family · fanfiction · ONESHOT · romance

Unpredictable Dating | sequel of Unpredictable Meeting


unpredict6263181271_75b593002a_largedating

Title : Unpredictable Dating
Author : Han Rae In
Genre : Romance, family
Length : Oneshoot
Rating : PG-15
Cast :
– Park Jiyeon
-Choi Minho

Note : hai hai hai! thế nào là bạn? Itu bahasa vietnam artinya apa kabar. Gimana kabarnya? Baik? Maksud saya kabar menjelang tahun baru 2013 besok malem 😉
Pasti asyik nih yang besok pada bakar-bakar, asal jangan bakar blog ini aja, hehe (readers: emang bisa thor?) kali aja kesel gitu yang udah nunggu ff saya dari tahun kemaren, kekeke
Fanfic ini ngebut ngerjainnya jadi maklumin aja kalau ada kesalahan2 yang ngga jelas juga..hehe,okedeh, lanjut kata HAPPY NEW YEAR,GUYS!^^ semoga author disini bisa lulus TPP,UPK,UAS, dan UN dengan nilai memuaskan, amiin~ maap jadi doa bersama deh kita, haha
Happy reading kawan-kawan~

~~Unpredictable Dating~~

Sepasang pria dan wanita tampak menyusuri sebuah pasar tradisional di daerah sekitaran Seoul. Langkah si pria terlihat dipaksakan mengikuti wanita yang berjalan didepannya. Mereka memang tidak berjalan berdampingan dikarenakan langkah lambat si pria akibat 4 kantung plastik besar yang membebani kedua tangannya.
“Park Jiyeon ssi, sampai kapan kau akan mengelilingi pasar ini?” pertanyaan si pria menginterupsi langkah perempuan bernama Park Jiyeon didepannya. Gadis itu menoleh lalu tampak berpikir.
“Eumm… sampai aku menemukan apa yang kucari,” jawabnya singkat lalu kembali berjalan sementara sang pria menghela nafas sebelum akhirnya mengikuti gadis itu lagi.
Mata Park Jiyeon berbinar-binar saat melihat kios dengan banyak ayam potong segar yang dipajang. Gadis itu memang mencari ayam sedari tadi untuk melengkapi barang belanjaannya.
“Wah, bibi, ayam potong disini segar-segar sekali,” puji Jiyeon memandang kagum, sedangkan pria disampingnya terlihat menutup hidung, tidak suka dengan bau yang menguar dari ayam-ayam disana.
“Tentu saja. Aku baru saja selesai memotong dan menyabuti bulunya sesaat sebelum kalian datang,” respon bibi penjual yang tampak senang dengan pujian Jiyeon.
“Aku mau 5 ekor bi. Tolong dibungkus,” ujar Jiyeon. Dengan cekatan penjual itu memasukkan 5 ekor ayam ke dalam plastik.
“Pasangan suami istri muda seperti kalian untuk apa ayam sebanyak ini?”
“Ne? Bukan. Kami bukan pasangan suami istri,” tolak Jiyeon gugup sembari menggerakkan telapak tangannya ke kanan dan ke kiri.
“Oh, jadi kalian masih dalam tahap pacaran? Pasti ayam-ayam ini untuk pertemuan 2 keluarga ya? Kalian pasti senang,” tukas bibi itu seenaknya, tak mempedulikan ekspresi Jiyeon dan pria di sebelahnya yang sulit di artikan antara malu, gugup, dan bingung.
“Jadi semuanya berapa bi?” tanya Jiyeon mengalihkan pembicaraan.
“Semua jadi 100.000 won. Tapi untuk kalian kuberi diskon jadi 95.000 won,” bibi penjual itu menyerahkan kantung berisi ayam yang langsung disambut oleh Jiyeon.
Jiyeon menatap pria disampingnya, memberi isyarat dengan matanya agar pria itu membayar tagihan ayamnya. Namun bukannya membayar, pria itu justru mengalihkan pandangannya pura-pura tidak melihat.
“Ya! Choi Minho ssi, cepat bayar,” perintah Jiyeon galak. Dengan terpaksa pria bernama Choi Minho itu meletakkan belanjaannya di tanah untuk mengambil dompet lalu menyerahkan beberapa lembar uang pada bibi penjual.
Keduanya lalu berjalan ke parkiran, tempat mobil Minho berada. Sesampainya disana, pria itu memasukkan barang belanjaan total 6 kantung besar itu kedalam bagasi mobilnya sebelum akhirnya ia masuk juga kedalam mobil.
“Park Jiyeon ssi, untuk apa belanja sebanyak itu? Kau tidak berniat untuk menjualnya lagi kan?” tanya Minho yang membuat Jiyeon tertawa.
“Tentu saja tidak. Gajiku sebagai editor masih cukup untuk memenuhi kebutuhanku. Tapi tunggu sampai aku dipecat, mungkin aku akan mempertimbangkan saranmu, Choi Minho ssi, haha,” Jiyeon kembali tertawa.
“Hei, aku serius, dan tunggu dulu. Aku memintamu membawaku ke tempat kencan yang berkesan. Kau yakin pernah berkencan di pasar dengan Jinki oppa mu itu?” tanya Minho lagi seraya memasang seatbeltnya.
“Pasar juga berkesan. Bau ikan, ayam, juga suasananya lah yang membuatnya berkesan. Aku yakin kau tidak akan melupakannya,” ledek Jiyeon yang membuat Minho menatap tajam gadis itu. “Baiklah, sudah cukup. Sekarang jalankan saja mobilnya, aku akan memberimu petunjuk kemana kita akan pergi,” ucap Jiyeon mengalah.
“Hufft, aku rasa aku telah salah membuat permintaan,” gumam Minho kecil.
“Apa?”
“Tidak apa-apa.” Ucap Minho sesaat sebelum pria itu memutuskan menggerakkan mobilnya sesuai arahan Jiyeon.

