fanfiction

My Precious part 1


Author       :  Han Rae In

Title          :   My Precious

Length      :   Oneshoot

Genre       :   Romance

Rating      :   PG 13+

Main Cast   :

  • Park Jiyeon
  • Park Sanghyun

note:    hai, annyeong! author rae in is comeback with a new fanfic!! it’s series! seneng ngga? comment yah, biar author bisa memutuskan dilanjutin atau ngga ini ff, makanya baru dikit yang dipost di part satu ini..happy reading deh^^

Jiyeon POV

Aku masih mengamati pergerakan jarum dari jam tangan warna merah yang bertengger di pergelangan tangan kiriku. Tinggal 10 detik lagi, bagus, batinku. 10..9..8..7..6..5..4..3..2..dan..

“Ya!pertemuan kita hari ini cukup sampai disini,”ucap guru Kang sembar membereskan buku-buku berisi teori tentang gitar. Yes, akhirnya, berakhir juga penderitaanku hari ini.

Berbeda dengan anak-anak yang lain yang masih sibuk merapikan buku-buku mereka, aku sudah dalam keadaan siap dengan ransel hijau kesayanganku yang sudah tersampir rapi dipunggungku. Maklum, aku memang sudah membereskannya bahkan saat kelas gitar ini baru dimulai, sekitar 2,5 jam yang lalu.

Guru Kang melangkah menuju pintu keluar, . aku tidak mau tahu,namun tiba-tiba saja dia menghentikan langkahnya dan menoleh kearahku.

“Jiyeon, kamu harus banyak berlatih. Aku tidak mau tahu, dalam satu bulan pokoknya kamu harus sudah menguasai teknik memetik gitar yang benar. Mengerti?”ujar guru Kang dengan sebelah alis terangkat. Sementara aku? Aku sebagai orang yang dia maksud hanya dapat menundukkan kepalaku dalam.

“Ya, aku mengerti,”jawabku masih dengan kepala menunduk.

“Bagus,”guru Kang melanjutkan langkahnya, dan setelah kupastikan ia bahkan bayangannya sudah keluar barulah aku kembali menegakkan kepalaku.

“Huff..sempat-sempatnya dia berbalik dan mengatakan kalimat yang sungguh sudah sangat sering terdengar ditelingaku dalam satu minggu terakhir.”umpatku dalam hati. Aku baaru saja akan melanjutkan umpatanku, ketika tiba-tiba dari jendela kelas aku melihat seorang pria berperawakan kurus tinggi melewati kelasku. Aku tahu dia! Dia pria yang dari seminggu yang lalu aku kejar-kejar . kalian jangan salah paham, kejar-kejar disini dalam arti aku selalu mengikutinya dan mohon agar ia mau mengajariku bermain gitar. Tapi semakin aku kumohon padanya, semakin pula ia menolakku. Aish, kenapa dunia ini begitu tak adil?

Tunggu dulu! Siapa tadi? Dia itu pria yang kumohon untuk mengajariku. Omo! Aku harus mengejarnya. Segera saja kuselesaikan kesibukanku tadi dan buru-buru berlari untuk mengejar pria itu.

“Sanghyun ssi! Tunggu sebentar!”teriakku diantara helaan nafas yang memburuku, namun pria yang kumaksud itu tetap tidak bergeming dan terus saja berjalan. Kupercepat lariku dan langsung saja aku menempatkan tubuhku dihadapannya agar ia tidak bisa melanjutkan langkahnya.

“Sanghyun ssi, aku mohon! Sekali ini saja!”pintaku dengan kedua tangan tertangkup. Sanghyun tetap tidak bergeming, hanya menatapku dengan tatapan yang luar biasa datar. Kemudian, ia melepaskan sesuatu dari kedua telinganya, sebuah headset warna putih yang ternyata sedari tadi terpasang di kedua telinganya.

“Ada apa? Tentang hal itu lagi? Maaf, aku tidak bisa,”jawabnya santai lalu kembali memasang benda warna putih itu ke tempat semula, kemudian kembali berjalan, meninggalkan aku yang sekarang sibuk merutuki diriku sendiri.

“Dari tadi aku berlari-lari dan teriak-teriak seperti orang gila sampai orang-orang memperhatikanku, ternyata dia sedang pakai headset? Menolakku mentah-mentah pula? Bagus, lengkap sudah kesialanmu Jiyeon!”batinku tak henti-hentinya merutuki nasibku.

Ji Eun POV

Hari ini benar-benar hari yang melelahkan. Yah, walaupun menyenangkan juga. Tapi sungguh, satu-satunya hal yang sangat kuinginkan sekarang ini adalah sampai di rumah lalu istirahat.

