Adults · chapter · Couple · Drama · family · fanfiction · frienship · humor · Hurt · Life · Love · musik klasik · romance · sad · Teen Fiction

The Curse Of Alodia Chapter 1


Untitled-2

Note : Berhubung karena lapak ini sepi maka FF ini bakal aku protect di bab dua nanti. Mungkin kalian bertanya-tanya kenapa main castnya bukan Jiyeon. Sebenarnya aku membuat cerita ini masih memikirkan Jiyeon dan kenapa dalam cerita ini diubah? Karena FF ini aku persembahkan untuk sahabat aku yang sedang berulang tahun. Jadi maklumi saja dan kalian boleh bebas membayangkannya mau itu jiyeon atau bukan aku mau semua orang menikmati tulisanku. Tapi kalau nanti ada yang minta untuk mengubah nama akan aku ubah nanti tergantung kalian. Mohon maaf untuk cover aku harus pairingin Jiyeon sama Park Hae jin karena aku kesulitan mencari pemeran tokoh prianya. Hehe. Lanjutkan membaca “The Curse Of Alodia Chapter 1”

fanfiction · ONESHOT

Blood


blood

BLOOD

Title : Blood
Author : Jaemin_Lee
Rating : PG-15
Length : Oneshot
Genre : Angst, Darkfic, Supernatural, family or friendship?
Cast :
– Lee Taemin (17)
– Park Jiyeon (21)
– Choi Minho (21)
– Cho Kyuhyun (21)
– Shim Changmin (21)
– Choi Shiwon (22)
– Han Kyung (23)

Note :
Hai semua ! Saya kembali. Auhtor mau jujur ni kembalinya saya kali ini karna paksaan dari orang orang yang maniak sekali oleh yang namanya fanfiction. cih! Haha
Berhubung otak saya lagi eling dan mau berjalan adanya waktu adanya ide dan adanya paksaan alhasil jadilah fanfiction ini.
Walla~ hope you enjoyed ^^

Lanjutkan membaca “Blood”

chapter · fanfiction

Love The White Dove | Chap 2


love the white dove
Title : Love The White Dove
Author : Lee Jaemin (citra)
Rating : PG-13
Length : Chap 2/of?
Genre : Romance, Sad, Friendship, Tragedy
Main cast:
-Park Jiyeon a.k.a Jiyeon
-Lee Taemin a.k.a Taemin
-Park Sunyoung a.k.a Luna
-Lee Jieun a.k.a IU/jieun
-And other~
note : Hai semuanya~~ bertemu lagi dengan saya rae in,maaf mengecewakan, tapi kali ini lagi-lagi saya nge post ff author lain, bukan punya saya, hehe. ini dikarenakan si citra juga udah kerja…hufft, sepertinya hanya saya yang pengangguran disini-___- *galau* baiklah, lupakan. kita doakan semoga dia betah dialamnya sana, haha. oh iya reader, kalian juga harus rajin-rajin mengingatkan author yang satu ini untuk update..
oke, langsung saja, kritik dan saran sangat ditunggu
happy reading^^
Lanjutkan membaca “Love The White Dove | Chap 2”

fanfiction · ONESHOT

It’s me (My Secret)


 

it's me (my secret) oneshoot

Tittle                :           It’s me (My Secret)
Author             :           Lee Jaemin a.k.a citra
Rating             :           Pg-13
Length             :           Oneshoot
Genre              :           Humor, romance, little weird
main cast         :
– Park jiyeon    a.k.a     Jiyeon
– Lee taemin    a.k.a     Taemin
– Lee jinki        a.k.a     Onew
– Kim kibum    a.k.a     Key
– Choi minho   a.k.a     Minho
– Kim jonghyun           a.k.a     Jonghyun
– And other~
Lanjutkan membaca “It’s me (My Secret)”

fanfiction

Love The White Dove | Chap 1


love the white dove

Title     :           Love The White Dove
Author :           Lee Jaemin (citra)
Rating :           PG-13
Length :           Chap1/of?
Genre  :           Romance, Sad, Friendship, Tragedy
Main cast:
-Park Jiyeon a.k.a Jiyeon
-Lee Taemin a.k.a Taemin
-Park Sunyoung a.k.a Luna
-Lee Jieun a.k.a IU/jieun
-And other~

Lanjutkan membaca “Love The White Dove | Chap 1”

fanfiction

Love like Capsule


Author       :  Han Rae In

Title          :   Love like Capsule

Length      :   Oneshoot

Genre       :   Romance

Rating      :   PG 13+

Main Cast   :

  • Park Jiyeon
  • Lee Taemin

note   :  makasih buat semua yang mau berkunjung ke blog pertama kami ini dan baca fanfic pertama di blog ini,kamsahamnida!

kalau ada kata-kata yang salah ketik diharapkan readers bisa maklum dan berkata “maklum, namanya juga istrinya        siwon,”(plakk!ngga nyambung!)..oke deh lanjut..selamat membaca ff gaje ini!^^

Taemin pov

matahari sore masih menyinari taman dimana aku berada sekarang. Sebuah taman yang kecil tapi indah, itulah mengapa aku nyaman disini, karena bagaimanapun aku tidak akan pernah merasa nyaman jika di taman yang besar. Bagaimana tidak jika mereka selalu berhasil membongkar penyamaranku dan berteriak histeris “Kyaa!Taemin Shinee!” atau “Taeminnie!ssaranghae!”

sungguh, hal itu sangat menggangguku ketika aku menginginkan hakku sebagai orang biasa yang bisa pergi kemanapun tanpa disambut hal-hal semacam itu. Hari ini pun sama, aku sedang menggunakan hakku itu walaupun dengan sedikit penyamaran pastinya, aku duduk di sisi kiri sebuah bangku taman kosong yang ada di bawah pohon rindang. Mengedarkan pandangan ke sekeliling, namun tidak benar-benar memperhatikan, karena sedari tadi aku hanya sibuk dengan hal-hal yang menggangguku . hal-hal yang akhir-akhir ini selalu membuat keringatku menetes dan perasaanku gelisah tiap kali memikirkannya. Entahlah, beberapa hari terakhir aku jadi merindukan ibu dan kelurgaku juga bayangan akan kematian selalu menghantuiku. Hal itu membuatku gila dan tidak bisa tidur walaupun aku kelelahan karena jadwal Shinee yang padat.

“Apa aku akan segera menemui kematianku?”batinku, dan seketika aku mulai merasakan keringat dingin menyelimuti kulitku,menetes dari ujung rambutku, dan perasaan resah itupun muncul. Bahkan suara riuh anak-anak di taman ini pun tak lagi terdengar di telingaku, hatiku benr-benar hampa  sekarang, pikiranku kacau. Kucoba mengalihkan perhatianku dengan memperhatikan orang-orang yang ada di taman ini dan perhatianku tertuju pada seorang gadis yang tengah berjalan ke arahku dengan membawa banyak buku yang kira-kira 5 cm tebal per bukunya, tangan kanannya memegang 2 buah cone ice cream, dan tas jinjing tergantung di pergelangan bhunya. Tak lama kemudian ia duduk di sisi kanan bangku tempatku duduk. Rambutnya yang diikat satu terlihat berantakan, namun tidak dengan wajahnya yang terlihat berser-seri.

Aku berdiri dan baru saja akan melangkah ketika sebuah ringtone berbunyi dan membuatku menghentikan langkah. Itu bukan berasal dari handphoneku, tetapi dari handphone gadis itu.

“Astaga, bagaimana ini?”suara gadis  itu. Ia kebingungan karena tidak bisa menerima panggilan itu akibat tangannya yang penuh barang bawaan.  Aku baru saja akan melanjutkan langkahku ketika tiba-tiba serasa ada suara yang menegurku.

“Taemin bodoh!Kau merasa akan menemui kematian bukan?kenapa tidak berbuat baik agar setidaknya kau bisa masuk surga disana?ayo bantu gadis itu!dia pasti sangat kesulitan dengan barang bawaannya. Dan pasti telpon itu penting baginya. Ayo Taemin, bantu dia!”begitulah suara itu terdengar, namun aku tidak menemukan siapa pelakunya. Seketika aku sadar suara itu berasal dari hatiku. Astaga, apa aku sungguh akan mati?Apa itu tadi suara malaikat untuk menegurku?

Kubalikkan tubuhku, menghampiri gadis itu, lalu mengambil alih buku-buku dan es krim dari tangannya. Ia mendongak untuk menatapku dan terheran-heran melihatku. Kubalas tatapannya dengan senyum dan sedetik kemudian ia membalas senyumku.

“Terima kasih,”ucapnya singkat, lalu merogoh handphone dari tas jinjingnya dan dengan sigap menerima panggilan itu.

