Adults · chapter · Couple · fanfiction · humor · Hurt · Life · Love · ONESHOT · romance · sad · Teen Fiction

Scent Of A Woman


Scent of a woman

Note : Cerita ini sudah aku ubah ke konten dewasa (NC). Bahkan keseluruhan ceritanya berbeda dengan yang sebelumnya. Tapi intinya tetap sama. Jadi mohon maaf untuk bab dua akan aku protect. Bagi kalian yang masih dibawah umur dilarang membacanya. Kalau puasanya batal penulis akan berdosa hehe. Cerita ini juga aku post di Wattpad aku. Kalian bisa ke lapak aku dengan User : @Celena_Elaine. Selamat membaca!

***

Bab Satu

 

Gadis itu tertegun mengamati jam kecil yang melingkar dipergelangan tangannya. Sebentar lagi nyaris mendekati tengah malam namun ia terlalu asik berkeliling di Baker Street London sampai-sampai ia melupakan satu hal yang penting yaitu tempat bernaung. Ia merutuki kebodohannya dan berusaha menutupinya dengan memberanikan diri bertanya kepada beberapa orang yang masih berlalu-lalang disekitar ia berdiri.

Disana. Seorang pria dengan postur tubuhnya yang tinggi terlihat seperti penderita obesitas wajahnya terlihat baik namun Jiyeon harus mengurungkan niatnya ketika ia menyadari tatapan matanya seolah tak mau meladeni siapapun saat ini. Terlalu banyak berpikir nyatanya telah merusak kesempatan yang dimiliki Jiyeon untuk mendapatkan tempat tinggal yang layak.

Gadis itu mulai tenang. Panik hanya akan menimbulkan masalah baru. Ia harus berpikir dengan kepala dingin, mengatur nafas agar jantungnya tidak memberinya respon kuat sehingga saraf parasimpatiknya dapat mengontrol emosinya yang hampir meluap saat ini.

Dari dulu tidak berubah. Jiyeon memang memiliki kebiasaan mudah panik dan kecerobohan yang selalu berujung pada kekacauan. Sekarang juga sama. Ketika ia melarikan diri dari rumah setelah mendengar keputusan dari ayahnya bahwa ia akan melaksanakan pesta pernikahannya dengan Lee Donghae ternyata mampu memberikan dampak negatif. Ia tahu bahwa tidak seharusnya ayahnya membawanya dalam masalah ini.

Semua ini berawal karena kebodohan ayahnya yang mempercayakan semua perusahaan pada Henry. Jiyeon sudah tahu jika pria itu hanya ingin membawa kabur semua keuntungan perusahaan. Berkali-kali ia berusaha memperingati ayahnya namun pria paruh baya itu tak menggubris kata-kata Jiyeon sama sekali. Kemudian pria itu muncul ia memberi janji bahwa dirinya akan menanggung semua kerugian yang telah diakibatkan oleh Henry namun dengan syarat jika Jiyeon harus menjadi miliknya.

Jiyeon tidak akan menerima pernikahan itu dengan senang hati. Suatu hari ketika ia sudah menjadi istrinya tidak akan ada yang menjamin bila ia tidak berselingkuh. Masih terbesit didalam ingatannya dengan jelas bagaimana ia mencium parfum yang menempel di jasnya. Jiyeon tidak bodoh. Wanginya selalu berbeda-beda dan ia yakin bahwa merek parfum tersebut sama seperti yang dimilikinya dahulu. Minyak wangi khusus wanita.

Pria busuk itu mungkin bisa membohongi indera penglihatan dan pendengaran orangtuanya namun indera penciuman dan perabanya berkata lain. Sistem saraf pusatnya telah memberikan tanda bahaya bahwa pria itu bukan jenis pria yang dapat membahagiakan wanita, justru kebalikannya. Sehingga ia bergerak cepat sesuai naluri tanpa memikirkan rencana apapun untuk terbang ke London.

Jiyeon beranjak dari tempatnya ketika ia menyadari bahwa tidak jauh dari London Brige’s ada sebuah hotel. Mungkin ia harus banyak belajar dari tokoh masa lalu bahwa disaat panik sesuatu yang kita cari justru tidak akan pernah muncul karena tanpa kita disadari kita telah memotivasinya untuk tidak ada.

