fanfiction · frienship · ONESHOT · romance

Goodbye Night !


goodbye night

Title : Goodbye night!
Author : Han Rae In
Length : Oneshoot
Genre : Romance, Friendship
Rating : PG-15
Cast : ParkJiyeon | Jung Yonghwa |Lee Jonghyun | Lee Jungshin | Kang minhyuk | Seohyun
Note : Hai~~~ sebenernya berniat untuk tidak menjadi talkactive, tapi kali ini bener-bener ngga bisa, karena saya pengen ngucapin makasih yang sebanyak-banyaknya…kami author disini bisa lulus dengan nilai bagus karena sumbangan doa dari readers. Makasih banyak^^ makanya sebagai ucapan terima kasih aku yang tadinya Cuma bikin hello star sebagai oneshoot kini ada sequelnya..itu karena ada yang request. Tuhkan? Aku ngomong terus..next time kayaknya aku usahain lebih pendiem deh, hahai..okelah, happy reading~~


~~~Goodbye Night!~~~
Hari sudah menginjak malam sesuai dengan jarum jam yang kini menunjukkan angka 9 pada perputarannya. Beberapa orang pun menghentikan aktivitasnya dan memilih untuk beristirahat mengingat malam yang semakin gelap. Namun Jiyeon tak termasuk golongan orang-orang itu. Ia terlalu sibuk dengan pekerjaan barunya sebagai perawat di seoul hospital sampai tak ingat untuk sekedar melihat jam tangannya.
“Jiyeon-ssi, bukankah jam kerjamu sudah habis?” seorang perawat lain menghampirinya yang masih sibuk meneliti data beberapa pasien.
“Iya, tapi aku masih ingin disini. Aku ingin melihat perkembangan pasien yang kurawat, jiyoung-ssi.” Jawab Jiyeon tanpa sedikitpun menoleh pada teman seperjuangannya itu.
“Kau ini berlebihan Jiyeon-ssi. Dokter saja hanya sesekali melihat data-data itu, tapi kau yang baru 6 bulan menjadi perawat disini sepertinya sangat tertarik pada kertas-kertas itu.” Ledek jiyoung yang hanya diikuti kekehan oleh Jiyeon. “Oh iya Jiyeon-ssi, seingatku tadi siang kau bilang kalau malam ini kau ada janji.” Gumam jiyoung yang seketika membuat mata Jiyeon melebar. Gadis itu langsung beranjak menuju ruang ganti untuk mengganti seragamnya dengan pakaian yang dipakainya saat datang tadi.
“Jiyoung-ssi, tolong bereskan data-data itu.” Pinta Jiyeon sebelum akhirnya berlari kecil agar tidak terlalu terlambat sampai di tempat tujuannya sementara jiyoung hanya dapat menggeleng kecil melihat tingkah temannya.
***
Sebuah tempat karaoke di pusat kota itu masih ramai pelanggan yang memang lebih banyak berdatangan pada malam hari. Jung Yonghwa misalnya, pria itu menyewa satu ruangan karaoke untuknya dan teman-temannya sebagai sarana penghilang penat akibat jadwal yang padat. Itulah tujuan awalnya, tetapi sekarang justru berbalik membuatnya sedikit kesal karena orang yang ditunggunya belum juga nampak. Seseorang yang sudah seperti bagian dirinya sendiri sejak 2 tahun lalu, sejak ia menyatakan perasaannya lebih tepatnya.
“Annyeonghaseyo!” seru seseorang yang tiba-tiba muncul setelah sebelumnya terdengar suara pintu yang dibuka dengan keras. Semua mata di ruangan kecil itu seketika menoleh pada si pemilik suara yang tak lain adalah Jiyeon. Gadis itu tampak sangat lelah dengan nafas yang tersengal-sengal dan poni yang agak basah karena keringat.
“Jiyeon-ah, duduklah dulu.” Sambut jonghyun menggiring gadis itu untuk duduk di sebelah Yonghwa.
“Maaf aku terlambat.” Ujar Jiyeon merasa bersalah melihat meja di depannya masih penuh makanan. Yonghwa, minhyuk, jungshin, dan jonghyun, keempatnya memang tidak membuka makanan apapun yang mereka beli karena menunggu kedatangan Jiyeon.
“Kau ini seperti orang lain saja. Kami kan temanmu, lagipula kami juga mengerti perawat sepertimu pasti repot.” Respon jungshin yang dibenarkan oleh minhyuk dengan anggukan kecilnya. Jiyeon tersenyum mendapati para pria itu yang tampak pengertian, sampai matanya menangkap ekspresi Yonghwa yang sama sekali tak bisa dibilang bersahabat. Pria itu lebih memilih menenggak soda kaleng yang baru saja dibukanya daripada menyapa kekasihnya.
“Yonghwa-ah, kau marah? Karena aku terlambat?” tanya Jiyeon lembut, karena bagaimanapun ini memang salahnya. Yonghwa tak menyahut, dirinya hanya mengedikkan bahunya pelan, seakan menyuruh Jiyeon untuk mencari tahu sendiri. “Mianhe, aku..”
“Kau kenapa? Kau pasti lupa lagi kan kalau kita ada janji? Kau selalu melupakan janji bertemu denganku sejak kau menjadi perawat. Apa sesibuk itu? Bukankah aku yang seorang idol harusnya lebih sibuk dan lebih berpeluang untuk lupa janji?” tegur Yonghwa pelan namun cukup menusuk di hati Jiyeon. Gadis itu hanya bisa diam, mencerna perkataan Yonghwa.
“Sudahlah Jiyeon-ah, dia bukan marah karena kau telat. Tapi karena kau membuatnya khawatir. Kau tahu? Ia daritadi cemas ada hal yang buruk menimpamu sehingga kau telat. Dia juga memikirkan kemungkinan adanya pria lain yang mendekatimu sehingga kau sering lupa janji akhir-akhir ini. Aih, baru kali ini aku melihatnya selabil ini.” Jelas jonghyun tak lupa dengan senyum menawannya.
Jiyeon menggeser duduknya jadi lebih dekat pada Yonghwa yang kini memelototi jonghyun karena penjelasan polos pria itu tadi. Dari jarak yang lebih dekat dari sebelumnya itu, Jiyeon memperhatikan wajah Yonghwa dari samping, menunggu sampai Yonghwa merasa terganggu dan akhirnya menoleh padanya.
“Wae?” sungut Yonghwa sinis, kontras dengan Jiyeon yang kini memperlihatkan senyuman manisnya.
“Maafkan aku, ne? Aku tidak akan lupa pada janji kita nantinya, sungguh. Asal kau memaafkanku kali ini.” Jiyeon memasang wajah memohonnya. Yonghwa yang tak tahan melihat ekspresi Jiyeon akhirnya mengusak rambut gadis itu tanda ia memaafkannya.
“Haah, seandainya aku punya pacar. Jungshin hyung, jonghyun hyung, ayo kita mulai acara karaokenya. Kita mulai dengan lagu patah hati saja ne?” sesal minhyuk yang tampak iri melihat kemesraan Yonghwa dan Jiyeon.
“Kau belum cukup umur, mana boleh pacaran.” Balas Yonghwa yang membuat minhyuk melengkingkan suaranya frustasi saat menyanyikan lagu ‘lonely’ 2ne1, seketika membuat semua orang kecuali minhyuk tertawa.
Kelimanya sangat menikmati kebersamaan mereka yang jarang didapatkan itu. Sesekali mereka mengisi ruangan itu dengan candaan atau cerita yang membuat hangat suasana ruangan yang tak luas itu. Yonghwa dan Jiyeon sedang tertawa saat dering ponsel Jiyeon terdengar, tanda ada panggilan masuk. Samar-samar Yonghwa bisa melihat nama dokter choi tertera di layar ponsel kekasihnya itu, dokter muda yang akhir-akhir ini sering membuatnya cemburu. Jiyeon pun permisi untuk mengangkat panggilan itu diluar ruangan, tak melihat perubahan ekspresi Yonghwa yang kini menggelap.