“Apa?baiklah..hm, kau juga jaga dirimu baik-baik,Sanghyun ssi,”jawb gadis itu yang ditujukan pada orang yang menelponnya. Bisa kulihat air mukanya berubah, tidak berser-seri seperti tadi. Apa yang menelpon itu pacarnya?pikirku. gadis itu kembali memasukkan handphonenya lalu menatapku yang masih setia memegangi barang-barangnya.

“Kau..”ia memperhatikanku intens. Astaga, aku lupa memakai kembali kacamata hitam yang tadi kulepas sewaktu berkeringat. Apa dia mengenaliku?gawat kalau sampai iya.

“Kau..pasti..”ia melanjutkan kata-katanya, sementara aku mulai pasrah.

“Kau..pasti..kau pasti malaikat. Kau baik sekali!”lanjutnya seraya tersenyum khas. Seketika itu juga aku menghembuskan nafas lega karena ia tidak mengenaliku. Ia pun mengambil kembali barang-barangnya yang ada di tanganku.

“Terima kasih banyak. Ini untukmu,”ujarnya sembari menyodorkan satu es krimnya kepadaku. Aku hanya memandangi es  krim yang disodorkannya dengan tatapan heran.

“Tenang saja, orang yang kutunggu tidak jadi datang,”jawabnya seolah dapat membaca pikiranku. Perlahan aku menggapai es krim itu, lalu ia menepuk-nepuk tempat di sebelahnya, isyarat agar aku duduk disampingnya.

Kuurungkan niatku untuk  pergi dan kemudian memilih duduk di sebelahnya, karena aku penasaran dengan gadis yang tidak mengenaliku ini, Taemin yang dicintai begitu banyak wanita karena kepolosannya saat di depan kamera. Bagaimana bisa gadis ini bahkan tidak menatapku saat kami menyantap es krim. mulai buku-buku yang dibawanya. Dapat terlihat dengan jelas tulisan FARMASI yang tertera disana. Pantas saja ia tidak mengenaliku, anak farmasi terkenal sibuk, bahkan yang kudengar saat kuliah pun beberapa dari mereka membawa koper kecil karena beratnya buku acuan yang mereka bawa.

“Kenapa?heran dengan buku-bukuku ya?”tanyanya saat memergokiku yang memperhatikan buku-bukunya.

“Anak farmasi memang begitu. Aku Park Jiyeon,”ujarnya bahkan sebelum aku menjawab pertanyaannya.

“Aku Lee Taemin,”ujarku lalu membalas uluran tangannya dan tersenyum. Hampir 5 detik kami berjabat tangan sampai gadis bernama Park  Jiyeon ini melepaskan tangannya lalu menepuk jidatnya.

“Astaga!aku lupa, aku harus mengembalikan buku-buku ini ke perpustakaan!”serunya .

“Taemin ssi, aku pergi duluan ya, dah!”ucapnya singkat lalu mulai beranjak. Dan entah kenapa hatiku kembali menjadi hanpa saat dia pergi. Apa mungkin perasaan itu hanya datang ketika aku sendirian?menyadari hal itu aku pun berdiri dan mengejar wanita itu.

“Park Jiyeon ssi!butuh bantuan?”

Author pov

Ini sudah ke-3 kalinya gadis bernama Park Jiyeon memandangi pantulan dirinya di cermin. Entah untuk memperbaiki tata riasnya atau hanya untuk sekedar memastikan keserasian baju yang dipakainya. Setelah memastikannya, gadis itu pun keluar dri kamarnya, lalu menuju pintu keluar.

“Jiyeon!Kau harus lihat ini!” seru Ji Eun, teman satu rumah Jiyeon. Jiyeon hanya bisa pasrah saat Ji Eun menarik dirinya untuk duduk di sofa yang ada di ruang tengah.

“Ada apa?Ji Eun, aku ada janji,jadi kapan-kapan saja ya?”bujuk Jiyeon dengan tatapan menyesal berharap Ji Eun iba lalu melepaskannya. Tapi ternyata strateginya itu gagal total karena Ji Eun justru semakin menggebu-gebu dan sama sekali tidak mempedulikan kata-kata Jiyeon.

“Lihat itu!”Ji Eun mengarahkan jari telunjuknya ke televisi, isyarat agar Jiyeon melihat apa yang ingin ia tunjukkan. Mata Jiyeon mengikuti arah yang ditunjuk Ji Eun. Matanya mengamati dengan cermat layar tv di hadapannya yang menayangkan performance tidak langsung sebuah boyband beranggotakan lima orang pria. Jiyeon sedikit kagum melihat penampilan mereka yang harus diakuinya memang keren. Usai performance,mereka diminta memperkenalkan diri dan menyapa fans mereka dengan gaya khas masing-masing.4 orang sudah memperkenalkan diri yang seingat Jiyeon bernama Onew, Minho, dan Key. Tiba giliran anggota kelima yang menyapa, kamera pun menyorot wajahnya, seketika itu juga Jiyeon terperangah tak percaya dengan apa yang dilihatnya. terlebih  lagi ketika pria itu menyebutkan namanya. ‘Hai,aku Taemin. Seluruh fans kami, saranghae!’

Jiyeon hanya dapat mematung. Benar-benar bingung harus bereaksi seperti apa hingga Ji Eun melanjutkan perkataannya.

“Keren, bukan?kya!aku rasa aku jatuh cinta, Jiyeon!”ujar Ji Eun histeris, kemudian menyikut pelan Jiyeon yang tak meresponnya.

“Hei!terpesona ya?”tanya Ji Eun setengah menggoda.

“Terpesona?maaf ya, aku ELF sejati!”jawab Jiyeon santai.

“Terpesona juga tak apa, asal jangan terpesona pada Key ku,”balas Ji Eun dengan tatapan sengit yang dibuat-buat.

“Tidak akan!”tukas Jiyeon cepat . Ji Eun yang mendengarnya hanya bisa memanyunkan bibirnya, kemudian menatap aneh sahabatnya yang baru disadarinya sudah rapi.

“Jiyeon, janji yang kau maksud itu..dengan pria?”tanya Ji Eun dengan ekspresi seperti polisi yang menginterogasi pelaku pembunuhan.

“Hm, pria. Astaga! Aku telat,”ujar Jiyeon setelah melihat jarum jam menunjukkan pukul 16.13, lewat 13 menit dari waktu janjiannya. “Aku pergi dulu ya, Ji Eun!”sahut Jiyeon sembari memakai sepatunya.

“Jiyeon, siapa nama pria itu? Apa aku mengenalnya?”tanya Ji Eun dengan mata berbinaar ingin tahu. “Namanya Taem..”jawaban Jiyeon terhenti ketika ia sadar baru saja akan menyebutkan nama orang yang tidak boleh sembarangan disebutkan itu.

“Taemin. Ya, namanya Kang Taemin,”jawab Jiyeon bohon setelah beberapa detik ia memutar otak. “Aku sempat berpikir kau ingin menyebut Lee Taemin, anggota boyband tadi, haha,”sahut Ji Eun dengan senyum mengembang.

“Aku pergi dulu. Dah, Ji Eun!”seru Jiyeon setelah selesai memakai sepatunya. Sementara Ji Eun melambaikan tangannya pada Jiyeon yang terlihat berlari-lari kecil.

Jiyeon pov

Kuhentikan lariku dan mula mengatur nafas, berjalan biasa sambil memikirkan sesuatu yang membuatku merutuki diriku sendiri jika mengingatnya.

“Jiyeon bodoh! Sudah 3 minggu kenal, tapi sama sekali tidak tahu kalau orang itu seorang artis. Bagaimana bisa Jiyeon?pasti orang itu menganggapmu orang teraneh di dunia karena tidak mengenalnya yang kata Ji Eun sudah berkiprah di dunia hiburan sejak 2 tahun lalu. Kalau tidak, dia pasti berpikir kau orang miskin yang bahkan membeli tv tidak mampu,”rutukku dalam hati sambil sesekali memukul kepalaku sendiri.

“Sekarang aku harus bertingkah bagaimana di hadapannya? Apa aku pura-pura tidak tahu saja? Tidak bisa. Aku harus memberinya pelajaran karena tidak memberitahuku sebelumnya. Dia sudah membuatku mempermalukan diriku sendiri di hadapannya. Lihat saja nanti, Lee Taemin!”ucapku yang sepertinya jauh dari kata pelan karena pejalan kaki lain di sekitarku mulai menatapku aneh.

Hanya butuh 10 menit untuk sampai di sebuah kedai mi yang selama 3 minggu terakhir sering kami kunjungi . Ralat,maksud ku ,aku dan artis itu.Sekarang aku sudah sampai di depan pintu masuk,mendorong pintu itu perlahan,dan menginjakkan kaki ke dalamnya . Lalu mulai mengedarkan pandangan untuk mencari seorang pria yang selalu mengambil tempat duduk di sudut ruangan dan menghadap tembok. Setelah melihat dan kupastikan sebentar,lalu…….

