Adults · chapter · Couple · fanfiction · humor · Hurt · Life · Love · ONESHOT · romance · sad · Teen Fiction

Scent Of A Woman


Scent of a woman

Note : Cerita ini sudah aku ubah ke konten dewasa (NC). Bahkan keseluruhan ceritanya berbeda dengan yang sebelumnya. Tapi intinya tetap sama. Jadi mohon maaf untuk bab dua akan aku protect. Bagi kalian yang masih dibawah umur dilarang membacanya. Kalau puasanya batal penulis akan berdosa hehe. Cerita ini juga aku post di Wattpad aku. Kalian bisa ke lapak aku dengan User : @Celena_Elaine. Selamat membaca!

Lanjutkan membaca “Scent Of A Woman”

Adults · chapter · Couple · Drama · family · fanfiction · frienship · humor · Hurt · Life · Love · musik klasik · romance · sad · Teen Fiction

The Curse Of Alodia Chapter 1


Untitled-2

Note : Berhubung karena lapak ini sepi maka FF ini bakal aku protect di bab dua nanti. Mungkin kalian bertanya-tanya kenapa main castnya bukan Jiyeon. Sebenarnya aku membuat cerita ini masih memikirkan Jiyeon dan kenapa dalam cerita ini diubah? Karena FF ini aku persembahkan untuk sahabat aku yang sedang berulang tahun. Jadi maklumi saja dan kalian boleh bebas membayangkannya mau itu jiyeon atau bukan aku mau semua orang menikmati tulisanku. Tapi kalau nanti ada yang minta untuk mengubah nama akan aku ubah nanti tergantung kalian. Mohon maaf untuk cover aku harus pairingin Jiyeon sama Park Hae jin karena aku kesulitan mencari pemeran tokoh prianya. Hehe. Lanjutkan membaca “The Curse Of Alodia Chapter 1”

Uncategorized

Miss Comeback!!!


Hai hai para readers masih ingat author disini? Hmm pasti sudah lupa ya karena kebanyakan menganggur cerita. Baiklah sebelumnya mari kita berkenalan dulu. Di blog ini ada empat author, yaitu:

  1. Kim il sung
  2. Lee jae min
  3. Bae rin mi
  4. Han rae in

Lanjutkan membaca “Miss Comeback!!!”

Couple · humor · Love · romance · school life · Teen Fiction

Just You — Chapter 1


1e491291bde550a17bd7e54f20f0f5c5 copy

SEBENERNYA INI UDAH GUA SHARE DI WATTPAD, JADI KALAU SUATU SAAT GUA GAK UPDATE UPDATE DISINI BERARTI GUA SHARENYA DI WATTPAD HAHA.

https://www.wattpad.com/289002111-just-you-chapter-1-bunga-gabriella-maynard

INI GUA KASIH LINKNYA, JANGAN LUPA COMMENT ATAU FOLLOW GUA YAH DI WP HAHA. THANKS YOU:*

 

CHAPTER 1 : BUNGA GABRIELLA MAYNARD

 

Kenapa aku harus bersama dia lagi, bersama dengan cowok menyebalkan macem dia. Sial, apa aku harus pindah sekolah biar tidak bertemu dengan dia lagi?!! Aku terlalu lelah bersama dia, sejak kecil selalu dia, dia dan dia.

“hai darling” aku tahu suara itu, suara cowok menyebalkan. Lanjutkan membaca “Just You — Chapter 1”

chapter · family · fanfiction · frienship · romance

When It Fall {the sixth}


whenitfall

Author : Han Rae In

Title     : When It Fall (the sixth chapter)

Length : Chapter

Genre : Romance, Life, Sad

Rating : PG-15

Cast : – Park Jiyeon
– Cho Kyuhyun

note : hai apa kabar??

