family · fanfiction · frienship · ONESHOT · romance · sad

Unpredictable Meeting (MinJi Version)


jiyeon verunpredictable

 

Title                 :           Unpredictable Meeting

Author             :           Han Rae In

Genre              :           Romance, friendship,sad, family

Length             :           Oneshoot

Rating              :           PG-15

Cast                 :           – Park Jiyeon

-Choi Minho

Other cast       :           Lee Jinki | Han Seungyeon | Park Shi Hoo | Jung Eunji | Seo In Guk

Note    :    annyeong~~~ para readers pasti bingung kan kenapa judul ff ini sama dengan ff yg castnya joong ki? Sebenernya sih emang sama *ngumpet takut digebukin readers*, haha..tadinya saya sengaja ngga pake cast jiyeon, tapi ada readers yg komen di unpredictable meeting dan menyarankan buat bikin versi jiyeon. Alhasil, sebagai author yg baik,ehem, ya menyanggupi deh..jadi ini sama ceritanya, Cuma diganti pemerannya aja..

Baiklah,cukup sekian. Happy reading, good readers^^

~~Unpredictable Meeting~~

 

Langit kota seoul menggelap seiring jarum jam yang bergerak dan menunjukkan pukul 8 p.m. namun jalanan di ibukota korea selatan itu semakin dipenuhi dengan pejalan kaki maupun kendaraan. Begitupun dengan bangunan-bangunan pencakar langit yang justru semakin memancarkan pesonanya lewat kerlap-kerlip lampunya. Malam bukan alasan bagi kota ini untuk tidur.

Sorak-sorai dan riuh tepuk tangan terdengar dari sebuah bangunan diantara bangunan lainnya. Bangunan itu memang sudah disewa untuk acara resepsi pernikahan. Didalamnya para tamu undangan asyik berbincang dan tertawa satu sama lain, amat kontras dengan ekspresi seorang wanita diantara mereka. Wanita bergaun peach dengan make up natural namun cantik itu terus menerus memasang ekspresi sendunya sejak awal pesta dimulai.

“Jiyeon,” panggil seorang wanita lainnya pada wanita bergaun peach. Perempuan yang dipanggil Jiyeon itu dengan enggan menoleh pada wanita bergaun merah yang memanggilnya.

“Ada apa, Eunji-ah?” tanya Jiyeon lemah pada sahabatnya itu. Sementara perempuan bernama Eunji hanya menatap iba pada Jiyeon.

“Apa kau mau minum?” tanya Eunji seraya menyodorkan gelas berisi orange juice yang langsung ditolak Jiyeon dengan gelengan lemahnya. Lagi-lagi Eunji menatap dalam Jiyeon, ia semakin tak tega pada sahabatnya itu.

“Jiyeon-ah, aku mohon jangan seperti ini. Jangan terus menatap mereka dengan pandangan seperti itu. Aku tidak tega melihatmu kacau begini sementara Jin ki dan istrinya Han Seung yeon sedang tertawa bahagia menikmati pesta pernikahan mereka di depan sana. Sungguh, aku tidak mau melihatmu begini,Jiyeon-ah,” suara Eunji meninggi dengan mata yang berkaca-kaca saat mengeluarkan kata-katanya itu.

“Kalau bisa memilih aku juga akan melakukannya, Eunji-ah. Tapi aku tidak bisa. Aku butuh waktu,” jawab Jiyeon dengan suara rendah tertahan. Mata sendunya tak lepas dari pasangan pengantin yang sedang bercanda ria didepan sana, tampak bahagia.

Eunji menepuk bahu Jiyeon lembut. Ia tahu dirinya harus memberi waktu pada Jiyeon. Namun, ia tetap harus berusaha mengalihkan pandangan Jiyeon dari Jin ki, mantan pacar Jiyeon yang sekarang sudah berstatus suami orang itu.

“Jiyeon-ah, kau pantas mendapatkan pria yang seratus kali lebih baik dari Jin ki brengsek itu. Lihat pria di ujung sana!” seru Eunji antusias seraya menunjuk seorang pria berperawakan tinggi juga tampan yang tidak jauh dari mereka. Eunji sedang berusaha mengalihkan perhatian Jiyeon. Jiyeon hanya menurut, mata indahnya kini ikut memperhatikan pria dengan jas dan kemeja warna hitam itu.

“Lihat! Dia tampan sekali. Dan aku yakin dia bukan orang sembarangan,” tukas Eunji yakin.

“Darimana kau tahu?” tanya Jiyeon yang sebenarnya enggan, namun tidak tega melihat keantusiasan temannya itu.

“Kau lihat jam tangannya?” Jiyeon mengangguk. “Jam tangannya itu limited edition. Hanya ada 10 di dunia, jadi kau bisa perkirakan sendiri berapa harganya. Kudengar jam tangan itu juga bisa diukir nama dibaliknya. Ckck, kaya sekali dia,” kagum Eunji. Sedang Jiyeon yang sejak awal memang tidak tertarik hanya bisa menatap datar pria yang dipuji Eunji itu. Itupun hanya sebentar, karena lagi-lagi Jiyeon mengalihkan perhatiannya pada Jin ki yang kini sedang berbisik pada istrinya, lalu keduanya tertawa bersama.

