas sampai pria itu bereaksi sedemikian berlebihan?
Entah kenapa sesak didada Jiyeon timbul begitu ia memikirkan Kyuhyun tak menyentuhnya lebih jauh karena dirinya yang rendahan. Astaga, mata Jiyeon sudah memanas hanya dengan memikirkannya.
Sret.
Tubuh jiyeon tertarik begitu saja oleh tangan kekar kyuhyun yang menghantarkannya pada pelukan hangat pria itu. Mencoba menerka-nerka apa maksud itu semua, jiyeon tak bicara sepatah kata pun. Membiarkan saja suara serak kyuhyun berbisik ditelinganya.
“Maafkan aku. Maafkan aku. Maafkan aku. Aku tidak bermaksud melakukan hal buruk padamu. Sungguh, aku hanya…aku hanya terbawa perasaanku.”
Hening. Namun jiyeon mendengarkan dengan baik meski agak terganggu dengan suara dari kerja jantungnya sendiri yang seakan menggema bersahutan dengan degup jantung pria yang memeluknya.
“Terbawa perasaanku yang sejak lama menyukaimu, Jiyeon-ssi. Maafkan aku.”
Dibalik perpotongan leher Jiyeon, kyuhyun tersenyum senang. Seuntai kalimat ajaib yang sejak pertama kali bertemu gadis itu ia tahan kini tersalurkan dengan baik. Garis senyumnya melebar kala merasakan tangan Jiyeon merambat naik menyentuh punggungnya. Gadis itu membalas. Tak ada yang lebih membahagiakan daripada itu bagi kyuhyun untuk saat ini.
“Rasanya hangat. Aku suka.”ujar Jiyeon mengarah pada pelukan Kyuhyun yang seperti melindunginya. Dalam hati kyuhyun bertekad membuat gadis itu bukan hanya menyukai pelukannya, tapi juga semua yang ada pada dirinya. Jangan salahkan jika ia mengerahkan seluruh pesonanya untuk membuat wanita ini tergila-gila sebagaimana dirinya pada gadis itu.
“Karena aku sudah berterus terang, mulai sekarang jangan lagi menahannya seorang diri. Disaat semua terasa melelahkan, jangan sungkan untuk berlari padaku. Kapanpun kau butuh, aku akan selalu merentangkan tanganku untuk menggapaimu. Dan akan selalu bersedia memberikan secara cuma-Cuma pelukan hangatku yang kau sukai ini. Mengerti?” titah Kyuhyun sementara Jiyeon membuat gerakan mengangguk masih dengan posisi saling memeluk erat satu sama lain. Lagi-lagi kyuhyun mengembangkan senyumnya. Entah kenapa ia mudah sekali tersenyum hari ini.

~~~

Terhitung sudah memasuki 3 kali bumi berotasi sejak Kyuhyun merasa dirinya berubah semakin gila setiap harinya. Ada yang salah dalam jiwanya, namun ia bahagia karenanya. Bukankah itu aneh? Tidak. Itu tidak aneh, dia hanya sedang jatuh cinta. Tidak pernah ia merasa sebaik sekaligus bodoh seperti ini sebelumnya. Otaknya selalu berpikir logis, juga bisa menempatkan setiap permasalahan pada ruang yang tepat. Tapi nyatanya sekarang? Bayangan Jiyeon selalu menyempatkan diri singgah dikepalanya, bahkan saat presentasi dihadapan para dosen bergelar sepanjang rangkaian kereta api itu. Akibatnya ia tak henti menjelaskan segalanya dengan terus tersenyum lebar. Positif sebenarnya, mengingat ia dipuji oleh salah satunya karena disangka memiliki minat tinggi pada materi diangkat.
“Kyuhyun-ah.” Suara berat choi siwon baru memasuki pendengaran kyuhyun setelah pria berlesung pipit itu menyerukan untuk yang ke-lima kalinya.
“Wae? Kenapa kau kemari tuan besar choi? Kau mau memantau kinerjaku?” gurau kyuhyun yang memang sedang dalam suasana hati baik. Amat kontras dengan ekspresi kaku diwajah lawan bicaranya meski berusaha ditutupi dengan senyum berlesung pipi miliknya.
