fanfiction · ONESHOT

Unpredictable Meeting


unpredictable meeting oneshoot

Title                 :           Unpredictable Meeting

Author             :           Han Rae In

Genre              :           Romance, friendship,sad, family

Length             :           Oneshoot

Rating              :           PG-15

Cast                 :           – Moon Chae Won

-Song Joong Ki

Other cast       :           -Moon Joo Won

-Park Bo Young

-Jung Eunji

-Seo In Guk

-Park Shi Hoo

-Moon Geun Young

Note    :    Halo semuanya! Saya kembali nih! Seneng ngga? Pasti senenglah..udah ngaku aja, ngga usah pake gelengin kepala segala. Pura-pura ngga kangen lagi~ (readers: apa banget sih ini author heboh sendiri-.-) baiklah, lupakan!

Intinya saya buat oneshoot lagi, haha. Tadinya mau lanjutin my precious, tapi yg muncul justru ide cerita oneshoot, jadi jangan salahkan saya,hehe. Btw, kali ini author pake castnya bukan jiyeon, jadi kalau ada yg ngga suka tolong jangan nge-bash yaa…o iya, disini ada 4 couple dari drama n film yg saya tonton(dasar author maruk), yaitu chae won-joong ki (nice guy),eunji-in guk (reply 1997), bo young-joo won (don’t click—> ini film horor lho), dan geun young-shi hoo (cheongdamdong alice). Kekeke~

Baiklah,cukup sekian. Happy reading, good readers^^

~~Unpredictable Meeting~~

Langit kota seoul menggelap seiring jarum jam yang bergerak dan menunjukkan pukul 8 p.m. namun jalanan di ibukota korea selatan itu semakin dipenuhi dengan pejalan kaki maupun kendaraan. Begitupun dengan bangunan-bangunan pencakar langit yang justru semakin memancarkan pesonanya lewat kerlap-kerlip lampunya. Malam bukan alasan bagi kota ini untuk tidur.

Sorak-sorai dan riuh tepuk tangan terdengar dari sebuah bangunan diantara bangunan lainnya. Bangunan itu memang sudah disewa untuk acara resepsi pernikahan. Didalamnya para tamu undangan asyik berbincang dan tertawa satu sama lain, amat kontras dengan ekspresi seorang wanita diantara mereka. Wanita bergaun peach dengan make up natural namun cantik itu terus menerus memasang ekspresi sendunya sejak awal pesta dimulai.

“Chae Won,” panggil seorang wanita lainnya pada wanita bergaun peach. Perempuan yang dipanggil Chae Won itu dengan enggan menoleh pada wanita bergaun merah yang memanggilnya.

“Ada apa, Eunji-ah?” tanya Chae Won lemah pada sahabatnya itu. Sementara perempuan bernama Eunji hanya menatap iba pada Chae Won.

“Apa kau mau minum?” tanya Eunji seraya menyodorkan gelas berisi orange juice yang langsung ditolak Chae Won dengan gelengan lemahnya. Lagi-lagi Eunji menatap dalam Chae Won, ia semakin tak tega pada sahabatnya itu.

“Chae Won, aku mohon jangan seperti ini. Jangan terus menatap mereka dengan pandangan seperti itu. Aku tidak tega melihatmu kacau begini sementara Joo Won dan istrinya Park Bo Youngsedang tertawa bahagia menikmati pesta pernikahan mereka di depan sana. Sungguh, aku tidak mau melihatmu begini,Chae Won-ah,” suara Eunji meninggi dengan mata yang berkaca-kaca saat mengeluarkan kata-katanya itu.

“Kalau bisa memilih aku juga akan melakukannya, Eunji-ah. Tapi aku tidak bisa. Aku butuh waktu,” jawab Chae Won dengan suara rendah tertahan. Mata sendunya tak lepas dari pasangan pengantin yang sedang bercanda ria didepan sana, tampak bahagia.

Eunji menepuk bahu Chae Won lembut. Ia tahu dirinya harus memberi waktu pada Chae Won. Namun, ia tetap harus berusaha mengalihkan pandangan Chae Won dari Joo Won, mantan pacar Chae Won yang sekarang sudah berstatus suami orang itu.

“Chae Won-ah, kau pantas mendapatkan pria yang seratus kali lebih baik dari Joo Won brengsek itu. Lihat pria di ujung sana!” seru Eunji antusias seraya menunjuk seorang pria berperawakan tinggi juga tampan yang tidak jauh dari mereka. Eunji sedang berusaha mengalihkan perhatian Chae Won. Chae Won hanya menurut, mata indahnya kini ikut memperhatikan pria dengan jas dan kemeja warna hitam itu.

“Lihat! Dia tampan sekali. Dan aku yakin dia bukan orang sembarangan,” tukas Eunji yakin.