Kurasakan kakiku mulai berat untuk diajak melangkah padahal dalam beberapa meter lagi aku sudah bisa sampai di rumah. Huff, ini semua karena aku terlalu banyak berlatih dance untuk debutku, pikirku.

Dalam hitungan menit aku sudah sampai dirumahku, sekarang aku baru mengerti istilah rumahku istanaku, rumahku surgaku,rumahku kerajaanku (?). Kuputar kenop pintu lalu mulai melangkah kedalamnya sampai akhirnya kuhentikan langkahku ketika melihat sesosok perempuan di ruang keluarga yang sedang menatap layar televisi dari sofa empuk yang berhadapan dengan televisi. Beberapa saat kemudian sepertinya ia menyadari keberadaanku  karena ia menoleh ke arahku dan dari ekspresinya aku tahu ia sedang dalam suasana hati tidak enak.

“Ji Eun, kau sudah pulang? Lama sekali latihannya,”ujarnya memberi komentar.

“Ya, latihannya jadi lebih lama karena dua bulan lagi aku akan mulai debut,”jawabku sembari duduk disebelahnya setelah melemparkan tasku. “Kau kenapa, Jiyeon? Kenapa wajahmu jadi mengerikan begitu?”tukasku melebih-lebihkan.

“Oh ya? Wajahku mengerikan?”tanyanya lebih kepada dirinya sendiri tetapi aku jawab dengan anggukan kecil namun meyakinkan.

“Huff..ini semua karena kakakku. Kau tahu kan, dia menyuruhku untuk les gitar, dan sekarang sudah 2 bulan aku les gitar tapi tetap tak bisa. Bahkan dasarnya pun aku tidak menguasai,”ujar Jiyeon sembari menjatuhkan kepalanya pada sandaran sofa.

“Tapi kan kau yang memintanya?”tanyaku memastikan.

“Iya, aku memintanya untuk mengajariku, bukan untuk les gitar. Kalaupun ikut les, seharusnya jangan kelas profesional yang ia pilih untukku. Ditambah orang bernama park Sanghyun itu tidak mau mengajariku,”jelas Jiyeon panjang lebar sementara aku yang sedari tadi menguap mulai memikirkan sesuatu.

“Park Sanghyun? Siapa dia?”tanyaku penasaran, karena aku sepertinya pernah mendengar nama itu sebelumnya.

“Dia itu anak yang sering dibanggakan guru Kang karena permainan gitarnya yang keren. Makanya aku minta dia untuk mengajariku, biar aku tidak belajar setengah-setengah,”jelas Jiyeon sementara aku hanya sibuk ber-oh ria.

“Aneh, aku yakin pernah mendengar nama itu sebelumnya,”pikirku dalam hati.

“Kenapa jadi diam begitu?”tanya Jiyeon dengan tatapan ingin tahu.

“Tidak, tapi sepertinya aku pernah mendengar nama itu tapi lupa kapan dan dimana,”jelasku. Jiyeon terlihat berpikir sebentar lalu menatapku.

“Namanya memang pasaran,”ujarnya ketus.

“Sudahlah, tidak usah dipikirkan. Aku ke kamarku dulu, ingin istirahat,”tukasku lalu beranjak menuju kamarku yang diikuti anggukan Jiyeon.

Jiyeon POV

Dalam kurun waktu 5 menit ini aku sudah hampir 10 kali berganti posisi duduk. Seperti saat ini, aku menempatkan kepalaku di atas meja sehingga rambut sebahuku terjuntai diatasnya. Seharusnya saat ini aku sedang mendengarkan guru Kim yang menjelaskan rumus-rumus fisika di papan tulis, bukannya bertingkah tidak jelas seperti ini. Jujur saja, saat ini aku sedang menimbang-nimbang untuk bolos les gitar.

“Jiyeon, bukannya hari ini giliranmu piket?”tanya jinki si ketua kelas, seketika membuatku tersadar dari kesibukanku yang tidak jelas itu dan menegakkan tubuhku.

“Ah, ya, aku lupa!”ucapku sembari menepuk jidat.

“Nanti pulang sekolah kau yang bertugas membuang sampah ke tempat pembuangan sampah ya,”

“Hm, baiklah,”jawabku asal, lalu kembali ke kesibukanku.

Sepulang sekolah aku teringat perintah jinki untuk membuang sampah. Dengan malas, aku mengangkat satu per satu kantong sampah yang berjumlah 3 kantong besar itu ke tempat pembuangan sampah di lantai 1. Baru kurasakan jarak antara lantai 2 dan lantai 1 lumayan membuatku lelah.

