Adults · chapter · Couple · Drama · family · fanfiction · frienship · humor · Hurt · Life · Love · musik klasik · romance · sad · Teen Fiction

The Curse Of Alodia Chapter 1


Untitled-2

Note : Berhubung karena lapak ini sepi maka FF ini bakal aku protect di bab dua nanti. Mungkin kalian bertanya-tanya kenapa main castnya bukan Jiyeon. Sebenarnya aku membuat cerita ini masih memikirkan Jiyeon dan kenapa dalam cerita ini diubah? Karena FF ini aku persembahkan untuk sahabat aku yang sedang berulang tahun. Jadi maklumi saja dan kalian boleh bebas membayangkannya mau itu jiyeon atau bukan aku mau semua orang menikmati tulisanku. Tapi kalau nanti ada yang minta untuk mengubah nama akan aku ubah nanti tergantung kalian. Mohon maaf untuk cover aku harus pairingin Jiyeon sama Park Hae jin karena aku kesulitan mencari pemeran tokoh prianya. Hehe.

Jika ada yang bertanya genrenya kalian saja yang menentukan, karena ini masih awal aku tidak mau terburu-buru memutuskan. Judul FF ini tadinya bukan The curse of alodia karena kebingungan untuk sementara ya ini saja. Satu lagi. Aku sedang kuliah di jurusan Psikologi jadi maaf saja kalau publishnya lama, tergantung mood aja aku bikin cerita dan aku ngga mau phpin kalian, jadi aku ngga tentu mau kapan updatenya.

And then yang terakhir saya muncul sebagai author Celena Elaine. aku punya wattpad juga dengan nama Celena_Elaine. Kalian bisa kunjungi lapak aku disana. Sekian dari saya jika ada kata yang kurang berenan mohon di maafkan. Saya juga masih belajar menjadi Author yang baik dan benar.Mohon maaf bila alur dan tata bahasa kurang enak di baca.

***

Bab Satu

 

Alodia menatap layar televisi dari balik meja tempatnya berdiri. Pagi ini saatnya jam tayang sebuah berita ekslusif. Subjeknya masih sama yaitu seputar kasus pembunuhan dimana pelakunya masih belum ditemukan keberadaannya. Beberapa detektif sudah di terjunkan langsung untuk menyelidiki maupun menangani kasus rumit yang sudah berjalan hampir selama satu bulan penuh. Sampai sekarang tercatat sudah lima orang meninggal dengan cara yang sama seperti korban pertama sampai keempat. Anehnya sasaran utama dalam kasus pembunuhan selalu saja seorang wanita berusia dua-puluhan.

Alodia mengutuki bahkan mengumpat dalam hati. Dia merasa kesal dengan stasiun televisi yang selalu saja mengingatkan tentang berita kriminal semacam ini. Apalagi pihak kepolisian yang bersangkutan terkesan begitu lambat dan tidak kompeten. Rasanya ia ingin sekali membenahi kesalahan-kesalahan yang mereka lakukan.

”Kau bercanda? Bagaimana bisa korbannya bertambah lagi. Oh ayolah pelakunya hanya satu. Benarkan Alodia?” Gilbert berbisik kecil sebelum melangkah pergi mengantar dua gelas es cappucino dan secangkir cokelat panas di meja nomor delapan tepat di samping dinding kaca. Alodia melihat Gilbert sedikit berbincang dengan tiga pria yang sudah dua minggu menjadi pelanggan di cafe ini. Biasanya mereka selalu memakai pakaian formal namun hari ini sedikit berbeda karena penampilan mereka lebih normal dengan pakaian casualnya.

“Mereka itu arsitek dan kudengar salah satunya adalah teman anjing gila itu” Elena mendengus sebal. Biasanya dia akan datang dengan wajah penuh ceria dan tingkahnya yang polos sedikit konyol terkesan memalukan, namun sudah hampir tiga hari berlalu semenjak ia bertengkar dengan atasannya. Pria jahat tidak punya hati- hanya mementingkan kedisiplinan dalam pekerjaan selalu menuntut kesempurnaan berdasarkan visi-misi omong kosongnya.