“TAEMIN!”teriakku yang bermaksud memanggil pria itu seraya  melambaikan tanganku dan tersenyum lebar. Seketika, pelanggan yang ada di kedai ini menatapku dan pria itu dengan tatapan tidak percaya. Ini yang kumaksud pelajaran untuknya!

 

Author pov

Seorang pria –dengan hoodie dan masker- bernama Lee Taemin tengah duduk di salah satu sudut sebuah kedai mi, dan denan sengaja mengambil kursi yang menghadap dinding. Bukan karena itu tempat favoritnya, melainkan karena profesinya yang membuatnya tak bisa kelihatan mencolok ketika di tempat umum jika ia masih menginginkan privasi.

“Mau pesan apa nak?”tanya seorang pelayan yang menghampiri meja Taemin. Sementara orang yang ditanya menatap kilat jam digitalnya, terlihat berpikir sebentar, kemudian barulah membuka mulutnya.

“Aku pesan mi pedas saja, bi,”jawab Taemin sambil tersenyum walaupun ia tahu bibi pelayan itu tak bisa melihat senyumnya karena tertutup masker. Setelah mendengar pesanan Taemin, bibi itu meninggalkan meja Taemin sesaat setelah ia tersenyum ramah.

Sudah hampir 25 menit ia menunggu kedatangan seseorang, dan itu waktu yang sangat lama bagi Taemin yang sudah sangat kelaparan. Akhirnya pria itu memutuskan memakan mi pedas dihadapannya, sampai sebuah suara yang lebih mirip teriakan hampir saja membuatnya mati karena tersedak.

“TAEMIN!”begitulah teriakan itu terdengar di telinganya, membuatnya tersedak mi pedas yang benar-benar pedas itu. Dalam hati ia merutuki sumber suara yang ia tahu siapa bahkan tanpa menoleh ke pintu masuk.

Hampir seluruh pelanggan wanita di kedai mi itu memandangi si pelaku teriakan dan Taemin secara bergantian. Dan Taemin yang masih sibuk menormalkan kembali tenggorokannya yang tersedak, mulai pasrah akan takdir.

“Kang Taemin!aku datang!maaf telat,”si pelaku teriakan melanjutkan kata-katanya sembari melambaikan tangan. Seketika itu juga para pelanggan wanita yang sedari tadi memandangi mereka dengan tatapan ingin tahu, kini mengalihkan perhatian mereka dan mulai sibuk dengan makanan masing-masing. Kini rasa was-was benar-benar menyelimuti Taemin, apalagi ketika si pelaku teriakan itu melangkah menghampirinya an duduk di kursi yang ada di hadapannya.

“Jiyeon….kau sudah tahu…” kata Taemin hati-hati yang langsug dijawab dengan anggukan mantap wanita bernama Jiyeon itu.

“Kau..tidak marah?”tanya Taemin masih berhati-hati dengan kata-katanya.

“Tentu saja tidak. Aku justru senang punya teman yang ternyata seorang artis terkenal,”jawab Jiyeon dengan senyum yang mengembang di bibirnya. Rasa was-was Taemin hilang seketika, berganti dengan rasa lega karena teman barunya itu sama sekali tidak peduli akan status yang selama ini disembunyikannya. Taemin kembali menggapai sumpitnya dan mulai melahap mi pedasnya.

‘BRAKK!’Jiyeon menghentakkan kedua telapak tangannya di atas meja, menciptakan suara yang tidak pelan sama sekali, dan membuat Taemin yang sedang menyantap makanan lagi-lagi tersedak. Akibat suara itu juga, semua mata yang ada disana memandangi mereka aneh untuk yang kedua kalinya. Dan Jiyeon yang menyadari hal itu langsung menjaga sikap dengan memperkecil volume suaranya.

“Apa kata-kata itu yang kau harapkan keluar dari mulutku setelah aku tahu siapa dirimu?”tanya Jiyeon, kali ini dengan nada serius. Taemin tak dapat menjawab pertanyaan Jiyeon karena kali ini ia tersedak luar biasa, tenggorokannya panas. Ia baru saja akan menggapai gelas berisi air yang ada di atas meja, sampai tiba-tiba sebuah tangan mengambilnya lebih dulu dan menjauhkannya dari jangkauan Taemin. Dilihatnya pemilik tangan itu yang ternyata tak lain adalah Jiyeon.

“Aku bisa memaafkanmu jika kau mau membantuku mengerjakan tugas-tugas kuliahku selama 2 minggu, bagaimana? Setuju?”tanya Jiyeon lagi yang diikuti tatapan protes Taemin.

“Apa? Jadi kau tidak mau? Baiklah,”ujar Jiyeon sambil mempermainkan Taemin yang sedang tersedak dengan menarik ulur gelas berisi air yang dipegangnya. Dengan amat sangat terpaksa Taemin mengangguk, tanda setuju. Jyeon yang melihatnya langsung memberikan air  itu pada Taemin yang mukanya sudah memerah, kemudian menepuk-nepuk punggung pria itu nas lagi,bermaksud membantu. Setelah merasa tenggorokannya sudah tidak panas lagi, Taemin mulai melancarkan aksi protesnya.

“Tidak bisa begitu! Aku bahkan sama sekali tidak tahu menahu masalah kefarmasian!”protesnya.

“Kalau itu yang kau khawatirkan, tenang saja, karena kau bisa membantuku dengan membawakan buku-buku, mengetikkan tugasku di laptop, atau membelikanku makanan. Mudah, bukan?”jawab Jiyeon dengan senyum dibuat-buat yang menyeramkan.

“Itu bahkan lebih parah dari yang kubayangkan. Lagipula aku ini artis,, jadwalku di shinee sangat padat, jadi mana sempat aku melakukan apa yang kau sebutkan tadi,”elak Taemin terang-terangan.

“Cih, di saat-saat seperti ini saja kau mengakui profesimu. Aku baru ingat kau ini artis pujaan banyak wanita. Kira-kira bagaimana ya reaksi mereka jika tahu artis kesayangan mereka ada disini?sedang makan mi pula? Hm, pasti artis itu akan kewalahan meladeni fansh2 wanitanya tu. Atau yang terburuk, artis itu akan pulang dalam keadaan mengenaskan, memar-memar mungkin,”kata-kata Jiyeon panjang lebar yang berhasil membuat taein menelan ludahnya.

“Baiklah, tapi aku juga punya syarat,”ucap Taemin kali ini.

“Apa itu?”tanya Jiyeon dengan tatapan sinisnya.

“Saat kita hanya berdua, kau tidak boleh menganggapku seorang yangya menarik kedua terkenal. Kau hanya boleh memperlakukanku seperti dulu, menganggapku orang biasa. Bagaimana?”tanya Taemin.

“Hanya itu? Tanpa kau suruh pun aku sudah melakukannya. Ok, deal!”seru jiyen seraya menarik kedua ujung bibirnya, membentuk senyuman indah yang membut Taemin sedikit takjub melihatnya.

Taemin pov

Aku menyesap cappucino yang sudah sedari tadi kupesan sambil sesekali memperhatikan perempuan di hadapanku yang tengah sibuk dengan laptopnya. Ralat, maksudku laptopku yang ia pinjam untuk mengerjakan tugasnya. Memperhatikannya yang sedang terpaku pada monitor membuat pikiranku mengingat hal-hal yang kami lakukan beberapa hari terakhir. Perlahan, aku mulai mengenal sisi lain dalam dirinya yang tepat seperti dugaanku, dia orang baik. Membawakan buku-bukunya, mengetik tugasnya, atau melayaninya seperti yang ia katakan hanyalah gertakan karena nyatanya, dia sama sekali tidak melakukan itu padaku. Terakhir, dia hanya meminjam laptopku untuk mengetik tugas-tugasnya karena ia tidak punya komputer atau llaptop.

“Kenapa masih disini? Cepat pulang!”perintahnya yang sedari tadi enggan untuk kupatuhi.

“Aku masih mau santai disini,”jawabku santai seraya memperhatikan orang yang berlalu lalang di luar cafe.

“Sudah kubilang berkali-kali, aku hanya butuh laptopmu, jadi kau pulang saja, nanti aku kabari kalau aku sudah selesai pinjam. Kau bilang jadwal shinee padat ,bukan?”tukas Jiyeon masih tak menyerah. Sejujurnya aku malas untuk pulang ke dorm, karena perasaan hampa yang menyebalkan itu pasti akan menyerangku lagi. Dugaanku kalau perasaan itu hanya datang saat aku sedang sendirian adalah salah, karena aku tetap merasakannya meskipun ada banyak orang disekelilingku. Hanya dengan Jiyeon aku dapat melupakan perasaan menyebalkan itu. Karenanya, diam-diam aku bersyukur saat ia memberikanku hukuman, sebab aku bisa sering menemuinya dan sering  pula melupakan perasaan aneh itu.