andwae, jangan acuh gitu dong..aku tau ini postingan telat..banget..hehe..tawa lagi lu sabar,sabar, jangan bertanduk gitu dong ah..kasih kesempatan buat aku berkilah…akhir-akhir ini aku kehilangan Jiyeon juga t-ara..aku lost contact, mereka ngga ada di tv, atau acara apapun, dan itu bikin feelnya berkurang, karna itu juga chapter ini agak membosankan banget gimana gituu..T_T ditambah lagi ada hobi-hobi baru yang bermunculan jadi ya seperti ini akhirnya hehe..baiklah, note ini isinya cuma alasan yang biasa keluar dari mulut pejabat negara yang ngerasa ngga salah, padahal mah emang salah haha..okelah, happy reading sajaa

~~~

When It Fall { the sixth }

 

Cklek..

“Hai,”

Sapaan singkat yang disemat ulasan senyum manis milik Choi siwon itu mampu meluluhlantakan hati setiap lawan jenis. Namun pernyataan subjektif tersebut tak berlaku untuk gadis yang baru saja membuka pintu kayu untuknya. Tanpa keramahan sedikitpun gadis itu hanya membalas dengan mengangkat tangannya malas dan berucap,”Annyeong.”

“Seingatku aku hanya mengundang Hyukjae. Kemana dia? Kenapa justru kau yang kesini?” cecar Hyeri tak ingin repot-repot mengatur nadanya menjadi lebih manis. Seakan tak mendengar apapun, Siwon dengan santainya melangkah masuk mendahului Hyeri yang masih bertahan dipintu masuk dengan mata terpicing padanya.

“Dia sedang sangat mencintai pekerjaannya sekarang ini, jadi kurasa sulit baginya membagi waktu untuk menemuimu.” Ujar Siwon tak bisa menahan tawa kecilnya ketika diotaknya muncul gambaran sang partner yang tengah sibuk dengan berkas-berkas laporan memenuhi meja. Dengan wajah bodohnya yang menjadi lebih berantakan dan mata yang tak henti memeriksa jam, berusaha secepat mungkin agar bisa memenuhi undangan Hyeri. Sungguh, itulah kenyataan sebenarnya dari kata-kata ‘mencintai pekerjaan’ yang dibilang Siwon.

Meski sadar akan tawa sumbang siwon yang janggal, Hyeri memilih tak peduli dan kembali memasang apron motif bunga-bunga kecil dibagian depan tubuhnya. Berkutat dengan loyang berisi adonan berwarna coklat yang memasuki tahap akhir sebelum nantinya dimasukkan kedalam pemanggang kue. Tanpa Siwon sendiri sadari matanya tak berkedip sama sekali melihat keseriusan diwajah cantik itu saat menggeluti hobinya. Tentu sulit mengalihkan pandangan karena mereka berdua ada dimeja yang sama, meja kayu bentuk persegi panjang tempat Hyeri biasa mempraktikkan resep demi resep untuk menu di kafe yang akan dibukanya dalam waktu dekat. Itu pun masih harapan sebenarnya, karena gadis itu kekurangan dana dan pembangunan baru mencapai 40 persen.

“Apa yang kau lihat?” tanya Hyeri sarkastis mendapati mata pria itu yang menatapnya tak berjeda. Siwon lantas menyebar pandangannya kesekeliling, kemana saja asal bukan pada gadis itu. “Ruko ini masih belum jadi juga?” siwon mengalihkan topik pembicaraan, membuat Hyeri ikut melihat ke sekitar dan mendengus setelahnya.

“Bahkan belum setengahnya.” Gadis itu menatap sebal pada isi ruko yang menjadi tempat tinggalnya sementara itu. Sangat berantakan dan tak layak hingga ia sendiri berubah pesimis akan kelanjutan usaha yang bahkan belum dirintisnya tersebut.

“Hey aura suram sama sekali tidak cocok denganmu.” Kata Siwon berniat menghibur namun yang didapatnya justru mata Hyeri yang menatapnya tajam sebelum akhirnya memerah dan kemudian berair. Gadis itu lalu sibuk menyumpah serapahi Siwon seraya berusaha menutupi wajahnya yang kini basah oleh airmata. Pria itu sampai berdiri dari duduknya karena terkejut, berusaha menenangkan Hyeri dengan wajah yang pias penuh tanda tanya.

“Hyeri-ssi kau kenapa?” panik siwon tak memiliki ide sedikitpun akan penyebab pecahnya tangisan Hyeri. Kedua tangan besarnya memegang bahu gadis itu dan membimbing tubuh kurus itu untuk duduk.

“Aku rindu Jiyeon! Kata-kata itu…aku pernah mengatakan kalimat itu pada Jiyeon. Aku berpura-pura ceria didepannya. Padahal..aku hanya tak ingin ia larut dalam kesedihan. Tapi dua bulan ini..aku..aku tidak bertemu dengannya…aku khawatir padanya..aku tidak tahu apa dia masih sering menangis diam-diam atau tidak..apa dia makan dengan baik atau tidak..aku khawatir..” jelas Hyeri terbata, susah payah membuat kalimatnya agar bisa dimengerti diantara sesegukan yang mendominasi. Siwon termangu dibuatnya. Jika diingat-ingat dua bulan terakhir Hyeri memang terlihat kesepian juga tak bersahabat.

Tahu kata-kata tak akan berhasil, Siwon berakhir merengkuh tubuh Hyeri kedalam pelukannya. Mengusap rambut gadis itu sesekali sampai dirasanya tangis gadis itu mereda. Berapa menit kemudian Hyeri menjadi yang pertama merenggangkan jarak diantara keduanya, masih dengan wajah yang kacau gadis itu mencubit keras-keras pipi pria dihadapannya.

“Itu semua karena kau! Karena idemu membuat temanku dengan pria bernama Chocolate atau apa itu namanya hidup disatu rumah! Kau yang membuatku menangis begini, bodoh, jadi jangan berpura-pura simpati padaku!” kesal Hyeri semakin keras menarik pipi Siwon. Gadis itu sampai mengeraskan rahangnya karena terlalu gemas, menimbulkan ekspresi lucu yang membuat Siwon melupakan rasa sakit dipipinya dan justru tertawa.

Alis Hyeri bertaut karenanya,’Kenapa dia tertawa?’ dalam hati gadis itu bertanya. Gadis itu baru akan menyuarakan isi hatinya namun Siwon sudah terlebih dahulu menjawab,”Lihatlah tepung dipipimu berubah jadi adonan karena airmata. Lucu sekali ekspresimu tadi dengan adonan yang menempel disana hahaha.” Tawa Siwon lepas juga. Hyeri memberengut sebelum akhirnya mencari kaca dan mengonfirmasi ejekan pria itu. “Ini benar-benar adonan.” Gumamnya sambil menyeka wajah cantiknya dengan ujung apron.

~~~

“Bukan Chocolate. Tapi Cho Kyuhyun.” Kata Siwon tiba-tiba diantara kegiatannya menyesap secangkir kopi yang disuguhkan Hyeri.

“Yah, apapun itu. Oh ya, bagaimana perkembangan mereka berdua?” respon Hyeri tanpa mengalihkan fokusnya dari kue yang sedang ia hias dengan sentuhan coklat leleh juga buah-buahan segar.

Siwon tampak berpikir sebentar sebelum akhirnya menjawab,”Mereka sudah bertemu satu sama lain dan sepertinya sudah banyak kemajuan. Kyuhyun terlihat sangat bahagia akhir-akhir ini. Apa sangat menyenangkan mencintai seseorang?”

Gerakan tangan Hyeri terhenti sesaat untuk mengejek pria yang harus mendongak untuk menatapnya karena posisi Siwon yang duduk sementara Hyeri berdiri. “Kau harus banyak belajar dari temanmu itu, tuan Choi.”

“Tetap saja itu hanya akan menyakiti seseorang lainnya.” Ujar Siwon dengan wajah prihatin.

Hyeri mengernyit,”Siapa?”

Suara cangkir yang diletakkan diatas piring menjadi bunyi paling dominan. “Ahn Hani, anak kedua dari pemilik Pride corp, perusahaan yang bergerak dibidang tekstil nomor satu sekarang ini. Gadis itu tunangannya Kyuhyun.”

Tubuh Hyeri menegang hanya dengan mendengarnya. Dan bisa merasakan jantungnya hampir lepas ketika hening yang menguasai berubah bising karena ulah Hyukjae. Pria itu masuk begitu saja tanpa mengetuk pintu lalu dengan seenak jidat menyapa dengan suara riangnya juga senyum lebar yang menampilkan gusinya itu.

“Ayo lanjutkan ceritamu Siwon-ssi.” Hyeri menghiraukan kehadiran Hyukjae yang ditunggunya sejak tadi demi mendengarkan lanjutan penjelasan Siwon.

“Cerita apa? apa ini tentang aku?” tanya Hyukjae tak bisa menampik keingintahuannya yang berlebihan dan penuh rasa percaya diri.

Hyeri memicing sesaat sebelum menyuruhnya untuk diam dan makan saja kue hasil buatannya. Namun Hyukjae menolak mentah-mentah dengan berkata akan lebih bagus kalau ia memakan sesuatu yang berat dulu  sebelum melahap hidangan penutup. Siwon yang ternyata juga lapar setuju dengan ide Hyukjae dengan berjanji akan menceritakan lanjutannya seusai mereka makan. Dengan langkah dihentak Hyeri memanaskan panci berisi air lalu menyalakan kompor masih dengan kesal terukir diwajah. Kekesalannya naik tingkat menjadi gerutuan sambil membuka bungkus mi instan dan memasukkannya dalam air mendidih.