10 menit kemudian Jiyeon kembali dengan senyum di wajahnya karena aksi duet minhyuk dan jonghyun. Namun Yonghwa yang salah mengartikan senyum itu karena telpon dari dokter choi, jadi tak bersemangat. Pria itu diam saja sampai sebuah panggilan membuat ponselnya berdering. ‘dari seohyun’ gumam Jiyeon yang mencuri-curi pandang melihat ponsel Yonghwa sebelum pria itu keluar untuk menjawab panggilan. Entahlah, Jiyeon sangat tidak suka dengan gadis bernama seohyun yang setahun lalu menjadi pasangan virtual kekasihnya di sebuah reality show. Ia tidak suka melihat kedekatan Yonghwa dengan gadis cantik itu, terutama saat keduanya dibilang cocok oleh orang banyak.
Jiyeon yang tak bisa menyembunyikan ekspresi kecewanya membuat atmosfir di ruangan itu sedikit aneh. Minhyuk, jungshin, dan jonghyun hanya bisa melemparkan tatapan bertanya satu sama lain dengan bahu yang diangkat, tanda tak ada satupun dari mereka yang tahu penyebab murungnya Jiyeon ataupun Yonghwa.
***
“Hyung, kau pakai mobilku saja, biar kami pulang naik mobil jungshin.” Tawar jonghyun yang hanya dijawab dengan dehaman oleh Yonghwa. Pria itu menangkap dengan gesit kunci mobil yang dilempar jonghyun lalu membuka pintu mobil warna hitam itu untuk Jiyeon terlebih dahulu. Setelahnya, pria itu memasuki mobil jonghyun lalu menggerakkannya keluar dari parkiran karaoke sementara ketiga temannya melambai ringan seiring berlalunya benda mahal tersebut.
“Yonghwa-ah, kau dekat dengan seohyun?” tanya Jiyeon mencoba membuka percakapan.
“Tentu saja. Dia kan pasangan virtualku waktu itu.” Jawab Yonghwa fokus pada jalanan didepannya. Jiyeon terdiam. Jawaban Yonghwa bukanlah apa yang ia harapkan untuk menenangkan hatinya.
“Wae? Kau sendiri? Bagaimana dokter choi jong hoon?” tanya Yonghwa yang membuat Jiyeon sedikit terjengit, agak terkejut dengan pertanyaan Yonghwa yang begitu mengarah.
“Kenapa tiba-tiba membicarakan dokter choi?”
“Tidak, hanya bertanya saja. Karena kulihat sepertinya kalian cukup dekat. Orang seperti apa dia?” tanya Yonghwa tak bisa menyembunyikan rasa penasarannya.
“Dokter choi orang yang baik, dia sangat perhatian pada rekan kerjanya. Oh ya, dia dibilang dokter muda terbaik oleh para dokter senior karena pengetahuannya yang hebat walau masih muda.” Jelas Jiyeon dengan mata menerawang kagum. Yonghwa mengatupkan bibirnya seiring pujian yang terucap dari bibir Jiyeon akan dokter choi.
“Oh ya? Berarti pasti banyak perempuan yang tergila-gila padanya.” Pancing Yonghwa, berharap Jiyeon memberikan jawaban yang diinginkannya.
“Ya, banyak sekali yang menyukainya, mulai dari sesama dokter, perawat, sampai pasien. Tapi dia pernah curhat padaku kalau ia memang berusaha baik pada semua orang, tapi ia bukan tipe orang yang mudah jatuh cinta. Ia juga bilang saat ini ada seorang gadis yang menarik perhatiannya, tapi ia takut menyatakan karena gadis itu sepertinya menyukai pria lain. Lucu bukan? Pria setampan dan sebaik dokter choi takut ditolak. Aku benar-benar penasaran dengan gadis yang menolaknya itu.” Ujar Jiyeon panjang lebar tanpa sadar sedikitpun akan air muka Yonghwa yang terlihat buruk. Pria itu bahkan berani bertaruh kalau gadis yang diceritakan Jiyeon adalah gadis itu sendiri. Yonghwa merasa kacau, ia tak suka bersaing dengan orang sesempurna jong hoon untuk mendapatkan Jiyeon.
“Yonghwa-ah, seohyun snsd itu aslinya cantik?” Jiyeon ganti memancing Yonghwa dengan pertanyaan retoris.
“Hm. Dia cantik, bahkan tanpa make up sekalipun. Banyak kru yang memujinya karena kecantikan didukung keramahan dan kepintarannya.” Jawab Yonghwa jujur, namun mengecewakan Jiyeon.
“Dia juga berbakat. Iya kan?” tambah Jiyeon, menyalin kata-kata Yonghwa tentang seohyun yang pernah ia tonton di tv.
“Sangat.” Ucap Yonghwa singkat yang menjadi penutup dari percakapan mereka. Sejak itu, sepanjang perjalanan, mobil hitam jonghyun itu hening karena tak ada satupun dari mereka yang berbicara. Keduanya kalut akan berbagai pikiran yang mereka ciptakan masing-masing.
Sesampainya di depan rumah sewaan yang terlihat tak begitu beraturan, Jiyeon dan Yonghwa keluar dari mobil. Jiyeon menundukkan sedikit kepalanya sebagai tanda terima kasih. Keduanya terlihat canggung satu sama lain, sampai Yonghwa akhirnya membuka suara.
“Jiyeon-ah, kita..kurasa hubungan kita cukup sampai disini.” Ujar Yonghwa yang seketika membuat Jiyeon membulatkan matanya. Ia tak habis pikir akan keputusan Yonghwa yang tiba-tiba itu.
“Wae?” tanya Jiyeon dengan susah payah agar tangisnya tidak pecah.
“Kurasa kita butuh waktu untuk merenungkan hubungan kita. Jadi kupikir ini yang terbaik.” Yonghwa tak kalah sedih dengan Jiyeon, akan tetapi ia dapat menyembunyikan perasaan lebih baik dari gadis itu. Jiyeon terdiam, terlihat berpikir walau sebenarnya pikirannya kosong. Semua terasa kebas baginya setelah ucapan Yonghwa terlontar.
“Aku setuju. Kita, eh salah, kau mungkin butuh waktu untuk mengetahui siapa yang terbaik untukmu.” Respon Jiyeon, pikirannya terus mengarah pada seohyun yang selalu dipuji Yonghwa.
“Bukankah itu kau? Kau yang butuh waktu untuk meyakinkan perasaanmu padaku.” Sanggah Yonghwa dengan nada seperti memojokkan Jiyeon meski gadis itu sama sekali tak mengerti akan apa yang dimaksud pria itu.
Selesai mengucapkan apa yang ingin diucapkannya, Yonghwa kembali memasuki mobil lalu melesat dengan cepat, meninggalkan Jiyeon yang masih berdiri di depan bangunan tua itu dengan airmata yang tiba-tiba mengalir deras menyusuri pipi putihnya.
“Jiyeon-ah, wae?” suzy yang keluar karena mendengar suara mobil Yonghwa, cukup terkejut mendapati sahabatnya itu menangis.
“Dia bilang cukup sampai disini, suzy-ah. Hubungan kami berakhir.” Isak Jiyeon lalu memeluk suzy yang berusaha menenangkan teman satu rumahnya itu. Ia sudah mengira hal seperti ini akan terjadi mengingat perbedaan antara Jiyeon dan Yonghwa yang begitu besar.
Sebenarnya bukan Jiyeon saja yang menyesali keputusannya, Yonghwa pun sama. Pria itu berusaha terlihat kuat dihadapan Jiyeon, meski saat dirinya memasuki mobil pertahanannya runtuh. Ketakutannya akan kehilangan Jiyeon kini sudah jadi kenyataan karena sikap bodohnya. Dirinya yang emosi membuat gadis yang dicintainya menjauh.
***
21 mei 2013
“Vokalis sekaligus leader dari grup band ternama cnblue, jung Yonghwa, mengalami kecelakaan motor tunggal pada dini hari. Dikabarkan kondisinya dalam keadaan kritis karena banyak kehilangan darah akibat benturan di kepalanya. Sampai saat ini belum ada penjelasan khusus dari agensi tempat cnblue bernaung tentang dimana idol itu dirawat, sehingga belum diketahui….”
Jiyeon tidak mendengarkan berita yang disiarkan di tv rumah sakit sampai selesai. Ia terlalu shock mengetahui pria yang mengakhiri hubungannya sekitar 2 bulan lalu itu kini dalam keadaan kritis. Tak dipungkiri, gadis itu memang masih peduli pada pria itu, masih terlalu mencintai pria itu tepatnya.