“Tidak bisa. Bagaimana kalau ternyata kau ingin mencurinya?”balasku yang sebenarnya tidak masuk akal. “Hyaa! Kau mencurigaiku? Hilang pun sepertinya tak akan jadi masalah bagi artis terkenal sepertimu. Iya, kan?”ujarnya yang membuatku diam sesaat untuk memikirkan balasan yang tepat atas ucapannya.

“Hya! Bukan masalah uang. Tapi..tapi..di dalam situ ada dokumen penting dan bersifat privasi, kau tahu?”balasku akhirnya.

“Terserah kau sajalah. Yang jelas, aku sudah mengingatkanmu,”kata Jiyeon lalu kembali berkutat dengan tugasnya, sementara senyum kemenangan terukir di bibirku ketika mendengar jawaban pasrahnya.

Jiyeon pov

Huh! Dasar pria menyebalkan, dia masih saja bersikeras menungguku walaupun sudah berkali-kali kuingatkan untuk pulang. Alasannya selalu karena ia takut aku mencuri laptopnya, sama sekali tidak masuk akal.

“Huff!aku sudah selesai untuk hari ini!”seruku setelah hampir 5 jam  kami duduk di cafe ini. “Sudah selesai? Itu artinya kau tidak akan meminjam laptopku lagi?”tanya Taemin dengan ekspresi yang sulit kuartikan, itu ekspresi senang atau sedih.

“Aku bilang untuk hari ini. Itu artinya aku akan meminjamnya lagi,”jawabku dengan sedikit penekanan pada beberapa kata.

“Oh,”gumamnya pelan yang tak lagi kupedulikan karena aku sibuk merapikan barang-barangku yang berserakan di meja lalu segera beranjak sesaat setelah aku menenggak sisa ice coffe yang kupesan. “Terima kasih banyak untuk hari ini, tuan Lee,”ucapku seraya membungkuk pada artis di hadapanku, lalu mulai melangkah ke arah pintu.

“Hey!aku ikut!”kata Taemin sambil meraih laptopnya lalu mengikutiku dari belakang. Dapat kulihat ia berjalan dibelakangku, aneh, kenapa aku merasa pria ini selalu ingin bersamaku. Pikiran itu terus berputar di kepalaku, sampai sebuah suara yang lebih mirip suara tangisan membuyarkan itu semua. Aku mengedarkan pandangan untu mencari sumber suara yang ternyata berada di sisi kanan pintu cafe yang baru saja kubuka. Dan yang lebih membuatku heran adalah suara itu berasal dari seorang bocah yang sedang menangis sembari memeluk kedua lututnya.

“Hey! Kenapa berhenti tiba-tiba?”protes Taemin ketika tubuhnya menabrakku yang berhenti mendadak. “Lihat itu!”jawabku sembari menunjuk anak itu dengan isyarat mata. Kuputuskan untuk menghampiri anak laki-laki itu, begitu juga Taemin.

“Kau kenapa? Mana ibumu?”tanyaku pada anak berumur kira-kira 4 tahun ini. Untuk sejenak ia menatapku dan Taemin secara bergantian, lalu tanpa kami duga…

“Huwee..”anak itu menangis tambah keras, membuat kami bertiga menjadi pusat perhatian para pejalan kaki yang berlalu lalang. Bahkan aku sempat mendengar beberapa bibi yang membicarakan kami berbisik. “Dasar anak muda jaman sekarang, masih muda tapi sudah menikah dan punya anak. Kasihan anak itu, pasti dia jadi korbann keegoisan kedua orangtuanya,”begitu yang kudengar.

Apa? Menikah dan punya anak? Orang tua? Maksud mereka aku dan Taemin? Kutolehkan kepalaku untuk dapat menatap bibi itu dan bermaksud ingin menjelaskannya. Namun sayang, bibi-bibi itu sudah berjalan cukup jauh untuk kujangkau. Kualihkan lagi pandanganku pada bocah laki-laki di depanku yang baru ku sadari sudah berhenti menangis. Aku menatap Taemin dengan tatapan takjub karena ia berhasil menaklukkan bocah itu. Merasa secara tak langsung dipuji, mata lelaki itu membentuk sabit, tanda ia sedang tersenyu dibalik maskernya.

Atas usul Taemin, akhirnya kami membawa anak laki-laki itu ke taman, untuk mencari tahu penyebab ia menangis. “Aku Jung Yogeun,”jawabnya saat kami menanyakan namanya.

“Ibuku? Ibuku..dia hilang,”anak bernama Yogeun itu menjelaskan dengan muka yang memerah karena menahan tangis. “Hilang?maksudmu, ibumu pergi dari rumah? Kabur?”tanyaku penasaran. “Tidak, tadi aku ke supermarket bersama ibu, ibu lalu mengobrol dengan temannya. Karena bosan, akhirnya aku jalan-jalan sendiri, dan tidak sadar kalau aku keluar supermarket. Dan aku baru sadar ibuku hilang, hiks”jelasnya kini dengan mata yang mulai berkaca-kaca.

“Bodoh! Itu namanya kau yang hilang, bukan ibumu!”sergah Taemin sembari menjitak pelan kepala Yogeun yang mulai menangis. “Huwee..ibu!”ucap Yogeun disela-sela isakannya. Taemin mulai merasa bersalah karena membuat Yogeun menangis, sementara aku tidak mau lagi ikut campur karena itu salah Taemin sepenuhnya.

“Hei, kau bisa melakukan ini?”tanya Taemin pada Yogeun, sambil memperagakan beberapa gerakan moonwalk. Dan sepertinya Yogeun tertarik, karena perlahan bocah itu mengecilkan volume tangisnya dan akhirnya diam. “Bisa tidak?”ledek Taemin pada Yogeun yang hanya  memperhatikannya.

“Aku bisa!”seru Yogeun beranjak dari duduknya dan menirukan gaya moonwalk Taemin. Taemin yang melihatnya langsung protes pada Yogeun, dan berkali-kali ia mengajari Yogeun gaya yang benar, namun karena Yogeun hanyalah anak berusia 4 tahun, ia tetap memperlihatkan gaya moonwalk awalnya yang jela-jelas salah menurut Taemin.

Aku memperhatikan mereka dari bangku taman sambil sesekali tertawa kecil melihat melihat pertengkaran mereka. Aku jadi merasa seperti seorang ibu yang mengajak bermain kedua anaknya di sore hari,haha. Tanpa sadar aku tersenyum sendiri melihat tingkah mereka yang sekarang sedang tertawa dengan riangnya. Dan entah kenapa pandanganku terpaku pada Taemin yang tertawa saat ia menggendong Yogeun di punggungnya. Aku merasa jantungku jadi berdetak 2 kali lebih cepat, ah tidak, 3 kali lebih cepat. Tidak hanya itu,rasanya taman ini menjadi lebih sejuk dari sebelumnya, dan yang lebih parah, tanpa sadar aku menahan nafas karenanya. Tuhan, ada apa denganku?

Taemin pov

Kami mengedarkan pandangan ke setiap sudut yang dapat kami jangkau. Ya, disinilah kami, seupermarket. Di bagian informasi sebuah supermarket tepatnya. Kami terus memasang mata dan berjaga-jaga disetiap arah yang memungkinkan, sejak seorang karyawan mengumumkan adanya anak hilang bernama Jung Yogeun beberapa saat lalu.

“Ibu,”ujar Yogeun tiba-tiba membuka mulutnya, membuat kami mengikuti arah pandangnya. Dari kejauhan, terlihat orang yang  Yogeun panggil ibu itu tengah berlari tergopoh-gopoh hendak menghampiri kami. Dan setelah ia sampai di hadapan kami, ekspresi cemas dan sedih tergambar cukup jelas di wajahnya yang masih cantik di usia 30-an.

“Kalian yang menemukan Yogeun anakku?”tanya bibi itu yang diikuti anggukan kami sedetik kemudian. “Terima kasih, terima kasih, terima kasih banyak!”ucap bibi itu lagi sambil membungkuk berkali-kali, tanda terima kasih.

“Sama-sama bi,tapi tidak perlu lakukan hal..”kata-kataku terpotong karena ada sebuah tangan yang dengan jahilnya melepaskan maskerku dari tempatnya. Siapa lagi pelakunya kalau bukan bocah nakal yang saat ini sedang kugendong. Ibu yogeun terperangah sesaat ketika melihatku yang tanpa masker, segera saja kutempelkan jari telunjukku di depan bibir, berharap ibu yogeun mengerti maksudku. Harapanku terkabul, karena detik berikutnya, ibu yogeun melakukan hal yang sama dengan yang kulakukan.