“Fiuh, akhirnya selesai juga,”ucapku lega sambil berkacak pinggang menatap 3 kantong sampah yang sudah rapi pada tempatnya. Lalu kulanjutkan dengan menyeka keringat di dahiku.

“Hya!Park Sanghyun!”sebuah suara membuatku terdiam dan mulai mencari-cari sumber suara. Aku menoleh ke belakang namun tak kudapati siapapun disana.

“Kenapa melamun?”suara itu muncul lagi. Dan kali ini aku yakin suara itu berasal dari sebuah ruangan disekitar tempat pembuangan sampah ini. Aneh, setahuku ruangan itu sudah tak terpakai. Kuputuskan untuk menghampiri ruangan itu, awalnya aku hanya menguping, tetapi akhirnya aku mengintip lewat celah kecil yang ada di pintu. Dan dari sini aku bisa mendengar dan melihat gerak-gerik orang di dalam yang ternyata adalah park Sanghyun dan ketiga temannya.

“Hya! Park Sanghyun! Bagaimana dengan perempuan bernam Jiyeon itu?”tanya teman Sanghyun yang setahuku bernama key.

“Ah, dia? Aku sama sekali tidak menanggapi permintaannya,”jawab sanhyun santai, masih berkutat dengan gitarnya.

“Hya! Bagaimana dengan taruhan kita?”komentar temannya yang lain, bernama jino.

“Aku sudah bilang tidak. Bagaimana mungkin kalian menyuruhku bertaruh untuk menjadi pacarnya dengan jalan mengajarinya bermain gitar?”kata park Sanghyun yang sudah berhenti memainkan gitarnya dan beranjak dari tempat duduknya sampai tiba-tiba minho menahannya.

“Kau mau kemana?”tanya minho dari tempatnya duduk.

“Pulang,”jawab sanghyun singkat.

“Tidak les gitar?”tanya minho lagi yang tidak mendapatkan respons park Sanghyun karena temannya itu sudah melangkah keluar. Menyadari ia akan keluar dari ruangan itu, aku langsung mengambil langkah seribu dan bersembunyi di sebuah sudut di luar ruangan itu. Dan dapat kurasakan pria dengan gitar dalam tasnya itu menghentikan langkahnya ketika berada di dekat tempat persembunyianku. Pria itu berbalik dan langkahnya mulai mendekat

kearahku. Omo! Bagaimana ini? Jeritku dalam hati.

Suara langkahnya semakin mendekat, mendekat, mendekat, dan..

PLETAKK!

Sebuah suara kaleng melayang dan masuk ke dalam tempat sampah yang tidak jauh dari tempatku sekarang. Siapa lai pelakunya kalau bukan si park Sanghyun itu. Kalau saja aku sedang tidak dalam posisi sembunyi, aku pasti sudah melemparnya dengan batu kali karena membuat jantungku yang sudah seperti marathon ingin copot keluar.

Sementara aku mengelus dada, dari kejauhan terlihat park Sanghyun menghela nafas lalu perlahan bersandar pada sebuah tembok didekatnya. Cukup lama ia sepeti itu sampai ia menerima sebuah panggilan di handphonenya dan akhirnya pergi entah kemana.

“Pergi kemana dia? Kenapa wajahnya kusut sekali?”tanyaku pada diri sendiri. “Aish, itu kan bukan urusanku!”ucapku lagi-lagi kepada diriku sendiri  lalu beranjak dari tempat persembunyianku dan memutuskan untuk pulang saja.

Author POV

Seorang gadis bernama lengkap park Jiyeon sedang menyusuri jalanan kompleks dengan berpuluh pertanyaan yang muncul di otaknya sambil sesekali menyobek roti sosisnya lalu memakannya.

“Kenapa ya park Sanghyun seperti itu? Ekspresinya benar-benar seperti orang yang sedang depresi. Apa dia punya masalah? Tidak mungkin kan dia seperti itu karena taruhan teman-temannya itu?” pikirnya dalam hati.

“Aish,park Jiyeon! Kau harus sadar itu bukan urusanmu!”batinnya, lalu menepuk-nepuk kedua pipinya. Gadis itu terus melanjutkan aktivitasnya itu sampai-sampai tidak menyadaari sekitar 7 meter dibelakangnya ada seorang pria yang juga sedang menyusuri jalan itu dengan headphone terpasang di kedua telinganya.