“Jiyeon-ssi, bukankah sekarang waktunya kau memberi obat untuk pasien di kamar 302?” tegur jiyoung yang melihat Jiyeon tidak fokus. Akhir-akhir ini jiyoung merasakan ada yang aneh dari Jiyeon, gadis itu sering terlihat murung meski berusaha ditutupinya dengan senyuman.
“Ah, ne.” Singkat Jiyeon dengan mata yang masih terpaku pada siaran televisi, membuat jiyoung akhirnya tahu apa yang membuat Jiyeon terlihat lebih aneh dan murung hari ini.
“Kau fans dari cnblue Yonghwa? Wah, pantas saja kau sedih setelah melihat berita itu. Tapi aku punya berita yang bisa membuatmu tak begitu sedih.” Hibur jiyoung yang kemudian mendekatkan bibirnya ke telinga Jiyeon, bermaksud membisikkan sesuatu yang dianggapnya rahasia. “Jung Yonghwa dilarikan ke rumah sakit ini setelah kecelakaan itu.” Bisik jiyoung yang membuat Jiyeon melebarkan matanya.
“Jinjja?”konfirmasi Jiyeon yang dijawab dengan anggukan oleh jiyoung dengan semangat.
Tak membuang waktu lagi, Jiyeon langsung bergegas meninggalkan jiyoung yang heran melihat tingkah Jiyeon yang tak ada bedanya dengan seorang sasaeng. Gadis itu bahkan berlari kecil ke ruangan Yonghwa yang ia perkirakan masih di unit gawat darurat mengingat kondisi pria itu yang masih kritis.
“Jiyoung-ssi, tolong gantikan aku memberikan obat untuk pasien di kamar 302 ne?” perintah Jiyeon seraya melanjutkan langkahnya menuju tempat Yonghwa.
“Harusnya aku memberitahunya setelah ia selesai melakukan tugasnya saja.” Sesal jiyoung namun menuruti permintaan temannya itu.
***
Jiyeon membuka pintu berwarna putih pucat itu dengan perlahan, menghindari terciptanya bunyi yang dapat mengganggu beberapa pasien yang ada di ruangan itu. Matanya dengan cepat bisa menangkap keberadaan sosok yang amat dirindukannya. Jung Yonghwa, pria itu tengah terbaring dengan peralatan medis yang menggerayangi sekujur tubuhnya, terlihat tak berdaya. Jiyeon melangkah pelan ke samping ranjang pria itu. Tak dapat ditahannya airmata yang sudah menggenang sejak ia menginjakkan kaki di ruangan itu. Sebisa mungkin Jiyeon menutup mulutnya agar suara isakannya tak terdengar. Perlahan tangannya menggapai tangan Yonghwa yang terlihat lemah, diusapnya telapak tangan pria itu dengan lembut seakan menyalurkan kekuatan agar Yonghwa melewati masa kritisnya secepat mungkin.
“Jiyeon-ssi?” suara berat dari dokter choi yang baru saja datang cukup membuat Jiyeon terlonjak dan tak sempat menghapus sisa-sisa airmatanya. Pria itu dan beberapa suster dibelakangnya terlihat heran melihat Jiyeon yang menangis hebat disamping ranjang Yonghwa.
“Kau menangis? Apa kau mengenal pasien ini ? atau mungkin kau fansnya?” tebak dokter choi sementara Jiyeon sibuk mengusap pipinya yang basah karena airmata.
“Ah ne, aku fansnya.” Jawab Jiyeon parau. Ada rasa sakit yang menggurat hatinya saat menyadari dirinya bukanlah siapa-siapa Yonghwa saat ini.
“Pakailah ini.” Dokter choi menyodorkan saputangannya yang disambut sungkan oleh Jiyeon.
“Baiklah dokter, saya permisi.” Pamit Jiyeon yang ditahan oleh jong hoon dengan menggenggam lengan Jiyeon.
“Tunggulah disini sampai aku selesai melakukan pemeriksaan agar kau tahu bagaimana keadaan idolamu ini.” Saran dokter choi yang diikuti anggukan Jiyeon kemudian. Gadis itu memang ingin tahu perkembangan keadaan Yonghwa.
Setelah memeriksa beberapa bagian tubuh Yonghwa dibantu suster lainnya, tak sampai 15 menit dokter choi sudah selesai melakukan tugasnya. Pria itu tersenyum penuh arti pada Jiyeon yang terlihat cemas menunggu hasil pemeriksaan.
“Wah,apakah ini kekuatan dari airmata suster park? Pasien ini sudah melewati masa kritisnya dan sekarang sudah bisa dipindahkan ke ruang inap biasa.” Tukas jong hoon dengan senyum khasnya yang mengembang, membuat Jiyeon merasakan kelegaan yang luar biasa . Tanpa ia sadari setetes airmata meluncur lagi dari pelupuk matanya sebagai simbol dari rasa bahagianya.
***
Ruang inap kelas satu itu sunyi senyap, hanya ada seorang pasien yang masih tidur karena efek obat dan seorang perawat yang melakukan tugasnya dengan lihai namun berhati-hati agar tidak menyebabkan timbulnya suara yang dapat mengganggu istirahat pasiennya. Selesai melakukan pengecekan rutin terhadap pasiennya, suster bernama ParkJiyeon itu pun bergegas keluar, sampai dirinya berpapasan dengan seorang perempuan dan 3 orang laki-laki. Keempat orang itu menundukkan kepalanya pada Jiyeon yang merawat Yonghwa, teman mereka. Tak jauh berbeda dengan Jiyeon yang kini balas menunduk.
“Jiyeon-ah?” pekik salah seorang pria diantara mereka yang mengenali Jiyeon. Gadis itu hanya merespon dengan menampakkan sebuah senyum canggung karena sudah 2 bulan ini mereka hilang kontak.
“Kenapa tidak pernah berkumpul bersama kami lagi?” rengek pria lain bernama minhyuk yang langsung dipotong oleh jungshin yang sepenuhnya tahu mengenai hubungan Jiyeon-Yonghwa yang sudah berakhir.
“Senang bertemu denganmu lagi, Jiyeon-ah.” Tukas jungshin cepat, menyelamatkan Jiyeon dari menjawab pertanyaan bodoh minhyuk.
“Maaf, kalian saling mengenal?” seorang wanita yang membawa sebuket bunga memotong acara reuni diantara keempatnya. Jiyeon memastikan pandangannya yang tidak salah mengenali wanita didepannya sekarang adalah seohyun.
“Mmm..kami dan suster ini teman lama.” Ujar jonghyun seraya merangkul akrab Jiyeon. Seohyun mengangguk-angguk mengerti seraya menampilkan senyumnya. Jiyeon merasa kalah hanya karena melihat senyum gadis itu. Benar kata Yonghwa, seohyun memang cantik dan ramah, sama sekali tak bisa dibandingkan dengan dirinya yang hanya orang biasa.
“Baiklah, saya permisi.” Ucap Jiyeon kemudian berlalu cepat, sementara keempat orang yang ditinggalnya kini masuk ke ruangan Yonghwa. Pria itu sudah membuka matanya karena obrolan di depan pintu kamarnya yang tak bisa dikatakan pelan.
“Yaa hyung, kenapa tidak bilang kalau kau dirawat oleh Jiyeon?” sapa minhyuk sesegera mungkin saat melihat teman satu grupnya itu terbangun.
“Jiyeon? Dia suster yang merawatku?” tanya Yonghwa tak percaya. Ada rasa senang mendengar kalimat minhyuk itu.
“Jadi 2 hari ini kau tidak tahu kalau suster yang merawatmu adalah dia?” jonghyun menambahkan.
“Bukan dia suster yang memberiku makan ataupun obat.” Gumam Yonghwa berusaha mengingat wajah suster yang sering keluar masuk ruangannya. “Apa mungkin ia hanya datang saat aku tertidur?” gumam Yonghwa pelan, dirinya terpaku memikirkan kemungkinan itu. Yonghwa hendak beranjak dari ranjangnya dan menyusul Jiyeon sampai keberadaan seohyun menghentikan aksinya itu. Ia tahu seohyun menyukainya, dan akan aneh kalau kini ia mengejar Jiyeon didepan seohyun, gadis itu bisa saja mencari tahu segalanya dan menyebarluaskan hubungannya dengan Jiyeon.
“Oppa, aku membawakan buket ini untukmu. Cantik bukan?” ujar seohyun seraya menempatkan buket yang dibawanya ke pot bunga disamping ranjang Yonghwa, menggantikan posisi mawar Jiyeon yang dibuang gadis itu ke tempat sampah.