“Kalau anakku tidak membongkar penyamaranmu, aku pasti akan mengira kalian ini pasangan suami istri muda,”ujar ibu yogeun setelah yogeun ada digendongannya. Aku hanya tersenyum simpul menanggapinya, padahal sesungguhnya karena ucapan ibu yogeun gempa berskala 9,8 SR serasa mengguncang hatiku. Membuatku berdebar setengah mati. Kulirik gadis disebelahku ia pun sama, malu. Dapat kulihat pipinya yang sudah berubah warna, dan tatapannya yang hanya berani memandang ujung kakinya.

“Maaf, aku harus menerima telpon,”ucap Jiyeon kepadaku setelah kami berpisah dari yogeun dan ibunya. Gadis itu lalu melangkah ke tempat yang lebih sepi agar bisa mendapatkan privasi, lalu menerima panggilan dari handphonenya. Cukup lama ia menjaga jarak dariku sampai akhirnya kuputuskan untuk menghapirinya. Dari belakang, dapat kulihat bahunya yang bergetar. Kuraih bahu dan dengan sekali gerakan kubalikkan tubuhnya agar menghadapku. Aku terkejut ketika kudapati wajah gadis itu basah dengan handphone yang masih menempel di daun telinganya. Jiyeon..dia menangis.

Jiyeon pov

Sepi sekali, setidaknya itu yang kurasakan di rumahku. Hari ini ji eun pulang ke rumahnya untuk mengunjungi  ibu dan adiknya, alhasil hanya aku yang tersisa di rumah ini. Kuputuskan berjalan ke ruang tengah dan menonton dvd yang belum sempat kutonton untuk mengusir rasa bosanku. Sudah sekitar setengah jam aku dalam posisi seperti ini, memakan camilan yang kuambil dari kulkas dengan mata yang masih terpaku pada layar tv.Lama kelamaan kurasakan pipiku basah akibat airmataku sendiri. Shit, aku salah beli film. Film ini sedih, dan aku paling anti nonton film yang genrenya sad romance apalagi kalau sad ending. Tiba-tiba saja terdengar bunyi ketukan pintu tanda ada tamu yang datang membuatku beranjak dari aktivitasku dan berjalan ke arah pintu utama yang tidak jauh dari ruang tengah. Kuraih kenop pintu dan memutarnya dengan sekali gerakan, menampakkan sesosok yang sudah tak asing lagi sedang berdiri dengan senyum yang terpampang jelas di wajahnya.

“Bagaimana kau bisa tahu rumahku?dan untuk apa ke sini?”kata-kata itu sengaja kukeluarkan dengan sinis untuk menutupi debaran jantungku yang tiba-tiba saja jadi tak terkontrol ketika melihatnya.

“Hm, panjang ceritanya,” jawabnya sambil ngeloyor masuk tanpa dosa, melewatiku yang masih berdiri di ambang pintu. Kuikuti langkahnya yang kini menuju ke ruang tengah lalu duduk tanpa kupersilakan.

“Jadi ini yang dilakukan anak perempuan saat senggang?menonton dvd dan memakan camilan ini sendirian apa enaknya?”

“Hei, kau belum menjawab pertanyaanku. Untuk apa kau kesini?untung saja teman satu rumahku sedang pergi , kalau tidak bisa gawat,”tukasku sembari duduk disebelahnya.

“Memangnya kenapa?dia shawol?”tanya Taemin sembari memakan popcornku.

“Ya, begitulah,”jawabku singkat karena aku kembali terhanyut dalam cerita dari film. Setelah itu tak ada satupun dari kami yang bicara. Kami-terutama aku- benar-benar fokus pada filmnya, sampai tiba-tiba muncul adegan ciuman yang membuatku mengalihkan pandangan dari layar tv. Taemin ternyata melakukan hal yang sama, sehingga membuat kami saling bertatap. Deg. Oh tuhan, ada apa dengan peredaran darah di tubuhku?kenapa rasanya darahku mengalir cepat sekali?juga jantungku?kenapa seperti baru saja marathon?juga otakku?kenapa otakku mengingat kejadian kemarin yang mebuatku…entahlah, aku bingung.

“Maaf, aku harus menerima telpon,”kataku setelah kami berpisah dengan yogeun dan ibunya. Kulangkahkan kakiku menuju tempat yang lebih sepi agar bisa mendapat privasi, lalu kutekan tombol answer pada handphoneku.

                “Ada apa, tuan Park?”tanyaku yang kutujukan pada orang yang menelponku.

                “Jiyeon, kau sudah tahu?aku akan pergi,”jawab orang yang tak lain adalah kakakku itu

                “Pergi?kemana?”tanyaku cepat.

                “Aku akan pergi ke Jepang. Aku ingin memperbaiki kehidupan keluarga kita. Aku tidak ingin kau sampai harus kerja sambilan untuk membayar uang kuliahmu. Aku dapat tawaran dari temanku, dan gajinya lebih besar dari pekerjaanku yang sekarang,”jawabnya yang langsung membuat cairan bening jatuh dari mataku.

                “Lalu?kalau kau pergi bagaimana denganku, ibu, dan eun so?kau satu-satunya pria di keluarga kita setelah ayah meninggal,”ujarku sambil berusaha mengecilkan volume tangisku.

                “Karena itulah aku pergi, adikku yang bodoh. Aku bertanggung jawab  atas kalian,”

                “Tidak bisa. Tetap tidak bisa. Tinggal beberapa semester lagi aku akan lulus dan bekerja-sannghyun!sanghyun!”perkataanku terhenti karena dia mengakhiri pembicaraan kami dengan memutuskan sambungan telepon. Aku menangis sejadi-jadinya dengan membekap mulutku sendiri agar tidak mengeluarkan suara, sampai tiba-tiba kurasakan sebuah tangan memegang bahuku lalu dengan satu gerakan membalikkan tubuhku agar menghadapnya.”Taemin,”gumamku pelan.

                Taemin merengkuh tubuhku dalam pelukannya, membuatkutidak dapat menahan perasaan sedihku.tangisku pecah, benar-benar pecah karena aku tidak lagi berusaha menutupi isak tangisku. Entah berapa lama aku menangis, namun Taemin tidak berusaha menghentikanku atau menanyakan penyebab tangisku. Dia hanya terus membiarkanku menangis dalam pelukannya sampai aku benar-benar tenang dan berhenti menangis.

 

Taemin pov

Film yang aku dan Jiyeon tonton memperlihatkan adegan pelukan yang membuatku mengingat  kejadian kemarin saat aku memeluknya. Entah dapat dorongan darimana sampai aku berani berbuat begitu, tapi yang pasti aku ingin sekali melindunginya saat melihat wajah sedihnya itu.

Tanpa sadar mataku terpaku pada Jiyeon yang menonton dengan tidak fokus, mungkin dia juga memikirkan hal yang sama denganku. Aku terus memperhatikannya, baru menyadari rambutnya yang biasanya diikat ekor kuda sekarang dibiarkan tergerai. Dan pemikiranku berakhir dengan kesimpulan ‘mungkin aku suka padanya’. Tidak, aku rasa bukan sekedar suka,kalau dilihat dari gejala yang tubuhku tunjukkan seperti jantungku yang jadi berdebar lebih keras hanya dengan menatapnya saja, bibirku yang membentuk senyum saat melihatnya tersenyum, dan yang terakhir, tanganku sangat ingin meninju pria bernama Park Sanghyun yang membuat Jiyeon menangis di telpon kemarin. Kurasa kesimpulanku berubah menjadi ‘mungkin aku jatuh cinta padanya, pada Park Jiyeon’.

Author pov

Taemin terlalu fokus dengan berbagai pikiran yang bersarang dikepalanya, sampai-sampai ia baru sadar Jiyeon memperhatikannya yang asyik memandangi wajah Jiyeon.

‘’Taemin, kau kenapa?”tanya Jiyeon sembari menggerakkan telapak tangannya di depan wajah Taemin.

“Ah, tidak. Aku hanya..oh iya, aku lupa sesuatu,”jawab Taemin tergagap karena tertangkap basah memperhatikan Jiyeon. Taemin lalu mengambil sesuatu dari tasnya dan memberikan benda itu pada Jiyeon.

“Ini,”Taemin menyerahkan laptopnya yang membuat Jiyeon menatap pria dihadapannya dengan tatapan bingung.