Satu malam saja kumohon. Berikan aku sebuah keberuntungan. Jiyeon memberanikan diri untuk bertanya kepada meja recepcionis saat ia akan bertanya muncul seorang pria yang mengenakan jaket hitam dengan tas ransel abu-abu dominan lebih gelap. Dia mengenakan masker menutupi setengah bagian wajahnya namun Jiyeon masih sanggup mengamati hidung mancungnya dan matanya yang berwarna biru serta mendominasi penampilannya meskipun rambutnya tertutupi oleh topi.

“Kau juga akan menginap disini?” Pria itu lebih dulu membuka percakapan setelah mereka cukup lama bertukar pandangan satu sama lain. Dia berbicara dengan bahasa korea. Pria itu seolah sudah mengetahui dimana Jiyeon lahir.

Jiyeon tidak bisa membohongi pria itu bahwa dirinya sangat butuh. Kakinya sudah mulai protes ketika ia berjalan hanya rasa sakit yang ia dapatkan. Mungkin sudah memar dan luka karena ia tidak memakai sepatu yang layak untuk berpergian kesana-kemari.

“Maaf tapi aku sudah tidak kuat lagi berjalan”

Pria itu terlihat diam entah mengapa untuk sejenak Jiyeon menyadari perubahan atmosfer diantara keduanya. Pria ini seolah berubah drastis ketika diam. Rasa dinginnya malam yang kerap kali menusuk permukaan kulit Jiyeon tidak mampu mengalahkan dinginnya kebisuan pria itu.

“Maafkan aku. Jika memang kau tidak bisa aku akan mengalah saja”

“Jangan bercanda” Umpat pria itu. Nadanya terdengar kasar sedikit otoriter namun ada sepucuk rasa kepedulian didalamnya. Kami sempat diperhatikan oleh kedua pelayan disana. Mereka pasti kebingungan dengan tingkah kami. Mungkin lebih tepatnya mencurigai.

“Aku akan tetap memesan kamar itu. Kudengar hanya tersisa satu. Aku tidak yakin kau mau menerima tawaranku. Tapi ada baiknya jika kau bermalam disatu kamar yang sama denganku dari pada mencarinya lagi di luar sana. Aku yang akan membayar uang sewanya karena aku telah mereservasi kamar itu terlebih dahulu. Bagaimana?” Pria itu mengaduk-aduk tas ranselnya begitu ia menemukan dompetnya lalu dengan aksen layaknya orang inggris ia pun bertanya pada recepcionis kamar atas nama Cho Kyuhyun.

Jiyeon masih menimbang-nimbang tawaran pemuda itu. Ia ingin sekali beristirahat hanya untuk sekedar duduk dan berbaring. Disisi lain, mana bisa ia menerima tawaran dari orang asing yang belum dikenalnya. Baiklah kalau soal nama ia sudah mengetahuinya tadi sekitar beberapa detik yang lalu. Jiyeon tidak bisa berkompetisi dengan pikirannya selama mungkin. Bisa jadi diluar sana lebih berbahaya dari pada menerima tawaran untuk tinggal sekamar dengan pria asing.

Dia sudah mendapatkan kunci beserta nomor kamarnya dan mulai memutar-mutar di jari telunjuknya sebagai tanda meminta kepastian dari gadis dihadapannya.

“Aku tidak akan menyentuhmu. Tapi jika kau bersedia memberikan keperawananmu aku tidak menolak. Lagi pula aku pria normal. Jadi?”

Gadis itu sekarang kembali ragu setelah pria itu memincingkan matanya ditempat yang tidak sopan yang seharusnya tidak ia lakukan kepada seorang wanita yang belum dikenalnya sama sekali. Sial. Pria itu telah memberinya dilema setelah ia susah payah menemukan kata setuju di dalam pikirannya.

“Aku hanya bercanda. Raut wajahmu terlihat sekali sarat akan ketakutan. Bagaimana jika kau menolak tawaranku dan berkeliaran diluar sana saat tengah malam nanti. Wah pasti nasibmu lebih mengerikan karena yang kutahu di London pernah terjadi pembunuhan sadis dan korbannya adalah seorang wanita. Kau sudah menyiapkan peti mati?”

“Kenapa kau malah menakutiku” Gadis itu terlihat hampir menangis. Pelupuk matanya sudah hampir dipenuhi oleh air mata.

“Aku terima tawaranmu. Tapi..” Ia menggantungkan kalimat selanjutnya bersamaan dengan rasa kantuknya yang menguap diudara.