Sakit. Kata sederhana itu yang menggambarkan hati Jiyeon kini. Tanpa sadar tangannya menyentuh bagian dadanya yang teramat sesak baginya. Sesak yang tak ada obatnya.

Eunji memandang Jiyeon khawatir, namun teralihkan saat seorang pria menghampiri mereka.

“Eunji-ah, Jiyeon-ah, kalian disini rupanya,” pria itu membuka mulutnya sesampainya ia dihadapan Eunji dan Jiyeon. Dengan cepat Eunji memeberi isyarat lewat mimik wajahnya agar pria itu membantunya menghibur Jiyeon. Pria itu memperhatikan wajah Jiyeon yang sekarang tampaknya ingin menangis. Tak lama setelahnya, perempuan itu sibuk mengetik pesan singkat di handphonenya. Entah untuk siapa.

“Jiyeon-ah,” suara pria itu memanggil Jiyeon.

“Eunji-ah, In Guk-ah, aku ke toilet dulu,” pamit Jiyeon tiba-tiba, tak peduli akan panggilan In Guk. Eunji dan In Guk, pasangan kekasih itu hanya bisa menatap punggung Jiyeon yang menjauh, dan mendoakan yang terbaik untuk sahabat mereka itu.

***

            Seorang pria berumur sekitar 28 tahun tengah mengetuk-mngetukkan jarinya pada badan gelas yang dipegangnya. Sesekali ia meneguk minuman yang ada didalam gelas itu dengan mata yang tak lepas dari pasangan suami istri pemilik pesta yang dihadirinya saat ini. Bibirnya membentuk smirk saat melihat pasangan pengantin itu mengumbar kemesraan dengan bebasnya.

“Han Seungyeon. Puaskah kau mempermainkanku?” batinnya. Untuk yang ke sekian kalinya ia menampakkan smirk yang sulit diartikan.

Pria itu bernama lengkap Choi Minho. Seseorang dengan segala kemudahan dalam hidupnya. Posisinya yang sangat penting di sebuah perushaan IT terbesar di korea selatan membuatnya tak pernah kesulitan akan uang. Dan perawakannya yang tampan juga memudahkannya untuk mendapatkan wanita manapun yang ia inginkan.

“Minho-ah, berhenti memandangi Han Seung yeon seperti itu! Apa kau masih mencintainya?” suara Ki Bum, teman dekat Minho.

“Cinta? Kau lucu sekali, Ki Bum-ah,” ujar Minho santai, sama sekali tak menunjukkan ekspresi kesal ataupun marah di wajahnya.

“Haha, benarkah? Kupikir kau sudah berubah menjadi pria melankolis sejak diputuskan sepihak oleh seung yeon-ssi, lalu gadis itu menikah dengan pria lain,” ejek Ki Bum. Minho tersenyum mendengarnya.

“Itu tidak mungkin, Ki Bum-ah. Aku bahkan hanya berpacaran 2 bulan dengannya sebelum akhirnya kami putus kemarin. Tak ada alasan bagiku untuk menangisi wanita seperti dia,” jawab Minho masih dengan pembawaan santainya.

“Baguslah. Lagipula masih banyak wanita yang menyukaimu. Lihat saja sekeliling, wanita-wanita disiniselalu memperhatikan gerak-gerikmu sedari tadi,” tukas Ki Bum. Sontak Minho mengedarkan pandangannya untuk memastikan ucapan Ki Bum. Benar saja, hampir semua wanita di ruangan itu memandanginya, bahkan ada beberapa yang menatapnya secara terang-terangan.

Di antara berpasang-pasang mata yang memperhatikannya, entah kenapa tatapan pria itu terhenti pada seorang wanita yang tampak cantik dalam balutan gaun berwarna peach. Rambut tidak terlalu panjangnya tergerai , membuatnya terlihat semakin cantik. Namun bukan itu yang menarik perhatian Minho, melainkan ekspresi sedih yang terpancar dari mata gadis itu. Mata sembab yang membuat Minho penasaran. Apalagi saat mata gadis itu memandanginya dengan pandangan datar yang acuh.

Ada magnet dalam diri wanita itu yang membuat Minho serasa tertarik untuk terus memperhatikannya.

Minho melihat tiba-tiba gadis itu berjalan agak terburu-buru dengan mata berkaca-kaca. ‘Sebenarnya ada apa dengannya?’batin Minho. Gadis itu terus berjalan dengan handphone digenggamannya. Mungkin airmata di pelupuk matanya menyulitkannya untuk melihat dengan jelas, sehingga tanpa sadar gadis itu menabrak seorang pelayan. Cukup keras, sampai gelas-gelas diatas nampan si pelayan bergoyang.