Flashback : On
TRING. Seorang wanita bernama lengkap Park Jiyeon membuka pintu dengan satu gerakan, membuat benda kecil di atasnya mengeluarkan bunyi khas tanda pelanggan masuk.
“Oseo Oseyo,” sapa pelayan di cafe itu ramah, yang hanya dibalas dengan senyum kecil oleh Jiyeon. Mata gadis itu sibuk mencari sesuatu sampai akhirnya ia melihat seorang pria melambai ke arahnya. Kakinya langsung bergerak hendak menghampiri meja dimana pria itu berada, lalu mengambil tempat duduk disamping pria itu.
“Annyeonghaseyo, Park Jiyeon ssi,” pria itu menyapa Jiyeon dengan senyumnya.
“Ne, annyeonghaseyo, Choi Minho ssi. Jadi, mana handphoneku?” tanya Jiyeon to the point pada pria bernama Minho yang tengah menyesap cappucino dari cangkirnya.
Minho meletakkan cangkirnya di atas meja, lalu tersenyum kecil. Menatap gadis di depannya yang tampak tidak sabar. Ia senang melihat gadis itu setidaknya terlihat lebih baik daripada saat pertama mereka bertemu di pernikahan Jinki dan Seungyeon sekitar seminggu yang lalu.
“Ckck, Choi Minho ssi, kau itu aneh sekali. Semalam tiba-tiba mengirimiku pesan, bilang ingin menukar handphone, dan bilang ingin menukarnya pagi-pagi seperti sekarang ini –jam 8 pagi karena kau bilang ada urusan penting. Tapi kenapa sekarang kau hanya tersenyum tidak jelas? Aku tidak mengerti,” tanya Jiyeon agak kesal.
“Jadi kau menganggapnya serius? Haha, kau itu naif sekali,”
“Hei, ini sama sekali tidak lucu. Cepat kembalikan handphoneku,” pinta Jiyeon.
“Santai sajalah. Lebih baik kau pesan makanan dulu,” saran Minho yang langsung dihujani tatapan tajam Jiyeon.
“Aku bukan orang yang punya banyak waktu sepertimu. Jam kerjaku dimulai jam 9. Jadi aku mohon cepatlah sedikit,” mohon Jiyeon.
“Sudah berapa lama kau tidak mengambil cuti?” tanya Minho, keluar dari konteks pembicaraan Jiyeon.
“Mwo? Cuti? Apa hubungannya cuti dengan handphoneku?” Jiyeon terlihat bingung mencari hubungan antara cuti dengan handphonenya.
“Sudah jawab saja,” jawab Minho diktator.
“Kau ini pemaksa sekali ternyata. Aku naik jabatan sekitar 2 tahun lalu, dan sejak saat itu banyak sekali buku yang kutangani. Hmm, sepertinya sudah setahun ini aku tidak mengambil hak cuti ku,” jawab gadis itu setelah sebelumnya menimbang-nimbang.
“Kalau begitu hari ini gunakan hak cutimu,” ucap Minho lagi-lagi mengandung perintah.
“Ya! Siapa kau—“
“Ambil cutimu dan penuhi satu permintaanku. Setelah itu barulah kukembalikan handphonemu,” Minho memotong kata-kata Jiyeon, sementara gadis itu langsung terpana mendengarnya, tak habis pikir.
“Sudahlah, aku menyerah. Kita bertukar handphone lain kali saja kalau otakmu sudah sehat. Hubungi aku kalau saat itu tiba,” kata Jiyeon lalu beranjak dari duduknya. Baru saja gadis itu berbalik hendak berjalan, perkataan Minho membuatnya terhenti.
“Kupikir ulang tahunku tahun ini setidaknya akan ada seseorang yang merayakannya bersamaku. Tapi ternyata sama saja seperti tahun-tahun sebelumnya,” gumam Minho seraya tersenyum pahit lalu kembali menyesap cappucinonya.
“Jadi hari ini adalah ulang tahunmu?” tanya Jiyeon hati-hati.
“Apa pedulimu? Urusi saja pekerjaanmu, Park Jiyeon ssi” jawab Minho santai terlihat tak peduli. Tiba-tiba terlintas di otak Jiyeon peristiwa seminggu lalu dimana Minho secara tidak langsung sudah menghiburnya. Juga membayangkan kesedihan yang dialami pria itu karena kekasihnya yang menikah padahal malamnya mereka baru putus. Belum lagi soal ulang tahun pria itu yang tidak pernah dirayakan bahkan oleh orang tuanya.
“Baiklah, aku akan mengambil cuti serta memenuhi satu permintaanmu,” tukas Jiyeon sesaat setelah ia kembali menghampiri meja Minho. Diam-diam Minho tersenyum melihat reaksi gadis itu. Dugaannya tidak salah mengenai Jiyeon.
“Oke. Kabulkan 3 permintaanku,” sahut Minho agak mendongak karena Jiyeon yang masih berdiri.
“Seingatku tadi kau bilang 1, kenapa sekarang jadi 3?” protes Jiyeon.
“Maksudku, permintaanku adalah kau mengabulkan 3 permintaanku. Aku tidak salah bukan?” jelas Minho lalu tersenyum jahil.
“Aish, aku berurusan dengan orang yang salah. Kita ubah peraturannya, untuk selanjutnya kau tidak boleh meminta permintaan dari permintaan lagi dan satu lagi, batas waktu permintaan hanya sampai jam 12 nanti malam, mengerti?
“Baiklah, aku mengerti. Sekarang duduklah, kita sarapan dulu,” Minho menggeser kursi di sebelahnya agar Jiyeon bisa duduk. Tanpa disuruh untuk yang kedua kalinya gadis itu langsung duduk dengan manis dan asyik membolak-balik buku menu.
“Hm, apa yang harus kuminta untuk pertama kali ya?” gumam Minho yang membuat Jiyeon berhenti membuka buku menu.
“Choi Minho ssi, kurasa kau salah paham. Tadi kau sudah menggunakan satu permintaan yaitu memintaku duduk. Jadi sekarang hanya tersisa 2 permintaan,” jelas Jiyeon yang membuat Minho membulatkan matanya.
“Ya! Mana bisa begitu,” protes Minho tidak terima.
“Bisa saja. Kau menggunakan caramu, jadi aku menggunakan caraku,” Jiyeon mengakhiri perkataannya dengan menjulurkan lidah untuk menggoda Minho. “Jadi apa permintaan keduamu?” sambung Jiyeon.
“Permintaan keduaku adalah ajak aku ke tempat ketempat dimana kau dan Jinki pernah berkencan,” pinta Minho.
“Ya! Apa maksudmu sebenarnya? Kau ingin membuatku menangis lagi? Lagipula mana cukup satu hari untuk mengunjungi semua tempat itu?” tanya Jiyeon terlihat frustasi akan pria aneh dihadapannya.
“Tidak, bukannya kau bilang sudah melupakan orang itu? Jadi tidak ada masalah. Dan soal tempat, tidak perlu semuanya. Cukup ketempat yang paling berkesan sampai kau ingin berfoto disana untuk kenang-kenangan, “ jelas Minho tak peduli akan perubahan ekspresi Jiyeon yang menjadi semraut.
“Kau salah ambil keputusan, Jiyeon bodoh,” rutuk Jiyeon dalam hati pada dirinya sendiri.
Flashback : Off
#
BLAM. Jiyeon menutup pintu mobil sekeluarnya ia dari benda mewah warna hitam milik Minho itu. Gadis itu tampak senang dapat mengunjungi lagi tempat dihadapannya ini. Berbeda dengan Minho yang tampak bingung melihat reaksi berlebihan Jiyeon. Pria itu merasa tidak ada sesuatu yang istimewa atau romantis dari tempat bernama Panti Asuhan di depannya itu.
“Minho ssi, tolong bawakan barang belanjaannya kedalam ya,” Jiyeon langsung melesat masuk kedalam bangunan bercat putih itu setelah mengucapkan kata-katanya. Minho yang tidak punya kesempatan untuk protes hanya bisa menuruti perintah Jiyeon dengan susah payah, mengingat ada 6 kantung yang harus ia bawa.
DUAK. Sebuah bola tepat mengenai kepala belakang Minho saat pria itu hendak memindahkan barang belanjaan dari bagasi mobil. Ia langsung memasang mata mencari siapa orang yang berani melempar bola sekeras itu kepadanya.
“Aw! Hei, siapa yang melempar? Cepat keluar!” teriak Minho kesal. Mata elangnya terus berjaga-jaga sampai tiba-tiba muncul lima orang anak laki-laki dihadapannya. Anak-anak itu menunduk takut.
“Maafkan kami, ahjussi,” kelima anak itu membungkukkan badannya.
“Kalian pikir minta maaf bisa membuat sakit kepalaku hilang, huh?”
“Ahjussi, kami kan sudah minta maaf. Kenapa malah membentak kami?” tanya salah satu bocah bermata sipit.
“Aish, kalian ini benar-benar. Apa di panti asuhan ini kalian tidak diajari sopan santun?” bentak Minho lagi. Perkataan Minho membuat kelima bocah itu terdiam karena marah. Mereka tidak suka Minho menjelek-jelekan tempat mereka dibesarkan.
DUAK. Seorang anak berkepala plontos diantara mereka melempar kembali bola ditangannya kearah Minho. Pria itu hampir saja terjengkang ke belakang kalau saja ia tidak buru-buru menjaga keseimbangan.
“Rasakan itu, ahjussi menyebalkan!” seru anak yang paling tinggi diikuti suara tawa teman-temannya. Selepasnya mereka kemudian berlari untuk menghindari amukan Minho.
“Ya! Jangan lari kalian, anak nakal!” ancam Minho kemudian hendak mengejar namun terhenti karena sebuah suara.
“Kenapa lama sekali masuk kedalam?” tanya Jiyeon lembut.
“Ah, tadi ada masalah sedikit, hehe,” jawab Minho memasang cengiran lebarnya.
“Minho ssi, perkenalkan, ibu ini adalah Ny.Yoon. Beliau adalah kepala panti asuhan ini. Dan Ny.Yoon, pria ini Choi Minho,” Jiyeon memperkenalkan keduanya. Minho membungkuk hormat sementara Ny.Yoon tersenyum lembut.
“Aku pikir kau datang bersama Jinki,” komentar Ny.Yoon pada Jiyeon.
“Temanku bukan hanya Jinki,” jawab Jiyeon cepat. Sepertinya gadis itu sudah mempersiapkan jawabannya sebelum ditanya.
“Baiklah, aku mengerti,” balas Ny.Yoon pada Jiyeon.
“Sekarang ayo kita mulai masak, Ny.Yoon. Sudah jam 10. Aku takut waktunya tidak cukup sampai makan siang nanti,” ajak Jiyeon yang disambut baik oleh Ny.Yoon.
“Minho ssi, bisa tolong bantu kami memindahkan barang belanjaan ini ke dapur?” pinta Jiyeon ramah, amat berbeda dengan beberapa waktu lalu. ‘Apa kepalanya terbentur bola juga? Kenapa berubah jadi baik sekali?’ pikir Minho.
“Ah, baiklah,” Minho lalu mengambil barang belanjaannya dan mengikuti langkah Jiyeon dan Ny.Yoon yang masuk kedalam bangunan. Samar-samar Minho dapat mendengar suara cekikikan anak kecil dari balik semak-semak. Minho membalikkan badannya untuk sekedar mengancam mereka. “Awas kalian ya!”
Anak-anak itu justru menjulurkan lidah mereka untuk menggoda Minho yang dibalas dengan hal serupa oleh pria itu persis anak kecil.
….
Minho berjalan-jalan menyusuri isi panti asuhan seorang diri. Jiyeon yang tengah sibuk memasak untuk makan siang tidak bisa menemani pria itu. Jadi terpaksa ia memutuskan berkeliling sendiri daripada harus duduk diam menunggu sampai Jiyeon selesai.
Panti asuhan itu ternyata jauh dari bayangan awal Minho. Tempat itu begitu bersih dan rapi, juga segalanya tampak terorganisir. Sesekali Minho melongok kedalam ruangan yang dilewatinya, namun aneh, ia tak menemukan anak-anak dalam jumlah banyak seperti lazimnya sebuah panti asuhan. Padahal kata Jiyeon, panti asuhan ini menampung sekitar 40 anak dalam kisaran umur 0 – 17 tahun.
“Permisi, apa anda adalah sukarelawan di panti asuhan ini?” sebuah suara membuat Minho menoleh. Tampak seorang wanita gemuk berumur 35 tahun dengan segulungan kain putih tebal di tangannya.
“Ya?” tanya Minho memastikan wanita itu sedang berbicara kepadanya.
“Oh tuhan, syukurlah. Ayo ikut aku,” wanita itu berjalan mendahului Minho, sementara pria itu mengikuti dengan patuh. Mereka berjalan keluar bangunan dan sampai di sisi luar bangunan. Sebuah tempat dengan keran air, beberapa bak dan sabun pembersih. Tak jauh dari sana terdapat tali-tali yang dibentangkan, sepertinya untuk menjemur pakaian.