Siwon berdeham sesaat lalu mengedarkan pandang ke sekitar. Beruntung tidak ada pelanggan saat ini sehingga percakapan seriusnya dengan Kyuhyun tak akan terpotong. “Kyuhyun-ah, kau tidak bisa lagi bekerja disini.” Siwon mengatakannya dengan ekspresi menyesal.
“Wae hyung?” tergagap Kyuhyun dibuatnya. Jelas masih mengambang karena perubahan yang tiba-tiba. Dari balik counter kasir,matanya menyipit memperhatikan gerak tangan siwon yang memijit pelipisnya sendiri.
“Ayahmu datang menemuiku. Dia bilang sudah cukup selama ini membiarkanmu hidup seperti apa yang kau mau. Dan aku mendengar beliau menyebutkan kau melakukan sesuatu –aku juga tidak tahu apa –tapi dia bilang kau harus mematuhi konsekuensi yang kau buat. Dan ia menyuruhku memecatmu juga memintamu pulang.” Jelas siwon.
“Sial, aku lupa itu.”
Siwon ikut terhanyut melihat pandangan kyuhyun yang mengeras. Meski umur mereka terpaut hanya 2 tahun, ditambah kyuhyun yang tak pernah bersikap sopan padanya, namun siwon sudah menganggap kyuhyun sebagai adiknya sendiri.
“Boleh aku tahu apa yang dimaksud ayahmu soal ‘kau melakukan sesuatu’?”
Tak ada yang keluar dari mulut Kyuhyun, ia hanya menatap lekat iris mata siwon yang berwarna coklat pekat, begitu pula sebaliknya.

~TBC~

komennya aku tunggu..tapi udah baca juga aku udah bersyukur 🙂
maaf kalau typo nya banyak ya…aku ngga cek lagi

29 tanggapan untuk “When It Fall { first}

  1. annyeong author nim izin bca ne….ff mu keren deh…fell nya dapet banget…aku suka aku suka…^^v

  2. ya ampun bkin menangs aj sungguh hdup jiye0n mengharukan dan kyuhyun q ska bgt cra dia mencintai diam memperhatikan tnpa niatan brgerak biar tuhan sndri yg menentukan pertemuan dan itu trjadi ktika jiye0n tanpa sdar brlari mendekatiny tepatny tokony ,o z slam knal q reader bru &kyuye0n shipper akut tepatny haha

  3. keren, >.<
    Hey diriku ketinggalan daebakk aku suka ffnya haha rasa kesal, senang, sdkit nyeri, sedih itu benaran ng'feel bgt daebakk

  4. wow speechless sama hidupnya jiyeon disini.
    anyway menurutku kalo segitu sih yunho lumayan baiklah wkwk
    aaaa suka banget sama kyuhyun disini 😀 ciyeeee yg udah terang-terangan pas pertama kali ngobrol ciyeeeee 😀
    yah apaan tuh yg udah dilakuin kyu? O.o

  5. Perjuangan Jiyi wow jg…
    Kyu udh lama suka ma Jiyi 😊
    Jadi Kyu itu anak orang kaya..?
    Perjanjian apa itu antara Kyu ma appa nya?
    Aku suka ma ff nya 😍

  6. Ya ampun Thor knp semua ff kamu genrenya kayak gini…
    aku suka sekali cerita ff ini bener bener terbawa aliran suasana ceritanya Thor terutama hidup jiyeon yang sulit di ceritakan dengan begitu luar biasa… aku sampai tidak bisa berkomentar lagi lag… ini terlalu Jjang 😀

    Next part 2 😀

  7. huah.. melakukan sesuatu yg di maksud bapaknya kyuhyun itu jgn2 ada sangkut pautnya ama cek 20juta yg di kasihin ke jiyeon! kalau kyuhyun balik ke rumahnya kapan lagi mereka ada moment rate++ lagi! Cekaka~ iya gua demen! itu scene fell nya dapet bgt! pas mau ama yunho malah ikutan merana.
    semoga tak ada halangan melintang di jalan ya!! semangat,, lanjutkan ff ini sampe kelar 😉

  8. Hdp jiyi sgt tragis (-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩__-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩)​
    Demi adex na dy hrs jalani hal tu,
    Bhkn smpi ϑitampar….
    Kyu syukurlah mw nolong jiyi . .
    Pa kh skrg mrk pcrn????