“Aku sudah mengatakannya bukan. Aku tidak akan menyentuhmu. Kecuali..”

Ia cepat-cepat memotong perkataan pria tersebut. “Baiklah. Aku akan berusaha menjaga sikapku. Apa kau melakukan semua ini dengan tulus?”

Pria itu tersenyum. Jiyeon bisa mengetahui dari kerutan diujung matanya yang sedikit berkerut. “Tentu saja. Aku juga memiliki adik perempuan. Mana mungkin aku tega membiarkan dirimu terlantar dijalanan saat malam hari” Ujarnya. Begitu Jiyeon sudah yakin ia mengikuti pria itu menuju lift. Dia menekan lantai enam belas begitu lift bergerak sampai berhenti di lantai tujuan, dia pun melesat pergi. Kakinya yang tinggi dan langkahnya yang cepat sudah cukup membuat jiyeon kewalahan mengikutinya. Pria itu sadar hanya saja rasa kantuknya seolah membuatnya menjadi kejam terkesan tidak peduli toh dia sudah berbaik hati membiarkan gadis itu bermalam bersamanya tanpa meminta imbalan satupun.

Begitu pintu terbuka. Kedua orang itu diam sejenak. Kamar hotel tersebut sangat luas. Tata letak seluruh barangnya begitu rapi sehingga terlihat sangat nyaman. Kau bisa melihat seluruh kota london dari balik jendela. Panoramanya menjadi lebih indah jika melihatnya saat malam hari.

Seusai pelayan membersihkan kamar. Kyuhyun mengatur suhu kamar itu kemudian dia mengeluarkan tas ranselnya dan meletakkan pakaiannya di dalam lemari yang terletak disudut ruangan.

“Kau beruntung. Kita mendapatkan kamar yang memiliki dua tempat tidur” Ujarnya sesekali melirik koper milik Jiyeon.

“Kabur?” Dia bertanya. Meskipun sedikit tidak sopan namun Jiyeon tidak ada alasan untuk berkata lain. Caranya menebak sungguh mengagumkan dan membuatnya kesal.

“Begitulah”

Kyuhyun membuka masker dan topi meletakkannya di atas meja. Untuk pertama kalinya Jiyeon dapat melihat dengan jelas seluruh wajahnya yang kontras dengan rahangnya yang terbentuk sempurna. Alisnya yang tebal menambah pandangan matanya yang tajam. Ia melepaskan jaketnya, pakaian dalamnya yang tipis menampakan fisiknya yang atletis.

Dia menegak isi botol minumannya. Saat mengangkat botol ia melirik ke arah si wanita yang sedang melepas hodie panjang sampai menutupi lututnya. Matanya seperti kacang almond kontras dengan sifatnya yang sangat berhati-hati. Ketika tersenyum bibirnya yang oval dan bulat terlihat penuh dan sexy saat memakai lip gloss menyebabkan matanya berwarna hazel membentuk setengah bulan. Hidungnya mancungnya yang lurus seolah melengkapi wajahnya yang manis. Jenis wanita yang memiliki kharisma tinggi, kecantikanya sungguh tidak bisa dipoles dari luar. Beberapa tahun lagi ia pasti akan tumbuh menjadi wanita seutuhnya yang sudah mengerti apa itu dunia dan seluruh keindahannya yang masih tersembunyi.

“Bolehkah aku bertanya padamu?” Ia mengikat rambutnya yang hanya sebahu dan keriting menampilkan lehernya yang mulus. Kyuhyun nyaris tersedak karena pikirannya semakin melantur ketika membayangkan bentuk tubuh Jiyeon tanpa busana. Ia meletakkan botol minumannya di atas meja dan memutuskan  untuk mandi demi menghilangkan khayalannya.

“Apa?” Tanyanya sembari bersiap-siap menuju kamar mandi.

“Jika besok aku masih belum mendapatkan tempat tinggal apakah aku boleh menumpang selama sehari saja”

“Aku tidak keberatan berbagi kamar asalkan kau tidak mengusik ketenanganku, hanya saja untuk masalah makanan aku tidak bisa menanggungnya untukmu”

“Kau tidak perlu mengkhawatirkan masalah itu. Aku bisa mengurusi diriku. Maafkan aku jika sudah merepotkanmu. Aku hanya sedang kebingungan”

Kyuhyun membuka kaos V-neck putih polosnya sehingga Jiyeon secara refleks harus memunggunginya. “Maaf kau harus melihatnya. Aku ini mudah gatal saat berkeringat. Apakah aku terlihat sexy?” Godanya. Pria itu jelas menyukai reaksi gadis yang malu-malu dan masih polos.