Tunggu dulu. Ada yang aneh disini. Otak Minho berusaha menghubungkan semua yang dilihatnya, namun perkataan si bibi gemuk membuat segalanya jelas.
“Tolong cuci selimut-selimut ini. Sebenarnya kami punya beberapa mesin cuci, tapi semuanya sedang dipakai. Lagipula selimut-selimut bekas ompol ini baunya lebih cepat hilang kalau dicuci manual,” jelas wanita itu tanpa mempedulikan Minho. Dengan semaunya, wanita gemuk itu meletakkan selimut-selimut itu di pangkuan tangan Minho. Pria itu harus menahan nafas menghindari bau selimut itu.
“Untuk kau ketahui, anak-anak disana itulah yang mengompol. Baiklah, aku masih ada pekerjaan di dalam. Jadi, selamat mencuci,” Bibi gemuk itu pergi setelah sebelumnya menunjuk anak-anak yang sedang bermain bola tidak jauh dari sana.
Minho menyipitkan matanya. Anak-anak itu adalah anak-anak yang tadi melemparnya dengan bola.
“Tunggu, bi” Minho hendak protes.
“Ada apa?” wanita itu menoleh dengan alis bertaut, seakan tahu Minho akan menolak pekerjaan yang diberikannya. Wajahnya jadi terlihat menakutkan bagi Minho.
“Ah, tidak jadi,” sahut Minho pelan dan pasrah. Mendengar jawaban Minho, wanita itu berangsur pergi. Minho menghela nafas lega.
Pria itu lalu menghempaskan cuciannya kedalam bak, melepas jas mahal yang melekat di tubuhnya, dan menggulung kemeja putihnya sampai sebatas siku. ‘Hanya untuk sekali ini saja’ janjinya pada dirinya sendiri. Minho mulai merendam cuciannya dengan air ditambah detergen sesuka hatinya. Semakin banyak detergennya, akan semakin bersih cuciannya, begitulah teori jenius Minho.
Tangan besarnya mulai mengucek cuciannya, namun tak berlangsung lama, karena pegal. Akhirnya ia memutuskan untuk menginjak-injak saja cucian dalam bak besar itu.
“Ahjussi menyebalkan, kau sedang apa?” seorang anak kecil bergigi ompong menghampiri Minho dengan empat anak lain dibelakangnya.
“Ckck, kalian lagi. Kalian tidak lihat aku sedang mencuci selimut kalian yang bau ompol? Ini semua karena kalian. Awas saja kalau sampai tertangkap!” gertak Minho yang berusaha mengejar kelima bocah itu namun karena teori jenius yang membuat kakinya licin, akhirnya…
SREET. BRUK. Minho terpeleset dan jatuhnya menyebabkan bunyi yang sama sekali tidak pelan.
“Ahjussi, apa kau baik-baik saja?” tanya anak lelaki tadi merasa bersalah. Minho ingin memanfaatkan kesempatan ini.
“Aw! Kakiku! Sepertinya kakiku patah!” panik Minho berlebihan untuk memancing monster-monster kecil itu.
“Ahjussi, sepertinya kau sakit. Biar kami bantu mencuci,” tawar mereka. Minho tersenyum, rencananya berhasil.
“Jadi berapa umur kalian? Kenapa kalian masih mengompol?” tanya Minho di antara kegiatannya menginjak-injak cucian.
“7 tahun,” jawab anak berkacamata yang belakangan Minho tahu bernama Ji Hoo.
“7 tahun? Kalian kelas dua SD? Kenapa tidak pergi sekolah? Kalian bolos ya?”
“Ahjussi, sekarang ini masa libur sekolah,” anak berkepala plontos—Min Woo menanggapi.
“Oh ya? Tapi kenapa tidak ada anak-anak disini?”
“Anak-anak lain sedang ada kelas musik selama liburan,” jawab Tae sung si anak bermata sipit. “Dan kami bolos kelas musik,” sambung Yi Soo.
“Yang itu tidak perlu diberi tahu,” tegur anak yang paling tinggi, Joon.
“Ckck, kalian itu kompak sekali. Kalau sudah besar nanti kalian bikin boyband saja,” saran Minho asal.
“Boyband? Maksud ahjussi pria-pria yang menyanyi sambil menari itu?” tanya Yi Soo sambil menirukan gaya anggota boyband. Tak hanya itu, dia juga memaksa keempat temannya untuk mengikuti gerakan anehnya. Seperti lupa akan kakinya yang masih berlumuran busa, Yi Soo terus saja menari tidak jelas sampai akhirnya ia terjatuh dan menimbulkan efek domino, kelimanya jatuh akibat ulah Yi Soo.
“Apa kubilang? Kalian itu kompak,” tukas Minho sambil menggelengkan kepalanya.
….
“Selesai!” seru Jiyeon sembari menatap kagum kue tart karyanya yang baru saja selesai dihias. Ny.Yoon ikut menatap kue dengan krim dan coklat itu kagum.
“Aku sudah tidak heran lagi melihat hasilnya. Aku justru bingung kenapa kau menjadi editor dan bukan menjadi koki,” puji Ny.Yoon.
“Bibi Yoon bisa saja. O ya, apa bibi tahu dimana Minho? Aku tidak lihat dia sedari tadi,” tanya Jiyeon.
“Yang disana itu bukannya Minho ssi?” tunjuk Ny.Yoon keluar jendela dapur. Jiyeon melihat apa yang ditunjuk Ny.Yoondan seketika matanya membulat melihat Minho dan beberapa anak sedang menjemur selimut dihalaman.
“Bibi Yoon, semua masakannya sudah selesai kan?” pertanyaan Jiyeon dijawab dengan anggukan oleh Ny.Yoon.
“Aku titip kue tart ku di lemari es. Sekarang aku ingin menyusul Minho ssi dulu,” ujar Jiyeon lalu melesat cepat untuk melihat Minho setelah sebelumnya gadis itu sempat mengambil 6 botol minuman dari lemari es.
“Mereka terlihat cocok bersama,” gumam Ny.Yoon.
….
Minho menatap bangga berlembar-lembar kain putih di hadapannya. Bersama kelima anak tadi, pria itu telah berhasil menyelesaikan tugasnya. Sekarang selimut-selimut itu sudah terentang di antara tali-tali jemuran, terkadang melambai indah saat ada angin datang.
“Selesai juga akhirnya,” gumam Minho setelah ia menjemur selimut terakhir. Punggung tangannya menyeka peluh di dahinya.
“Minho ssi?” sebuah suara wanita muncul dari balik selimut terakhir yang Minho jemur. Dan tak lama kemudian muncul di antara helaian kain itu sesosok gadis berparas cantik tengah menatap pria itu dengan mata berbinar. Sungguh, Minho menahan nafas saat melihat gadis itu yang tiba-tiba muncul di hadapannya.
“Kau yang mencuci ini semua? Wah, hebat,” kagum Jiyeon seraya menatap seliut-selimut putih di sekitarnya yang bergerak karena hembusan angin. Begitupun dengan rambut terurainya yang jadi bergerak mengikuti arah angin. Entah disadari gadis itu atau tidak, tapi Minho benar-benar terpesona kali ini. Matanya tak bisa lepas dari gadis itu walau ia berusaha keras.
“Minho ssi, kau kenapa? Minho ssi?” Minho baru sadar setelah Jiyeon menempelkan minuman botol dingin di tangannya di pipi pria itu.
“Ah, thanks,” respon Minho lalu menyambar minumannya dan segera meneguknya sampai habis untuk mengurangi rasa groginya.
“Jiyeon noona, mana minuman untuk kami?” kelima bocah itu menengadahkan tangan meminta jatah.
“Arraseo. Ini untuk kalian,” Jiyeon membagikan satu persatu minuman pada anak-anak lelaki itu.
“Hei, hei, kalian memanggil Jiyeon dengan sebutan noona, tapi memanggilku dengan sebutan ahjussi. Apa itu tidak keterlaluan?” tegur Minho pura-pura kesal. Yi Soo, Min Woo, Ji Hoo, Tae Sung dan Joon saling berpandangan lalu tak lama kemudian kelimanya menunduk.
“Maafkan kami, hyung,”
Minho menahan tawa melihat ternyata anak-anak boyband bentukannya itu sangat mudah dibohongi. Jiyeon yang sadar perubahan ekspresi Minho langsung memukul lengan pria itu sebagai teguran, walau kenyataannya ia juga menahan tawa melihat 5 bocah nakal didepannya berubah menjadi penurut di depan Minho.
“Ayo masuk, sebentar lagi waktunya makan siang,” ajak Jiyeon yang mendapat respon positif dari Minho juga kelima anak tadi.
#
Hari semakin siang, namun itu bukanlah alasan bagi tempat seterkenal Theme Park untuk menjadi sepi. Justru tempat hiburan itu semakin dipenuhi manusia berbagai usia dengan berbagai tujuan. Bermacam-macam wahana disanalah yang menarik mereka untuk kesana. Tak terkecuali bagi sepasang manusia yang kini tengah duduk di bangku-bangku taman yang disediakan.
“Bagaimana? Sudah baikan?” tanya si pria – Minho pada gadis disampingnya.
“Huek… Huek,” gadis bernama Jiyeon itu tak peduli pada pertanyaan Minho dan terus berkonsentrasi pada kantung plastik kecil untuk menampung muntahnya.
“Ayo kita pulang saja. Kau terlihat tidak baik,” ajak Minho yang dibalas dengan gelengan keras oleh Jiyeon.
“Tidak mau. Kita baru naik roller coaster, masa sudah mau pulang. Ayo kita coba permainan yang lain!” usai berkata-kata, gadis itu langsung kembali bersemangat dan menarik tangan Minho.
“Hei, kau yakin tidak apa-apa?” tanya Minho khawatir, walau nyatanya ia tetap berjalan mengikuti keinginan gadis itu. Jiyeon mengangguk.
“Aku tidak apa-apa. Kau tahu apa yang kupikirkan sekarang? Waktu itu saat aku dan Jinki oppa ingin naik roller coaster, tiba-tiba ia mendapat telpon dari rumah sakit, dan kami tidak jadi naik. Tapi aku bersyukur. Kalau saat itu jadi, mungkin ia akan memandangku aneh. Aku yang bersikeras naik tapi akulah yang muntah. Itu aneh, bukan?” kata Jiyeon miris. Minho menatap gadis yang sedang berjalan disampingnya itu, sambil sesekali melirik tangan Jiyeon yang masih menggenggam tangannya.
“Tidak. Itu tidak aneh. Kalau aku, aku senang akan itu. Karena itu artinya kau tidak sungkan padaku dan aku jadi lebih bisa mengenal dirimu,” ungkap Minho yang tiba-tiba menghentikan langkahnya dan membuat dirinya dan Jiyeon bertatapan. Diantara orang-orang yang berlalu-lalang, pria itu menyeka keringat di wajah Jiyeon juga air yang tersisa di sudut-sudut bibir gadis itu dengan saputangannya. Beberapa orang yang lewat menatap mereka iri. Jiyeon hanya diam menerima perlakuan Minho. Ia menikmati setiap sentuhan tangan Minho di wajahnya. Begitupun Minho yang amat menikmati bertatapan dengan Jiyeon dalam jarak sedekat itu.
“Apa kau lapar?” tanya Minho mencairkan suasana canggung yang tercipta.
“Hei, tadi kita baru saja makan siang di panti asuhan,” ucap Jiyeon mengingatkan.
“Kalau begitu ayo kita berkeliling sambil mencari cemilan,” ajak Minho yang mengeratkan genggamannya pada tangan gadis itu. Jiyeon mengikuti dengan patuh walau matanya terus memandangi tangan mereka yang saling menggenggam.
….
“Ayo Jiyeon ssi, pakai ini!” pinta Minho yang hendak memasangkan bando berbentuk kepala kelinci ke kepala Jiyeon.
“Tidak mau, itu aneh,” tolak Jiyeon sambil menghindari tangan Minho.
“Ayolah, aku hanya ingin lihat,”
“Baiklah, tapi dengan syarat kau harus memakainya juga,” Jiyeon mengajukan syarat yang langsung disetujui Minho. Entahlah, padahal pria itu tidak suka dengan hal kekanakan seperti ini. Tapi jika bersama Jiyeon, dirinya selalu terdorong melakukan hal-hal diluar kebiasaannya demi menciptakan senyum di bibir gadis itu.
“Wah, kau terlihat cute, Minho ssi!” seru Jiyeon setelah dirinya memasangkan bando berbentuk telinga kucing di kepala pria itu.
“Kau juga, Ny. Kelinci,” keduanya lalu tertawa bersama, menertawakan sifat kekanakan mereka. Jiyeon dan Minho memutuskan membeli benda di kepala mereka itu, terlalu sayang untuk melepasnya kembali.