“Tch, para lelaki itu sama saja.” Cercanya mengarah pada dua pria yang tengah berbicara tentang pekerjaan dimeja tak jauh darinya. “Tapi ngomong-ngomong bagaimana kalau tunangan si chocolate itu tahu keberadaan Jiyeon? Hah, semua akan bertambah sulit untukmu Jiyeon.” Ratapnya. “Semoga saja tidak seperti yang kubayangkan.”

~~~

“Tepat seperti yang kubayangkan!” suara Hani diiringi satu jentikan jari. Sulit mengetahui apa maksud dari perkataan gadis itu jika hanya melihat ekspresinya yang penuh arti. Secara tiba-tiba ia berkata demikian saat Jiyeon menyuguhkan segelas jus jeruk untuknya diatas meja.

Jelas ditujukan gadis itu pada Jiyeon apalagi kedua mata besarnya itu tak lepas memandangi Jiyeon dari atas ke bawah, bawah ke atas sedari tadi. Dengan tatapan menilai tentunya. Sangat mengintimidasi juga disaat yang sama.

“Berhenti menatap Jiyeon seperti kau akan menelannya hidup-hidup.” Sergah Kyuhyun yang sepertinya tak akan pernah didengar gadis berambut panjang itu. Bukan Hani namanya kalau tidak bersikap frontal.

“Aku permisi.” Pamit Jiyeon sesegera mungkin setelah tugasnya membuat minum selesai. Agaknya ia risih juga dengan tatapan Hani yang seperti menelanjanginya. Gadis itu sudah berbalik dan kembali berkutat di dapur namun tak bisa menahan dirinya untuk tidak mendengarkan  pembicaraan antara Hani dan Kyuhyun diruang keluarga karena tak ada sekat atau dinding yang memisahkan ruangan-ruangan itu.

“Well, aku cukup berhak bersikap jahat pada gadis itu mengingat statusku sebagai tunanganmu. Bukankah itu yang mereka lakukan di drama-drama? Dan disaat aku menangkap basah kalian seperti sekarang ini, harusnya kau berbuat baik padaku, bukannya membela pembantu barumu yang cantik itu. Kau merusak skenarionya, oppa.” Omel Hani namun Kyuhyun hanya menanggapinya dengan tawa renyah yang disukai gadis itu.

“Yak berhenti tertawa seperti itu atau aku akan memukulmu dengan bantal ini.” Ancam Hani tak lupa membuat wajahnya sekesal mungkin.

Lagi, Kyuhyun menanggapinya dengan candaan,”Wae? Apa aku terlihat lebih tampan 5 kali lipat?” godanya yang tahu persis jawaban Hani setelah ini.

“Tidak, bukan 5 kali tapi 10 kali. Dan itu membuatku marah.” Geram Hani lalu sesuai janjinya melayangkan bantalan sofa tepat diwajah pria itu. Entah apa kelanjutannya Jiyeon tak mau tahu lagi. Gadis itu berusaha terlihat biasa saja juga tak mendengar apa-apa. meski nyatanya ada bagian dalam hatinya yang berdenyut, menyadari dirinya bukanlah siapa-siapa dirumah ini, terutama bagi tuannya yang ternyata sudah bertunangan. Hal yang terlupakan karena terlalu senang berada disamping Kyuhyun seharian ini.

Jiyeon tak tahu sudah berapa lama waktu yang ia isi dengan lamunan, yang jelas saat ia tersadar, suara perbincangan antara Hani dan Kyuhyun sudah tidak terdengar lagi. Gadis itu menggeleng keras saat kepalanya hendak memutar memastikan keberadaan keduanya. Bagaimanapun itu bukan urusannya. Kenapa ia berubah tidak tahu diri sekarang ini? Jiyeon mengambil satu nafas panjang nan dalam sebelum memusatkan kembali perhatiannya membalik telur diatas wajan.

“Yakk!” hampir saja Jiyeon melompat kaget akibat pekikan Hani yang tiba-tiba berada disampingnya.

“Yak! Kau tidak berniat menggunakan telur mata sapi itu untuk kimbap kan?” panik gadis itu secara berlebihan dengan mata memandang ngeri telur mata sapi yang ada dibawah kendali Jiyeon. Lalu secara bergantian pandangannya naik keatas, menghujani Jiyeon dengan tatapan yang kurang lebih sama, seakan-akan melihat monster.

Didetik yang sama Jiyeon tahu itu adalah kelalaiannya yang memang tak pernah bisa membagi fokus untuk banyak hal. Karena pikirannya yang terus membuat skenario sendiri, pekerjaannya jadi terbengkalai. Baru kali ini sesuatu yang lain bisa mengacaukan konsentrasinya saat memasak, hal dimana ia sangat ahli didalamnya.

“Sudah, kau lakukan yang lain. Biar aku yang mendadar dan membuat kimbapnya.” Sergah gadis itu mengeser tubuh Jiyeon untuk minggir tanpa sedikitpun beramah tamah atau setidaknya mengatur nadanya menjadi lebih bersahabat.

Tanpa berniat melawan, jiyeon melangkah mundur. Memperhatikan dari jarak yang cukup jauh setiap pergerakan tangan Hani yang tampak sangat ahli menggunakan alat-alat dapur. ‘Cantik, kaya, cerdas, dan bisa memasak, apalagi yang dia tidak punya?’ Jiyeon membatin pahit. Ini pertama kalinya ia begitu iri pada orang lain, seperti bukan dirinya saja. Cepat-cepat Jiyeon menggeleng keras kembali, menghancurkan pemikiran negatif yang hampir terbangun. Ia pun membalik tubuhnya, hendak mengistirahatkan pemikirannya yang sedang ‘sakit’ dengan masuk kedalam kamar. Namun tubuh tegap Kyuhyun menghalanginya. Tanpa satu pun kata terucap, pria itu menggunakan matanya yang dibuat teduh untuk bertanya. Ya, setelah hari-hari berlalu pria itu akhirnya menyadari dirinya dan Jiyeon memang berkomunikasi dengan cara seperti itu. Cara itulah yang lebih efektif mendekatkan batin keduanya.

“Kimbap adalah satu-satunya yang bisa dibuat oleh tangan anak manja itu.” ujar Kyuhyun tiba-tiba seakan menjawab keresahan dimata sendu Jiyeon. Gadis itu baru akan menyangkal, namun batal karena Kyuhyun mengulas bibirnya dengan senyuman menenangkan. Membuatnya secara tidak sadar terpancing untuk tersenyum juga.

“Ah, oppa! Cepat kesini! Aku punya satu ide yang menakjubkan!” panggil Hani begitu matanya menangkap sosok Kyuhyun berdiri hanya sepuluh langkah jauhnya.

Sebelum melangkah menghampiri Hani, Kyuhyun menyempatkan diri menepuk pelan bahu Jiyeon dan berbisik,”Kau tidak terkalahkan oleh siapapun sejauh ini.”

Perkataan Kyuhyun yang penuh teka-teki menimbulkan segurat rasa bingung menghiasi wajah Jiyeon, lengkap dengan mata besarnya yang kini membulat. Bertanya-tanya apa maksud majikannya dan kenapa jantungnya berdebar sangat keras hingga rasanya menggema sampai jari-jari tangan dan kakinya. Oh tidak, tuannya mencoba bermain api.

~~~

Cerahnya langit malam ini memberi kesimpulan bahwa hujan tidak akan turun. Tampaknya alam pun mendukung sepenuhnya ide gila Hani untuk melakukan kemah dadakan. Bahkan tanpa menghiraukan penolakan Kyuhyun dan Jiyeon, gadis itu tetap menyeret keduanya masuk kedalam mobil. Gadis itu juga yang menjadi penyebab utama Kyuhyun berkendara seperti sapi gila dengan jarum speedometer menunjuk angka jauh diatas normal. Sepanjang perjalanan mereka menuju pantai Hani memang tak henti memaksa pria berstatus tunangannya itu untuk mempercepat laju sehingga mereka bisa melihat secara langsung matahari tenggelam ditelan lautan.