***
Yonghwa bertahan untuk pura-pura memejamkan matanya. Pria itu ingin melihat Jiyeon yang merawatnya dan bicara banyak dengan gadis itu. Ia bahkan tidak mengkonsumsi obat yang diberikan oleh suster agar bisa bertemu Jiyeon.
KRIET. Decitan suara pintu yang dibuka seakan menjadi awal bagi Yonghwa untuk berpura-pura tidur. Sementara Jiyeon menatap wajah lelaki yang tertidur itu dengan tatapan rindu yang amat sangat. Selanjutnya gadis itu mulai melakukan tugasnya yang selesai tak sampai 10 menit.
“Yonghwa-ah, tak terasa besok kau sudah bisa pulang. Itu artinya aku tidak akan bisa melihat wajahmu sepuasku lagi. aku tidak bisa lagi menyentuhmu sebebas ini, dan aku tak bisa mengetahui keadaanmu. Tak tahu apa kau sudah makan atau belum. Tak tahu apa kau sudah beristirahat dengan cukup atau belum. Hufft..kenapa aku sedih sekali jadinya? Padahal kalau kau sudah bisa pulang itu artinya kau sudah sehat bukan? Bodohnya aku.” Jiyeon mengeluarkan semua yang ada di pikirannya tanpa ragu sedikitpun karena gadis itu mengira Yonghwa tidak mendengarnya. Gadis itu bahkan terus menggenggam tangan Yonghwa lembut.
“Kalau begitu kau hanya harus selalu disisiku.” Ucapan Yonghwa seketika membuat Jiyeon melangkah mundur, namun tangannya ditahan oleh tangan besar Yonghwa.
“Kau.. kau mendengarnya? Semuanya?” tanya Jiyeon memastikan.
“Ne. Semuanya.”tukas Yonghwa pasti seraya menampakkan senyumnya. “Jiyeon-ah, maafkan aku. Aku terlalu emosi waktu itu karena kau selalu memuji dokter choi. Aku takut kau akan berpaling dariku. Bisakah kau memaafkanku dan tinggal disisiku lagi?” Yonghwa terlihat menyesal saat kata-kata itu meluncur dari bibirnya. Jiyeon terpaku di posisinya. Dirinya masih berusaha mencerna penjelasan Yonghwa yang terasa seperti mimpi baginya.
“Tidak, Yonghwa-ssi. Kau tidak bisa bersamaku.” Jawab Jiyeon akhirnya. Gadis itu kini menyadari jurang besar pemisah dirinya dan Yonghwa. Pria itu benar-benar bintang yang hanya bisa dilihatnya, tidak bisa dimiliki karena terlalu indah.
“Wae? Apa semenjak putus dariku dokter choi itu mendekatimu? Apa dia bilang suka padamu?” tanya Yonghwa yang membuat Jiyeon agak terjengit.
“Ba..bagaimana kau bisa tahu?” Jiyeon tak bisa menyembunyikan keheranannya.
“Tch, jadi prediksiku itu benar? Kau tidak bisa bersamaku karena kau sudah punya pria yang sempurna. Aku tahu ini akan terjadi.” Ujar Yonghwa seraya memandangi selimut rumah sakit digenggamannya. Jiyeon hendak menyanggah opini Yonghwa yang tak berdasar itu, namun urung dilakukannya. Dokter choi memang menyatakan perasaannya pada Jiyeon, tapi gadis itu menolak tanpa perlu berpikir sedikitpun karena bayang-bayang Yonghwa terus mengisi pikirannya. Dan ia menolak berhubungan kembali dengan Yonghwa bukan karena ia tidak mau, tapi karena gadis itu merasa ada seohyun yang lebih sepadan mendampingi Yonghwa.
“Ne. Dia sangat sempurna, dan aku sangat suka pria sepertinya. Dia bahkan tidak marah saat aku telat atau membicarakan pria lain didepannya.” Sindir Jiyeon menyakiti hatinya sendiri.
“Baguslah kalau begitu. Selamat, Jiyeon-ssi.” Tukas Yonghwa dengan penekanan di setiap kata-katanya. Jiyeon hanya mengangguk lalu keluar dengan tergesa dari ruangan Yonghwa, ia tidak ingin airmatanya tumpah saat Yonghwa menatapnya. Gadis itu yang tak bisa bertahan lebih lama akhirnya menangis tepat setelah dirinya menutup pintu putih yang menjadi pembatas antara dirinya dan Yonghwa. Begitupun Yonghwa yang kini menitikkan airmatanya tepat setelah terdengar bunyi pintu ditutup oleh Jiyeon.
***
Jalan pedestrian itu tampak sepi, hanya ada Jiyeon dan 2 orang lainnya yang baru saja turun dari bus dan menyusuri jalan itu untuk mencapai rumah mereka masing-masing. Berbeda dengan orang lain yang berjalan tergesa, Jiyeon justru melangkah pelan. Gadis itu menikmati langkahnya di malam hari ini sambil memikirkan sesuatu hal yang terasa menggerogoti hatinya tiap kali gadis itu memikirkannya.
“Hhh..”desahnya lalu menghentikan langkah. Segalanya terasa kosong baginya sampai tiba-tiba gadis itu merasakan sebuah tangan menepuk bahunya dari belakang.
“Suzy?” reflek Jiyeon saat ia berbalik dan mendapati suzy tengah memasang senyum tiga jarinya. “Kau mengagetkanku.”
“Aku tidak berniat begitu awalnya. Tapi melihatmu melamun aku jadi iseng, hehe.” Timpal suzy sambil berjalan beriringan dengan teman satu rumahnya itu.
“Jujur padaku. Apa yang kau pikirkan kali ini?” gadis berambut hitam panjang itu berusaha membuat Jiyeon menceritakan masalahnya, namun yang ditanya hanya menggeleng pelan seraya tersenyum, seakan mengatakan kalau tak ada yang salah dan semuanya baik-baik saja.
Suzy mengeluarkan tatapan tajamnya. Mata itu menatap Jiyeon intens sampai Jiyeon salah tingkah dibuatnya. Suzy tahu betul bagaimana tingkah sahabatnya itu jika sedang menyembunyikan sesuatu. Jiyeon yang tidak tahan ditatap seperti itu akhirnya menghela nafas dan memilih menceritakan segalanya. Semua pertemuan dan percakapan rumitnya dengan Yonghwa baru-baru ini.
“Kau dan dia sama-sama bodoh. Apa kalian tidak mengerti apa itu cemburu? Itulah yang sedang kalian rasakan. Aku tak mengerti kenapa kalian tidak mau jujur dan membicarakannya secara terbuka. Tch, kenapa orang bodoh seperti kalian bisa eksis di dunia ini?” kesal suzy seraya mengipas bagian wajahnya yang panas karena emosi.
“Tidak, awalnya aku cemburu, tapi sekarang perasaanku lebih seperti menginginkan yang terbaik untuknya, dan itu adalah seohyun. Yonghwa akan terlihat sempurna jika seohyun yang ada disampingnya, bukan aku. Aku sama sekali tidak pantas untuknya. Aku tidak berasal dari keluarga kaya, tidak bisa bernyanyi dengan baik, tidak pintar, tidak manis, tidak bisa memainkan alat musik, bahkan tidak percaya diri. Aku tidak seperti seohyun yang –“
“Cukup. Pembelaan diri macam apa itu? kau pikir pantas atau tidaknya kau dan Yonghwa dinilai oleh orang lain? Tidak Jiyeon, kalianlah yang merasakan, jadi kalianlah yang menilai. Kurasa Yonghwa tahu betul siapa yang pantas untuknya, makanya ia memilihmu.” Jelas suzy dengan suara rendah, berharap kata-katanya dapat menyentuh hati Jiyeon dan membuat gadis itu sadar.
Jiyeon hanya diam. Dirinya berusaha memaknai kata-kata suzy yang sudah berputar ratusan kali di otaknya. “Lalu..apa yang harus kulakukan?” tanya Jiyeon persis orang linglung, sementara suzy tersenyum melihat reaksi temannya.