“Maafkan aku,” ujar gadis itu lemah sembari memungkukkan tubuhnya sebagai tanda permintaan maaf. Tanpa menunggu jawaban dari si pelayan, gadis itu kembali melanjutkan langkahnya.

Saat itulah Minho melihat sebuah benda berwarna perak melayang dan jatuh tepat di ujung sepatunya. Minho membungkuk untuk mengambil benda berkilau itu.

“Gantungan handphone?” tanyanya heran. Tiba-tiba terlintas di otaknya insiden saat gadis itu menabrak pelayan. Wanita itu terus memgangi handphone, dan jatuhnya gantungan itu persis sama dengan insiden terjadi.

Minho mengedarkan pandangannya, mencari keberadaan gadis tadi, berniat untuk mengembalikan gantungan handphonenya. Namun gadis itu sudah menghilang entah kemana.

“Mungkin nanti bertemu lagi,” kata Minho seraya memperhatikan setiap lekuk gantungan handphone berbentuk merpati itu. Dan tanpa sengaja ia menemukan sebuah nama terukir dibaliknya.

“Park Jiyeon? Jadi itu namanya,” Minho tersenyum sebelum akhirnya menjejalkan benda perak itu kedalam saku jasnya.

***

            Minho membuka pintu toilet pria dengan satu gerakan, namun segera menutupnya kembali saat dilihatnya toilet itu dipenuhi beberapa orang. Pria itu tidak suka toilet yang ramai. Tiba-tiba terlintas olehnya untuk memasuki toilet wanita yang sepenglihatannya tak ada orang didalamnya. Kakinya memutuskan untuk masuk kedalam sana.

Minho menatap pantulan wajahnya di cermin. Tampan, gumamnya lalu tersenyum. Tangan kanannya kini sibuk melepaskan jam tangan berwarna hitam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya, lalu meletakkan benda itu di pinggiran wastafel. Detik berikutnya pria itu sudah sibuk membasuh wajahnya dengan air yang keluar dari keran wastafel, lalu mengeringkannnya asal dengan tisu yang ada disana.

Setelah memastikan dirinya terlihat lebih baik, Minho melangkahkan kakinya kembali ke pesta. Tanpa sadar dirinya meninggalkan benda limited edition miliknya di pinggiran wastafel.

CKLEK. Terdengar bunyi pintu dibuka dari salah satu bilik di toilet itu, menampakkan seorang perempuan cantik dengan wajah kusut. Tentu saja, sudah 15 menit dihabiskan perempuan itu untuk menangisi pernikahan mantan pacarnya.

Sama halnya dengan yang Minho lakukan tadi, gadis itu –Jiyeon –tengah menatap pantulan dirinya di cermin. Membasuh wajahnya sebentar, lalu memoles wajahnya dengan make up seadanya. Ia tidak ingin terlihat menyedihkan didepan Jin ki. Itu yang ia pikirkan.

“Jam tangan?” gumam gadis itu sembari memandangi jam tangan yang ia temukan di pinggiran wastafel.

“Seperti pernah melihatnya. Tapi dimana ya?” Jiyeon berusaha mengingat. “Ah! Pria kaya itu!” serunya teringat akan pria yang ditunjuk Eunji di pesta tadi.

“Choi Minho?” gumam gadis itu mengeja sebuah nama yang terukir dibalik jam tangan itu. Jiyeon memutuskan untuk menyimpan saja jam itu, takut ada orang yang akan mengambilnya kalau ia biarkan.

Park Jiyeon menggerakkan kakinya keluar dari toilet setelah sebelumnya tersenyum pada cermin, memastikan tampilannya. Namun senyum itu luntur seketika saat ia kembali ke tengah-tengah pesta. Suasana pesta itu berubah, dengan kegelapan mendominasi. Hanya tersisa beberapa lampu yang memancarkan sinar warna merah dan oranye, romantis. Musik klasik pun mengalun lembut mengiringi pasangan-pasangan yang berdansa. Di antara pasangan-pasangan itu, terdapat satu pasangan yang paling mencolok karena hanya keduanya yang diterangi lampu  sorot. Ya, mereka adalah Jin ki dan seung yeon.

Jiyeon berdiam di tempatnya berdiri. Mata indahnya tak lepas memandangi pemandangan itu. Terlintas di otak gadis itu kenangan yang tak akan pernah ia lupakan.

Flashback     :     On

“Oppa, jangan lepaskan ya,” pinta Jiyeon seraya menggerakkan kakinya diatas es, tempat ia dan Jin ki bermain ice skating. Jin ki tersenyum jahil, lalu melepaskan pegangannya pada tangan Jiyeon saat gadis itu lengah.

“Oppa!” pekik Jiyeon dengan posisinya yang aneh karena berusaha menjaga keseimbangan.

“Ayolah, berjalan saja. Jangan takut,” ujar Jin ki sembari meluncur kesana kemari mengejek Jiyeon yang masih berusaha berjalan diatas permukaan es.