Meski pada akhirnya keinginannya itu harus pupus juga karena mereka baru menginjak pantai setelah dua jam lewat dari waktu sunset. Setelah beristirahat sekitar 15 menit barulah mereka bergerak membangun tenda juga api unggun. Bukan mereka, tapi Kyuhyun yang membangun tenda dan Jiyeon berusaha membuat api. Sementara Hani hanya duduk diatas potongan badan pohon sambil memainkan smartphone. Terlihat sangat serius dan yang paling sibuk dengan benda tipis ditangannya itu, Hani sampai tidak menyadari kehadiran Kyuhyun yang menyetarakan tinggi dengan dirinya lalu menyentil dahi gadis itu cukup keras.

“Yakk oppa!! Waee?” Hani mengusap dahinya yang memerah sambil bersungut-sungut kesal. Untuk sesaat gadis itu melupakan apa yang ada didalam ponsel demi melancarkan serangan balik pada Kyuhyun.

“Kau masih bertanya kenapa? Apa sentilanku tidak cukup sakit untuk membuatmu sadar dan membantu Jiyeon hah?” ujar Kyuhyun dengan nada marah yang dibuat-buat. Hani melirik Jiyeon yang hampir selesai dengan pekerjaannya lalu kembali melihat pada Kyuhyun, berniat melakukan pembelaan diri.

“Aku kan sudah membuat kimbap. Jadi sekarang waktunya kalian yang bekerja.” Tukasnya sarkastis. Kyuhyun mendesis pelan sebelum berakhir merebut ponsel gadis itu dan memeriksa apa yang menyita perhatian Hani.

Sebelah alis Kyuhyun terangkat kala halaman depan sebuah website mode muncul dilayar lebar smartphone gadis itu. Seorang Hani memang sangat berminat pada segala hal berbau fashion, gadis itu bahkan mengambil gelar desainer-nya jauh di Perancis. Karena itu aneh rasanya bagi Kyuhyun mendapati gadis itu sangat serius menekuni website fashion yang bisa dibilang masih pemula itu.

“Itu website-ku! Kau tahu? sudah 6 bulan sejak dirilis dan baru akhir-akhir ini booming. Aku dan rekan-rekanku kebanjiran pesanan sampai kami bahkan lupa bernafas.” Jelas hani, sama sekali tidak ahli dalam menyembunyikan rona bahagia yang menjalar dipermukaan wajahnya.

“Kupikir kau ingin menjadi seorang desainer kenamaan dan memiliki butik untuk kalangan atas.” Tukas Kyuhyun menatap manik mata Hani yang terlihat menampakkan senyum setelahnya.

“Ya, tadinya. Tapi aku berubah pikiran. Aku lelah terus menerus diikuti oleh nama besar kedua orangtuaku. Karenanya, aku berpikir mungkin akan lebih baik kalau aku mulai dari yang benar-benar kecil. Aku tidak peduli kata orang lain soal aku yang kuliah di Paris tapi justru hanya menjalankan bisnis online. Aku hanya..hanya begitu senang saat menjalankannya, tidakkah itu cukup bagi orangtuaku untuk menerimanya saja?” raut wajah Hani meredup seiring kepalanya yang bergerak menunduk.

Kyuhyun menghembuskan nafas pelan. Apa beda dirinya dan Hani? Orangtua mereka sama mengaturnya. Seakan semua ucapan mereka adalah mantra yang akan selalu terjadi hingga tak membiarkan anak-anak yang dibilang tak lebih berpengalaman dari mereka untuk mengarungi kehidupan dengan pilihan sendiri. Seperti itulah selama ini cara Kyuhyun, Hani, dan mayoritas keluarga tingkat ekonomi atas menjalankan hidup mereka.

“Bisakah memberi aku satu pelukan? Aku sangat membutuhkannya sekarang ini.” Pinta Hani dengan begitu memelas yang tentu dibalas dengan senyuman oleh Kyuhyun juga rengkuhan hangat pria itu.

“Kau sudah melakukan hal yang benar Ahn Hani. Tunggu sebentar lagi dan berusaha lebih keras lagi, maka aku yakin kau akan menjadi yang terbaik. Ayah dan ibumu pasti akan menerima saat melihat perjuanganmu. Karena itu berhentilah menangis.” Ujar Kyuhyun diantara pelukan mereka. Tangan besar pria itu pun bermain dihelaian rambut Hani, mengusap kepala yang berada dibahunya itu dengan lembut.

“Aku tidak menangis.”

“Arrasseo.” Jawab Kyuhyun masih memberikan kekuatan pada Hani dengan menepuk pelan secara teratur punggung gadis itu. Perlahan Hani yang merasa energinya sudah terisi penuh kini memberikan jarak bagi keduanya.

“Oppa, saranghae.” Kata gadis itu yang lagi-lagi mendapat balasan sebuah senyum dari Kyuhyun.

Pria itu mengangkat tangannya lagi dan mengusap puncak kepala Hani dengan gemas, “Arrasseo.”

~~~

Jiyeon berusaha sangat keras untuk tidak memperhatikan apa yang dilakukan Hani dan Kyuhyun dijarak yang masih bisa dijangkau penglihatannya. Suara angin juga gulungan air sudah membantu gadis itu untuk tidak mendengarkan percakapan keduanya, tetapi sulit bagi matanya tetap fokus. Pada akhirnya segala gerak-gerik pasangan itu terekam dalam ingatannya dengan begitu baik. Dari awal Kyuhyun menghampiri Hani sampai kini keduanya berpelukan mesra.

“Ayolah Jiyeon, jangan seperti orang bodoh.” Bujuknya pada diri sendiri ketika hatinya bergejolak melihat pemandangan itu. Sesaat, ia berhasil mencurahkan perhatiannya pada ubi-ubi terbungkus alumunium foil yang ia mainkan diantara kobaran api dengan sebuah kayu panjang. Tapi tak bertahan lama. Hanya sampai sedetik sebelum sebuah kalimat cinta Hani kepada Kyuhyun sampai di indera pendengarannya karena memang diucapkan lebih keras daripada percakapan sebelumnya. Ia menyerah. Menyerah pada hatinya yang sangat egois dengan masih berpikir Kyuhyun menyimpan perasaan padanya seperti dua tahun lalu.

Karenanya, saat tersisa 3 langkah bagi Kyuhyun juga Hani untuk bergabung mengelilingi api unggun bersama Jiyeon, gadis itu langsung berdiri. “Aku permisi buang air kecil.” Pamit Jiyeon tanpa membuat kontak mata ataupun mendengar persetujuan sang majikan. Gadis itu terus berjalan menjauh entah kemana.

‘Ada apa dengannya?’ Kyuhyun penasaran, namun tak disuarakan. Apalagi yang bisa terjadi dalam hidup gadis itu yang sudah banyak menderita? Batinnya protes melihat bahu turun gadis itu tampak belakang.

“Aku juga mau mencari toilet.” Ujar Kyuhyun lalu mengambil arah yang sama dengan yang diambil Jiyeon. Pria itu sendiri tak sadar kedua mata Hani mengikuti pergerakannya yang semakin jauh dengan ekspresi sedih yang kentara.