“Kau bilang Yonghwa sudah pulang ke rumahnya bukan?” Jiyeon mengangguk membenarkan pernyataan suzy. “Kalau begitu sekarang kau pergi kerumahnya atau ke dormnya, terserah kau sajalah. Yang penting kau harus menemuinya dan katakan semua yang kau pendam selama berhubungan dengannya. Tidak boleh ada yang terlewat, mengerti?” tukas suzy seraya mendorong tubuh Jiyeon menuju halte kembali.
“Tapi..”
“Tidak ada tapi-tapi.”
“Temani aku minum saja sekarang.” Tawar Jiyeon bernegosiasi.
“Tidak mau!” tolak suzy tegas.
“Suzy-ah..”
“Tidak ada sanggahan lagi. kau harus kesana sekarang. Aku tidak peduli sekarang sudah malam atau belum, kau harus menemuinya sekarang. Harus sampai bertemu dan menyelesaikan masalah kalian. Kalau tidak, kau tidak boleh masuk rumah. Kalau perlu kau menginap saja dirumahnya karena aku akan mengunci semua pintu dan jendela malam ini.” Ancam suzy yang berusaha maksimal menyatukan kembali Jiyeon dan Yonghwa. Gadis itu berlalu pergi meninggalkan Jiyeon yang masih bingung dengan apa yang harus ia ambil sebagai keputusan. Jiyeon merasa pikirannya masih melayang kemana-mana saat sebuah bus berhenti dan akhirnya gadis itu melangkah masuk kedalamnya, tanpa ia sadari, gadis itu sudah bertindak sesuai arahan suzy.
***
Sebuah mobil berwarna hitam memasuki pelataran rumah yang merupakan dormitory cnblue. Selang berapa detik kemudian keempat pintu yang ada pada mobil itu terbuka hampir bersamaan dan keluarlah 4 orang pria dengan masker dan topi menutupi hampir sebagian besar wajah mereka.
“Omona!” pekik minhyuk yang memang berjalan paling depan. Pria itu sampai menghentikan langkahnya karena kaget akan apa yang ditemukannya didepan pintu dorm.
“Ada apa? Astaga!” jonghyun dan jungshin yang langsung menghampiri minhyuk juga ikut terkejut melihat apa yang sedang dilihat minhyuk. Ketiganya lalu ganti menatap sinis Yonghwa yang tidak tahu apa-apa .
“Hei, ada apa dengan kalian? Apa sih yang kalian lihat?”tanya Yonghwa seraya berjalan menuju tempat teman-teman satu grupnya itu berkumpul. Mata Yonghwa membulat sempurna melihat seorang gadis tengah duduk bersandar didepan pintu dorm mereka dalam keadaan tertidur.
“Hyung, kau jahat.” Desis jonghyun mewakili apa yang ingin dikatakan minhyuk dan jungshin. Yonghwa masih terlalu terkejut sampai tidak bisa merespon apapun, yang dipikirkannya hanyalah gadis dihadapannya dan alasan mengapa gadis itu sampai menyusulnya ke dorm.
“Eungh..wah, kalian sudah pulang.” Gumam gadis itu yang baru terbangun dengan suara tidak terlalu jelas.
“Maaf membuatmu lama menunggu, Jiyeon-ah. Kami tadi ke rumah Yonghwa dulu untuk meyakinkan kedua orangtuanya kalau ia sudah sembuh dan baik-baik saja. Tapi..sejak kapan kau disini?” tanya jungshin dengan nada selembut mungkin.
“Eungh? Yonghwa? Dia ada disini? Aku harus bertemu dengannya..harus..” gumam Jiyeon tidak jelas lalu jatuh tertidur. Jungshin, jonghyun, minhyuk dan Yonghwa, keempatnya saling melempar pandang karena bingung dengan tingkah Jiyeon.
“Dia mabuk.” Simpul minhyuk cepat sebelum yang lain sempat membuka suara. Yang lain mengangguk setuju akan bau alkohol yang memang menguar saat gadis itu menggumam tadi.
Yonghwa berjongkok untuk mensejajarkan wajahnya dengan Jiyeon yang tertidur pulas dengan kepala bersandar. Dalam diam Yonghwa terus mengamati wajah gadis yang sangat dirindukannya itu, tak peduli akan keberadaan teman-temannya.
“Hyung, kau harus bertanggungjawab. Kau harus menyelesaikan masalahmu dengan Jiyeon. Sebelum itu terjadi, jangan harap kau bisa masuk kedalam dorm.” Ultimatum minhyuk lalu masuk kedalam diikuti jungshin dan jonghyun. Tak lama setelahnya terdengar bunyi pintu ditutup keras.
“Mereka itu..mereka pikir persoalan hati itu mudah?” lirih Yonghwa sambil menatap wajah Jiyeon. “Lalu apa yang harus kulakukan denganmu sekarang?” Yonghwa mengajak Jiyeon bicara walau nyatanya gadis itu sama sekali tak meresponnya.
***
Jiyeon menggeliat pelan dalam tidurnya saat mendengar suara berisik yang terdengar timbul tenggelam di pendengarannya. Mata bulatnya perlahan membuka dan semakin membulat karena terkejut saat mendapati seorang pria yang sangat dikenalnya tengah berbaring disampingnya dengan mata yang masih terpejam. Jiyeon menutup mulutnya sendiri dengan tangan saat sadar dirinya hampir saja berteriak. Gadis itu sontak terduduk dan mulai menenangkan dirinya sendiri. Pikirannya mulai mencoba mengingat-ingat apa yang dilakukannya kemarin. Namun nihil, yang diingatnya hanyalah dorm cnblue yang kosong saat ia datang dan akhirnya ia memilih untuk minum soju sendirian tak jauh dari sana. Terakhir yang ia ingat, ia memang kembali lagi ke dorm cnblue dalam keadaan setengah sadar, setelahnya ia tak tahu lagi apa yang terjadi karena sudah tak sadarkan diri.
“Bodohnya aku. Gadis macam apa yang menghampiri laki-laki dalam keadaan mabuk begitu?” rutuk Jiyeon dalam hatinya. Tiba-tiba gadis itu teringat akan sesuatu yang membuatnya melihat kearah pakaiannya.
“Hufft..” lega gadis itu karena mendapati pakaiannya tak berubah sedikitpun dari yang ia pakai kemarin. “Aku tahu kau tidak sebrengsek itu Yonghwa-ah.” Gumam Jiyeon sembari mengagumi mahakarya tuhan yang selalu berhasil membuatnya berdebar. Jiyeon mengambil jaket Yonghwa yang terjatuh saat ia terbangun tadi, dan menyampirkannya pada Yonghwa yang masih tertidur.
“Pantai?” heran Jiyeon karena baru menyadari pemandangan yang ada diluar mobil tempat dirinya dan Yonghwa berada. Semangat gadis itu langsung mencapai puncaknya melihat gulungan ombak di pagi hari. Ini pertama kalinya ia ke pantai. Tanpa berpikir panjang lagi Jiyeon langsung membuka pintu mobil dan baru saja hendak keluar sampai tangan Yonghwa menggenggam lengannya erat. Seketika itu juga Jiyeon menoleh pada Yonghwa yang sudah terbangun.
“Good morning. Bagaiamana tidurmu? Nyenyakkah?” sapa Yonghwa masih dengan mata yang belum membuka sempurna dan suara serak yang mendominasi. Jiyeon tak bisa menyembunyikan senyum lebarnya akibat perlakuan Yonghwa itu.
“Sangat nyenyak. Bagaimana denganmu?” timpal Jiyeon.
“Tentu saja nyenyak. Karena tanpa aku berdoa memimpikanmu, kau sudah ada disampingku, menemani tidurku.” Kata Yonghwa dengan senyum manisnya.
“Hahahaha..sebenarnya apa yang kau mimpikan sampai seperti orang lain begini saat terbangun?” tawa Jiyeon yang merasa geli akan kata-kata manis Yonghwa. “Apa kau mempelajarinya setelah kita putus 2 bulan lalu? Ah..itu benar-benar lucu.” Ucap Jiyeon diantara tawanya. Yonghwa yang mendengar perkataan Jiyeon langsung mengubah posisinya menjadi duduk dan selanjutnya perbincangan mereka menjadi lebih serius.