“Ti-ti-tidak.. a-aku tidak lihat apapun” pekik Jiyeon sembari menutup wajahnya yang mulai kemerahan. Jelas-jelas ia melihat dada bidang pria itu dan beberapa otot di perutnya yang terbentuk sempurna memberikan rasa menggelitik yang asing di dalam hatinya. Jiyeon berusaha tampak tidak salah tingkah namun bayangan tubuh pria itu terlalu indah untuk dilupakan.

Jiyeon tidak bisa mengatur detak jantungnya dan pikirannya yang mulai tidak masuk akal. Sadarlah kau masih belum pantas untuk berpikir kearah sana. Batinnya sambil berbaring memeluk bantal berusaha menghapus kesadarannya. Tapi tidak bisa.

Sementara suara percikan air dari dalam sana semakin memberikan efek tidak terduga. Apakah dia jenis pria yang suka bermain dengan wanita seperti di novel-novel itu? Mudah-mudahan tidak. Tapi bagaimana jika Jiyeon bernasib sama seperti gadis pada umumnya hanya karena one stand night. Bukankah itu yang paling diinginkan seorang pria ketika terjebak dalam satu kamar dengan seorang gadis.

“Apa kau mau wine?” Pria itu muncul lagi setelah menghabiskan waktu kurang dari sepuluh menit untuk membersihkan diri. Rambutnya yang berwarna kecokelatan terlihat lebih gelap ketika basah. Jiyeon tidak mau menoleh kearah pria itu. Ia takut tergoda dengan sesuatu yang belum pernah dilihatnya selama belasan tahun umurnya sebelum ia menjadi wanita dewasa.

“Aku tidak diperbolehkan minum wine, ibuku bilang harus menjauhi minuman terlarang itu”

“Memang benar. Kau bisa menjadi gadis nakal setelah meminumnya. Sayang sekali aku harus menikmatinya seorang diri. Kau keberatan”

“Tidak, terima kasih”

Kyuhyun setengah melirik penasaran ke arah gadis tersebut. Sepertinya dia sudah terlelap dan jatuh ke alam mimpi. Ia berjalan kearah meja yang sudah terdapat wine. Sebelum kemari Kyuhyun sudah meminta kepada pihak hotel untuk menyiapkan beberapa permintaannya. Termasuk wine. Segelas anggur memang cocok diminum sebelum tidur. Semua itu mampu menghilangkan penatnya.

Diam-diam Jiyeon memperhatikan bagaimana pria itu menggoyang-goyangkan gelas anggur sambil bersandar ke tiang beranda dan mengamati suasana malam. Senyumannya tampak berbahaya dan menakutkan. Namun semakin lama pria itu semakin terlihat menawan. Jiyeon ingin mengetahui apa yang sedang dipikirkan pria itu.

Pria itu terlihat sedang melakukan panggilan melalui telepon genggamnya. Dia menegak wine itu nyaris hampir tak bersisa dan meletakkan gelas itu di atas meja.

“Aku sudah sampai. Seperti biasa aku akan pergi sebelum subuh, pastikan kau menyiapkan bunga tulip untukku” suara bassnya begitu rendah dan lembut. Jiyeon merasakan gelombang diotaknya sudah semakin melambat begitupun indera penglihatannya yang semakin melemah. Suara derap kaki terdengar seperti mendekatinya. Tapi otot ditubuhnya menolak untuk bekerja dan merespon, ia sepenuhnya tidak sadar. Hanya satu yang masih ia rasakan. Sentuhan hangat di kakinya yang masih terasa sakit. Sensasi dingin itu sepenuhnya melelehkan lukanya.

“Begini lebih baik. Jangan sampai luka kecil seperti ini menyakiti gadis seperti dirimu” ujarnya. Sekali lagi Jiyeon merasakan sentuhan hangat itu sampai dikeningnya. Sesuatu yang asing tapi begitu memabukkan bercampur aroma vanila lembut nan eksotis, entah mengapa aroma itu berganti menjadi harum woody yang sangat maskulin dan ditutup kesan apel. Beginilah pesona pria sejati. Jiyeon tersenyum. Gadis itu tidak sadar bila senyumannya telah membangkitkan hormon seksual Kyuhyun.