“Kalau tahu begitu aku akan memasukan racun kedalam minuman mereka”
Alodia tertawa “Lalu setelah itu kau mau membuat cafe ini masuk dalam berita dengan tersangka utamanya kau. Ya ampun Elena jangan libatkan orang lain ke dalam dendammu”

“Aku selalu ingin melakukannya! Membunuh anjing gila itu” rutuk sambil melirik kecil kearah pria dengan kemeja biru dan celana panjang hitam yang mengilap. Usianya baru masuk awal tiga puluhan namun tak sedikitpun wajah tegas itu menampilkan kerutan awal di sana- rambut halus yang dibiarkan tumbuh di sekitar dagunya justru membuat penampilannya bertambah semakin tampan saja. Hanya satu kekurangan di mata pegawainya yaitu nada bicara otoritas kasar dengan sikap dominan sombongnya. Meskipun Alodia akui bahwa itu menjadi daya tarik tersendiri bagi atasannya dipuja-puja oleh para wanita.

“Apa yang bisa kubantu untuk tuan besar kita?” kata Elena sedikit ketus dan Alodia yakin jika Mr. Thony Mathew tahu kenapa gadis berambut pirang itu bersikap dingin padanya. Laki-laki itu menampilkan senyuman dengan bibir kurang ajarnya itu.

“Aku tidak mau dibantu olehmu, Manis” jawabnya lalu ia segera menoleh ke arah Alodia. “Tolong kau bersiap-siap karena hari ini aku ingin kau ikut denganku ke suatu tempat saat ini”

“Kencan di jam kerja? Bukankah kemarin kau menegurku setelah melihatku mengangkat telepon dari kekasihku saat bekerja” sindir Elena.
Thony menanggapi sindiran pegawainya “Rasa cemburumu menandakan kau memiliki hormon seksual yang berlebihan Miss Silly” Gadis berambut pirang itu membenci seringai jahat laki-laki itu hampir seperti ia membenci aktris-aktris dengan kemampuan akting luar biasa mendapat pujian sampai-sampai kaum wanita bertekuk lutut padanya, namun kenyataannya mereka hanyalah sekumpulan laki-laki berotak mesum dan berkepribadian psikopat.

“Aku tidak keberatan memberikan posisiku untuk Elena, karena hari ini aku harus pulang cepat Mr. Thony” mata Elina terbuka lebar setelah mendengar ucapan Alodia, gadis pirang itu terlihat menegang dan pucat pada waktu bersamaan, sampai matipun ia tidak sudi mau ikut dengan anjing gila itu. Seharian ikut dengan laki-laki yang memiliki ambisius tinggi merupakan bencana besar.

“Kau dengar manis? Aku ditolak mentah-mentah” sambil tertawa kecut laki-laki itu menyisir rambut cokelat gelap yang basah karena gel khusus ke arah belakang.

“Cobalah sekali-kali kau membersihkan kotoran kucing di pinggir jalan, siapa tahu hati nuranimu akan terketuk untuk segera memecatku”

“Jaga hawa nafsumu manis, keberadaanmu membuat keuntungan untukku” Thony mundur beberapa langkah memisahkan diri dari kedua gadis di hadapannya lalu melesat kembali menuju kantornya yang berada di lantai dua.

“Terima kasih Lodi kau sangat baik hati, jika setelah ini terjadi hal buruk. Kau yang akan masuk berita selanjutnya sebagai korban pembunuhan keenam” rasa menggelitik membuat tawa Alodia pecah melihat pertengkaran kecil kedua orang itu. Tanpa basa basi si pirang itu menerobos beberapa staff belakang melintasi dapur menuju loker wanita untuk berganti pakaian.

Bel pintu berbunyi menandakan kedatangan seorang pelanggan, hal itu memecah perhatian Alodia. Hari ini memang sedikit sepi mungkin karena orang-orang sibuk di kantor sehingga tidak sempat untuk sekedar mampir dan sarapan disini. Jadi bunyi sedikit dari arah pintu membuat Alodia bersiap memasang senyum natural tetapi terlihat tidak dipaksakan, begitulah motto Mr. Thony untuk menyambut pelanggan. Seorang pemuda berpostur tinggi memakai kaus abu-abu dengan trench coat cokelat muda menyelimuti tubuhnya, tidak kekar namun sedikit berisi sedang berjalan sambil memegang ponsel di tangan kirinya.

“Aku ingin memesan kopi panas” katanya dengan suara bariton yang meluncur dari bibir tipisnya berwarna merah natural sedikit menggoda. Alodia baru bisa melihat dengan jelas wajah pemuda itu. Dahinya yang menampakkan kecerdasan- hidungnya yang indah, matanya berwarna abu-abu tapi terlihat tajam, dan rahangnya yang terbentuk sempurna.