“Oppa, lihat! Aku bisa meluncur!” pekik Jiyeon kegirangan saat ia dengan sukses meluncur tanpa bantuan kekasihnya itu. Namun kebahagiaan itu tak berlangsung lama, karena setelahnya gadis itu baru ingat kalau ia belum diajari Jin ki cara menghentikan aksi meluncurnya itu.

“Kyaa!” teriak Jiyeon. Gerakannya tak terkendali.

BRUKK.            Gadis itu jatuh di sudut arena, setelah sebelumnya sempat menabrak pagar pembatas.

“Jiyeon, kau tidak apa-apa? Mana yang sakit?” tanya Jin ki yang langsung menghampiri Jiyeon dengan panik. Pria itu merasa bersalah tampaknya. Sementara Jiyeon menanggapi pertanyaan Jin ki dengan membuang muka.

“Apa kau marah padaku? Tanya Jin ki ketika melihat reaksi Jiyeon.

“Kau jahat. Sudah kubilang jangan lepaskan pegangannya,” lirih Jiyeon.

“Maafkan aku. Ya?” bujuk Jin ki lembut, namun tak mendapat respon dari gadisnya. “Jiyeon, mana yang sakit?” tanyanya lagi. Jiyeon menunjuk bagian lutut dan tangannya.

“Ya ampun, sejak kapan pacarku yang cantik jadi manja begini?” ucap Jin ki sembari memijat bagian kaki Jiyeon.

“Kau menyebalkan, oppa,” desis Jiyeon dengan ekspresi sinisnya.

“Jangan marah lagi, cantik,” puji Jin ki yang membuat Jiyeon tersenyum dan mengerucutkan bibirnya. Begitupun dengan Jin ki yang kini tersenyum lega.

“Sekarang, maukah kau berdansa denganku, tuan putri?” Jin ki mengulurkan tangannya, bergaya seperti seorang pangeran. Jiyeon tersenyu, tak tahan akan rayuan kekasihnya. Tangannya menyambut uluran tangan Jin ki. Keduanya kembali berdiri, kemudian sambil berpegangan tangan, mereka berdansa ala kadarnya diatas licinnya es. Tak peduli dengan gerakan dansanya yang aneh juga tatapan orang sekitar. Keduanya tetap memasang senyum gembira, membuat kencan mereka saat itu bertabur kebahagiaan.

Flashback     :     Off

***

            Wanita bernama lengkap Park Jiyeon tengah terdiam merenungi sesuatu di bangku taman yang ada di halaman bangunan. Dirinya memang memutuskan untuk menghindari pemandangan yang ada di dalam bangunan tadi. Terlalu sakit rasanya melihat Jin ki menggamit tangan wanita lain di depan matanya sendiri.

Lagi-lagi mata yang terlihat kosong itu mengeluarkan cairan bening yang tak berhenti mengalir. Jiyeon mengusap kasar bagian matanya. Baru saja cairan itu membentuk anak sungai di pipinya saat ada sebuah pesan singkat masuk di handphonenya.

From  :  Shi Hoo oppa

Jiyeon-ah, aku baru bisa menjemputmu setengah jam lagi

Sabar ya^^

Dan jangan coba-coba untuk naik taksi!!

            Jiyeon menghela nafas membacanya, karena itu artinya ia harus bertahan lebih lama lagi di tempat yang bagaikan neraka untuknya.

“Hufft, menyebalkan sekali,” lirih Jiyeon seraya mengibas-ngibaskan telapak tangannya didepan wajah, berusaha menghentikan airmatanya.

“Siapa yang menyebalkan?” suara itu berasal dari seorang lelaki yang tiba-tiba sudah berada dihadapan Jiyeon. Alis Jiyeon bertaut melihat kehadiran pria yang tak dikenalnya itu.

“Oh ya, boleh aku duduk disini?” tanya si pria yang tak mendapat respon apapun dari Jiyeon.

“Diam adalah tanda setuju,” ucap pria itu lagi, lalu dengan santainya mengambil tempat duduk disebelah Jiyeon. Sementara gadis itu menatapnya heran.

“Hei, kau belum menjawab pertanyaanku. Siapa yang menyebalkan, eoh?” pria itu bertanya lagi.

“Siapa kau sampai aku harus memberitahumu?” balas Jiyeon sinis. Lelaki itu tertawa renyah menanggapi komentar tajam Jiyeon.

“Aku? Aku adalah orang yang berjasa menemukan benda yang kurasa penting bagimu,” jawabnya seraya mengeluarkan gantungan bentuk merpati milik Jiyeon.

“Itu punyaku. Kembalikan!” ujar Jiyeon setelah memastikan benda silver yang dipegang pria aneh itu adalah miliknya. Tangan Jiyeon berusaha menggapai gantungan handphonenya, namun tak sampai karena Minho yang mengacungkannya tinggi-tinggi. Jiyeon bahkan sudah mencoba melompat agar bisa mendapatkan barangnya kembali.

“Ayo ambil kalau bisa,” ejek Minho menyebalkan.