“Bisakah kita lupakan dulu kacaunya hubungan kita untuk satu hari ini? Cukup hari ini saja. Aku ingin kau dan aku melakukan apa yang ingin kita lakukan tanpa takut orang lain akan melihat kita. Aku ingin kau merasakan apa yang sebenarnya selalu ingin kutunjukkan padamu. Jadi untuk hari ini, bisakah kau masih menganggapku kekasihmu? Aku mohon.”pinta Yonghwa di akhir penjelasan panjangnya. Jiyeon merasa deburan ombak tak lagi terdengar di telinganya saat mendengar penuturan Yonghwa. Gadis itu masih terlalu takjub akan permohonan pria yang dicintainya itu.
Anggukan, hanya itu yang bisa Jiyeon berikan sebagai jawaban. Lidahnya terlalu kaku untuk berkata ‘ya’ karena otaknya yang juga masih berusaha memastikan apa yang dilihat dan didengarnya adalah sesuatu yang nyata.
“Gomapta.” Satu kata itu berhasil meyakinkan Jiyeon kalau semuanya bukanlah mimpi. Yonghwa yang menidurkannya di jok mobil yang dibuat sedemikian nyaman untuknya tidur saat ia mabuk semalam bukanlah mimpi. Yonghwa yang dilihatnya pertama kali saat ia terbangun juga bukanlah mimpi. Dan Yonghwa yang saat ini tengah menatapnya dalam dengan mata berbinar juga bukanlah mimpi. Semuanya nyata, dan Jiyeon semakin menyadari itu saat tiba-tiba bibir Yonghwa mengecup bibirnya tanpa sempat gadis itu membuat pertahanan.
“Morning kiss.” Seloroh Yonghwa seraya menjulurkan ujung lidahnya untuk menggoda Jiyeon. Wajah Jiyeon memanas sebagai reaksi dari serangan Yonghwa yang mendadak.
“Ini..ini pertama kalinya kau menciumku.” Gumam Jiyeon.
“Ya, kau benar. Selama 2 tahun kita tidak pernah melakukan apa yang sepasang kekasih biasa lakukan. Kencan, makan di restoran, nonton film, bahkan berciuman, semuanya sangat sulit bagi kita. Sebenarnya ketahuan oleh fans pun tidak masalah untukku, kau saja yang begitu khawatir aku akan terlibat skandal dan tidak mendapatkan tawaran pekerjaan.” Ujar Yonghwa dengan tangan dilipat yang dijadikannya sebagai sandaran kepala.
“Yaa! Aku hanya takut kau akan jatuh miskin. Aku mana mau berhubungan denganmu kalau kau miskin.” Dalih Jiyeon dengan mata yang tak berani menatap Yonghwa.
“Kalau khawatir bilang saja, jangan jual mahal begitu. Kau bertambah manis saat malu begitu.” Ucap Yonghwa seraya mengusak kepala Jiyeon lembut. Sementara Jiyeon hanya diam saja, persis anak anjing yang patuh pada majikannya.
“Kau mau ke pantai?” ajak Yonghwa yang diikuti anggukan semangat Jiyeon kemudian. Keduanya lalu keluar dari mobil dan berjalan menuju bibir pantai yang memang cukup jauh dari tempat mobil mereka diparkir.
***
“Hufft..lelahnya,” gumam Jiyeon saat mengambil tempat untuk duduk di pasir pantai. Yonghwa yang memang disamping gadis itu hanya menanggapi dengan senyuman kecil. Keduanya memang lelah karena terlalu banyak bermain air, lupa akan semua masalah mereka saat melihat damainya pantai.
“Sudah jam 11 siang dan kita belum mandi dari pagi. Ckck, sulit dipercaya.” Tukas Jiyeon.
“Kalau begitu ayo kita cari hotel!” ajak Yonghwa yang membuat atmosfir diantara keduanya terasa aneh terutama karena Jiyeon yang menatap Yonghwa tajam.
“Hotel? Semudah itu kau mengajak perempuan untuk ke hotel? Maafkan aku, tapi aku bukan perempuan seperti itu. kau bisa ajak seohyun kalau kau mau.” nada bicara Jiyeon mulai meninggi. Gadis itu sampai beranjak dari posisinya dan berjalan menjauhi Yonghwa, tak peduli akan tampilannya yang berantakan karena rambut dan pakaian yang basah kuyup akibat berenang tadi.
“Hahahaha.” Tawa Yonghwa yang tiba-tiba membuat Jiyeon menoleh pada pria itu. “kau pikir aku ingin melakukan yang tidak-tidak,eoh? Aku hanya ingin membersihkan tubuhku yang terasa lengket. ParkJiyeon, kenapa pikiranmu jauh sekali? Aku bahkan baru berani menciummu setelah 2 tahun, jadi mana mungkin aku melakukan hal sejauh itu dengan mudah?” tanpa ditanya, pria itu sudah menjelaskan alasan dibalik ajakannya.
“Jinjja?” tanya Jiyeon polos.
“Jinjjaya. Lagipula aku juga berniat menyewa dua kamar untuk kita. Kkaja!” Yonghwa yang meyakinkan Jiyeon lalu berjalan menyusul gadis itu agar dapat berjalan berdampingan. Hanya senyum malu yang dapat ditampakkan oleh Jiyeon kali ini. Ia bahkan berpikiran seburuk itu hanya karena Yonghwa menciumnya tadi pagi. “ParkJiyeon, kau gila!” gumamnya pelan.
“Ne?” tanya Yonghwa yang samar-samar mendengar gumaman tidak jelas Jiyeon.
“Aniya. Aku hanya berpikir kita harus membeli baju ganti terlebih dahulu.” Kilah Jiyeon yang diikuti anggukan setuju Yonghwa. Keduanya lalu berjalan menuju mobil yang mereka tumpangi saat datang.
“Tapi Jiyeon-ah..kau yakin tidak apa-apa jika aku mengajak seohyun ke hotel?” goda Yonghwa saat keduanya berjalan sambil berpegangan tangan. Jiyeon menoleh cepat pada Yonghwa. Wajah gadis itu terlihat tidak terima namun berusaha ditutupinya.
“Aku..tidak apa-apa, sungguh. Lagipula aku bukan siapa-siapa lagi untukmu.”jawab Jiyeon akhirnya seraya melepaskan genggaman Yonghwa diantara jari-jarinya. Gadis itu seakan baru saja tersadar akan kenyataan yang menghimpitnya dan membangunkannya dari mimpi indahnya. Yonghwa menatap pada tangannya yang baru saja dilepaskan oleh Jiyeon. Ia sama sekali tidak memprediksi jawaban seperti itulah yang akan diberikan oleh Jiyeon.
“Hey, bukan itu jawaban yang aku harapkan. Aish, jinjja, aku ini hanya ingin membuatmu cemburu, bukan pasrah begitu.” Tukas Yonghwa sembari menautkan kembali tangannya pada tangan Jiyeon.
“Yonghwa-ah, kita sudah tidak..”
“Ayo kita beli baju!!” seru Yonghwa tak ingin mendengarkan sanggahan Jiyeon.
***
ParkJiyeon mengerjap-ngerjapkan matanya, berusaha menghilangkan pandangan buram yang mendominasi penglihatannya. Gadis itu terbangun dari posisi tidurnya dan sibuk memandang sekeliling. Tak ada satu barang pun di ruangan itu yang ia kenal. Tentu saja, gadis itu baru saja terbangun dari tidur siangnya di sebuah kamar hotel yang ada di tepi pantai.
“Ini semua bukan mimpi.” Gumam gadis itu meyakinkan dirinya sendiri. Perlahan gadis itu berdri dan melangkah menuju balkon yang jendelanya tak sempat ia tutup sebelum tidur, menyebabkan gorden warna putih gading melambai mengikuti arah angin.
Jiyeon tersenyum lepas melihat pemandangan yang disuguhkan dihadapannya kini. Pantai benar-benar terlihat indah dan terasa dekat dilihat dari balkon hotel di lantai 3 itu. Jiyeon mengedarkan pandangannya kearah lain, dan tersenyum hangat mendapati Yonghwa sedang menatapnya dari balkon tepat disamping kamarnya. Dilihatnya pria itu sedang memainkan ponselnya tanpa melepaskan pandangannya sedikitpun.
Jiyeon menjengit saat sesuatu di saku jaketnya bergetar hebat. Dengan gerakan cepat gadis itu mengangkat panggilan masuk di ponsel yang menjadi penyebab utama getaran itu tercipta. “Yonghwa? Untuk apa dia menelpon padahal jarak kami sedekat ini?” tanya Jiyeon.