“Satu cangkir kopi panas, apa ada lagi yang ingin anda pesan?” Alodia mengulangi kata-kata pemuda tadi untuk menghindari terjadinya kesalahan.

“Tidak itu saja” tegasnya tanpa berpaling dari ponselnya. Alodia berdeham kecil. “Hari ini kami memiliki menu khusus pancake blueberry, apa kau mau mencicipinya?” Alodia berusaha menawari pemuda yang tampak tidak peduli tersebut. Mencari kesempatan sesuai motto Mr. Thony menawari pelanggan dengan ramah untuk mengambil keuntungan. Cara yang cukup licik dalam industri namun menyenangkan untuk Alodia, apalagi bila akhir bulan gajinya sedikit naik.

“Menarik, tambahkan saja” pemuda itu menimpali.

Alodia tidak bisa menyembunyikan kebahagiannya. Ia berterima kasih kepada pemuda itu karena sudah memberikan uang kepadanya, dengan cepat ia pun segera menambahkan pesanan ke dalam struk pembayaran lalu memasang wajah bahagia seperti gadis tidak tahu malu pada umumnya.

“Semuanya sepuluh dollar” pemuda itu lantas segera merogoh saku celananya dan mengeluarkan uang dari dompetnya. Dia memberikan uang tunainya tidak kurang ataupun lebih.

“Silahkan anda menunggu kami akan mengantarkan pesanan kemeja anda, terima kasih”
Pemuda itu mengangguk pelan sambil melangkah menuju meja tepat di belakang ketiga arsitek di belakang sana.

“Aku merasa mengenal pemuda itu, wajahnya sangat tidak asing” gadis pirang itu tiba-tiba saja muncul di samping Alodia sembari membawa koran harian dari belakang. Dia mengerucutkan bibir setelah membolak balikan koran dan membaca berita utama lantas menyingkirkan setumpuk kertas itu di depan Alodia dalam waktu beberapa detik.

“Dunia ini tidak adil Alodia, kenapa kembaranku bisa sukses di London sementara aku harus berakhir menjadi pelayan di cafe ini?” dia mengeluh.

Alodia mengerutkan sedikit alisnya yang berwarna hitam, mata cokelat cemerlang itu baru menyadari saat menangkap gambar Jennifer menjadi wajah di halaman utama koran hari ini. Gadis itu terlihat mirip dengan sahabatnya. Terkadang Clara lupa jika Elena memiliki adik kembar dan berprofesi sebagai seorang penari ballet terkenal. Tapi sudah lama Elena tidak berhubungan dengan Jenny setelah perceraian orang tuanya sampai pada akhirnya hak asuh Jenny jatuh pada ayahnya begitupun sebaliknya.

”Jangan berkecil hati Elena, kau adalah wanita yang luar biasa suatu hari kau akan menyadari betapa beruntungnya dirimu”

“Jangan bersikap baik padaku Alodia, apa kau lupa aku ingin sekali membunuhmu”

“Sebelum kau melakukan itu sebaiknya kau segera menghampiri anjing gila itu, kau tahu dia sudah menatapmu dengan tajam tepat di pintu depan” tegur Gilbert sembari membawa nampan berisi secangkir kopi dan pancake blueberry.

Gadis itu sedikit memekik kaget melihat wajah terorisme Mr. Thony yang mengerikan, ia menatap tidak suka pada Laki-laki di sampingnya “Terkadang kau sangat menyebalkan Gilbert” Gadis pirang itu menyambar tas dan menyandangnya di bahu kanan kemudian menyengir kecil “Aku yakin mengenali pemuda yang sempat duduk di belakang teman anjing gila itu. Bisakah kau mencari tahu siapa dia?” pintanya sebelum berlari menuju pintu keluar mengejar Thony yang sudah pergi menuju mobil di parkiran luar.
Alodia menggelengkan kepalanya pelan sambil menatap pintu depan yang masih bergerak maju mundur karena Elena. “Jadi kau mau melakukan ini untuknya Gilbert?” tanyanya.