  9. ada ff bru lgi ternyata walau udah lama
    kyaa hampir saja jiyeon melakukan jln yg tak benar.dan tak disangka ternyata kyu jga punya perasaan yg sama dg jiyeon.janji lho ni ff hrus ampe selesai jg phpin kita lho ya?

  10. Auuuuu bagussss bgttt ff ny aq sk smw muanya author syggg km pntr bkin ff. Awal2 sih ampunnn de byagin uri jiyi jd wnt pengoda gt eh ktm bang kyu dan lg masa bang kyu yg cm pgwai bys bs py uang segede gtu… yah tabugn jg g sgt amet x klo ama kul tp bs jg sihh heee. Eh trnyata ank org kya syukur de jiyi dpt yg tajir jd smoga aja nnt8 dr pihak kluarga kyu merestui jiyi yah klo bs g usa ad emak nya kyu lah bysbya cwe tu rempong yg blg kty g pntes lah ini itu lah dll bete bgt. Nextttt pallliiiii author aduhhh g sbr ni aq. Aq bc ff km lainya de ky bgus2 de mmpug aq sk Kyuyeon cple

  11. ANDWEEEE!!! apa yang jiyeon ucapkan di akhir ciumannya dengan kyuhyun itu ANDWEEE!!! untung kyu lagi eling, Ya aloooohhhhhhh kaga kebayang dah.. Jadi- bagaimana kelanjutan hidup jiyeon??? Jangan sakiti dia lagi thorrrr ;,,,,( jaeball buatlah hidup jiyeon penuh dengan bahagia.. Nikahi mereka berdua *lohho.O

    1. Kamu marathon sekali nak bacanya 😀
      jiyeon ngomong kayak gitu karna dia ngerasa badan nya itu satu2nya yg berharga..karna jiyeon tau suatu saat bukan ngga mungkin dia bakal ngejual dirinya lagi..mak an ya itu seenggaknya dia ngga nyesel2 amat kalau kyuhyun yg dimata jiyeon baik yg dapetin itu..
      Gitu ceritanya
      Fiuh..lola banget internetnya, sampe keringetan

        1. Ey ey eyy kenapa harus sebut2 nama opung disini?? Isss memalukan.. Hhehe.. Doo itashimashite cu.. :*:*:*

      1. Eyyy penjelasan itu udah kamu jelaskan di isi ceritanya be.. Kenapa di jelasin lagi.. Issss *wkwk biarin aja kali2 bikin authornya kesel wkwk*

  12. kyaa keren >< aku suka sma ceritanya, apalagi couplenya jiyeon itu kyu 😀 apa kyu berasal dari keluarga kaya ya thor? Penasaran, ditunggu bnget next partnya ^,~

  13. kyaaa keren.
    kyuyeon couple ❤
    suka bnget ama mereka.
    ngga nyangka tiga tahun mereka saling memperhatikan secara diam2, akhirnya bisa ungkapin perasaan walau hampir aja jiyeon jual diri nya.
    kyuhyun iti anak org kaya ?? trus gmna hubungan mereka nnti nya ??? penasaran, d tunggu bnget kelanjutannya.
    oh ya authornim, welcome back eaa !!! 🙂

  14. huaaa!! ini keren!!
    astaga hidup jiyeon benar2 terjepit!!
    ahh syukurlah ia menanyakan hal yg tidak masuk akal baginya pada kyuhyun.. toh esoknya jiyeon tak perlu kembali bekerja macam itu..
    dan kyuhyun pun akhirnya dapat mengutarakan perasaan yg telah ia pendam sejak lama… ahhh kereen!!
    lalu kyuhyun mau kembali ke orang tuanya??? dan jiyeon??

  15. anyeong :).. wuah.. jinjja daebak 🙂 huft.. untung aja yunho ga ngambil hal yg paling berharga bagi jiyeon :)… itu kyu anak orang kaya?? terus apa yg dimaksud dengan ‘kau melakukan sesuatu’?”

  16. aaahhhh .. daebakk!! berasa liat drama aku 😀 kyuhyun baik bangettt^^ dan ternyata dia orang kaya yaa(?) Apa ayahnya bakal ngelarang kyu pacaran sama jiyeon?… dan jiyeon udh gk bakal berurusan sama Yunho lagi kann?? semoga enggaaa~

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s