~~~

Diliputi aura mendung, Jiyeon menyusuri tepian pantai setapak demi setapak dengan lemah. Kondisi hatinya yang sedang sangat baik setelah berbelanja barang-barang bersama tuannya sore tadi menguap sudah. Hanya tersisa rasa gundah yang ia sendiri tak mengerti karena apa. oh ya, bukan tak mengerti, tapi gadis itu justru teramat sangat mengerti sebabnya hingga tak ingin memikirkannya lebih dalam. Atau semua akan semakin rumit untuk dirinya sendiri.

Harus kemanakah dia menghabiskan waktu  sehingga tuan dan tunangan tuannya bisa bebas mengobrol lebih lama tanpa kehadirannya yang mengganggu? Pemikiran sejenis itu terus bergumul didalam kepala Jiyeon sampai sebuah anak kepiting diantara butiran pasir menarik perhatiannya. Gadis itu lantas merunduk dengan kedua tangan bertumpu pada lutut.

“Woah, yeppeuda..apa kau mencari temanmu?” secara bergantian Jiyeon memandang pada hamparan laut juga makhluk kecil yang berjalan miring semakin ke daratan.

“Hei, laut lewat sini..baiklah, biar kubantu kalau begitu.” Kalimat itu dibarengi dengan kegiatannya melepas sepatu dan menempatkannya dengan rapi agak jauh dari tepi pantai. Kemudian dengan hati-hati Jiyeon memegang tubuh kecil si anak kepiting, membawanya kembali kelautan lepas.

Dinginnya air laut sempat membuat Jiyeon meringis terkejut. Tentu saja, ini sudah malam dan dia seperti orang keterbelakangan mental, mengasihani seekor kepiting. Sedang siapapun yang melihatnya pasti akan berpikir ia adalah seseorang yang menyerah pada kehidupan dan memilih mengakhiri hidup. Jiyeon tertawa kecil sambil menggelengkan kepala membayangkan adegan seperti itu bisa saja terjadi.

“Yep..kita sampai. Annyeong kepiting kecil.” Jiyeon baru saja melepaskan binatang amfibi itu ketika ia sampai pada batas dimana air laut mencapai mata lututnya.

“YAK! BERHENTI DISANA!”

Satu teriakan yang terdengar tak asing dan Jiyeon lantas membalikkan tubuh karenanya. Bisa ia lihat seorang Kyuhyun dengan langkah lebarnya berusaha menjangkau dirinya. Wajah rupawan itu tampak pias dengan murka yang tergurat jelas disana. Ada apa dengan majikannya itu? kenapa terlihat begitu menakutkan seperti monster dalam hitungan menit kepergiannya? Tanpa sadar Jiyeon melangkah mundur sedikit demi sedikit.

“TETAP DISANA KUBILANG!” teriakan Kyuhyun yang kedua. Seharusnya mereka sudah berada digaris yang sama jika saja Jiyeon tidak terus melangkah mundur. Dan sepertinya Jiyeon benar tak mengerti apa yang terjadi, yang dilakukannya hanyalah semakin melangkah kebelakang karena takut. Gadis itu juga melupakan struktur dasar laut yang semakin menurun semakin ia ketengah. Jiyeon sempat hilang keseimbangan dan hampir saja tubuhnya merasakan dinginnya air jika Kyuhyun tidak setengah berlari dan menarik tubuhnya.

Pria itu meraup dengan rakus oksigen sebisa mungkin setelahnya. Ia kelewat panik saat mencari Jiyeon dan secara tidak sengaja melihat gadis itu berjalan semakin ketengah laut. Itu membuatnya tanpa sadar menahan napas entah untuk berapa lama. Merasa cukup tenang, Kyuhyun beralih menatap tajam gadis yang juga tengah menatapnya dengan tatapan bingung tak mengerti.

Kyuhyun mengusap wajahnya kasar dengan satu tangan lalu menyeret tangan Jiyeon untuk mengikutinya kembali ke tepian. Meski tak mengerti alasan dibalik sikap tuannya, Jiyeon tetaplah menurut.

“Kita selesaikan disini saja!” tukas Kyuhyun masih dengan nadanya yang meluap penuh emosi. “Apa kau sudah tidak waras Jiyeon-ssi?”

“M-mwo?”

“Kenapa? Kenapa kau melakukannya?” tanya Kyuhyun tak habis pikir. Sementara yang ditanya semakin mengerutkan dahinya. “Kau benar-benar berbakat memainkan dentum jantungku. Entah itu degup menyenangkan ataupun untuk alasan lain seperti sekarang. Kau..kau sungguh menyebalkan.”  Sambung Kyuhyun kemudian medudukkan dirinya diatas pasir pantai.

Jiyeon mengerjap bingung beberapa kali hingga pemikirannya berhenti pada satu kesimpulan. Walau terdengar lucu, tapi..apa tuannya baru saja berpikir dirinya hendak bunuh diri? Tiba-tiba timbul desakan kuat dalam diri gadis itu untuk mengumbar senyum manisnya. Lama kelamaan senyum itu berubah menjadi tawa kecil yang menarik minat Kyuhyun. Pria itu menatap aneh pada Jiyeon yang masih berdiri dengan tawa tak kunjung berhenti.

“Tuan, aku hanya ingin mengembalikan kepiting ke laut bukan bunuh diri seperti yang ada dipikiranmu.” Jelas Jiyeon berusaha menutupi tawanya, namun karena sulit gadis itu memilih membiarkan saja tawanya lepas.

Ganti Kyuhyun yang mengerjap sekali, dua kali, dan ia sadar segala tindakannya tadi terlalu dramatis untuk sesuatu yang tidak perlu. Ingin sekali ia memarahi gadis yang berani menertawainya itu, namun wajah bahagia gadis itu dengan hembusan angin memainkan rambutnya terlihat sangat err..menawan. Hingga Kyuhyun tak bisa memprotes apapun dan hanya berdeham malu.

“Terserah saja.” Tukas Kyuhyun sebelum beranjak dari duduknya dan hendak mengambil langkah tegas kembali ke tenda, namun dihentikan oleh sebuah tangan yang menarik ujung coat-nya. Jiyeon dengan begitu canggung baru saja menahan langkahnya. Bukankah ini sesuatu yang langka?

“Aku..aku punya pertanyaan. Emm, apa itu degupan menyenangkan yang tuan maksud?” tanya Jiyeon pelan, namun bisa sampai di pendengaran Kyuhyun dengan baik.  “Juga perkataan tuan didapur hari ini soal aku tidak terkalahkan oleh siapappun? Boleh aku minta penjelasan?”