“Apa tidurmu cukup, putri tidur?” suara Yonghwa langsung terdengar di telinga Jiyeon tepat saat gadis itu menempelkan benda persegi panjang itu ke telinganya.
“Maaf. Aku ketiduran.”
“Mana ada putri yang membiarkan pangerannya menunggu lama, huh? Aku hampir saja mati bosan karena tidak ada yang bisa kuajak bicara saat kau tidur tadi.” Ujar Yonghwa dengan ekspresi kesalnya yang dapat dilihat langsung oleh Jiyeon.
“Maaf..” sesal Jiyeon seraya menampilkan ekspresi menyesalnya yang selalu berhasil membuat Yonghwa luluh seketika.
“Baiklah,kau tahu aku tidak pernah bisa tahan melihat wajah memelasmu. Sekarang lebih baik kau bersiap, lalu tunggu aku didepan pintu kamarmu.” Ucap Yonghwa lalu mematikan sambungan telpon secara sepihak. Pria itu juga langsung melesat masuk kekamarnya, sehingga Jiyeon tak bisa memprotes lagi.
“Tch, pria abnormal ini.. bagaimana aku bisa begitu mencintainya?” ujar Jiyeon bermonolog.
Tok tok tok. Sebuah ketukan pintu mengalihkan perhatian Jiyeon dan membuat gadis itu berjalan menuju pintu. Jiyeon hanya bisa menatap tidak percaya pria dihadapannya yang muncul saat ia membuka pintu.
“Yaa! Ini bahkan belum lima menit sejak kau memutus sambungan telpon. Bagaimana –“ protes Jiyeon begitu tahu Yonghwa sudah datang menjemputnya.
“Maaf aku terlambat. Jalanan hari ini macet karena ada kecelakaan.” Kata-kata Yonghwa berhasil membuat Jiyeon terbengong-bengong memikirkan apa yang salah dari pria itu sampai bersikap seakan-akan mereka adalah sepasang kekasih pada umumnya.
“Yonghwa-ah…kau pasti lelah. Masuk saja dulu untuk minum.” Tawar Jiyeon meladeni tingkah aneh Yonghwa.
“Tidak. Aku belum siap bertemu ayahmu.” Jawab Yonghwa sementara Jiyeon menahan tawanya.
“Arraseo. Kalau begitu kau mau membawaku kemana hari ini?”
“Kemana ya? Karena kita sudah terlalu sering ke lotte world, nonton bioskop ataupun ke N tower, bagaimana kalau hari ini kita berjalan-jalan di bibir pantai saja?”
Jiyeon mengiyakan ajakan Yonghwa itu sambil berusaha keras menahan senyumnya yang selalu saja muncul tiap kali memikirkan betapa bodohnya tingkah mereka. Lotte world? Nonton film? N tower? Tak pernah sekalipun mereka pergi ke tempat itu, tempat pasangan normal menghabiskan waktu bersama.
Yonghwa membimbing Jiyeon menuju sepeda yang terparkir manis didepan hotel. Sepeda putih itu memang sudah disewanya sebelum Jiyeon terbangun tadi.
“Siap? Go.” tanya Yonghwa pada Jiyeon yang kini melingkarkan lengannya di pinggang Yonghwa. Dalam hitungan detik benda putih itu sudah melaju menyusuri jalanan. Sesekali Jiyeon memekik pelan karena kecepatan sepeda yang dikendarai Yonghwa itu.
“Yonghwa-ah, kurangi kecepatannya!” teriak Jiyeon berusaha mengalahkan angin pantai yang berhembus kencang.
“Apa? Tambah kecepatan? “ goda Yonghwa lalu mempercepat laju sepedanya. Jiyeon mempererat pegangannya pada pinggang Yonghwa sementara pria didepannya masih sibuk menertawai ketakutannya.
“Yonghwa-ah, awas ada anak anjing!” ujar Jiyeon memperingatkan, Yonghwa yang tak cukup siap akhirnya hilang kendali dan akhirnya keduanya terjatuh.
“Aw..sakit.” rintih Jiyeon meratapi lututnya yang terluka karena terjatuh.
“Mana? Biar kulihat?” tanya Yonghwa panik. Jiyeon hanya diam saat melihat Yonghwa sibuk meniup lukanya.
“Yaa! Itu tidak ada pengaruhnya.” Protes Jiyeon yang sebenarnya cukup geli melihat tingkah Yonghwa yang seperti anak kecil.
“Lalu apa yang harus aku lakukan agar ada pengaruhnya?” tanya Yonghwa kesal melihat Jiyeon menertawai kepanikannya. Sementara gadis itu menatap sekelilingnya, mencari jawaban atas pertanyaan Yonghwa.
“Belikan aku es krim.” Sahut Jiyeon lengkap dengan senyumannya.
***
Kedua pasang mata itu memandang lurus pemandangan indah dihadapan mereka. Pantai pada saat senja memang tak diragukan lagi keindahannya. Matahari yang hampir selesai menjalankan tugasnya perlahan-lahan bergerak menuju peristirahatannya yang seakan-akan berada didasar laut sana. Membuat sinar-sinarnya membias indah pada air laut yang sekarang terlihat berkilauan. Langit yang berwarna oranye dan burung yang berterbangan menambah keelokannya.
Yonghwa dan Jiyeon menatap pemandangan yang mirip lukisan itu dalam diam. Selain karena terlalu indah juga karena mereka sedang menikmati es krim di tangan mereka masing-masing.
“Sebentar lagi malam.” Ucap Jiyeon tiba-tiba dengan wajah menunduk menyembunyikan kekecewaannya karena hari ini harus berakhir.
“Ya, sebentar lagi malam. Tapi kenapa kau murung begitu?” tanya Yonghwa akhirnya yang dibalas Jiyeon dengan gelengan kuat.
“Tidak apa-apa. Aku hanya berpikir mimpiku seharian ini akan berakhir malam ini dan besok kita harus menjalani aktivitas kita seperti biasa. Kau dengan pekerjaanmu dan aku dengan pekerjaanku.” Tanpa disadari oleh dirinya sendiri, Jiyeon mengeluarkan apa yang membuatnya bahkan tidak bernafsu untuk menghabiskan es krim vanila ditangannya.
Yonghwa menggeser duduknya menjadi lebih dekat dengan Jiyeon. Pria itu tahu betul apa yang ditakuti Jiyeon sebenarnya juga apa yang ditakuti oleh dirinya sendiri. Ia begitu takut kehilangan gadis itu, rasanya tak bisa menjalani hari-hari seperti 2 bulan terakhir dimana tak ada Jiyeon yang menghilangkan rasa lelahnya, penyemangatnya.
Hening. Keduanya kembali sibuk dengan pikiran masing-masing. Terlalu takut untuk mencurahkan isi hati pada satu sama lain. Takut kalau apa yang mereka pikirkan berbeda. Yonghwa tiba-tiba berdiri lalu mengambil batang pohon yang terletak tak jauh darinya. Tangannya mulai enggerakkan tangkai pohon itu untuk menulis sesuatu di pasir pantai. Sementara Jiyeon hanya diam walau matanya tak bisa lepas memandangi apa yang ditulis Yonghwa.
‘Sekarang saatnya kita mengucapkan selamat tinggal pada malam’ itulah kata-kata yang dapat dibaca Jiyeon.
“Selamat tinggal? Apa itu artinya kami tak akan bertemu lagi?” tanya Jiyeon dalam hatinya. Sebenarnya gadis itu sangat menyukai malam hari karena hanya pada saat malamlah ia bisa bertemu Yonghwa. Oleh karena itu saat Yonghwa mengatakan dirinya harus mengucapkan selamat tinggal pada malam, bukankah itu berarti sama saja dengan berpisah? Mata Jiyeon berkaca-kaca mendapatkan kesimpulan itu.
“Kau kenapa Jiyeon-ah?” panik Yonghwa yang melihat setetes air meluncur begitu saja dari mata gadisnya. Jiyeon hanya menggeleng seraya tersenyum lalu mengusap pipinya asal. Tanpa peduli tatapan heran Yonghwa, gadis itu menggapai tangkai kayu dan menulis balasan untuk kalimat Yonghwa.
‘Selamat tinggal malam. Kurasa aku akan merindukan bintangmu nantinya.’ Tulis Jiyeon lalu meletakkan es krimnya yang sudah mencair diakhir kalimat.