“Darimana kau tahu?” tanya Chae Won yang sebenarnya enggan, namun tidak tega melihat keantusiasan temannya itu.

“Kau lihat jam tangannya?” Chae Won mengangguk. “Jam tangannya itu limited edition. Hanya ada 10 di dunia, jadi kau bisa perkirakan sendiri berapa harganya. Kudengar jam tangan itu juga bisa diukir nama dibaliknya. Ckck, kaya sekali dia,” kagum Eunji. Sedang Chae Won yang sejak awal memang tidak tertarik hanya bisa menatap datar pria yang dipuji Eunji itu. Itupun hanya sebentar, karena lagi-lagi Chae Won mengalihkan perhatiannya pada Joo Won yang kini sedang berbisik pada istrinya, lalu keduanya tertawa bersama.

Sakit. Kata sederhana itu yang menggambarkan hati Chae Won kini. Tanpa sadar tangannya menyentuh bagian dadanya yang teramat sesak baginya. Sesak yang tak ada obatnya.

Eunji memandang Chae Won khawatir, namun teralihkan saat seorang pria menghampiri mereka.

“Eunji-ah, Chae Won-ah, kalian disini rupanya,” pria itu membuka mulutnya sesampainya ia dihadapan Eunji dan Chae Won. Dengan cepat Eunji memeberi isyarat lewat mimik wajahnya agar pria itu membantunya menghibur Chae Won. Pria itu memperhatikan wajah Chae Won yang sekarang tampaknya ingin menangis. Tak lama setelahnya, perempuan itu sibuk mengetik pesan singkat di handphonenya. Entah untuk siapa.

“Chae Won-ah,” suara pria itu memanggil Chae Won.

“Eunji-ah, In Guk-ah, aku ke toilet dulu,” pamit Chae Won tiba-tiba, tak peduli akan panggilan In Guk. Eunji dan In Guk, pasangan kekasih itu hanya bisa menatap punggung Chae Won yang menjauh, dan mendoakan yang terbaik untuk sahabat mereka itu.

***

            Seorang pria berumur sekitar 28 tahun tengah mengetuk-mngetukkan jarinya pada badan gelas yang dipegangnya. Sesekali ia meneguk minuman yang ada didalam gelas itu dengan mata yang tak lepas dari pasangan suami istri pemilik pesta yang dihadirinya saat ini. Bibirnya membentuk smirk saat melihat pasangan pengantin itu mengumbar kemesraan dengan bebasnya.

“Park bo young. Puaskah kau mempermainkanku?” batinnya. Untuk yang ke sekian kalinya ia menampakkan smirk yang sulit diartikan.

Pria itu bernama lengkap SongJoong Ki. Seseorang dengan segala kemudahan dalam hidupnya. Posisinya yang sangat penting di sebuah perushaan IT terbesar di korea selatan membuatnya tak pernah kesulitan akan uang. Dan perawakannya yang tampan juga memudahkannya untuk mendapatkan wanita manapun yang ia inginkan.

“Joong Ki-ah, berhenti memandangi Park Bo Youngseperti itu! Apa kau masih mencintainya?” suara Joong Kok, teman dekat Joong Ki.

“Cinta? Kau lucu sekali, Joong Kok-ah,” ujar Joong Ki santai, sama sekali tak menunjukkan ekspresi kesal ataupun marah di wajahnya.

“Haha, benarkah? Kupikir kau sudah berubah menjadi pria melankolis sejak diputuskan sepihak oleh bo young-ssi, lalu gadis itu menikah dengan pria lain,” ejek Joong Kok. Joong Ki tersenyum mendengarnya.

“Itu tidak mungkin, Joong Kok-ah. Aku bahkan hanya berpacaran 2 bulan dengannya sebelum akhirnya kami putus kemarin. Tak ada alasan bagiku untuk menangisi wanita seperti dia,” jawab Joong Ki masih dengan pembawaan santainya.

“Baguslah. Lagipula masih banyak wanita yang menyukaimu. Lihat saja sekeliling, wanita-wanita disiniselalu memperhatikan gerak-gerikmu sedari tadi,” tukas Joong Kok. Sontak Joong Ki mengedarkan pandangannya untuk memastikan ucapan Joong Kok. Benar saja, hampir semua wanita di ruangan itu memandanginya, bahkan ada beberapa yang menatapnya secara terang-terangan.

Di antara berpasang-pasang mata yang memperhatikannya, entah kenapa tatapan pria itu terhenti pada seorang wanita yang tampak cantik dalam balutan gaun berwarna peach. Rambut tidak terlalu panjangnya tergerai , membuatnya terlihat semakin cantik. Namun bukan itu yang menarik perhatian Joong Ki, melainkan ekspresi sedih yang terpancar dari mata gadis itu. Mata sembab yang membuat Joong Ki penasaran. Apalagi saat mata gadis itu memandanginya dengan pandangan datar yang acuh.