Dengan perasaan bahagia keduanya melanjutkan menaiki beberapa wahana disana. Tak jarang mereka tertawa lepas hanya karena suatu hal sederhana. Baik Jiyeon maupun Minho sebenarnya merasa aneh. Tidak pernah sebelumnya mereka secepat itu akrab dengan orang lain. Namun mereka tak peduli akan hal itu sekarang. Keduanya terlalu senang bahkan untuk sekedar memikirkannya.
“Wah,cantiknya,” gumam Jiyeon pelan. Gadis itu sedang berada didalam komidi putar dengan Minho disampingnya. Tak hentinya ia tersenyum melihat luasnya theme park itu dari atas. Minho ikut tersenyum.
“Kau tahu? Di tempat inilah ciuman pertamaku dengan Jinki oppa,” ucap Jiyeon tiba-tiba.
“Lalu? Apa itu selalu membayang-bayangimu? Kalau begitu, biar aku menciummu disini. Jadi kalau kau kesini lagi, yang teringat adalah kenangan tentang ciuman pertamamu bersamaku,” Minho menyelesaikan kalimatnya dengan cengiran lebar.
“Ya! Kau mau koran besok pagi memuat berita tentang seorang pria yang tewas akibat jatuh dari komidi putar?” ancam Jiyeon disertai death glarenya membuat Minho menggeleng takut.
“Baiklah, kalau cium tidak mau, bagaimana kalau aku minta foto bersama saja?” tanpa menunggu jawaban Jiyeon pria itu mengeluarkan handphone dari sakunya. Minho lalu membenarkan letak bando kelinci Jiyeon dan miliknya, juga tak lupa mengingatkan gadis itu untuk tersenyum.
“1..2..3” KLIK. Kamera handphone itu berhasil menangkap gambar keduanya yang dilatarbelakangi kabut-kabut tipis awan dari jendela.
“Hasilnya bagus. Ayo kita foto lagi!” ajak Minho.
Minho tampaknya ketagihan mengambil fotonya bersama Jiyeon dalam berbagai pose. Bahkan sampai tak menyadari koimidi putar mereka sudah berhenti.
“Dasar narsis!” ejek Jiyeon sekeluarnya ia dan Minho dari benda berbentuk kubus itu.
“Biar saja. Yang penting hasilnya bagus,” jawab Minho asyik melihat-lihat fotonya dan Jiyeon. Jiyeon yang merasa diacuhkan jadi mengedarkan pandangnnya sampai tiba-tiba sesuatu yang terlupakan terbesit di otaknya.
“Minho ssi! Sudah jam 5 sore! Kau harus mengantarku ke rumah sakit! Sekarang!”
#
Ruangan-ruangan dalam bangunan itu terlihat sama dilihat dari sudut manapun bagi seorang Choi Minho. Catnya yang berwarna putih, ekspresi pucat dan sedih orang-orang didalamnya, juga bau obat-obatan membuat segalanya terasa membosankan. Ia tak akan masuk kalau saja gadis didepannya tidak memaksa.
CKLEK. Tangan Jiyeon memutar kenop pintu kamar bernomor 304. Dengan sekali hentakan pintu itu terbuka dan seketika memperlihatkan 6 ranjang rumah sakit yang terjejer rapi serta beberapa orang pasien yang ada didalamnya.
Para pasien itu tampaknya mengenal Jiyeon karena mereka terus saja memasang ekspresi bersahabat saat melihat gadis itu masuk. Tanpa basa-basi, gadis itu langsung berjalan lurus kearah jendela di ujung ruangan. Ia hendak menghampiri seorang pria paruh baya yang terduduk di kursi rodanya sambil menerawang keluar jendela.
“Ayah,” panggil Jiyeon seraya menepuk pelan bahu pria itu.
“Jiyeon ah?” air muka pria itu berubah cerah, berbeda saat sedang melamun tadi. “Kau sudah datang,” lanjutnya. Jiyeon tak bisa menahan diri untuk tidak memeluk ayahnya itu. Begitu pula dengan airmatanya yang tiba-tiba meluncur dari pelupuk matanya.
“Dasar cengeng. Kau tidak malu menangis didepan temanmu?” tegur ayah yang membuat Jiyeon kembali tegak lalu mengusap airmatanya.
“Hehe. Aku lupa. Ayah, ini teman yang pernah kuceritakan, Choi Minho ssi. Dan Minho ssi, ini adalah ayahku,”
“Annyeonghaseyo, aku Choi Minho. Senang bertemu dengan anda,” Minho membungkuk hormat. Ayah Jiyeon tersenyum melihatnya. Ia sudah mendengar tentang Minho dari anaknya. Tentang Minho yang senasib dengan Jiyeon, juga tentang pria itu yang menghibur anaknya.
“Apa kau menyukai Jiyeon anakku, Minho ssi?” tanya ayah Jiyeon spontan. Minho dan Jiyeon saling melempar pandang dengan mata mereka yang membulat.
“Kenapa tidak menjawab? Apa kau sudah punya pacar?” Minho menjawabnya dengan menggeleng pasti.
“Kalau begitu kenapa tidak menjawab? Apa kau tidak menyukainya? Yang benar saja. Jiyeon itu cantik, pintar, berbakat, baik, yah, walau harus kuakui dia agak cengeng,” tukas Tn. Park bertubi-tubi.
“Ayah!” tegur Jiyeon, berusaha menghentikan ayahnya yang semakin menjadi-jadi.
“Kau tidak suka aku bilang cengeng?” tanya Tn. Park pada Jiyeon.
“Bukan itu. Kami baru saja kenal seminggu yang lalu, tapi ayah sudah menanyakan apa ia menyukaiku atau tidak. Apa itu bukan gila namanya?” rengek Jiyeon tak habis pikir.
“Ya! Berani sekali kau bilang ayahmu gila! Tapi setelah kupikir-pikir perkataanmu ada benarnya juga. Kalau begitu mulai sekarang ayo kita mulai tahap pendekatannya,” tukas ayah Jiyeon senang.
“Pendekatan? Maksud ayah?” tanya Jiyeon tak mengerti.
“Minho ssi, mari kita mulai pendekatan antara calon menantu dan mertua. Tapi seperti yang kau lihat, stroke membuat tangan dan kakiku tidak bisa digerakkan, jadi aku tidak bisa bermain catur atau kartu. Apa kau punya ide? Kita butuh permainan yang tidak menggunakan kaki ataupun tangan,” Tn. Park terlihat bersemangat sementara Minho berpikir. Jiyeon sudah memberikan kode pada Minho agar pria itu tidak perlu meladeni ayahnya, tapi Minho tak mengindahkan.
“Bagaimana kalau karaoke? Aku bisa menyanyikan beberapa lagu trot,” ujar Minho memberikan solusi.
“Wah, ide bagus!” respon Tn. Park seraya menjentikkan jarinya.
Ide Minho itu tidak hanya disambut bahagia oleh Tn. Park, tapi juga oleh pasien lain di ruangan itu. Dengan sigap mereka menghidupkan TV dan DVD player yang ada di ruangan itu lalu sibuk memilih kaset apa yang sebaiknya diputar.
Tak lama setelah itu terdengar suara lengkingan nada dari lagu trot yang diputar. Suara Tn. Park, Minho, dan pasien di ruangan itu yang kebanyakan adalah orang tua berbaur menjadi satu. Ekspresi bahagia karena nostalgia menghiasi wajah-wajah penuh kerut mereka. Namun diantara kebahagiaan itu ada seseorang yang justru menepuk jidatnya, ya, Jiyeonlah orangnya.
“Kenapa hidupku selalu dipenuhi pria-pria aneh? Pertama ayah, kemudian shi hoo oppa, dan sekarang Minho ssi, hufft,” desisnya diantara keramaian itu.
….
Choi Minho menutup dengan hati-hati pintu warna putih yang menghubungkan bagian dalam dengan atap rumah sakit. Mata elangnya menangkap bayangan seorang gadis yang dicarinya. Gadis itu sedang duduk diantara rerumputan yang memang tumbuh diatap sambil memeluk kedua kakinya. Minho tersenyum. Dengan langkah pelan, pria itu berjalan menghampiri gadis yang kini nampak sibuk dengan dunianya sendiri itu.
“Kau disini rupanya,” ucap Minho seraya mengambil tempat duduk disamping gadis yang tak lain adalah Jiyeon.
“Kenapa kesini? Seingatku kau harus menemani ayah karaoke,” tanya Jiyeon. Mata gadis itu mengerjap beberapa kali pertanda bingung.
“Kami ditegur suster karena menyanyi dengan berisik, mengganggu pasien di ruangan lain katanya,” jelas Minho tersenyum kecut.
“Benarkah? Haha, sudah kuduga,” ujar Jiyeon sesaat sebelum suasana berubah hening. Keduanya terlalu larut dengan pikiran masing-masing. Mengagumi warna langit yang sekarang menjadi oranye karena matahari yang hendak bergerak ke peraduannya.
Diam-diam Minho mengeluarkan handphone hitam tipisnya. Lalu secara perlahan menghilangkan jarak diantara dirinya dan Jiyeon. KLIK. Tanpa aba-aba lagi pria itu mengambil gambarnya dengan Jiyeon yang tidak sempat melihat ke kamera. Jiyeon mengerucutkan bibirnya saat Minho terlihat puas dengan hasil fotonya.
“Aish, kau ini benar-benar,” gerutu Jiyeon pura-pura kesal. Minho hanya melemparkan senyum mautnya untuk membalas gerutuan Jiyeon tersebut.
“Aku tidak tahu kalau di rumah sakit ada tempat seindah ini,” kagum Minho. Matanya terus memandangi langit sementara Jiyeon memandangi wajah nyaris sempurna milik pria itu.
“Minho ssi, aku minta maaf. Maaf atas perkataan kasarku padamu sewaktu di pernikahan Jinki oppa,” ucap Jiyeon tiba-tiba. Segurat penyesalan terlihat di bola matanya.
“Perkataan yang mana?” Minho masih saja memandangi langit.
“Saat aku bilang kau tidak akan pernah mengerti perasaanku karena kau tidak pernah merasakannya. Sepulang dari sana aku baru tahu kalau ternyata kau juga mengalami hal yang sama dengan yang kualami. Maafkan aku,” sesal Jiyeon.
“Kau menganggapnya terlalu serius Jiyeon ssi. Aku tidak apa-apa. Seperti yang kau bilang, aku adalah player, jadi hal kecil seperti itu tidak berarti bagiku,” jawab Minho seraya mengusak kepala gadis itu, membuat rambutnya berantakan akibat ulahnya. Namun wajah Jiyeon sama sekali tidak menunjukkan kemarahan, gadis itu justru semakin merasa bersalah karena jawaban positif yang dilontarkan Minho.
“Minho ssi, jangan begini. Marahi saja aku,” pinta Jiyeon memelas.
“Untuk apa? Aku tidak mau,” tolak Minho.
“Ayolah, jangan membuatku merasa bersalah,”mohon Jiyeon seraya mengusap kedua telapak tangannya sebagai simbol memohon.
“Kalau begitu tolong hibur saja aku. Buat aku tenang,” jawab Minho kali ini. Jiyeon mengernyit. Ia tak tahu bagaimana cara menghibur orang yang patah hati. Ia menatap Minho dalam, mengingat-ingat apa yang pria itu pernah lakukan untuk menghiburnya.
Tubuh Jiyeon bergerak otomatis mendekati Minho lalu memeluk pria itu dengan satu gerakan. Gadis itu pernah mendengar tentang sebuah pelukan yang dapat mentransfer energi positif dan dapat mengurangi kesedihan atau kegelisahan. Makanya tanpa pikir panjang lagi, gadis itu langsung memeluk Minho, berharap teori yang pernah didengarnya dapat bekerja pada seorang Choi Minho.
“Minho ssi, jangan bersedih lagi. Orang baik sepertimu pasti akan mendapat yang terbaik . kau harus ingat itu,” bisik Jiyeon saat ia masih memeluk Minho. Baru saja Jiyeon ingin menyudahi pelukannya, sebuah tangan besar menahan punggungnya. Minho si pemilik tangan besar itu masih ingin merasakan hangatnya dekapan seorang Park Jiyeon. Awalnya Jiyeon kaget, namun akhirnya ia memilih diam saja sampai Minholah yang melepas pelukan mereka.
“Sudah merasa baikan?” tanya Jiyeon gugup. Jantungnya yang berdegup kencanglah yang membuatnya begitu.
“Euhm, sedikit,” jawab Minho asal. Karena sejujurnya pria itu justru merasa keadaannya menjadi lebih parah setelah dipeluk Jiyeon. Gadis itu membuatnya berdebar, lagi-lagi.