Kyuhyun mati kutu dibuatnya. Haruskah ia menjelaskan sesuatu seperti itu disini? Disaat rasa malu lebih dominan ditambah keberadaan Hani sang tunangan disekitar mereka? Tidakkah itu hanya akan membuat dirinya sendiri terlihat jahat dimata siapa saja yang melihat termasuk Jiyeon?

“Tidak ada penjelasan untuk saat ini. Cepat ambil sepatumu dan kita kembali ke tenda. Hani pasti sudah menunggu.” Jawaban yang kontras dengan isi hatinya. Bersamaan dengan nama Hani yang terucap, Jiyeon seperti dihentak kembali pada kesadarannya lalu berangsur melepas tangannya dari pakaian Kyuhyun.

Keduanya menyusuri tepi pantai dengan bertelanjang kaki, sementara sepatu masing-masing mereka jinjing. Tak ada yang memulai pembicaraan disepanjang jalan. Bahkan kontak mata pun tidak, karena Jiyeon selalu menghindar dengan terus menatap laut yang ada disebelah kirinya. Seakan Kyuhyun yang berjalan berdampingan disebelah kanannya bukanlah apa-apa atau mungkin dianggap tidak ada.

Harusnya Kyuhyun merasa kesal karena diacuhkan oleh Jiyeon, tapi kenyataannya pria itu justru merasa ringan. Gadis disebelahnya baru saja menunjukkan tanda-tanda cintanya tidak bertepuk sebelah tangan.

Secara bertahap Kyuhyun mengikis jarak antara dirinya dan Jiyeon, lalu saat dirasa tepat pria itu menyelipkan tangannya pada telapak tangan gadis itu. Menggenggamnya dengan pasti namun lembut, memastikan sentuhannya terasa nyaman untuk gadisnya. Mendapat aliran hangat yang mendadak tentu membuat Jiyeon otomatis menoleh pada tangannya yang tampak kecil dalam cakupan tangan Kyuhyun. Seharusnya ia protes, namun tuannya hanya melempar senyum saat mereka bertemu tatap. Dan tampaknya itu lebih dari sekedar jawaban bagi Jiyeon. Gadis itu membiarkan saja perlakuan sang tuan yang serasa menghantarkan hangat keseluruh bagian dirinya, memancing senyumnya lagi hingga tak kuasa menatap lama-lama pria disampingnya itu.