“Yaa! Apa-apaan ini. Bukankah bintang yang kau maksud itu aku? Lalu kenapa kau bilang akan merindukanku?” tanya Yonghwa tak mengerti.
“Bukankah maksud dari perpisahan dengan malam berarti kita juga berpisah dan tidak akan bertemu lagi?” tanya Jiyeon lugu sementara Yonghwa memberikan senyum simpulnya. Pria itu kembali menulis sesuatu di pasir pantai dibawah kalimat yang ditulis Jiyeon.
‘Selamat tinggal malam = tak perlu menunggu malam, karena kita dapat bertemu dari pagi hingga malam,’
Jiyeon memiringkan kepalanya bingung dengan apa yang dimaksud Yonghwa. “Kenapa bisa bertemu dari pagi sampai malam? Kau tidak berniat berhenti jadi penyanyi bukan?” tanya Jiyeon cemas, kontras dengan Yonghwa yang kini semakin tersenyum lebar.
“Tidak.”
“Lalu apa arti dari –“
“Karena aku ingin kita menikah.” Singkat Yonghwa namun berhasil mematikan fungsi otak Jiyeon untuk sementara. Gadis itu perlu beberapa kali mengulang kata-kata itu di otaknya sebelum akhirnya mengerti dan terlonjak akan pernyataan pria dihadapannya.
“Kau pikir menikah itu semudah membalikkan telapak tangan? Kalau bercanda jangan keterlaluan begini.” Ujar Jiyeon berusaha menghilangkan harapannya yang mencuat.
“Siapa bilang aku bercanda? Aku sudah muak selalu cemburu padamu seperti akhir-akhir ini. Tapi disisi lain aku tidak berhak atas dirimu karena aku bukanlah siapa-siapamu. Aku juga benci hanya bisa bertemu di malam hari, tidak seperti pasangan lain yang bisa berkencan kapanpun mereka mau, bisa melihat wajah kekasihnya kapanpun.” Jelas Yonghwa, meyakinkan gadis didepannya kalau ia tidak main-main. “Maka dari itu, tinggalkanlah choi jong hoon dan menikahlah denganku.” Pinta Yonghwa diakhir kalimatnya.
Jiyeon terdiam, begitupun Yonghwa. Suara ombak dan pekikan burung melatarbelakangi kediaman mereka. Sementara matahari semakin menenggelamkan dirinya pada hamparan laut.
Jiyeon kembali mengambil tangkai kayu dan menuliskan jawabannya.
‘Goodbye nigt! Karena aku tidak perlu menunggumu lagi untuk melihat bintangku. Terima kasih banyak atas kerjasamanya 2 tahun terakhir,’
Yonghwa tersenyum puas menatap jawaban Jiyeon. Rasanya ingin pria itu melompat ke laut untuk melampiaskan rasa bahagianya.
“Kau kurang huruf H di kata night. Makanya jangan sok inggris, sudah tahu lemah di bahasa ingris tapi masih saja sok bisa.” Cibir Yonghwa lalu menambahkan huruf H pada kata night yang ditulis Jiyeon.
“Baiklah, akan kuhapus tulisanku itu!” kesal Jiyeon lalu berusaha menginjak-injak tulisannya agar terhapus.
“Yaa! Siapa bilang kau boleh menghapusnya?” Yonghwa sibuk menghalangi aksi Jiyeon.
“Biarkan saja. Persetan dengan pernikahan. Aku benci padamu, Yonghwa bodoh, lebih bodoh dari orang yang tak bisa bahasa inggris. Pria mana yang akan membuat kesal kekasihnya saat melamar huh?” umpat Jiyeon lalu mengambil langkah menjauhi Yonghwa.
Yonghwa berjalan cepat untuk menghentikan Jiyeon. Pria itu memposisikan tubuhnya tepat didepan Jiyeon sehingga gadis itu tak dapat melanjutkan langkahnya. Jiyeon menatap sinis Yonghwa yang kini terlihat memelas.
“Apa lagi sekarang? Kau masih ingin memperistri gadis bodoh sepertiku?senang mempermainkanku?” sinis Jiyeon.
“Siapa yang mempermainkanmu? Apa kau tidak baca artikel yang kemarin mengulas tentangku? Disana ada pertanyaan tentang seperti apa tipe wanita idealku. Kau tahu aku jawab apa?” tanya Yonghwa sejenak membuat Jiyeon berpikir namun akhirnya memilih mengangkat bahunya.
“Aku menjawab wanita idealku adalah seorang gadis yang suka merawat orang yang terluka dan bodoh di pelajaran bahasa inggris.” Jawab Yonghwa yang berhasil membuat Jiyeon tersenyum namun ditahannya.
“Jinjja? Kalau begitu aku tidak jadi pergi menemui choi jong hoon. Aku disini saja bersamamu.” Seru Jiyeon sembari menyunggingkan senyum khasnya. Sementara Yonghwa mengernyit mendengar nama saingannya disebut.
“Jadi tadi kau berniat pergi untuk menemui dokter choi?” tanya Yonghwa berpura-pura marah. Jiyeon yang bergidik ngeri melihat ekspresi Yonghwa akhirnya mengambil langkah seribu. “Jangan lari kau Jung Jiyeon!” pekik Yonghwa sebelum akhirnya berlari mengejar Jiyeon kearah bibir pantai.
Keduanya kembali bermain air tak peduli sore yang kini sudah berganti malam. Kebahagiaan terpancar jelas dari wajah mereka.
“kita basah kuyup lagi.” ujar Jiyeon yang kemudian mendatangkan ide di kepala Yonghwa.
“Ayo kita ganti baju di hotel. Aku akan memesan satu kamar saja kali ini.” Tukas Yonghwa diikuti kekehan jahilnya. Jiyeon membulatkan matanya mendengar ide konyol itu.
“Dasar piktor!” seru Jiyeon lalu kembali menyerang Yonghwa dengan air laut yang dilemparnya.
~~~THE END~~~

Eotte? Bagus jeleknya tulis aja di comment ya…saya menerima kritikan yang membangun kok, asal jangan kritikan yang dipendem dalam hati, eciee haha..makasih udah komen buat yang komen, dan makasih udah berkunjung buat yang ngga komen^^

11 tanggapan untuk “Goodbye Night !

  1. Hiiiii meskipun simpel tapi so sweet bangettt.. Aku ngebayanginnya jiyeon lg imut imut nya.. Hhehe
    asik kali ya kalo aku mabuk terus tidur di depan dorm nya SJ atau TVXQ.. Hyaaaaa!! Ngebayanginnya aja udah buat geregetan..
    Terus terus asik juga kali ya kalo main air di pantai sama Leeteuk kalo enggak jaejoong KYAAAAA!! Jiwa ku sudah terbang sekarang padahal baru ngebayangin doang..
    Lagi lagi lagi dong fanficnya!

  2. Deabak!!! walaupun artis nih ceritanya yonghwa tuh jaga jiyeon bgt dan baru berani nyium stlh hubungan mrk brjln 2th
    tapi agak gk puas nih ama endingnya. padahal berharap bgt jiyeon jg panjang lebar jelasin semua kesalah gahaman di antara mrk ttg choi jong hoon
    kyaaaa,, aku tuh seneng bgt lho jong hoon ikut nyelip di cast gkgk namja tampan dg face calmly tapi dg sifat yg agak bad boy ❤ jong hoon #plakkk
    i like CN Blue and FT Island member. mumumu XD
    ayo berkarya lagi thor. . post ff jiyeon lg di wp ini jebaalllll

  3. Ahhh so sweet bgttyt.. jdi pengen baca ff yonghwa dan jiyeon lg … huhuhuhuhuhu

    Di tu ggu ff jiyeon lg .okeee

  4. aih ini couple bikin gemes..
    krng sling terbuka.. jd kaya gtu
    udh jls” sling cmburu.. bka’na ju”r mlh psh..
    nyesel kan…
    untung balikan lg.. mw nikah lg..
    Senengnya 😀

  5. Pertama’nya Sedih… Yonghwa putus ama Jiyeon tapi akhr’nya bikin senyum lagi… 😀
    sweet bnget ending’nya…

    D’tunggu FF Jiyeon lain’nya… 😀

  6. Kyab daebak. Kereen bnget sequelnya. Ah mereka putus bikin ikutan stres. Untng balikan lg!

    Chukkae thor udah lulus.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s