“Ya! Jangan bermain-main de –“ high heels yang dipakai Jiyeon untuk melompat-lompat membuat gadis itu kehilangan keseimbangan dan hampir jatuh kalau saja tidak ditahan oleh tangan Minho. Moment itu terjadi sampai 10 detik, waktu yang cukup lama untuk Minho menyadari jantungnya yang berdegup kencang secara tiba-tiba.

“Denganku,” Jiyeon yang juga terbengong-bengong tanpa sadar melanjutkan kata-katanya yang terputus. Namun ada sesuatu yang disadari Jiyeon setelah melihat wajah Minho dari dekat.

“Kau.. apa namamu adalah Choi Minho?” tanya Jiyeon.

“Ya? Darimana kau tahu?” respon Minho yang agak terkejut. Jiyeon mengeluarkan jam tangan yang ditemukannya di wastafel toilet wanita. Sedangkan Minho terlihat terkejut awalnya, namun lama kelamaan tersenyum menyadari kebetulan itu. Kebetulan kalau mereka menemukan barang milik satu sama lain.

“Haha, kebetulan yang aneh,” tukas Minho yang dijawab dengan senyuman oleh Jiyeon.

“Maafkan aku. Ini milikmu, Park Jiyeon-ssi,” Minho menyerahkan benda perak itu pada Jiyeon.

“Dan ini jam tanganmu, Minho-ssi,” Jiyeon menyodorkan jam tangan itu pada pemiliknya . Minho langsung melingkarkan benda penunjuk waktu itu di pergelangan tangan kirinya.

Jiyeon dan Minho kembali duduk di bangku taman. Peristiwa kebetulan tadi seakan menjadi pendamai diantara mereka. Kini keduanya asyik berbincang-bincang.

“Jadi, siapa pria yang kau tangisi, sampi matamu jadi seperti itu?” ujar Minho menyinggung penyebab tangis Jiyeon.

“Apa? Jadi sedari tadi kau memperhatikanku? Dan bagaimana kau tahu kalau yang kutangisi adalah pria?” Jiyeon terheran-heran.

“Aku ini mengenal berbagai tipe wanita,” jawab Minho yang direspon Jiyeon dengan bibir membentuk huruf O.

“Jadi, apa kau mau menceritakannya padaku?” tanya Minho. Ada sedikit paksaan dalam kata-katanya. Entahlah, pria itu juga bingung kenapa ia sangat ingin tahu lebih dalam tentang gadis bernama Park Jiyeon ini.

Jiyeon terdiam. Dirinya sedang berusaha menimbang-nimbang untuk menceritakan pada Minho atau tidak. “Kurasa tidakk ada salahnya. Lagipula siapa yang menjamin kami akan bertemu lagi setelah ini?” batin Jiyeon.

“Kau yakin mau mendengarkanku?” tanya Jiyeon memastikan. Minho tampak berpikir mendengar pertanyaan wanita disampingnya, namun sejurus kemudian pria itu mengangguk yakin.

“Kenapa tidak?” balas Minho. Jiyeon menarik nafas, menyiaokan diri untuk bercerita.

“Kau tahu pengantin pria di dalam?” Minho mengangguk menanggapi. “Pria itu adalah kekasihku. Ah, tidak, mantan kekasihku tepatnya. Gantungan merpati ini pemberiannya. Masing-masing dari kami punya satu dengan ukiran nama dibaliknya,” Jiyeon mulai bercerita dengan mata yang terpaku pada gantungan merpatinya.

“Apa yang membuatmu begitu mencintainya?”

“Entahlah. Tapi kurasa karena dia adalah dewa penolongku. Dia datang saat aku terpuruk karena kematian ibuku juga ayahku yang tiba-tiba terserang stroke. Bagaikan penyelamat, ia yang adalah dokter di tempat ayahku dirawat, membantuku untuk bangkit sedikit demi sedikit. Kami memutuskan untuk menjalin hubungan. Semuanya berjalan dengan baik dan terasa amat menyenangkan bagiku. Memikirkan aku punya seseorang seperti dia saja sudah membuatku merasa beruntung. Sampai seminggu yang lalu, duniaku seperti dijungkirbalikkan. Jin ki membuat pengakuan. Sebenarnya dia sudah bertunangan dengan gadis lain jauh sebelum ia mengenalku. Dia bilang, ia mencintaiku, tapi ia tahu itu salah. Katanya ia bahkan sempat berpikir untuk membatalkan pernikahannya tapi segera kucegah. Aku sadar akulah yang pengganggu disini. Jadi akulah yang seharusnya mundur,” lagi-lagi mata gadis itu mengeluarkan airmata.

Minho mengeraskan rahangnya. Pria itu tampak tidak tahan lagi mendengar cerita Jiyeon. Ada rasa marah yang tiba-tiba muncul dihatinya setelah mendengar cerita gadis itu. Entah mengapa. Minho memang seorang player, tapi ia tidak terima melihat gadis sebaik Jiyeon disakiti.