Kondisi Kyuhyun tak jauh berbeda dari Jiyeon, mereka berada di tingkat ketidakwarasan yang sama. Merasa berbunga-bunga namun bersikeras tersenyum kearah lain untuk menyembunyikan rona bahagia masing-masing yang terlalu sukar ditutupi.

~~~

Sepasang mata membuka sipit diawal penyesuaiannya terhadap bias sinar matahari pagi yang menerangi tenda berwarna cerah itu. Tangannya menjangkau bagian mata berniat mengucek inderanya yang satu itu agar lebih lebar membuka. Nampak belum sepenuhnya sadar ada tangan lain yang melingkari pinggangnya selama ia terlelap.

“Omo!” Jiyeon memekik kaget namun segera sadar untuk membekap mulutnya sendiri. Gerakan refleks membuatnya langsung terduduk dan menjauhkan tangan besar Kyuhyun. Gadis itu dipaksa berpikir keras dihari yang masih terlalu dini, mengingat-ingat juga mengurutkan rentetan kejadian semalam hingga bisa berakhir hanya ada dirinya dan tuannya tidur berhadapan dalam jarak terlampau dekat.

Gadis itu mencoba, namun tak peduli berapa kali ia memikirkannya, tetap tak ada apapun yang aneh menjelang tidur pulasnya semalam. Kalaupun ada, itu hanyalah soal Hani yang bersikeras berpendapat bahwa mereka harus tidur bersama dalam satu tenda cukup besar tersebut. Tentu dengan urutan Jiyeon, Hani, baru Kyuhyun. Itupun diberi jarak agak renggang antara Hani dan Kyuhyun. Oh ya, kemana perginya gadis tuannya itu? Adegan terlarang tadi tidak akan terjadi kalau Hani masih berada ditengah mereka sebagai pemisah.

Jiyeon merapikan rambut pagi harinya asal sebelum bergerak keluar dari tenda. Ia hanya merasa butuh menghirup udara segar untuk menetralkan debaran yang tercipta kala ia mencuri tatap wajah tertidur Kyuhyun. Aneh, baru kali ini dia merasa seperti penjahat hanya karena debaran gila-gilaan dalam dirinya yang timbul kala gadis itu semakin larut memperhatikan tiap detil wajah tampan tersebut.

Hal pertama yang dilihat Jiyeon saat menyibak pintu kain tenda adalah keberadaan Hani. Gadis itu sibuk memperhatikan sesuatu mirip lembaran foto ditangannya sehingga baru menyadari ada Jiyeon yang memperhatikannya sedari tadi. Buru-buru Hani memasang wajah tak bersahabatnya sedang tangannya bergerak kebelakang punggung.

“Maaf aku bangun lebih terlambat darimu, nona Hani,” ujar Jiyeon menundukkan wajahnya guna menghindari sorotan tajam gadis cantik itu.

“Huh…tak ada gunanya bersikap jahat padamu.” Kata Hani akhirnya seiring bahasa tubuhnya yang semakin rileks. “Sini, duduklah.” Sambungnya seraya melirik tempat kosong disebelahnya pada Jiyeon.

Sudah bermenit-menit terlewati seperti ini. Hening dengan dominasi suara alam yang memberi efek tenang dan damai dihari yang terbilang masih sangat pagi seperti sekarang. Mendorong dua orang gadis yang masih duduk bersisihan –Jiyeon dan Hani –untuk bergulat dengan permasalahan masing-masing dalam pikiran mereka. Ketika sinar matahari semakin terang dan terang barulah seorang dari mereka berinisiatif memulai interaksi pertama. Hani menyodorkan Jiyeon selembar foto yang semula ia rahasiakan. Sebuah gambar yang berisi sepasang remaja dalam balutan gaun pesta senada. Dengan mudah Jiyeon bisa mengenali remaja pria dibilangan usia tujuhbelasan itu adalah Kyuhyun, tentu dalam versi yang lebih muda. Ternyata wajah datar nan dingin tuannya itu tidak datang dengan sendirinya. Senyum tipis terbit dibibir Jiyeon.

Mata gadis itu kini tertarik mengamati seorang remaja perempuan bertubuh gemuk yang bersanding dengan sang tuan didalam gambar. Ekspresinya tak beda jauh dengan Kyuhyun, keduanya hanya menampilkan senyum samar yang jelas hanya sebuah formalitas. Tak terlihat bahagia meski pasangan tersebut sepertinya merupakan bintang utama pesta itu.

“Gadis disamping Kyuhyun itu adalah aku. Sulit dipercaya bukan?” tiba-tiba Hani membuka suara, seakan mengerti pertanyaan yang dipendam Jiyeon. “Kami bertunangan saat usia kami masih tujuh belas tahun. Itu sudah 10 tahun sekarang.” Sambung Hani yang tentu membuat Jiyeon bertanya-tanya akan kemana penjelasan itu mengarah.

“Tapi 10 tahun bukanlah apa-apa. Kami adalah teman sejak kecil dan aku sudah menyukai Kyuhyun sejak pertama kami berkenalan. Dulu aku sangat gemuk dan tidak cantik seperti anak-anak orang kaya lainnya, mungkin bisa dibilang buruk rupa. Karena itu banyak teman disekolah yang mengolok-olokku dibelakang walau mereka sangat baik dihadapanku. Tapi Kyuhyun oppa berbeda, dia sangat jujur sejak dulu, juga tampan. Selain itu dia pintar dan dia satu-satunya yang begitu tulus berteman denganku.” Jiyeon bisa merasakan sesuatu tak kasat mata menamparnya telak kala melihat pandangan menerawang Hani.

“Menginjak masa puber, akhirnya aku sadar akan satu hal. Aku tidak benar-benar menyukai Kyuhyun sebagai pria. Itu hanya rasa sayang karena dia memainkan peran seorang kakak untukku. Aku menyadarinya karena ada seorang pria yang benar-benar membuatku tak bisa mengalihkan pandang saat masuk sekolah menengah atas. Tapi pria ini juga sama seperti anak-anak lain yang mengejek penampilanku. Aku tidak benar-benar tahu apa yang membuat Kyuhyun oppa menyetujui pertunangan itu, tapi kalau bagiku, itu semua hanyalah ego karena ingin menunjukkan pada pria yang kusuka bahwa aku baik-baik saja. Selepas kelulusan, aku giat melakukan diet ketat dan bahkan operasi plastik yang tak terhitung jumlahnya. Selama masa-masa sulit itulah Kyuhyun oppa sealu berada disampingku dan kurasa aku mulai menerimanya secara utuh sebagai tunanganku dan aku tidak akan keberatan jika dia pada akhirnya menjadi pasangan hidupku nantinya.”

Jiyeon meneguk ludahnya sendiri yang terasa pahit. “Jadi nona ingin bilang kalian sudah menerima perjodohan ini?” gadis itu dengan terbata memberanikan diri bertanya hal yang ia sendiri sangat penasaran. Jantungnya seperti berdegup semakin kencang seiring waktu berjalan menunggu jawaban Hani.

“Ya, seperti itulah bagiku. Tapi tidak untuk Kyuhyun oppa yang menyayangiku seperti adiknya sendiri. Dan tampaknya dia sudah menemukan seorang gadis yang tepat, kau orangnya. Aku tahu itu sejak kemarin menangkap basah kalian. Tatapan Kyuhyun oppa padamu sungguh lembut dan dalam, sesekali aku bisa melihat airmuka bahagianya meski sekilas.”

Sekali lagi, Hani menghirup nafas dalam-dalam. “Aku memang frontal, tapi aku bukan orang jahat. Jadi…jadi aku merelakannya untuk bersamamu saja.” Ucapnya tanpa keraguan sedikitpun. Sungguh kontras dengan setetes airmata yang jatuh dari kelopak kiri dan kanannya, Hani terus mempertahankan senyuman tanda ia ikut berbahagia jika tunangannya bersama Jiyeon.

“Tidak, tidak, itu tidak benar. Perasaanmu pada tuan sudah bertahun-tahun lamanya dan itu tidak bisa dibandingkan denganku. Aku dan tuan Kyuhyun tidak pernah seakrab saat dia denganmu. Lagipula selama 4 tahun kami melihat satu sama lain, tapi kami sangat jarang berbicara. Aku mohon jangan seperti ini nona, jangan menyakiti dirimu sendiri. Aku yang salah, aku akan berhenti jadi pembantu tuan sehingga hubungan kalian bisa berlanjut. Aku mohon, jangan seperti ini.” Ujar Jiyeon hampir ikut menangis. Perasaan bersalah sangat berperan merangsang cairan asin keluar dari matanya.

Hani menoleh pada Jiyeon dan tertawa didetik itu juga. Tangannya tergerak mencubit hidung merah Jiyeon lalu beralih menghapus airmatanya sendiri yang tak berhenti mengalir entah kenapa. “Yakk berhenti menangis!”

“Nona juga. Berhenti menangis!” balas Jiyeon.

Hani terkekeh.”Aku ini lebih tua darimu, jadi panggil aku eonni. Dan soal airmata ini, ini hanya airmata karena menyesal menyia-nyiakan belasan tahunku bersama pria bodoh itu, makanya aku menangis. Bukan karena aku tidak rela dia bersamamu, mengerti?”

“Eoh.” Jawab Jiyeon terdengar serak. Ia belum bisa mengendalikan tangisnya sendiri padahal Hani selaku pihak yang merasakan sakit justru sudah tenang seperti sedia kala. Itu adalah kelemahan sekaligus kelebihan Jiyeon yang sangat mudah tersentuh akan sesuatu bahkan yang sederhana sekalipun. Dan pengorbanan Hani serta kisah hidup dibalik sifat keras kepala gadis itu nampaknya berhasil membuat hati Jiyeon tergerak.

“Cha… berikan satu pelukan untuk eonni barumu ini.” Ujar Hani seraya merentangkan kedua tangannya dengan senyum terpasang simetris. Tanpa ragu Jiyeon membalas perlakuan Hani dengan memeluk gadis yang lebih tua darinya itu erat.

Matahari perlahan semakin naik dan memancarkan cahaya paginya dengan begitu baik. Selaras dengan deburan ombak kecil dan angin yang bekerja tiada henti ditempat itu. Disanalah dua orang gadis memulai kesepakatan pertemanan mereka dengan saling berpelukan hangat. Tanpa ada yang sadar, seorang pria tengah mendengarkan keseluruhan percakapan keduanya dalam tempat persembunyiannya ditenda.

“Aku akan selalu berdoa untuk kebahagiaanmu, eonni.” Bisik Jiyeon tulus, memancing guratan senyum lebar diwajah cantik Hani.

~~~

“Gadis ini..benar-benar..” lirihan penuh rasa kesal itu keluar dari mulut Kyuhyun dibarengi tangannya yang tak henti mengurut pelipis sejak 30 menit lalu. Tepatnya sejak pria itu mengikat lipatan tenda diatas mobilnya lalu tiba-tiba kendaraan kesayangannya itu bergerak pergi dalam kecepatan tinggi dengan sendirinya. Meninggalkan dirinya yang masih termangu bodoh berusaha mencerna apa yang baru saja terjadi. Setelah sadar Hani adalah satu-satunya yang sudah berada didalam mobil, dan pasti dialah pelaku kejahatannya, Kyuhyun berubah menyeramkan seperti saat ini.

“Kurasa ini sedikit banyak adalah bagian dari pembalasan dendamnya.” Rutuk Kyuhyun. “Tapi ini keterlaluan. Bagaimana bisa dia meninggalkan kita tanpa uang juga handphone?” lanjutnya lagi, entah ditujukan pada siapa, karena sejak tadi hanya Jiyeon yang berada disampingnya dan mendengarkan dengan sabar.