“Aku tidak bisa memenuhi hukumanku untuk jadi pembantumu selama 2 minggu karena aku harus pergi ke Jepang untuk promosi album Shinee versi Jepang. Makanya, aku meminjamkanmu laptopku selama aku di Jepang sebagai gantinya. Tak apa, kan?”jelas Taemin. Jiyon terdiam sementara, lalu akhirnya merespon juga.

“Tentu saja tak apa, toh selama ini aku juga hanya meminjam laptopmu, bukan dirimu. Memangnya berapa lama kau akan disana?”tanya Jiyeon. Ada segurat kekecewaan tergambar diwajahnya.

“Mungkin sekitar 2 bulan,”ucap Taemin, namun tak ada reaksi dari Jiyeon yang masih mencerna kata-kata Taemin. Suasana menjadi hening karena keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing.

“Aku harus pulang. Ayo, antar aku sampai pintu depan,”kata Taemin memulai pembicaraan sembari beranjak dari tempatnya dudu k.

“Pintu kan dekat, jadi kenapa aku harus mengantarmu?”

“Kenapa? Ya jelas karena aku tahu kau akan merindukanku saat aku di Jepang nanti,”tukas Taemin memasang gaya cool-nya.

“Cih, tidak akan!”jawab Jiyeon singkat dengan sinis yang dibuat-buat.

“Sepulang dari Jepang nanti, Shinee akan mengadakan mini konser. Kau bisa masuk tanpa tiket hanya dengan menyebutkan namamu. Kau harus datang,”

“Kenapa aku harus datang?”

“Ya!aku sudah berbaik hati memberikanmu alasan untuk dapat bertemu denganku. Kau harus datang karena aku tahu kau akan sangat merindukanku nantinya,”kata Taemin sembari merapikan rambutnya yang sama sekali tidak berantakan.

“Tidak mau,”jawab Jiyeon lalu menjulurkan lidahnya.

“Kau yakin tidak akan merindukanku?”

“Yakin. Sangat yakin malah!”seru Jiyeon dengan mengangguk pasti.

“Kita lihat apa kau masih seyakin itu setelah aku melakukan ini,”setelah menyelesaikan kalimatnya, pria itu membungkukkan badannya untuk dapat menjangkau Jiyeon yang tengah duduk . dengan cepat Taemin menempelkan bibirnya di pipi kanan Jiyeon yang terpaku akan perlakuan Taemin.

“Aku pulang dulu. Dah Jiyeon!ingat, kau harus datang 2 bulan lagi!”ucap Taemin lalu melesat pergi sebelum Jiyeon marah dan melemparinya dengan barang-barang.

Jiyeon masih terpaku di tempatnya duduk, perlahan ia meraba pipi kanannya yang terasa hangat karena ulah Taemin, pria yang akhir-akhir ini mengisi hari-harinya. “Taemin, kau membuatku berharap,”gumam Jiyeon pelan di antara suara yang berasal dari film yang ditontonnya.

Jiyeon pov

Lagu mr. Simple sebagai tanda adanya panggilan masuk terdengar cukup jelas ditelingaku. Kugapai benda elektronik yang tergeletak tak berdaya di atas meja kecil itu dengan sekali gerakan.

Incoming call

 

                Begitulah nama kontak yang tertera di layar handphoneku, membuatku tersenyum kecil. Taemin, bocah itu hampir setiap harinya menelponku selama ia di Jepang hanya untuk bertanya ‘laptopku masih ada, kan?’ atau ‘kau tidak menjual laptopku kan?’ terkadang juga seperti ini ‘laptopku tidak kau rusak kan?’. Dann menurutku itu pertanyaan yang amat sangat tidak penting untuk ditanyakan setap hari.

“Halo, ini Park Jiyeon,”sapaku sesaat setelah menekan tombol answer.

“Hya!kau masih belum menyimpan nomorku?kenapa selalu menyapaku seformal itu?”tanya suara di sebrang sana.

“Maaf, setiap ingin menyimpan nomormu aku selalu lupa,”jawabku sedikit berbohong.

“Sudahlah, aku hanya ingin mengingatkanmu kalau besok aku akan pulang ke Korea,”

“Lalu?apa hubungannya denganku?”tanyaku yang masih tidak mengerti maksudnya.

“Dasar pikun!apa yang ada di kepalamu itu hanya ada ilmu kefarmasian saja, huh?biar kuperjelas, maksudku adalah mini konser sepulangnya kami dari Jepang,”jawab Taemin, yang dari nadanya terdengar berapi-api.

“Oh..konser itu..baiklah, kuusahakan,”

“Besok datang 30menit sebelum konser dan temui aku di ruang make up. Ada yang ingin kubicarakan,”ujarnya dengan nada serius.

“Ok, tapi kau harus jamin aku tidak akan dihalangi petugas keamanan,”

“Tenang saja, semuanya sudah kuatur,”jawab Taemin serius.

“Kenapa kau serius sekali?seperti orang yang ingin menyatakan cinta saja, haha,”ujarku, bermaksud mencairkan suasana yang jadi kaku.

                “Ah, Onew hyong memanggilku. Dah!sampai besok!”potong Taemin cepat lalu memutuskan sambungan telponnya. Aish, ada apa dengan pria itu?kenapa tiba-tiba jadi aneh?

Berbeda dengan orang-orang yang masih mengantre untuk dapat masuk ke dalam gedung konser, aku sedang melangkah menyusuri koridor untuk menemui Taemin di ruang make up. Tentunya setelah berhasil melewati petugas keamanan yang entah kenapa langsung tersenyum ramah ketika melihatku.

Kuhentikan langkahku ketika melihat pintu kaca warna hitam, lalu mulai mematut diriku di kaca yang memantulkan bayangan itu. Dengan cepat tanganku mulai bergerak merapikan tatanan ekor kudaku yang  agak berantakan dan baju baby blue yang kukenakan. Entah kenapa, bertemu Taemin membuatku gugup, sampai-sampai bercermin berkali-kali hanya karena tidak mau terlihat mengecewakan dihadapannya nanti.

Aku masih sibuk dengan berbagai pikiran yang muncul di benakku ketika dari kaca tempatku bercermin terlihat sebuah telapak tangan –selain telapak tanganku- bertengger  di bahu kiriku.

“Kyaa!” jeritku panik. Kurasakan tangan itu membalikkan tubuhku 180 derajat, dan setelah meyakinkan diri sendiri kalau hantu tidak mungkin bisa melakukan hal itu, kuberanikan diri untu membuka mataku yang terpejam.

“Hai!”kutemukan sesosok pria tengah berdiri dihadapanku dengan senyum mengembang.

“Kau pasti Park Jinyoung? Bukan, Park Seungyeon? Eh, atau Park Hyoyeon?”

Pria itu sibuk memikirkan siapa namaku sambil sesekali menggaruk kepalanya.

“Park Jiyeon,”jawabku akhirnya. Seperti seseorang yang baru mendapat pencerahan, pria itu langsung memasang ekspresi senangnya.

“Ah, itu maksudku!”ujarnya sembari menjentikkanpa jari. “Aku  lupa. Perkenalkan, aku Onew,”lanjutnya lalu menjabat tanganku hangat. “Kau cantik. Pantas si maknae yang satu itu menyukaimu,”katanya lagi.

“ Menyukaiku?”

Alih-alih menjawab pertanyaanku, pria itu justru melirik jam tangannya lalu mulai beranjak.

                “Lurus, lalu belok kiri. Ruang make up ada di pintu ketiga setelahnya!”serunya, sebelum benar-benar pergi.

Kususuri koridor sesuai dengan instruktur dari pria bernama onew itu,dan disinilah aku sekarang, di depan pintu warna cokelat gelap yang merupakan ruang make up Taemin. Dengan sekali gerakan kuputar gagang pintu itu dan tanpa sengaja menyaksikan suatu hal yang membuatku mematung dalam sekejap. Sebuah pemandangan dimana seorang laki-laki fan perempuan berpelukan dalam keheningan. Dari model  dan caranya berdiri aku tahu laki-laki itu adalah Taemin, walaupun ia menghadap ke arah yang berlawanan. Dedangkan si wanita yang wajahnya dapat kulihat dengan jelas sethuku bernama choi Sulli, anggota girlband dari  manajemen yang sama dengan Taemin.

Kututup pintu nyaris tanpa suara, takut mengganggu urusan keduanya, lalu kembali menyusuri lorong sepi ini dengan berbagai pikiran yang berkecamuk di kepalaku. Choi Sulli. Aku tahu perempuan itu dari ji eun yang beberapa pekan terakhir selalu membicarakannya sambil memperlihatkan artikel gosip dengan headline ‘Cinta Satu Manajemen Antara Lee Taemin dan Choi Sulli’. Hubungan keduanya memang sudah menjadi gosip hangat di kalangan masyarakat akhir-akhir ini, tapi aku tidak menyangka kalau berita itu sungguhan.