“Pria brengsek itu. Kenapa kau masih saja menangisinya?” tanya Minho dengan nada yang meninggi karena menahan emosi.

“Karena aku belum bisa melupakannya,” jawab Jiyeon di sela-sela tangisnya.

“Akan kubantu kau untuk melupakannya,” dengan cepat tangan Minho merebut gantungan handphone dari tangan Jiyeon, pria itu lalu berdiri dan melemparnya. Benda itu melayang jauh dan jatuh diantara semak-semak. Jiyeon membelalakkan matanya. Kejadian tadi terlalu cepat smpai ia tidak sempat mecegah Minho.

“Hey pria gila! Siapa yang mengizinkanmu membuangnya, huh?” teriak Jiyeon kesal. Ia bahkan sampai berdiri saking kesalnya.

“Aku hanya membantumu. Bagaimana kau bisa melupakannya kalau kau masih mengharapkannya? Dan satu-satunya yang gila disini adalah kau! Wanita yang gila akan Lee Jin ki!” tanpa sadar Minho jadi membentak Jiyeon. Keinginannya untuk menyadarkan gadis itu membuatnya hilang kendali.

“Minho-ssi! Kau tidak akan pernah mengerti perasaanku karena kau tidak pernah berada di posisiku!” teriak Jiyeon penuh emosi. Airmatanya kembali meluncur bebas. Gadis itu memutuskan kembali duduk dengan tangisan yang semakin menjadi-jadi. Ia sudah tidak ingin menyembunyikan kesedihannya lagi. Ia sudah muak.

“Ya, aku memang tidak pernah merasakannya,” suara Minho melembut dengan mata menerawang.

Hening. Minho merasa bersalah pada Jiyeon yang sudah tidak bergeming. Gadis itu menggosok-gosok bagian bahunya yang memang tidak tertutup kain. Minho yang melihatnya langsung melepaskan jas hitam yang dikenakannya dan menyampirkannya di punggung Jiyeon. Diluar dugaan Minho, Jiyeon sama sekali tidak menolak perlakuannya.

“Aku minta maaf, Jiyeon-ssi. Tadi aku lepas kendali. Tidak seharusnya aku membuang gantungan milikmu,” sesal Minho .

“Tidak. Aku yang berterima kasih padamu. Kalau kau tidak membuangnya, mungkin aku tidak akan pernah membuangnya dan terus mengharapkan Jin ki. Terima kasih Minho-ssi. Kurasa tuhan telah mengutusmu untuk menyadarkanku,” Jiyeon mengakhiri kalimatnya dengan sebuah senyum tulus. Senyum yang terlihat amat cantik di mata Minho. Pria itu berusaha mengalihkan pandangannya dari menatap Jiyeon. Hatinya terlalu senang melihat senyum cantik itu. Kini si player kena batunya.

Sebuah dering terdengar dari handphone Jiyeon. Dengan cepat gadis itu mengusap tombol answer pada handphone layar sentuhnya dan menjawab panggilan masuk tersebut.

“Yeoboseyo oppa? Apa? Kau sudah sampai? Aku ada di..oppa? yeoboseyo? Oppa?” panggilan itu terputus tiba-tiba karena baterai handphone Jiyeon yang habis. Gadis itu menggerutu kecil karena lupa men-charge handphonenya.

“Minho-ssi, boleh aku meminjam handphonemu? Aku harus menghubungi kakak iparku,” pinta Jiyeon. Minho mengeluarkan benda tipis berwarna hitam dari saku celananya dan menyerahkannya pada Jiyeon.

“Ya ampun, apa ini kebetulan lagi? Handphone kita memiliki model dan warna yang sama,” ujar Jiyeon tidak percaya.

“Ya. Lagi-lagi,” tanggap Minho.

Jiyeon mengetikkan nomor yang sangat ia hafal, lalu menempelkan handphone Minho pada telinganya.

“Oppa, ini aku Jiyeon. Kau ada dimana? Apa? Disekitarku?” Jiyeon berdiri dan melihat ke sekeliling untuk mencari keberadaan oppanya itu.

TIN! TIN! Sebuah mobil warna merah terang mengklakson Jiyeon dan Minho dari belakang. Sinar dari lampu depan mobil membuat keduanya harus menyipitkan mata untuk melihat mobil iseng itu. Jiyeon tersenyum melihat jemputannya sudah datang.

“Minho-ssi, ini kukembalikan,” Jiyeon melepaskan jas Minho yang dipakainya lalu menyerahkannya pada pria itu.

“Terima kasih atas jasmu ini. Terima kasih juga karena telah menyadarkanku juga menghiburku. Aku tidak akan pernah melupakanmu,” ujar Jiyeon sambil tersenyum cantik. Minho menahan nafas melihatnya. Tiba-tiba Minho bereaksi menarik tangan Jiyeon dan memeluk gadis itu. Jiyeon membulatkan matanya, terkejut.