Sanghyun POV

Sepanjang perjalanan pulang ini secara tidak sengaja aku memperhatikan gerak-gerik gadis yang hanya berjarak beberapa meter dariku. Gadis yang sudah seminggu ini memintaku untuk mengajarinya, tetapi selalu kutolak. Gadis itu sepertinya tidak menyadari keberadaanku, karena sedari tadi ia hanya bertingkah aneh bahkan menepuk-nepuk pipinya dengan tangannya sendiri. Dasar perempuan aneh.

Tak lama kemudian perempuan itu berbelok ke kiri di sebuah persimpangan dan sosoknya menghilang dari pandanganku. Aku terus melanjutkan langkahku sampai akhirnya sesuatu hal membuatku berhenti.

“Kyaa!”muncul sebuah jeritan yang aku yakin jeritan perempuan. Kulepaskan headphoneku, mencoba untuk memastikan, namun jeritan itu tidak terulang. “Mungkin aku salah dengar,”pikirku lalu menempatkan kembali headphone itu ke telingaku.

“Kyaa! Tolong aku!” suara itu terulang lagi. Dan aku yakin ini bukan salah dengar. Segera kulepaskan headphoneku,menggantungnya di leher, lalu berlari menuju asal suara.

Author POV

“Kyaa! Tolong aku!” sebuah teriakan terdengar lagi. Sanghyun segera melepaskan headphonenya, menggantungnya di leher, lalu berlari menuju asal suara. Dan seketika itu pula dari kejauhan ia melihat seorang perempuan berambut sebahu dengan luka penuh darah di lutut keluar dari sebuah jalan di persimpangan dengan terengah-engah diikuti seekor anjing berukuran besar yang mengejarnya.

Gadis itu adalah Jiyeon, Park Jiyeon. Jiyeon berlari mendekat ke arah Sanghyun, namun karena panik ia tidak menyadari keberadaan Sanghyun sampai akhirnya Sanghyun menarik tangan Jiyeon dan menempatkan Jiyeon dibalik tubuhnya. Sementara Jiyeon hanya dapat menurut dan bersembunyi dibalik tubuh Sanghyun.

“Kau melakukan apa,hah?” tanya Sanghyun yang sekarang berhadapan dengan anjing itu.

“Tidak, aku tidak melakukan apapun, sungguh!” aku Jiyeon dengan ketakutan.

“Mana rotimu?” tanya Sanghyun yang didahinya mulai mengucur keringat.

“Roti?” tanya Jiyeon balik lalu sadar akan roti yang sedari tadi digenggamnya. “Ini,” Jiyeon menyodorkan roti isi sosisnya kepada Sanghyun yang berada di depannya.

“Bagus.” Sanghyun menerima roti itu dengan senyum simpul lalu melempar roti itu sejauh-jauhnya. Benar saja, anjing itu langsung berlari tergopoh-gopoh untuk mendapatkan roti Jiyeon yang sudah dilempar entah kemana.

“Fiuhh” keduanya menghembuskan nafas tanda lega. Sanghyun beringsut menghadapkan tubuhnya ke wanita yang sedari tadi berdiri dibelakangnya.

“Terima kasih! Terima kasih! Terima kasih banyak!” ucap Jiyeon sambil membungkuk berkali-kali, ketika sadar Sanghyun menghadap kearahnya.

“Terima kasih banyak Park Sanghyun, aku pulang dulu.” Mulai melangkah sampai akhirnya sebuah suara membuatnya berhenti.

“Obati dulu lukamu, baru pulang” Begitulah kedengarannya.

Semilir angin sore di Seoul menyejukkan orang-orang yang ada di kota itu, Tak terkecuali wanita dan pria yang duduk di pinggiran sungai Han. Si wanita masih sibuk dengan luka yang ada di kedua lututnya, sementara pria hanya menatap lurus ke depan sambil sesekali menghela nafas.

“Sudah belum?” tanya si pria yang bernama Park Sanghyun itu kepada wanita yang duduk di sebelah kirinya.

“Belum. Hanya tinggal dibalut saja. Kau ingin pulang?” Masih berkutat dengan lukanya sambil sesekali mencari sesuatu dalam kotak P3K yang ia bawa.

“Tidak, kau selesaikan saja dulu” Jawab Sanghyun masih dengan tatapan lurus menghadap sungai.

“Baiklah. Oh iya, Park Sanghyun, kenapa kau tidak les gitar hari ini?” tanya Jiyeon hati-hati.

“Tidak penting untuk kau tahu. Kau sendiri kenapa hari ini bolos?” Menggerakkan kepalanya ke kiri untuk menatap gadis di sebelahnya.