“Kau mengujiku? Bagaimana tanggapan pelanggan kita jika aku tiba-tiba menanyakan identitasnya? Hanya ada dua macam hal yang terlintas dikepala laki-laki itu. Satu dia akan berpikir jika aku menyukainya dalam hal ini dia pasti mengira aku gay, dua dia merasa dicurigai karena melakukan sesuatu yang bukan sewajarnya. Jadi kusarankan lebih baik kau saja” katanya sambil berlalu pergi mengantar pesanan ke meja pemuda tadi.

”Pikiranmu lebih pendek dari yang kukira Gilbert” komentar Alodia. Ia kembali memusatkan perhatiannya kepada setumpuk koran tepat di atas meja. Beberapa berita yang ditulis terkadang tidak penting. Alodia hanya melihat judul yang menarik baginya lalu membaca garis besarnya. Tadi malam adalah konser terakhir band legendaris King of Star, Band kesukaannya sejak dulu, foto berukuran kecil yang terpampang di koran Alodia rasa adalah foto terakhir mereka setelah konser tadi malam yang berlangsung dengan antusias luar biasa hingga berakhir penuh haru seperti kata Jill, temannya yang ikut menonton konser tersebut. Kemudian di bagian bawahnya ada kabar terbaru seputar kasus pencurian berlian di museum Balai kota. Alodia hanya bergumam jengkel sambil beralih mencari berita lain. Berita kriminal memang sangat ia benci. Ada berita menarik saat ia membalik koran ke halaman berikutnya. Pekan ini Washington D.C sepertinya kedatangan seorang musisi star baru yang sedang naik daun. Ia akan mengadakan konser solo dengan bintang ternama yang namanya masih di rahasiakan.

Alodia tersenyum samar ia jadi teringat dengan Ernesh, adiknya. Cita-citanya dari dulu ingin menjadi musisi berbakat. Anak itu sangat mencintai musik klasik bahkan ia sudah memiliki biola ketika usianya lima tahun. Dia juga pernah menjadi juara favorit dalam perlombaan musik meskipun tidak pernah sama sekali meraih juara satu tapi ekspresi wajahnya yang bahagia ketika melihat penonton senang dengan permainannya membuatnya tak pernah patah semangat. Jika saja kondisinya saat ini baik, Alodia sangat ingin mengajaknya ke konser itu meskipun dirinya tidak terlalu menyukai musik klasik. Asalkan adiknya senang ia pun bahagia.

“Permisi Nona Alodia Brown bisakah kau membantuku” suara bariton yang terdengar tak asing membuatnya tersentak dari tempatnya hingga menegakkan tubuh kurusnya dan beralih kepada sosok pemuda tadi. Matanya yang tajam dan dalam melihat ke name tag yang berada di dada kanannya kemudian berpindah pada setumpuk koran di mejanya. Alodia menggigit bibir bagian bawahnya, kebiasaan buruk yang sering dilakukannya ketika sedang gugup.

“Aku minta maaf telah mengabaikan anda, bisakah kau mengulangi kata-katamu”

“Aku hanya ingin meminjam koran hari ini, tepatnya yang sedang kau baca. Pagi ini aku terburu-buru sampai lupa membaca koran. Bolehkah aku meminjamnya”

“oh te..tentu saja..” Clara tergagap ia segera memberikan setumpuk koran itu kepada pemuda tadi, ia jadi kikuk dan merasa malu lantaran ketahuan sedang asik membaca koran. Beruntung pemuda itu bersikap wajar dan tidak macam-macam. Ia berusaha memperbaiki kesalahannya dan bersikap tenang.

“Kau terlihat pucat” goda Gilbert sambil menaruh nampan kosong di atas meja.

“Kau salah sangka, wajahku memang terlalu putih karena bedak” sanggahnya.

“Kau memang pandai berbohong cantik”

Alodia berdesis sebal sembari mencuri pandang ke arah pemuda tadi. “Mungkinkah dia seorang pengusaha? Kau tahu penampilannya begitu mencolok”

“Kurasa bukan sayang, bagaimana bisa pengusaha menghabiskan waktu duduk di cafe seorang diri di jam sibuk seperti ini. Apalagi ini bukan hari libur”

Alodia mengangguk pelan kata-kata Gilbert barusan ada benarnya. Ia berubah pikiran karena tiba-tiba ikut penasaran dengan pemuda tersebut.