Pria itu menuangkan wine kedalam gelasnya untuk yang kedua kalinya. Sudah berapa lama aku tidak melampiaskannya? Apakah aku sanggup menahan godaan ini sebelum ia pergi?    Kuharap besok aku tidak kehilangan akal sehatku.

***

To Be Continued

Aku berharap lapak ini jadi ramai lagi. Tapi sepertinya sudah tidak mungkin karena penulis lain sudah banyak beban hidup hehe. Tapi aku orangnya suka iseng kalau lagi dapat ide ya akan aku teruskan. Jadi jangan bosan mampir ya. FF ini bakal aku terusin disela The Curse of Alodia. Jangan lupa mampir ke cerita aku yang satu itu ya. Semoga aku ngga kehabisan ide buat meneruskannya. Terima kasih semua.

23 tanggapan untuk “Scent Of A Woman

  1. Aniya kyuhyun, tak apa sekali2 kehilangan akal selama itu masih didunia ff mah wkwkwk..
    Ga sabar mau baca lanjutannya, jadi, kyuhyun itu siapa? Juga kenapa dia sixpack disini? Kebuncitannya sudah melegenda…misteri2 demikian diatas harus terpecahkan..hum hum..
    Authornim yg baik hati, nanti aku dikasih pass buat akses chap 2 nya kan yaa??

    1. Ahahaha aku rindu membaca komentarmu. Kalau masalah atletisnya aku juga tidak paham kenapa dia tiba-tiba seperti itu? Aku pun tak percaya. Tinggal masalah waktu aku membuat dia menjadi pria brengsek. Semoga chingudeul tidak ketularan brengseknya. Nanti masalah password aku kirim ke kamu tepat jam 12 malam ya wkwk.
      Makasih loh udh mau baca. Ini balesnya sambil ngakak wkwk

  2. wahihi keren sukurin tu kyuye0n kena batuny haha
    pasty mrka pasangan clon pengantin yg sma2 kbur tp yg namany jdoh tak kmana +pasty menemukan jalan untk brtemu :v

  3. Haha ini lawak banget asli😂😂 iiiiihh kyuhyun nya gemesin banget masa minta dicubitin pake tang nih kaenya😆
    Anyway kaenya bener deh kalo yg dijodohin sama jiyeon itu sebenernya kyuhyun😁 haha
    Aaaah suka banget sama ceritanya😆😆😆😆

    1. Sabar ya, author disini memang terkenal lama dalam melanjutkan ff chingu iya tenang aja kita semua lagi berusaha melanjutkan ff disini. Mian atas segala kelambatan kami. So tunggu untuk satu minggu lagi ya. 😀

      Gomawo udah baca ff nya.

  4. KyuYeon…….apa yg kalian lakukan??? -_-
    Jgn” emg KyuYeon lgi yg dijodohin..
    Seruuuu abis.. hahahhahaha..
    Lanjutannya ditunggu!! 😉 😀

  5. kyaa!!! akhirnya comeback juga *tangis bahagia
    OMO!!! ceritanya menarik!!!!
    jadi jiyeon dan kyuhyun sama sama kabur dari pernikahan?!
    hahaha.. parah dapat kamar special + honeymoon bareng..
    aigoo.. penasaran!!!
    sequel sequel!! lanjut next story nya :))

  6. Kereeeen cerita’nya….
    Jgn2 KyuYeon lagi yg dijodohin tapi mreka malah kabur…
    Ayo cpet nikahh… Udahh tidur breng lagi… XD

    d’tunggu sangat next part’nya…
    Jgn lama2 yahh thor… 😉

  7. kyaaaaaaa ige mwoya hahahhahaha..
    Jangan2 kyu ma jiyeon emang yg mau dijodohinkan? Seperti analisa kyuhyun whahahhaha…
    Lanjutannya ditunggu ya..

    Ah iya selamat comebacknya kekek..
    Sukses deh semua hasil ujiannya kekek

  8. kyaa! author comeback,ecieee
    cukkhae atas kerjaannya thor
    ffnya bagus, bikin penasaran juga soalnya lagi asik2 baca eeeh dicut ke ff selanjutnya-__-
    cepetan terusannya thor, jangan biarkan obat2an itu menghalangi karyamu, wkwk *gajelas*
    semangaat!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s