Suasana kembali hening. Peristiwa tenggelamnya matahari yang bagai ditelan gedung-gedung pencakar langit membuat keduanya diam karena terpukau. Langit oranye itu menggelap dan akhirnya menghitam seiring hari yang semakin malam.
“Tempat ini..apa Jinki juga yang memberitahumu?” tanya Minho tiba-tiba.
“Hm. Dia tidak punya banyak waktu untuk kencan di tempat yang jauh, makanya tempat ini selalu menjadi langganan kami. Kami selalu berbagi cerita dan pengalaman sembari memakan bekal yang kubuatkan untuknya di tempat ini. Dan dia tidak akan berhenti tersenyum saat menceritakan betapa ia menikmati pekerjaannya,” jawab Jiyeon yang membuat Minho mengalihkan pandangannya. Ia tidak suka melihat ekspresi Jiyeon kala gadis itu mengenang atau menceritakan Jinki.
“Hufft, tiba-tiba aku merasa disini membosankan. Ayo pulang saja,” gumam Minho lalu beranjak menuju pintu. Wajah pria itu menyiratkan kekesalan, berbeda 180 derajat dengan beberapa saat sebelumnya. Jiyeon mengerutkan dahinya, mencoba mencari-mencari apa yang salah dari kata-katanya sampai pria itu berubah sinis.
“Minho ssi! Ada satu tempat lagi yang harus kita kunjungi!” seru Jiyeon yang hanya direspon dengan anggukan malas Minho.
#
Jam sudah menunjukkan pukul 07.00 p.m. namun di tempat seperti mall, waktu tidaklah penting. Tempat itu masih seramai siang hari, dan diantara keramaian itu tampak sepasang wanita dan pria yang berdebat di sisi luar arena ice skating dalam mall itu.
“Minho ssi, ayo masuk!” ajak Jiyeon. Ia sudah berkali-kali menarik tangan Minho untuk masuk, namun pria itu selalu menolaknya dengan keras.
“Terserah apa yang kau pikirkan, tapi aku tidak akan mau masuk,” tolak Minho dengan gaya angkuhnya. Jiyeon menghentikan aksinya membujuk Minho, sekarang gadis itu justru menghujani Minho dengan tatapan datarnya.
“Kau tidak bisa bermain ice skating, kan? Itu yang kupikirkan!” balas Jiyeon kesal membuat Minho mati kutu. Jawaban Jiyeon 100% tepat.
“Ayo masuk saja. Dulunya aku juga tidak bisa. Tenang saja, aku akan mengajarimu,” tukas Jiyeon dengan mata penuh harap. Minho jadi tak kuasa menolaknya, pria itu akhirnya mengangguk. Jiyeon tersenyum penuh kemenangan lalu dengan cepat menarik pria itu masuk, takut Minho akan berubah pikiran.
“Jangan takut dan jangan ragu. Gerakkan saja kakimu seperti sedang bermain sepatu roda,” kata Jiyeon sembari terus menuntun tangan pria itu. Minho tak sedikitpun mendengarkan kata-kata Jiyeon. Dirinya terus saja berjalan kiri-kanan kanan-kiri dengan hati-hati seakan-akan ada pecahan beling disana.
“Hei, jangan bilang kau juga tidak bisa bermain sepatu roda,” curiga Jiyeon. Ia menatap Minho penuh selidik.
“Aku menabrak seorang nenek tua di hari pertama aku bermain sepatu roda. Sejak itu aku trauma dan tidak mau bermain sepatu roda lagi,” jelas Minho yang diikuti tawa Jiyeon kemudian.
“Trauma macam apa itu? Haha. Tapi aku penasaran bagaimana nasib nenek tua itu setelah ditabrak olehmu?”tanya Jiyeon disela-sela gelak tawanya,tidak sadar akan Minho yang menatapnya tajam.
“Nenek itu jatuh cinta padaku lalu kami bermain sepatu roda bersama di suatu sore yang indah. Puas kau?” geram Minho menahan emosinya yang sudah di ubun-ubun.
“Hmmph..jinjja? buahahahaha” tawa Jiyeon akhirnya meledak lagi, walau ia sudah setengah mati berusaha menahannya.
“Kalau niatmu hanya ingin meledekku lebih baik aku pulang saja,” Minho melemparkan tatapan tidak sukanya yang bahkan bisa membuat seorang anak kecil menjerit ketakutan karenanya. Pria itu menjadi sangat emosional sejak di atap rumah sakit.
Minho melepaskan pegangannya pada Jiyeon lalu berbalik menuju keluar arena. Jiyeon memandang pria yang tanpa sadar berjalan diatas bekuan es itu tanpa bantuan siapapun. Sementara Minho yang memang tidak sadar,terus saja berjalan. Karena iseng, Jiyeon akhirnya meluncur melewati Minho dan berniat menggoda pria itu.
“Minho ssi! Kau berhasil berjalan diatas es!” pekik Jiyeon kegirangan. Langkah Minho terhenti. Pria itu baru menyadarinya.
“Jiyeon ssi! Aku bisa!” seru Minho lalu mulai mencoba untuk meluncur seorang diri. Jiyeon tersenyum melihat Minho yang meluncur kesana kemari dengan kebahagiaan terpancar di wajahnya.
“See? Aku sudah bisa sekarang,” pamer Minho saat pria itu sampai dihadapan Jiyeon.
“Itu berkat dorongan emosional dariku. Jangan lupakan itu Minho ssi,” balas Jiyeon tidak mau kalah.
“Arraseo. Terima kasih banyak, guru Park,” Minho mengakhiri kalimatnya dengan senyum. Begitupun Jiyeon, gadis itu terlihat senang melihat Minho tidak lagi sesinis tadi. Tapi itu tak berlangsung lama, karena sesaat kemudian pria itu mengubah senyumnya menjadi senyum evil.
“Hei, ada apa dengan senyummu?” tanya Jiyeon saat matanya menangkap senyum aneh Minho itu.
“Tidak, aku hanya sedang kagum pada diriku sendiri. Aku tahu aku pintar, tapi aku tak menyangka bisa secepat ini memahami segala hal, termasuk skating ini. Haha, aku tidak yakin kau belajar secepat aku saat pertama kali main skating,”ujar Minho angkuh,sangat berbeda dengan pernyataan terima kasihnya tadi.
“Siapa bilang? Aku juga belajar dengan cepat. Kalau tidak percaya kau tanyakan saja pada Jinki oppa,” balas Jiyeon agak emosi. Alis Minho bertaut mendengar nama Jinki disebut Jiyeon. Entahlah, sama seperti alergi, darah pria itu akan langsung naik jika mendengar Jiyeon menyebut nama pria itu.
“Oh ya? Aku tidak yakin. Kau kan bodoh,” ejek Minho tepat didepan wajah Jiyeon.
“Aku apa? Coba ulangi sekali lagi,” pinta Jiyeon, terlihat sekali gadis itu sedang mencoba sabar.
“Kau,Park Jiyeon, kau bodoh,” ulang Minho lalu segera mengambil langkah seribu setelahnya, berusaha menghindari ledakan Jiyeon.
“Baiklah, kurasa sekarang kesabaranku sudah habis,fiuh,” gumam Jiyeon pelan sembari meniup poninya. “Ya! Choi Minho ssi! Jangan kabur kau!” teriak Jiyeon lalu meluncur cepat untuk menyusul Minho.
Minho semakin menambah kecepatannya, sesekali ia menoleh ke belakang untuk memantau sejauh mana Jiyeon mengejarnya. Pria itu terlalu senang menggoda Jiyeon sampai baru menyadari tak jauh didepannya terdapat anak kecil. Dengan sigap Minho langsung menghentikan aksi meluncurnya itu.
“Kena kau, Minho ssi!” suara Jiyeon membuat Minho menoleh panik. Ia sudah menyilangkan kedua tangannya agar Jiyeon tidak kearahnya dengan meluncur secepat itu. Tapi semuanya terlambat.
“Kyaa!” jerit Minho dan Jiyeon bersamaan.BRUK. Jiyeon menghantam Minho dan keduanya terlempar ke sudut arena. Tubuh Jiyeon menimpa tubuh Minho yang terkapar diatas es.
Minho memang jatuh dengan posisi di bawah, tapi pria itu tidak merasakan berat, sakit, dingin, atau apapun. Ia terlalu sibuk memandangi wajah cantik Jiyeon yang persis diatasnya. Menelusuri setiap lekuk wajah gadis itu dengan teliti, seakan takut ada bagian yang terlewat.
“Minho ssi, kau baik-baik saja?”tanya Jiyeon khawatir. Gadis itu tampak bersalah karena bagaimanapun juga mereka terjatuh karena ulahnya.
“Minho ssi?” panggil Jiyeon lagi karena Minho yang tak kunjung menjawab.
“Ah, dingin dan..berat,” ucap Minho pelan, seperti seseorang yang nyawanya baru terkumpul.
“Maafkan aku,” ucap Jiyeon lalu segera berdiri dan menyingkir dari tubuh Minho. Ia baru sadar sedari tadi tubuh Minholah yang menjadi tumpuannya. Setelahnya gadis itu lalu membantu Minho untuk berdiri walau dengan susah payah.
“Bagian mana yang sakit?” tanya Jiyeon lagi, terdengar panik. Ia meraba-raba kaki dan tangan Minho, mencoba mencari bagian tubuh pria itu yang terluka.
“Aku baik-baik saja. Hanya sedikit nyeri dibagian punggung dan kaki,” jawab Minho seadanya.
“Kau benar. Kakimu memar,” Jiyeon menunjukkan bagian kaki Minho yang memerah dibalik celana panjang hitam pria itu. “Bagaimana ini? Kelihatannya sakit. Apa kau bisa berjalan?”ujar Jiyeon prihatin.
“Sepertinya tidak, apalagi diatas es seperti ini,”Minho memancing Jiyeon agar membantunya.
“Baiklah, ayo aku bantu,”dengan lembut Jiyeon melingkarkan tangan Minho di lehernya sebagai tempat pria itu bertumpu. Keduanya berjalan perlahan dikarenakan keadaan kaki Minho. Sepanjang jalan itu Minho terus memandangi wajah Jiyeon yang terlihat lelah. Dalam diam pria itu menarik ujung bibirnya melihat Jiyeon berusaha keras merangkulnya.
“Sepertinya senyum-senyum sendiri adalah hobimu,” tukas Jiyeon yang membuat mata Minho membulat karena terkejut, tapi tidak mengalihkan pandangannya dari gadis itu.
“Wajahmu terlihat cantik dilihat dari dekat, benar kata ayahmu,” ucap Minho dan seketika membuat wajah Jiyeon merona merah. Gadis itu menghentikan langkahnya untuk membalas perkataan Minho.
“Kau pikir aku akan kena jebakan player sepertimu,eoh? Tidak akan,”balas Jiyeon berpura-pura santai walau kenyataannya darah gadis itu berdesir hebat karena ucapan Minho.
“Aku tidak main-main. Setiap berdekatan denganmu jantungku selalu seperti ini,” Minho mendekatkan wajahnya ke wajah Jiyeon, menikmati ekspresi kaget Jiyeon. “Apa kau merasakannya? Seperti itulah debar jantungku setiap berdekatan denganmu,”bisik Minho tepat di telinga gadis itu. Jiyeon mati-matian menutupi debar jantungnya yang kian menggila.
“Apa kau punya cermin? Kau perlu melihat sendiri wajahmu yang memerah itu,” ledek Minho, menghancurkan momen hening yang sempat tercipta. Jiyeon mendelik mendengar ucapan Minho.
“Sepertinya kau sudah sepenuhnya sehat, Minho ssi. Jadi kurasa kau bisa berjalan sendiri sekarang,”ujar Jiyeon lalu berjalan cepat meninggalkan Minho yang masih di tempatnya, tidak bergerak sama sekali.
“Jiyeon ssi! Jangan tinggalkan aku! Aku tidak bisa berjalan!” teriak Minho berusaha membuat Jiyeon berbalik, tapi yang Jiyeon lakukan justru menutup kedua telinganya tanpa menoleh sedikitpun.
“Lukaku belum sembuh. Jiyeon ssi, aku serius!” teriak Minho lebih keras dari sebelumnya agar Jiyeon mendengarnya. Tapi lagi-lagi gadis itu terus melanjutkan langkahnya.
“Aish.. setidaknya kau harus berbalik untuk berfoto bersamaku disini! Park Jiyeon ssi!” teriak Minho frustasi.
….
“Minho ssi, bagaimana ini?” tanya Jiyeon panik sesampainya di mobil Minho. Gadis itu baru sadar akan sesuatu.
“Apanya yang bagaimana?” tanya Minho balik berusaha tenang.
“Barangku. Barangku ada yang tertinggal. Terakhir kali aku mengeluarkannya di panti asuhan. Bagaimana ini? Barang itu penting sekali. Minho ssi, mau tidak mengantarku kesana lagi?” pinta Jiyeon setengah memohon.
“Memangnya benda apa itu? Kenapa penting sekali?”
“Aku akan menjelaskannya kalau itu sudah ketemu,” jawab Jiyeon panik.