“Apa Taemin menyuruhku menemuinya untuk memberitahukan kabar baik hubungannya dengan choi Sulli itu?”tanyaku pelan yang tentu saja tidak mendapat jawaban dari siapapun karena lorong ini begitu sepi. Entah mengapa memikirkannya membuat dadaku sesak, dengan langkah yang terasa sangat berat kulanjutkan langkahku menuju ruang mini konser diadakan.

Taemin pov

Sulli menutup permukaan wajahnya dengan telapak tangan dan menangis tersedu-sedu, membuatku merasa bertanggung jawab sebagai seorang pria untuk menenangkannya.

“Sudahlah, aku yakin pasti ada jalan keluarnya,”hiburku sembari menepuk pelan punggungnya. Mendengar ucapanku, Sulli langung menatapku dan dengan sekali gerakan ia memelukku erat. Ia menangis di pelukanku, membuatku bingung harus berbuat apa, tapi akhirnya kuputuskan untuk membala pelukannya agar ia tenang.

Cukup lama kami dalam posisi seperti ini sampai kudengar suara pintu yang dibuka dan muncul pria yang sudah tak asing lagi.ng sontak membuat kami  memisahkan diri.

“Bukannya kalian ingin mengklarifikasi gosip yang dibuat SM?tapi kenapa tingkah kalian menunjukkan sebaliknya? Apa kalian..”Onew hyong menatap aku dan Sulli dengan tatapan selidik.

“Tidak, tidak, kau salah paham hyong. Aku dan sulli tidak-“pernyataanku langsung dipotong onew hyong. “Iya juga tak apa. Bukan urusanku. Cepat bersiap, 15 menit lagi kita tampil,”katanya lalu mulai beranjak keluar meninggalkanku yang menghembuskan nafas lega.

“Oh ya, tadi aku bertemu dengan park Jiyeon. Apa dia sudah menemuimu?”tanya onew hyong saat ia sampai di ambang pintu. “Jiyeon? Tadi dia kesini?”tanyaku dengan mata membulat.

“Ya, tadi aku memberitahunya letak ruang make up . memang kau tidak bertemu dengannya?apa dia tersesat ya?”jelas onew hyong.

Aku terdiam mendengar jawaban onew hyong. Otakku membuat dugaan yang 98% benar, Jiyeon melihat aku dan sulli berpelukan. Merasa itu benar, aku langsung bergegas mencarinya, tetapi onew hyong menghalangiku.

“Jangan sekarang. Kita akan tampil 15 menit lagi,”larangnya yang tak bisa kubantah. Aku terdiam, dapat kulihat sulli menatapku dan onew hyong bergantian, bingung dengan apa yang kami bicarakan.

“Maaf, tapi siapa itu Park Jiyeon?” tanya sulli membuka mulutnya.

2  hours later

Jiyeon pov

Saat oang-orang sudah keluar dari ruang mini konser barulah aku beranjak untuk keluar dari ruangan ini. Mungkin bisa dikatakan akulah yang paling terakhir keluar. Sejujurnya, mini konser selama 1,5 jam tadi membuatku terkesan, tetapi bayang-bayang Taemin memeluk choi sulli terus berputar di kepalaku sehingga aku tidak terlalu fokus. Memikirkannya membuat dadaku lagi-lagi sesak. Benar-benar sesak sampai aku akhirnya menyerah dan mengeluarkan airmata yang sudah u

Aku terus berjalan sambil berusaha menghapus airmataku yang tidak mau berhenti sampai akhirnya aku menabrak seseorang. Dari posturnya dapat kupastikan dia adalah pria. Kudongakkan kepalaku dan langsung memeluknya ketika menyadari siapa dia. Tangisku pecah di pelukannya.

“Yeon?”tanyanya bingung ketika melihat reaksiku.

Taemin pov

Aku langsung bergegas mencari Jiyeon setelah konser usai, namun ruang konser sudah tidak ada orang satupun. “Mungkin dia masih disekitar sini,”pikirku, lalu mulai mencarinya di luar gedung. Aku terus mencari sampai mataku menangkap sesosok perempuan yang berpelukan dengan seorang pria. Dari apa yang kulihat sepertinya perempuan yang kuduga sebagai Jiyeon itu sedng menangis. Seketika itu juga nama Park Sanghyunlah yang muncul dipikiranku. Pria itu sudah membuat Jiyeon sedih saat di taman pertama kali kami bertemu, juga membuat Jiyeon menangis di telpon, dan sekarang ia membuat gadis itu kembali menangis. Jiyeon. Gadis itu terlalu baik untuk disakiti.

Kulangkahkan kakiku untuk menghampiri mereka, kutarik kerah baju si pria, dan..BUGH! kubuat dia tersungkur dengan sekali pukulan.

“Hya! Kau gila?”seru Jiyeon sambil menatapku sengit lalu menghampiri pria itu. Jiyeon mengambil posisi di sebelah pria yang kuyakini bernama Park Sanghyun itu , lalu mulai menyeka darah yang keluar dari hidung Park Sanghyun dengan saputangannya.

“Oppa, perih ya?”tanyanya lembut pada Park Sanghyun yang membuatku berada di puncak kecemburuan sekarang ini.

“Oppa?”

Kami bertiga menatap ke sumber suara. Seorang perempuan seumuran Jiyeon menghampiri Park Sanghyun sembari menatap pria itu dengan tatapan khawatir.

“Oppa, kau kenapa?”tanya perempuan itu masih dengan kekhawatirannya.

“Ji eun? Sedang apa disini?”tanya Jiyeon pada wanita itu .

“Jiyeon? Aku baru saja selesai menonton mini konser Shinee. Kau sendiri?”tanya perempuan itu yang tidak dijawab oleh Jiyeon.

“Oh ya, oppa, kau sedang apa disini?”tanya Jiyeon pada Park Sanghyun.

“Aku..juga habis menonton konser,”jawab Park Sanghyun agak hati-hati karena luka disudut bibir dan hidungnya.

“Oppa, kau kan tidak suka Shinee, tapi kenapa –ah,astaga! Kalian berkencan tanpa sepengetahuanku?”seru Jiyeon agak histeris. Park Sanghyun dan perempuan bernama ji eun itu tidak menjawab, dan hanya saling memandang malu-malu.

“Jadi kau punya 2 pacar rupanya?”ujarku memecah keheningan.

“Sudahlah, kau lepaskan Jiyeon. Dia terlalu bagus untuk jadi bahan permainanmu,”kataku lagi. Park Sanghyun menarik ujung bibirnya ketika mendengar ucapanku, lalu berdiri menghampiriku. Aku pikir dia akan balas memukulku, tetapi aku salah, dia justru mengulurkan tangannya, hendak menjabat tanganku.

“Aku rasa ada salah paham disini. Perkenalkan, aku Park Sanghyun,kakaknya jiyen,”ucapnya. Aku tertegun dibuatnya, lalu membalas jabatan tangannya.

“Kau perlu bicara dengan adikku bukan?”katanya lagi sembari mengerlingkan sebelah matanya padaku.

Author pov

Taemin kembali membawa Jiyeon ke ruang konser yang sudah sepi dan duduk di antara bangku penonton yang tentu saja kosong semua. Sudah sekitar 10 menit berlalu, namun tak ada satupun dari keduanya yang membuka mulut. Sampai akhirnya Jiyeon jenuh dengan suasana yang menyelimuti mereka dan akhirnya memulai pembicaraan.

“Aku anak ke-2 dari 3 bersaudara, dan Park Sanghyun adalah kakakku. Kau benar, saat pertama kali kita bertemu, aku memang sedang menunggunya. Waktu aku menangis di telpon juga karena dia, karena dia bilang akan pergi ke Jepang untuk bekerja. Sejak ayah meninggal, ia jadi merasa bertanggung jawab memenuhi kebutuhan aku, ibu, dan adikku. Dia kakak yang sangat baik, makanya aku tidak rela kalau dia harus ke Jepang. Dan sepertinya doaku terkabul, karena 2 minggu setelah itu dia berkata ia telah menemukan pekerjaan dengan gaji besar di korea. Ada lagi yang ingin kau tahu dariku?”tanya Jiyeon mengakhiri penjelasan panjang lebarnya. Sementara Taemin yang mendengarnya mengerjap beberapa kali.

“Seharusnya aku yang bertanya. Adakah yang ingin kau tanyakan dariku?”balas Taemin sembari menatap gadis yang duduk disisi kirinya.

“Tidak ada. Karena semua yang ingin aku tahu sudah kubaca di majalah yang ji eun beli tiap minggunya,”jawab Jiyeon santai sambil memandang lurus ke panggung tempat Shinee beraksi beberapa jam lalu.