“Anggap ini pelukan sebagai teman. Jiyeon-ssi, kau tidak boleh menangis lagi karena pria semacam Jin ki lagi, karena kau lebih cantik saat tersenyum,” bisik Minho saat pria itu memeluk Jiyeon. Jiyeon melepaskan pelukan Minho perlahan, lalu memukul bahu pria itu cukup keras.

“Dasar player!” cibir Jiyeon bercanda. “Tentu saja tidak akan, Minho-ssi. Aku tidak akan menangisi dia lagi. Terima kasih sudah mengkhawatirkanku. Bye!” ucap Jiyeon lalu berangsur-angsur masuk kedalam mobil.

“Sama-sama,” gumam Minho seraya melambaikan tangannya sebagai tanda perpisahan pada Jiyeon.

Tiba-tiba mata Minho menangkap benda pada tangan yang ia gunakan untuk melambai. Pria itu baru sadar handphone Jiyeon masih ditangannya, begitupun dengan handphonenya yang masih ada pada Jiyeon. Keduanya lupa untuk menukarnya tadi.

Mobil merah itu masih di tempatnya, belum bergerak sedikitpun. Minho bisa saja menukar handphonenya saat itu juga, namun ia mengurungkan niatnya sampai mobil itu akhirnya bergerak menjauh. Pria itu sadar insiden ini merupakan kesempatan baginya untuk bertemu lagi dengan Jiyeon, wanita yang berhasil membuat player sepertinya berdebar-debar.

***

            “Oppa, kenapa lama sekali. Aku hampir saja mati karena menahan tangis disana,” protes Jiyeon sesampainya ia didalam mobil.

“Kau ini. Seingatku kau menjadi pendiam sejak diputuskan Jin ki. Tapi kenapa sekarang kau kembali cerewet? Apa karena pria yang tadi memelukmu itu?” goda Shi Hoo sambil terus menyetir.

“Oppa, sejak kapan kau berubah jadi menyebalkan begini?” balas Jiyeon untuk menutupi kegugupannya akibat perkataan Shi Hoo.

“Ya! Sopanlah sedikit pada kakak iparmu ini,” ucap Shi Hoo yang diikuti sentilannya pada dahi Jiyeon.

“Aw!” pekik Jiyeon seraya mengusap-usap dahinya yang terasa sakit. “Oppa, kau belum menjawab pertanyaanku. Kenapa telat menjemputku?” tanya Jiyeon penasaran. Tiba-tiba Shi Hoo tersenyum

“Aku menemani eonnimu di rumah sakit. Katanya perutnya sakit, sepertinya ia mau melahirkan anak kami. Tapi setelah dokter bilang bayinya baru akan lahir beberapa jam lagi, aku buru-buru menjemputmu kesini,” jelas Shi Hoo dengan senyum yang terus terpasang.

“Apa? Geun Young eonni sudah akan melahirkan? Benarkah? Kya! Oppa, kau akan menjadi ayah! Chukhae!” seru Jiyeon kegirangan. Lengan gadis itu hendak memeluk Shi Hoo dari samping sebagai ucapan selamat, namun gerakannya terhenti seketika ia melihat handphone yang masih digenggamnya.

“Ya ampun, ini handphone Minho-ssi. Bagaimana aku bisa lupa begini?” rutuk gadis itu tiba-tiba. “Oppa, putar balik mobilnya ke tempat tadi. Handphoneku tertukar dengan pria tadi,”

“Tidak mau. Aku ingin segera sampai di rumah sakit. Kasihan Geun Young sendirian disana,” tolak Shi Hoo.

“Ayolah, oppa,” mohon Jiyeon.

“Tidak. Lagipula kulihat handphone kalian sama baik merek, model maupun warnanya. Jadi anggap saja kalian tukaran. Masalah selesai,” Shi Hoo memberikan solusi sekenanya.

“Tapi didalamnya ada kartu memoriku yang isinya foto-fotoku bersama Jin ki oppa,” lirih Jiyeon menunduk.

“Itu lebih bagus. Jadi kau lebih cepat melupakannya,” jawab Shi Hoo enteng. Jiyeon menghela nafas. Apa yang dikatakan kakak iparnya emang benar. Ini yang terbaik, pikirnya.

Sepanjang perjalanan Jiyeon jadi lebih diam. Karena iseng, akhirnya ia mengutak-atik handphone Choi Minho. Tangannya membuka menu pesan. Dan matanya seketika membulat melihat sebuah pesan dari nama kontak ‘Han Seungyeon’ di handphone Minho.

From  :   Han Seungyeon

Oppa, maafkan aku. Aku ingin mengakhiri hubungan kita.

Selama ini aku sudah bertunangan, dan besok adalah hari pernikahanku.

Kuharap oppa datang. Mianhe.

 

Mulut Jiyeon menganga tidak percaya. Tidak salah lagi, Han Seungyeon ini adalah orang yang sama dengan Han Seungyeon istrinya Jin ki. Jiyeon melihat tanggal pesan itu diterima. Kemarin. Pesan itu masuk kemarin. Itu artinya Choi Minho juga baru diputuskan kemarin. Jiyeon jadi teringat perkataan kasarnya pada Minho juga respon pria itu tadi

.