“Baiklah, sekarang tenangkan dulu dirimu. Aku yakin barangmu masih disana,” Minho menenangkan Jiyeon.
Tubuh Minho bergerak mendekati Jiyeon lalu memasangkan seatbelt pada tubuh gadis itu. Jiyeon sampai menahan nafas karena wajah mereka yang terlalu dekat. Setelahnya Minho menjalankan mobilnya menuju tempat yang Jiyeon minta, Panti asuhan.
#
Sebuah mobil hitam mewah memasuki pelataran panti asuhan. Tak lama setelahnya keluarlah Choi Minho dan Park Jiyeon yang terlihat terburu-buru. Keduanya terlihat agak bingung melihat lampu-lampu bagian dalam bangunan itu sudah padam padahal baru jam 08.10 p.m.
“Apa mereka sudah tidur ya?” lirih Jiyeon putus asa.
“Mungkin. Tapi kalau kita ketuk pintunya pasti Ny.Yoon akan membukakan,” jawab Minho.
“Kurasa besok saja aku kesini lagi. Aku tidak ingin mengganggu tidur mereka,” jawab Jiyeon pasrah.
“Bukankah benda itu penting? Ayo ketuk saja pintunya,”
“Tidak mau. Kalau mau kau saja sendiri,” kata Jiyeon sinis.
“Baiklah. Aku yang akan mengambilnya sendirian,” ujar Minho lalu memberanikan diri mengetuk pintu kayu itu.
“Siapa itu?” tanya suara wanita dari dalam sesaat setelah Minho mengetuk pintu.
“Aku Choi Minho, teman Park Jiyeon yang tadi pagi datang kesini,” balas Minho walau ia tidak tahu sedang berbicara dengan siapa karena pintu yang tidak kunjung dibuka.
“Ah, Minho ssi. Masuk saja, pintunya tidak dikunci,” sahut suara itu lagi. Tanpa basa-basi, pria itu memegang gagang pintu dan membukanya dalam satu hentakan.
Baru satu langkah Minho menginjakan kakinya kedalam, pria itu dikagetkan dengan lampu-lampu yang tiba-tiba dinyalakan. Ruangan gelap itu langsung berubah terang benderang, membuatnya dapat melihat balon warna-warni di setiap sudut ruangan serta anak-anak dan pengurus panti asuhan yang tersenyum kepadanya dengan topi pesta di kepala mereka.
“Saengil chukhahamnida… Saengil chukhahamnida… saranghaneun Minho ssi… Saengil chukhahamnida~” sebuah lagu terlantun dari mulut anak-anak itu. Minho terperangah tak percaya. Tak bisa dipungkiri lagi, pria itu merasa terharu saat ini.
“Ny.Yoon, darimana kau dan anak-anak ini tahu kalau hari ini adalah hari ulang tahunku?” tanya Minho heran yang dijawab Ny.Yoon dengan melirik seseorang dibelakang Minho. Pria itu membalikkan badannya dan melihat Jiyeon tengah berdiri dihadapannya dengan senyum khas gadis itu.
“Jiyeon ssi, bagaimana kau… aku tak habis pikir, bagaimana kau mengatur ini semua?” tanya Minho. Kebahagiaan meluap-luap dalam hatinya.
“Itu tidak penting. Yang penting sekarang adalah…” Jiyeon menghentikan ucapannya sesaat. “Minho ssi, terima kasih untuk terlahir di dunia ini,” lanjut Jiyeon seraya memamerkan senyum tulusnya. Minho tak dapat menahan dirinya untuk tidak memeluk Jiyeon. Pertama kali dalam hidupnya ia merasa sangat dihargai seperti ini.
“Anak-anak, tutup mata kalian,” Ny.Yoon dan pengurus panti asuhan lain sibuk mengalihkan perhatian anak-anak agar tidak melihat adegan romantis Minho-Jiyeon itu.
“Minho hyung, tiup dulu lilinnya,” suara Yi soo menghentikan pelukan Minho. Anak itu bersama empat temannya menghampiri Minho dengan kue tart besar buatan Jiyeon tadi siang. Kelimanya memberikan kue itu sambil menutup mata mereka.
“Hei, pelukannya sudah selesai,” ucap Minho sambil menahan tawanya. Yi soo, Tae sung, Joon, Ji hoo, dan Min woo membuka mata mereka perlahan. Kemudian memberikan kode pada Minho agar cepat meniup lilin dan memotong kuenya. Mereka sudah tidak sabar ingin mencicipinya juga.
Minho meniup lilin berbentuk angka 29 diatas kuenya setelah sebelumnya membuat permintaan. Pria itu lalu memberikan potongan pertama kepada Jiyeon namun ditolak gadis itu. “Kue itu aku buatkan untukmu. Jadi kau saja yang memakannya,” begitulah kata Jiyeon.
“Ayolah,” bujuk Minho yang membuat Jiyeon akhirnya menyerah dan membuka mulutnya, menerima kue yang disodorkan Minho ke mulutnya.
“Ehem, ehem, ayo kita ke ruang makan. Disana ada lebih banyak lagi kejutan untukmu,”ujar seorang bibi gemuk yang tadi siang menyuruh Minho mencuci selimut, bibi Lee. Minho, Jiyeon, dan dan anak-anak panti asuhan berjalan teratur menuju ruang makan yang memang sangat besar itu. Jelas saja, karena harus menampung anak-anak berjumlah 40. Tanpa ribut, anak-anak itu menghampiri kursi masing-masing sesuai nama yang terdapat dibalik kursinya. Ny.Yoon bilang untuk menghindari pertengkaran.
Minho terpana melihat meja panjang itu penuh dengan berbagai menu makanan. Dan baru disadarinya tujuan Jiyeon mengajaknya belanja tadi pagi. Ya, semua makanan di meja itu adalah hasil olahan bahan-bahan yang dibeli Jiyeon di pasar. Minho menatap gadis disampingnya yang juga menatapnya.
“Sekarang pertanyaanmu tadi pagi sudah terjawab kan, Minho ssi?” tanya Jiyeon dengan senyum khasnya.
“Ya, sangat jelas jawabannya,” jawab Minho membalas senyum Jiyeon.
“Minho ssi, cepat duduk, nanti sup rumput lautnya dingin,”Ny.Yoon mempersilakan Minho untuk duduk. Dengan patuh Minho duduk di kursi yang berhadapan dengan Ny.Yoon juga pengurus panti asuhan lainnya, termasuk bibi Lee.
“Kalian bahkan menyiapkan sup rumput laut di hari ulang tahunku. Terima kasih banyak Ny.Yoon, bibi Lee, juga pengurus lain. Ini ulang tahun pertamaku yang dirayakan bersama banyak orang karena biasanya aku hanya merayakannya sendirian. Terima kasih, berkat kalian aku jadi merasakan kebahagiaan yang dialami orang lain saat ulang tahun,” ucap Minho tulus. Dirinya amat bersyukur dipertemukan tuhan dengan orang-orang itu.
“Minho ssi, kau membuatku ingin menangis,” bibi Lee menitikkan airmata haru.
“Kami senang kau menyukainya. Maaf karena hanya ini yang bisa kami berikan. Kami tidak bisa memberikan kado atau semacamnya,” kali ini Ny.Yoon yang berbicara.
“Tidak Ny.Yoon, ini sudah lebih dari cukup,” jawab Minho terdengar sangat tulus. Ia merasakan kehangatan keluarga yang tidak pernah dirasakannya selama ini.
“Ayo kita mulai makan saja,” kata Jiyeon mengalihkan topik pembicaraan. Semuanya tampak antusias memakan hidangan sampai tiba-tiba di tengah-tengah mereka muncul 5 orang anak memakai jubah putih. Siapa lagi kalau bukan yi soo ji hoo, joon, min woo dan tae sung?
Mereka muncul diiringi lagu fantastic baby –milik bigbang –yang berasal dari tape di ruang makan itu. Kelimanya menari-nari ala GD sambil sesekali memainkan jubah putih mereka. Semua orang di ruangan itu –kecuali mereka –terperangah melihatnya, bahkan beberapa anak lain sampai tidak percaya punya teman seperti mereka.
“Dasar high five,” gumam Minho sembari melanjutkan menyuap makanannya.
“High five?” tanya Jiyeon tidak mengerti.
“Iya, sejak tadi siang mereka resmi kunamai high five karena mereka berlima kompak sekali. Di masa depan mereka akan membentuk boyband bernama high five dan akulah manajernya. Itulah kesepakatan kami saat mencuci tadi siang,” jelas Minho yang membuat Jiyeon memandang tajam kearahnya.
“Jadi kau yang membuat anak-anak itu bertingkah abnormal?” tanya Jiyeon retoris, sementara Minho memperlihatkan senyum innocentnya.
“Ayo nyanyi semua! I wanna dance dance dance dance dance dance,” seru yi soo asyik sendiri.
“Wow, fantastic baby,” sambung joon, tae sung, min woo, dan ji hoo bersamaan. Mereka menghibur semuanya dengan tingkah mereka. Kelimanya menari tidak jelas sambil mengelilingi ruangan, bertingkah sekan-akan itu ruangan konser mereka. Tiba-tiba saja Minho menyadari sesuatu ketika jubah putih yang dikenakan anak-anak itu ditangkap indra penglihatannya.
“Kalian…beraninya kalian mengenakan selimut yang kucuci dengan susah payah,” geram Minho yang beranjak dari kursinya.
“Tapi ini kan milik kami,” joon membela diri.
“Tapi tetap saja aku yang mencucinya sampai terpeleset,” balas Minho tidak mau kalah.
“Tapi kami kan ikut membantu,” balas min woo kali ini.
“Cepat kemarikan!” pinta Minho.
“Tidak mau,wekk!” kelimanya langsung berlarian kesana kemari menghindari kejaran Minho.
“Kemarikan kataku,” ujar Minho sesaat sebelum ia benar-benar mengejar anak-anak boyband asuhannya itu. Satu ruangan tak hentinya tertawa melihat keenam orang itu berlarian mengelilingi meja makan dengan lagu fantastic baby yang masih setia mengalun dari tape.
#
Park Jiyeon menutup pintu rumahnya pelan. Tenaganya sudah sangat terkuras hari ini, walau semuanya terasa menyenangkan baginya. Gadis itu berusaha keras memakai sisa-sia tenaganya untuk membersihkan diri dari debu yang melekat di tubuhnya akibat aktivitasnya hari ini.
“Segarnya,” gumam Jiyeon sekeluarnya ia dari kamar mandi. Ia lalu mengambil tempat di sofa ruang keluarga, hanya duduk dan merenungkan kejadian hari ini. Mata indahnya terpejam untuk mengingat apa saja yang telah dilakukannya hari ini. Sesekali bibirnya membentuk senyum saat mengingat berbagai kejadian lucunya bersama Minho.
Tiba-tiba saja gadis itu teringat akan sesuatu. Tangannya menggapai benda bernama handphone yang tergeletak disampingnya. Dengan cekatan tangannya sibuk mengusap handphone layar sentuh itu, mencoba mencari tahu apa yang telah dilakukan Minho terhadap handphonenya selama benda itu tertukar.
Ia cukup sabar ketika mengetahui Minho membaca seluruh pesan masuk yang belum dibacanya. Tapi ia tak cukup sabar saat mengetahui foto-fotonya bersama Jinki dihapus oleh Minho. Tak bersisa satupun. Foto-foto itu digantikan oleh foto-foto dirinya bersama Choi Minho yang diambil hari ini. Foto mereka saat di pasar, di panti asuhan, di theme Park, bahkan foto mereka bersama ayah Jiyeon di rumah sakit tadi. Tak hanya itu, foto mereka dengan sunset juga arena skating dan di pesta ulang tahun Minho pun ada.
“Ckckck, pria ini benar-benar menguji kesabaranku,” gumam Jiyeon sambil menggelengkan kepalanya. Tapi tunggu dulu. Ada sesuatu yang baru disadari gadis itu. Jiyeon kembali melihat-lihat foto-foto di galerinya dan seketika tersenyum ketika menyadari maksud Minho sebenarnya.
“Dasar Choi Minho,” lirihnya. Gadis itu baru sadar semua tempat juga latar belakang foto yang diambil Minho bersama dirinya sama dengan latar belakang foto-foto yang pernah diambilnya bersama Jinki di handphonenya. Jadi sebenarnya yang berubah dari foto-foto itu hanyalah prianya, karena latar belakang maupun wanitanya sama, Park Jiyeon.
Sebuah bunyi pesan masuk mengejutkan Jiyeon. Matanya membulat melihat nama pengirim pesan itu,’flaming charisma Minho’. Jiyeon menautkan alisnya melihat nama kontak super aneh itu.
From : Flaming charisma Minho
Good night, Jiyeon ssi^^