“Kau sungguh tidak penasaran dengan gosip tentang aku dan sulli? Sungguh?”tanya Taemin memancing Jiyeon, yang hanya diikuti anggukan mantap dari lawan bicaranya.

“Huff! Baiklah, akan kujelaskan walaupun kau berkata ‘tidak mau tahu’. Karena akan butuh waktu lama untuk kau mau mengakuinya,”Taemin menghentikan kalimatnya lalun memperdalam tatapannya pada Jiyeon.

“Aku tahu sebelum konser tadi kau sempat ke ruang make up dan menyaksikan pemandangan yang tidak seharusnya kau lihat. Sulli datang mengadu kepadaku tentang pacarnya yang termakan gosip tidak benar itu. Aku yang juga korban dari gosip itu jadi bisa merasakan apa yang dirasakan sulli, sehingga aku membalas pelukan yang merupakan ekspresi sedih sulli,”jelas Taemin.

“Lalu? Apa hubungannya denganku?” Jiyeon mengalihkan pandangannya dari Taemin dan bersikap seolah-olah tidak peduli.

“Karena setelah melihat kejadian itu kau tidak jadi menemuiku, jadi kupikir kau pasti salah paham,”jawab Taemin gemas.

“Percaya diri sekali kau ini! Bagaimana mungkin aku salah paham. Kita bahkan belum resmi berteman mengingat kita lebih sering bertengkar,”jaawab Jiyeon berbeda dengan isi hatinya.

“Park Jiyeon, kenapa harga dirimu tinggi sekali?”desah Taemin, tak habis pikir. Jiyeon hanya menatap singkat pria disampingnya, lalu kembali menatap lurus.

“Baiklah, kalau begitu mari kita resmikan hubungan kita,” ujar Taemin yang membuat mata Jiyeon membulat seketika.

Taemin beranjak dari tempatnya duduk  lalu mengambil posisi tepat dihadapan Jiyeon yang tengah duduk. Setelah menjadikan lututnya sebagai tumpuan, Taemin merogoh saku jaketnya dan mendapatkan sebuah benda berbentuk kapsul  ukuran besar.

“Jiyeon, would you be..”Taemin memulai perkataannya yang segera dipotong oleh perempuan dihadapannya.

“Taemin, janganmain-main. Ini tidak lucu!”tukas Jiyeon keras.  Gadis itu berdiri dan hendak pergi sampai Taemin memegang lengannya dan mendorongnya kembali duduk.

“Aku tidak main-main. Kau ingat saat pertama kali kita bertemu di taman?”Taemin menghentikan ucapannya untuk menatap Jiyeon mengangguk kecil.

“Waktu itu aku merasa seperti akan mati dalam waktu dekat. Perasaanku hampa dan benar-benar tidak nyaman. Lalu kau datang, entah dapat dorongan darimana sampai aku jadi menolongmu dan akhirnya kenal dekat dnganmu. Saat didekatmu, perasaan menyebalkan itu hilang.awalnya, kukira perasaan itu akan hilang jika aku tidak sedang sendiriann tapi aku salah. Karena hanya didekatmu saja perasaan itu hilang. Dan setelah kupikir, mungkin tuhan mengutumu untukku,”Taemin membuka setenah bagian benda mirip kapsul ditangannya setelah mengakhiri penjelasannya.

Jiyeon meresapi setiap kata yang diucapkan Taemin sambil berusaha mengontrol debar jantungnya yang seperti sedang melompat-lompat. Sungguh, ia tidak tahu harus berbuat dan berkata apa ketika Taemin melepas melepas bagian yang berfungsi sebagai penutup dari benda berbentuk kapsul itu. Sebuah benda berwarna perak yang ada di kapsul itu kini dihadapannya. Dan ia hanya bisa pasrah ketika Taemin memasangkan cincin itu disalah satu jarinya.

“Aaku berjanji pada diriku sendiri, jika aku punya pacar, hadiah pertaa yang akan kuberikan adalah sebuah cincin,” jelas Taemin.

“Itu berarti aku adalah pacarmu sekaran? Tidak bisa. Kau bahkan belum menyatakan cinta padaku, jadi bagaimana mungkin aku pacarmu?”

“Kau ini banyak sekali maunya,” gerutu Taemin yang membuat Jiyeon tersenyum puas sebelum akhirnya keduanya kembali serius.

“Jiyeon, dengarkan aku baik-baik. Aku..aku..”alih-alih melanjutkan pernyataannya, Taemin justru mendekatkan wajahnya pada perempuan dihadapannya. Begitu dekat sampai Jiyeon dapat merasakan hembusan nafas Taemin disekitar wajahnya. Taemin menatap wajah yang menatapnya penuh tanya itu tajam, lalu mencium lembut bibir kecil itu setelahnya. Taemin menjauhkan kembali wajahnya sementara Jiyeon menatap tidak percaya pada pria dihadapannya.

“Aku mencintaimu, Park Jiyeon. So, would you be my girl?”Taemin meneruskan kalimatnya. Jiyeon sibuk denganpikirannya sampai ia tersadar Taemin tengah menunggu jawabannya.

“Ba..baiklah,”

“Baiklah apa?” goda Taemin.

“Ya menjadi pacarmu. Aku tidak tega melihat wajahmu itu, makanya aku mau. Jangan salah paham,”jawab Jiyeon menutupi kegirangannya yang memuncak.

“Jadi kau menerimaku hanya karena kasihan? Bukan karena kau punya perasaanng  yang sama denganku?”Taemin memasang wajah kecewanya. “Aku tidak ingin memaksamu, jadi kutarik kembali kata-kataku tadi,”ujar Taemin lalu berusaha melepaskan cincin yang tadi dipasangnya di jari Jiyeon sampai Jiyeon menghentikannya.

“Jangan. Kau tidak bisa mengambil kembali apa yang sudah kau berikan. Baiklah, baiklah,kau dengarkan baik-baik, aku tidak akan mengulangnya,”ucap Jiyeon lalu mengatur nafasnya, sementara Taemin menunggu dengan antusias.

“Lee Taemin, aku..aku..aku juga menyukaimu,”ucap Jiyeon dengan suara yang amat kecil namun sangat jelas ditelinga Taemin karena ruangan yang begitu hening.

“Tapi..tapi aku tidak yakin kita dapat bertemu setiap hari,”kata Jiyeon cepat, masih berusaha menutupi kegugupannya.

“Begitu ya? Aku rasa seminggu hanya sekali bertemu sudah cukup,”ujar Taemin menanggangpi.

“Ah, 2 minggu sekali saja sepertinya lebih baik,”balas Jiyeon. “Tdak, tidak, sebuan sekali saja. Aku sibuk kuliah,”sambungnya.

“Jangan, menurutku 3 bulan sekali saja. Karena Setelah kupikir-pikir jadwalku juga sangat padat,” ujar Taemin melebih-lebihkan.

“Ah! Setahun sekali saja!” seru keduanya bersamaan. Seketika ruangan konser itu hening, namun sedetik kemudian disusul tawa keduanya.

“Haha, bagaimana mungkin aku sanggup hanya bertemu satu kali dalam setahun denganmu, sayang? Aku bisa mati,”ucap Taemin yang se karang sudah merangkul Jiyeon yang wajahnya sudah memerah karena kata ‘sayang’ yang diucapkan Taemin.

“Hya! Sampai kapan kalian akan terus bermesraan seperti itu?”seru sebuah suara yang membuat jiydan Taemin seketika menoleh pada sumber suara yang tak lain adalah sanghyun yang tengah berdiri di ambang pintu dengan ji eun dismpingnya.

“Kalian tega sekali membuat kami menunggu lama sekali diluar,”tukas ji eun dengan tatapan sengit.

“Lee Taemin, kau harus traktir kami karena luka yang telah kau buat diwajahku,”kata sanghyun sambil menunjuk sudut bibirnya.

“Tentu saja hyng. Dengan senang hati,”jawab Taemin lalu menghampiri sanghyun dan berjalan di sebelahnya. Sementara Jiyeon menghampiri ji eun.

“Ji eun, kau tidak marah kan?”tanya Jiyeon agak hati-hati.

“Tentu saja tidak. Yang aku sukai kan key, bukan Taemin,”

                “Begitukah? Tapi kau lebih suka park key itu atau park sanghyun?”goda Jiyeon.

“..”

“ya!kau harus jawab, ji eun,”paksa  Jiyeon.

“Aku..lebih suka yang kedua,”jawab ji eun dengan suara yang jauh dari kata terdengar. Namun sepertinya Jiyeon puas mendengar jawaban ji eun.

“Baiklah calon kakak ipar, ayo kutraktir,”ujar Jiyeon yang berhasil membuat semburat merah menghiasi wajah manis ji eun.