“Aku heran kenapa kalian para wanita suka sekali dengan tipe laki-laki seperti dia, padahal wajahku jauh lebih baik darinya”

Alodia mengerang sebal saat mendengar kata-kata Gilbert yang terkesan narsistik. Dia memang menjadi orang kedua yang menyebalkan setelah atasannya “Apa kau pernah bercermin di depan kaleng semir sepatu?”

“Kau pikir aku ini hewan ya?”

Gadis itu membuang muka ke arah lain. Ia malas menimpali kata-kata Gilbert. Pria itu masih belum sadar jika Alodia mengabaikannya dan terus berceloteh mengenai neneknya yang mengidap penyakit alzheimer. Alodia tidak peduli, ia lebih mengkhawatirkan kondisi Ernesh yang tidak mengalami perkembangan. Sungguh dia sudah tidak sabar ingin segera melesat pergi menuju General Hospital Washington siang ini. Alodia berharap saat datang kesana kabar baik akan menyambutnya, uang tabungannya mulai menipis untuk biaya rawat inap adiknya. Padahal bulan ini ia belum membayar listrik. Sementara kebutuhannya untuk bulan depan sangat banyak. Jika adiknya tidak kunjung sadar maka ia terpaksa harus berhenti kuliah karena mustahil mengambil cuti jika bayarannya sama saat ia kuliah. Kepalanya tiba-tiba terasa pening jika mengingat masalah itu.

“Gilbert bisakah kau mematikan televisi dan menggantinya dengan musik klasik? sepertinya hatiku sedang hancur” Alodia berusaha menghentikan celotehan Gilbert yang semakin lama semakin membuatnya pusing dan tidak membantu masalahnya.

“Tidak biasanya kau mendengarkan musik klasik, biasanya kau menjadi gila jika lagu itu tiba-tiba terputar” dia berkomentar tepat setelah permintaanya.

“Putar saja atau aku akan menggigit tanganmu sampai patah”

“Baiklah Miss Blyne yang temperamental” Gilbert berdecak lalu berbalik mengambil remote tv dan mematikannya kemudian bergegas kelantai dua untuk menyetel CD player disana. Tidak menunggu waktu lama Beethoven Moonlight Sonata terdengar berdentum dari speaker yang terpasang di antara tiang kayu. Sementara itu Alodia memutuskan keluar kasir untuk membersihkan meja bekas ketiga arsitek yang telah kosong dan hanya menyisakan setumpuk sampah tidak berguna diatasnya. Untung saja Cafe sepi pengunjung dan hanya tersisa empat orang saja. Jadi ia tidak akan kelelahan karena tentara penghisap darah itu baru akan datang saat jam makan siang.

“Aku sedang keluar untuk sarapan pagi, berada di dalam rumah yang sama denganmu sering membuat penyakit asmaku kambuh” kata pemuda itu datar. Dia mencoba memberikan penjelasan kepada seseorang diseberang sana dan Alodia yang berada di dekatnya kebetulan mendengar pembicaraan tersebut “Dengarkan aku Ellie, apa kau pernah menyadari kenapa Rumah sebesar itu berhantu?”

“…….”

“Tentu saja kau tidak tahu karena mulut kotormu yang tidak terkendali itulah penyebabnya” Tidak sabar dengan ocehan suara diseberang sana pemuda itu lantas buru-buru mematikan sambungan ponselnya. Pertengkaran suami istri di pagi hari. Bill dan Jane tetangganya seringkali seperti itu selalu membuat keributan. Thomas si pengantar koran saja mengalami nasib buruk karena ulah mereka. Kalau diingat-ingat sudah lama Alodia tidak melihat pria kecil yang seumuran dengan Ernesh itu. Setahu Alodia anak itu sebatang kara, ia bahkan tidak tahu darimana asalnya.

“Kau melamun saja” Alodia terkejut ketika wajah Gilbert tiba-tiba muncul di hadapannya. Ia setengah memekik dan nyaris menjatuhkan sekantung sampah.

“Kau ini tidak bisakah datang dengan lebih elegan lagi”

“Oh honey ketika kau menyuruhku bertingkah lebih elegan pangeran dari negeri dongeng tadi sudah hilang”
Alodia menolehkan kepalanya untuk menemukan sosok pria tadi namun seperti perkataan Gilbert. Dia hilang.

To Be Continued.

Password untuk bab selanjutnya : psikologi

Tiap bab akan aku ubah passwordnya. Sampai Jumpa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s