“Memang berapa yang tuan butuhkan?” respon Jiyeon setelah sekian lama membiarkan Kyuhyun berbicara sendiri. “Apa ini cukup?” Gadis itu mengeluarkan semua lembaran won yang secara beruntung ia pisahkan kedalam saku.

Kyuhyun termangu sesaat lalu berubah sumringah tak berapa lama kemudian. Pancaran matanya memandang Jiyeon begitu bangga dan penuh kasih. “Setidaknya ini cukup untuk pulang naik bis. Kkajja!”

~~~

“Astaga, Jiyeon-ssi..kau ini benar-benar..” Baru sekitaran satu jam lalu geraman serupa dikeluarkan Kyuhyun untuk gadis yang berbeda. Ia tidak habis pikir, namun juga tidak bisa berbuat apa-apa ketika Jiyeon –si penyebab kekesalannya –terlihat takut membalas tatapan tajam khas Kyuhyun. Gadis itu seakan terpenjara dalam rasa bersalah hingga yang bisa dilakukannya hanyalah menatap ujung sepatunya sendiri. Tak ada yang lebih menyeramkan dari majikannya yang sedang marah, bahkan lalu lalang orang ditempat pemberhentian bis itu tak membantu sedikitpun dalam mengalihkan takut jiyeon.

“Bagaimana bisa..bagaimana mungkin ada seseorang sepertimu didunia ini Jiyeon. Tak melakukan apapun saat sadar anak perempuan tadi menabrakmu? Ah, dia bukan hanya menabrakmu dengan sengaja , tapi juga diam-diam mengambil uangmu. Uang kita untuk bisa pulang!” Kyuhyun berakhir mengurut pelipisnya lagi. Ia sedang di toilet umum saat melihat dari jauh seorang anak perempuan berusia belasan menabrakkan diri dari belakang tubuh Jiyeon. Dia yang melihat dari jauh pun bisa melihat detik-detik lipatan uang di saku Jiyeon berpindah tangan. Kyuhyun sudah mencoba berlari mengejar sosok gadis bertopi itu, namun percuma, jaraknya terlalu jauh.

“Aku tahu! aku tahu dan sadar saat tangannya merogoh sakuku, tapi..tapi aku pikir pasti ada alasan kenapa anak tadi mengambil uangku. Mungkin saja ia lebih membutuhkan.” Suara Jiyeon agaknya tercekat di tenggorokan. Ada sesuatu bernama pengalaman bermain didalamnya.

Kalah telak, lagi. Tak mungkin bagi Kyuhyun melanjutkan perdebatan mereka kala ekspresi Jiyeon tidak terlihat baik-baik saja. “Baiklah, baiklah, kau baik hati dan aku jahat. Sangat jahat dimata siapapun yang melihat kita sekarang.” Ujar Kyuhyun frustasi dan hampir saja mengumpat jika tak ingat mereka sedang menjadi pusat perhatian.

“Ya, dan kau pintar sedangkan aku bodoh.” Bom waktu dalam diri Jiyeon meledak juga. Ia benci dibilang sok baik hati sedang niatnya tulus membantu. Hatinya yang terlalu mudah terenyuh memang selalu jadi sumber masalah. Seperti sekarang ini contoh nyatanya.

Tak mempedulikan sobekan yang tercipta dibagian lutut celana jeans-nya akibat terjatuh tadi, Jiyeon berjalan lurus kearah kearah yang berlawanan dari tempat Kyuhyun berpijak. Gadis itu bahkan tak ingin memusingkan predikat pembantu dan majikan yang mengikat saat berjalan menjauhi pria itu yang semakin pening dibuatnya.

Untuk beberapa saat Kyuhyun takjub melihat ekspresi kesal yang pertama kali ditunjukkan gadis itu selama mereka hidup bersama. Jika dipikir-pikir, sangat sulit memancing gadis itu mengeluarkan isi hatinya. Bahkan saat ditinggalkan oleh orang-orang yang disayanginya, gadis itu hanya bisa menangis sebagai pelampiasan rasa marah yang tertahan. Dan sekarang? Kekesalan Jiyeon tumpah pada dirinya. Haruskah Kyuhyun merasa beruntung karenanya? Karena dia menjadi orang pertama yang mendapati gadis itu kesal? Oh yang benar saja. Pria ini pasti idiot. Tapi seorang Kyuhyun tak akan semudah itu mengaku bodoh dihadapan orang lain. Ia masih memiliki harga diri tinggi yang harus dilindungi.

“Ya, pergilah sana! Aku akan menyalahkanmu habis-habisan kalau tidak mendapatkannya dalam satu jam!” seru Kyuhyun setengah berteriak untuk menjangkau jarak Jiyeon. Untuk sesaat Kyuhyun bisa melihat Jiyeon menghentikan langkah dan menoleh sengit kepadanya lalu kembali berjalan. Gadis itu benar-benar marah rupanya, batin Kyuhyun ditengah kegiatannya mengamati langkah tak seimbang jiyeon karena luka dikakinya.

Setelah menjatuhkan pilihan pada egonya, Kyuhyun akhirnya memutuskan mengambil langkah berlawanan dengan yang diambil. Meski tak bisa dihindari lehernya seringkali bergerak memutar untuk sekedar kemungkinan Jiyeon mengejarnya.

~~TBC~~

fanfiction · horor · humor · romance · sad · two-shoot

Strange People ( Ending )


IMG-20150205-WA0002

Title : STRANGE PEOPLE by Lee Jaemin

Author : Me

Genre : General, Romance, Humor, Horor, Strange,… (semuaa -_- )

Rated : M ??

Lenght : 2-shoot (ending)

Cast :
• Park Jiyeon

• Kim Jaejoong (Vamp)

 

Ketika sesuatu yang misterius ada dalam rumah mu.. membuat kegaduhan dan keributan.. membuatmu selalu dalam ruang lingkup yang menakutkan..tetapi justru dia adalah perisai pelindungmu.. tingkahnya yang konyol menjadikanmu seorang yang penuh dengan kesabaran.. Hhhhh vampire akan selalu meminum darah. Sampai kapanpun!!

Lanjutkan membaca “Strange People ( Ending )”

chapter · family · fanfiction · frienship · romance · sad

When It Fall {the fourth}


whenitfall

Author : Han Rae In

Title     : When It Fall (the fourth chapter)

Length : Chapter

Genre : Romance, Life, Sad

Rating : PG-15

Cast : – Park Jiyeon
– Cho Kyuhyun

note : Chapter ini agak berantakan dan mungkin membosankan karena aku juga bikinnya antara sadar dan tak sadar hehe…  aku janji nextchap bakal lebih banyak adegan jiyeon-kyu nya, tapi di part ini aku masih mau bikin kalian gregetan karena mereka ngga ketemu-ketemu :p

ada yang bertanya-tanya bagaimana rupa Park Jin Goo? ini dia orangnya…

Lanjutkan membaca “When It Fall {the fourth}”