Tanpa berpikir dua kali Jiyeon langsung membalas pesan Minho itu.
To : Flaming Charisma Minho
Hei, apa yang kau lakukan pada handphoneku?-.-

Baru beberapa detik berlalu setelah Jiyeon membalas pesan itu, kini handphonenya sudah berbunyi lagi.
From : Flaming Charisma Minho
Aku hanya melakukan apa yang harus kulakukan.
Seperti janjiku waktu itu aku akan membantumu melupakan Jinki ;D

Jiyeon baru saja memikirkan balasan yang tepat untuk pria menyebalkan namun menyenangkan baginya itu. Namun tiba-tiba handphone digenggamannya berdering disertai getar, pertanda ada panggilan masuk. Dan seketika Jiyeon meniup poninya melihat nama kontak yang tertera, ‘Flaming Charisma Minho’, lagi-lagi -_- .
“Ya? Ada apa lagi, Choi Minho ssi?” ucap Jiyeon langsung setelah mengusap tombol answer pada layar handphonenya.
“Kau bahkan tidak mengucapkan salam,” respon Minho dari ujung telpon sana.
“Untuk apa aku mengucapkan salam pada orang yang telah mengubah isi handphoneku tanpa izin?” ujar Jiyeon pura-pura sinis walau kenyataannya gadis itu cukup berterima kasih pada Minho.
“Aish, galak sekali anak Tn. Park ini. Aku hanya membantumu melupakan Jinki,”
“Aku tahu. Jadi apa aku harus berterima kasih sekarang? Baiklah, terima kasih banyak Choi Minho ssi,” ucap Jiyeon terdengar malas namun sebenarnya tulus.
“Kau tahu kenapa aku menelponmu?” tanya Minho penuh teka-teki. Jiyeon mengerutkan dahinya, berpikir. Namun beberapa saat setelahnya ia menggeleng, walau ia tahu Minho tak bisa melihat gelengannya.
“Baiklah kuberitahu saja. Aku ingin menagih permintaanku yang terakhir selagi belum jam 12 malam,” ucapan Minho membuat Jiyeon menengok jam yang tergantung tak jauh darinya. Pukul 11.45 p.m. Jiyeon menekuk wajahnya, menyebalkan mengingat sifat Minho yang tidak mudah lupa bahkan disaat-saat terakhir.
“Baiklah. Apa permintaanmu?” tanya Jiyeon pasrah.
“Kau pasti akan mengabulkannya kan?” tanya Minho balik memastikan.
“Iya iya, sudah katakan saja apa itu,”
“Cobalah untuk mencintaiku, itu permintaanku. Dan aku juga akan melakukan yang sama padamu,” Jiyeon terpana mendengar suara berat pria itu terdengar di telinganya. Gadis itu cukup shock mendengarnya. Sunyi mendominasi, tak ada percakapan yang terjadi setelahnya.
“Jiyeon ssi? Kau masih hidup kan?”kata-kata Minho membuyarkan berbagai pikiran serius di otak Jiyeon.
“Aish, kau ini. Aku mendengarkan dari tadi,” sahut Jiyeon.
“Jadi bagaimana?” tanya Minho penuh paksaan.
“Bagaimana apanya? Bukannya aku memang tidak bisa menolak?” tukas Jiyeon terdengar pasrah.
“Oke, deal. Batas waktunya sampai 2 bulan mendatang. Jika sampai saat itu salah satu diantara kita tetap tidak bisa mencintai, itu berarti semuanya berakhir dan kita cukup menjadi teman saja,” jelas Minho tanpa jeda. Jiyeon mendengarkan dengan baik, selain karena suasana rumahnya yang hening juga karena hatinya yang berdebar menunggu kelanjutan akan kata-kata Minho.
“Bagaimana kalau aku berhasil dalam waktu 2 bulan itu?” tanya Jiyeon. Entah kenapa dirinya penasaran akan hal itu. Tak ada jawaban dari seberang sana untuk beberapa saat karena Minho yang masih mempertimbangkan jawabannya.
“Kita menikah,” ucapan Minho itu membuat Jiyeon berdiri karena terkejut. Gadis itu tahu Minho gila, tapi ia tidak tahu pria itu akan segila ini.
“Ya! Kau gila?” rutuk Jiyeon dengan perasaan campur aduk. Ia memilih untuk terlihat galak karena sejujurnya gadis itu pun bingung harus bereaksi seperti apa.
“Tidak, aku tampan. Good night!” tukas Minho lalu setelah itu sambungan telpon terputus. Pria itu langsung memutuskan telponnya tepat setelah mengucapkan kata-katanya.
Jiyeon menghempaskan kembali tubuhnya ke sofa. Ia merasa seperti jiwanya baru saja melayang entah kemana. Ia bahkan terlalu bingung untuk sekedar beristirahat. Matanya yang sulit terpejam akhirnya memutuskan untuk menatap langit-langit ruang keluarga itu sambil memikirkan berbagai peristiwa ajaib yang terjadi padanya hari ini. Gadis itu membentuk senyum di bibir indahnya. Entahlah, tapi ia pikir tak ada salahnya memenuhi permintaan Minho, ia tertantang untuk itu.
~END~