“Aku….aku malu untuk kesana. Kau tahu, dasar-dasar gitar pun aku tidak bisa.” Park Sanghyun kembali menatap lurus ke depan dan terlihat berpikir sejenak.

“Kenapa tadi kau bisa di kejar anjing itu?” tanya Sanghyun.

“Itu karena tiba-tiba anak kecil mengayuh sepedanya dengan cepat dan buru-buru lalu menabrakku sampai aku terluka seperti ini. Anak itu kemudian buru-buru pergi. Beberapa saat kemudian aku mendengar gonggongan anjing dan berlari cepat kearahku. Sontak, karena aku takut, aku langsung lari.”

“Bodoh, kenapa harus lari? Anjing itu jadi berpikir kalau kau orang yang mengusiknya.” Kata Park Sanghyun yang membuat Jiyeon berdiri dan menatap ke arahnya tajam.

“Hyaa! Jangan karena kau 1 tahun lebih tua kau berani berkata kasar kepadaku ya!” bentak Jiyeon.

“Kau sudah selesai? Aku pulang dulu,”kata sanghyun lalu menggapai tas gitarnya yang tergeletak di rerumputan. Kemudian berjalan melewati jiyeon, sampai akhirnya berhenti karena sebuah suara yang mengusiknya.

“Park sanghyun, apa kau tidak mau mengajariku karena taruhan yang dibuat teman-temanmu itu?”suara itu membuat sanghyun sedikit terlonjak lalu berbalik menghadap jiyeon.

“Kau..sudah tahu?”tanyanya ragu.

“Iya, aku tahu. Aku tidak apa kalau harus jadi bahan taruhan asal kau mengajariku. Aku rasa itu merupakan simbiosis mutualisme,”jelas jiyeon. Sementara sanghyun membalikkan kembali tubuhnya.

“Soal itu..akan kupertimbangkan,”ucap sanghyun pelan, lalu melanjutkan langkahnya, meninggalkan jiyeon yang masih berdiri menatapnya dari kejauhan.

~~~

“Jiyeon!Park Jiyeon!”panggilan seseorang membuat jiyeon menoleh, park sanghyun, orang itulah yang ternyata memanggil namanya sambil berlari kecil.

“Park sanghyun,”gumam jiyeon saat pria itu sudah ada tepat dihadapannya.

Keduanya menyusur koridor yang sudah mulai sepi itu dalam diam. Tak ada satupun yang memulai pembicaraan. Si pria yang memang tipe orang yang tidak banyak bicara, sementara si wanita bingung harus bicara apa.

“Bagaimana pelajaran gitarmu hari ini?”tanya sanghyun tiba-tiba dengan kedua tangan dimasukkan kedalam saku celananya.

“Yah, seperti biasa. Itu semua karena seseorang yang sama sekali tidak mau mengajariku padahal aku sudah memohon berkali-kali padanya. Aku bahkan sudah rela dijadikan bahan taruhan orang itu dan teman-temannya. Menyebalkan!”jawabnya seraya menatap sinis pada sanghyun.

“Hei, kau sedang menyindirku?”tanya sanghyun pada gadis di sebelahnya yang hanya menjawab dengan mengangkat kedua bahunya.

“Baiklah, soal taruhan itu..aku setuju,”

“Apa?”tanya jiyeon.

“Yah, setidaknya itu yang kukatakan pada teman-temanku. Tidak masalah kan?”kata-kata sanghyun membuat jiyeon menghentikan langkahnya, membiarkan sanghyun berada beberapa langkah di depannya.

“Park jiyeon, kau kenapa?”sanghyun berbalik dan berjalan ke arah jiyeon.

“Aku..aku hanya..Huatchi!” gadis itu bersin lalu menggosok-gosok hidungnya. “Aku hanya sedang berkonsentrasi untuk bersin tadi, hehe,”ucapnya meneruskan kata-katanya yang belum selesai ia ucapkan tadi. Sementara sanghyun langsung melanjutkan langkahnya.

“Aish, lagi-lagi aku ditinggal. Hya!Park sanghyun, apa itu benar? Kau setuju?” teriaknya sembari berjalan di belakang sanghyun dengan senyum kemenangan.

TBC~

HOW? HOW? ini ff udah lama sebenernya..cuma ya gitu deh, authornya males ngetik,hehe

ini aja yang ngetikin adek yang masih kelas 6 sd-.- *males bgt!

oke deh, tunggu part selanjutnya yawh!

ttd,

han rae in a.k.a siwon istri^^

7 tanggapan untuk “My Precious part 1

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s