“Minho-ssi! Kau tidak akan pernah mengerti perasaanku karena kau tidak pernah berada di posisiku!”

“Ya, aku memang tidak pernah merasakannya,”

.

Jiyeon tersenyum pahit mengingatnya. Gadis itu merasa bersalah melihat kenyataan keadaan Minho yang ternyata lebih parah darinya. Namun sejurus kemudian gadis itu tertawa keras mengingat jong ki yang mati-matian menghiburnya padahal pria itu jauh lebih menyedihkan.

“Dasar bodoh,” gumam Jiyeon sembari tertawa keras. Shi Hoo menatap heran pada Jiyeon sebelum akhirnya menghentikan mobilnya di pinggir jalan.

“Jiyeon, kau tidak jadi gila hanya karena perkataanku tadi, kan?” tanya Shi Hoo panik melihat adik iparnya tertawa sendiri layaknya orang stres. Tangan pria itu menyentuh dahi Jiyeon untuk mengukur suhu tubuh gadis itu.

“Oppa, kau ini apa-apaan sih? Aku tidak apa-apa. Kenapa kau menghentikan mobilnya?” tanya Jiyeon masih mengumbar senyumnya.

“Kau yakin baik-baik saja?” tanya Shi Hoo memastikan.

“Tentu saja. Cepat jalankan mobilnya ke rumah sakit,”

“Rumah sakit? Rumah sakit jiwa maksudmu?” tanya Shi Hoo bodoh.

“Tentu saja rumah sakit tempat Geun Young eonni ingin melahirkan. Aku kan juga ingin melihat keponkanku lahir,” jawab Jiyeon.

“Syukurlah, kau masih normal,” Shi Hoo menjalankan mobilnya kembali.

Jiyeon mengalihkan pandangannya ke jendela mobil untuk melihat pemandangan diluar sana. Bibirnya membentuk senyum. Suasana hatinya sudah jauh lebih baik sekarang. Sejak seminggu lalu ia selalu memvonis dirinyalah yang paling menderita, padahal ternyata Minho juga mengalami yang ia rasakan. Setidaknya ia lebih beruntung. Gadis itu merasa harus berterima kasih lagi pada Minho.

~~~END~~~

36 tanggapan untuk “Unpredictable Meeting (MinJi Version)

  1. annyeong… ijin baca ya thor…
    ff ni daebakk suka banget. kata2 yg d pakai ringan dan mudah d phami jadi bayangin moment minji nya mudah…
    aku suka bnget sama minji couple..
    di tungu ff minji couple yg lebih daebak dari ini…
    gumawo

  2. ijin baca ya thor..
    ff nya bgus kata2 jg mudah d phami jadi bayangin moment minji nya enak..
    suka bnget couple minji…
    banyakin ff minji nya ya thor…
    gumawo…

  3. Aku baru menemukan ff ini, dan lgs jatuh cinta, sequelnya dah aku baca duluan wkwkkwk….bagus, ad sequelnya kah setelah unpreditable dating? Aaarrrgggghhhkkk johae bgt lah, daebak thor.

  4. Dil ini author nya elo?!?! kayanya ada yg kurang deh :(( that shud be meh! jiyeon di ganti gue kayanya nice deh :”> /kicked hemm kapan-kapan lo harus coba baca sasuke sakura dil! suer deh cute bgttt

  5. Q suka banget ffnya. Kebetulan2 yg tdk terduga, so sweet walaupun mrk br kenal. Lnjt baca sequelnya :>

  6. SUPERRRR DAEBAKKK!!!!!!
    suka abiss thor!!! sequel sequel minta sequelnya yaaa^^
    MinJi disni benar2 bikin gregetannn kk~
    dan ditunggu ff MinJi yg lain juga ya ^^

    1. doakanlah yg terbaik kawan..
      hahaha
      tunggu dapet ilham dulu nih, eh, ide sih udah ada, cuma ilham buat nulisnya itu loh -.- saya males
      tapi semoga dalam waktu deket aku bisa post^^

  7. the baek minji, miji minji minji minji selalu di hati q suka suka suka cople ini

  8. wahhh, beneran dibikinin jiyeon ver nya..sama minho lagi
    gomawo,gomawo,gomawo thor..aku jadi lebih gampang ngebayanginnya
    jangan lupa sequelnya ya thor,hehe

  9. Cerita’x keren bangetzz…
    Tpi ngegantung thor…! Pngen MinJi ktemuan lagi trus pacaran dehh…
    Buat Sequel’x donkk thor… ^^

    d’tunggu FF Jiyeon lain’x buatan mu thor…

    1. haha, makasih~
      iya, emang sengaja dibikin gantung..biar penasaran, kekeke *evil laugh*
      aku pikir2 dulu deh ya kalau soal sequel..
      wahh, makasih,yg sabar ya nunggu ff2 ku^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s