Eotte? Akhirannya jelas banget kan? Ngga gantung sama sekali kan? #maksa
Maaf kalau bikin readers capek karena kepanjangan atau bingung 😀 peace!

28 tanggapan untuk “Unpredictable Dating | sequel of Unpredictable Meeting

  1. sequel nya bgus …
    tapi masih nggantung, menurutku karna usaha pndekatan minho selama 2 bulan itu plus jiyeon bkln nikah aka minho masih tanda tanya…
    aku harap authornim mau buat kenjutan cerita d ff ini…
    gumawo authornim fighting yaa

  2. Ff nya fantastic baybeh…….ahhhh sequel lg dong thor, penasaran bgmn usaha minho utk membuat ji jatuh cinta beneran……sequel? It’s a must….hahahha ga kalah maksa dr author.

  3. ff nya bagus banget
    ak suka sama ide ceritanya,, berharap banget ada squel lagi ttg kisah minji moment. bakalan nikah atau enggak..
    author bikin ff minji dong,, hohohoho… #plaakkk readers banyak minta
    author fighting

  4. gue udah ngetik ini yg ketiga kalinya…. gatau ini knp hp gue eror terus dil :(( terimakasi btw ff nya sangat menginspirasi :))) semoga ff gue cpt update yaaah hahaha btw mino gue ooc banget hiyah

  5. aigoooo.
    ffnya daebakk bangeeett . .

    di tunggu kelanjutannya ..

    next next next .,. .

  6. OMG! Ffnya bagus banget,DAEBAK(angkat 2 jempol). Hebat bgt kamu,semuanya rapi mulai dari alur cerita + penggunaan bahasa jd terasa bgt feelnya sprt baca novel. Smoga ada sequelnya ampe akhir hub mrk. HWAITING^^

  7. Love ittttt!!! thor!!
    Benar2 daebak.. Mulai dr awal pertemuan hingga dating.. ceritanya perfect! Chemistry MinJi nya dapetttt banget!! Minho dan high five benar2 kocak hahaha
    Jadi ketagihan nih, thor!! Haha sequel lagi dunk!!! Lanjut ya thor! ditunggu banget 😉

  8. Ini cerita romantis bgt ya, pipi saya sampai cabi senyum senyum sendiri kaya orang gila.
    Uhmmm cuma sayang thor disini minho kebangetan cacat, tapi ga apa apa gitu gitu dia romantis dan yang lebih romantis adalah saat cintanya bersemi dengan sang nenek bagai pohon pinus.
    Hahah
    😀
    good job, i like it
    😀

  9. Heeehe i-itu romantiss dil. Saya senyum senyum sendiri bacanya.
    Saran saya kirimkan ff ini ke pjy ff.
    Saya suka suka.
    Romantisssssss:D

  10. Neomu neomu jahahae… Authorr daebakkk

    Suka bgt FF ini coz banyak banged MINJI moment yg bikin readers senyum2 sendiri bacany…

    Bener2 soo sweeeettttttt bgttt

    😀

  11. Kyaaa…. Daebak… daebak…
    Aje gile nihh FF seru abiezz…
    Gak rela dehh klw udahh end aja… T___T

    Thor, lnjutin donkk ampe MinJi couple bner2 pacaran truss nikah baru dehh bleh End *readerbanyakmaunya*…

    Pkok’x d’tunggu FF MinJi lain’x… ^_~

    1. uwaa~ makasih..makasih..
      jinjja? seseru itukah? sempet takut ngga dapet feelnya waktu bikinnya, tapi syukur deh, kalau kamu suka :
      )
      okelah, author pertimbangkan dulu #halah
      oke,oke, makasih udah baca n comment^^

  12. greaaat..ff MINJI terDaebak yang pernah ada.. 😀
    hahaha..jadi senyum2 sendiri baca ini..romantis (minji moment) plus gokil (boyband bentukan minho yg bikin ngakak)
    ini yang aku suka dari minji couple..mereka terlalu cocok untuk jadi real couple…chemistry nya dapet bgt #keluarlah jiwa minji shippernya 😀
    lagi dong thor ff minji nya..mau baru ato lanjutan ini terserah deh pokoknya minji number one hehe..mian komen kebanyakan..semangat thor..

    1. kyaa! makasih banyak~ serasa dapet penghargaan, hehe #abaikan
      iya, aku juga rada senyum2 gitu pas buatnya, apalagi high five nya, haha
      😀 aku juga suka minji..walau aku juga suka couple yg laen, yg penting jiyeon aku suka deh..
      ff minji laen? heumm, aku pasti bikin sih, tapi ngga tau kapan bisa update lagi, hhe mian
      semangat juga ya nunggu ff ku yang lain^^

  13. hwaaah daebak!! Bikin senyam senyum sendiri! JiYeon penuh kejutan, Minho banyak akalnya (akal gila, lebih tepatnya :p)

    author, pengen sequel lagi.. Belum puas! Pengen lagi, lagi, lagi dan lagi 😀

    1. makasih eon~
      haha, aku juga senyum2 gaje gitu buatnya..
      iya iya emang dasar minho player, jadi mau diapain juga tetep aja modus, haha
      sequel? *tepokjidat*
      oke,oke,oke,oke, aku usahain 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s