Ada magnet dalam diri wanita itu yang membuat Joong Ki serasa tertarik untuk terus memperhatikannya.

Joong Ki melihat tiba-tiba gadis itu berjalan agak terburu-buru dengan mata berkaca-kaca. ‘Sebenarnya ada apa dengannya?’batin Joong Ki. Gadis itu terus berjalan dengan handphone digenggamannya. Mungkin airmata di pelupuk matanya menyulitkannya untuk melihat dengan jelas, sehingga tanpa sadar gadis itu menabrak seorang pelayan. Cukup keras, sampai gelas-gelas diatas nampan si pelayan bergoyang.

“Maafkan aku,” ujar gadis itu lemah sembari memungkukkan tubuhnya sebagai tanda permintaan maaf. Tanpa menunggu jawaban dari si pelayan, gadis itu kembali melanjutkan langkahnya.

Saat itulah Joong Ki melihat sebuah benda berwarna perak melayang dan jatuh tepat di ujung sepatunya. Joong Ki membungkuk untuk mengambil benda berkilau itu.

“Gantungan handphone?” tanyanya heran. Tiba-tiba terlintas di otaknya insiden saat gadis itu menabrak pelayan. Wanita itu terus memgangi handphone, dan jatuhnya gantungan itu persis sama dengan insiden terjadi.

Joong Ki mengedarkan pandangannya, mencari keberadaan gadis tadi, berniat untuk mengembalikan gantungan handphonenya. Namun gadis itu sudah menghilang entah kemana.

“Mungkin nanti berteu lagi,” kata Joong Ki seraya memperhatikan setiap lekuk gantungan handphone berbentuk merpati itu. Dan tanpa sengaja ia menemukan sebuah nama terukir dibaliknya.

“Moon Chae Won? Jadi itu namanya,” Joong Ki tersenyum sebelum akhirnya menjejalkan benda perak itu kedalam saku jasnya.

***

            Joong Ki membuka pintu toilet pria dengan satu gerakan, namun segera menutupnya kembali saat dilihatnya toilet itu dipenuhi beberapa orang. Pria itu tidak suka toilet yang ramai. Tiba-tiba terlintas olehnya untuk memasuki toilet wanita yang sepenglihatannya tak ada orang didalamnya. Kakinya memutuskan untuk masuk kedalam sana.

Joong Ki menatap pantulan wajahnya di cermin. Tampan, gumamnya lalu tersenyum. Tangan kanannya kini sibuk melepaskan jam tangan berwarna hitam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya, lalu meletakkan benda itu di pinggiran wastafel. Detik berikutnya pria itu sudah sibuk membasuh wajahnya dengan air yang keluar dari keran wastafel, lalu mengeringkannnya asal dengan tisu yang ada disana.

Setelah memastikan dirinya terlihat lebih baik, Joong Ki melangkahkan kakinya kembali ke pesta. Tanpa sadar dirinya meninggalkan benda limited edition miliknya di pinggiran wastafel.

CKLEK. Terdengar bunyi pintu dibuka dari salah satu bilik di toilet itu, menampakkan seorang perempuan cantik dengan wajah kusut. Tentu saja, sudah 15 menit dihabiskan perempuan itu untuk menangisi pernikahan mantan pacarnya.

Sama halnya dengan yang Joong Ki lakukan tadi, gadis itu –Chae Won –tengah menatap pantulan dirinya di cermin. Membasuh wajahnya sebentar, lalu memoles wajahnya dengan make up seadanya. Ia tidak ingin terlihat menyedihkan didepan Joo Won. Itu yang ia pikirkan.

“Jam tangan?” gumam gadis itu sembari memandangi jam tangan yang ia temukan di pinggiran wastafel.

“Seperti pernah melihatnya. Tapi dimana ya?” Chae Won berusaha mengingat. “Ah! Pria kaya itu!” serunya teringat akan pria yang ditunjuk Eunji di pesta tadi.

“SongJoong Ki?” gumam gadis itu mengeja sebuah nama yang terukir dibalik jam tangan itu. Chae Won memutuskan untuk menyimpan saja jam itu, takut ada orang yang akan mengambilnya kalau ia biarkan.

Moon Chae Won menggerakkan kakinya keluar dari toilet setelah sebelumnya tersenyum pada cermin, memastikan tampilannya. Namun senyum itu luntur seketika saat ia kembali ke tengah-tengah pesta. Suasana pesta itu berubah, dengan kegelapan mendominasi. Hanya tersisa beberapa lampu yang memancarkan sinar warna merah dan oranye, romantis. Musik klasik pun mengalun lembut mengiringi pasangan-pasangan yang berdansa. Di antara pasangan-pasangan itu, terdapat satu pasangan yang paling mencolok karena hanya keduanya yang diterangi lampu  sorot. Ya, mereka adalah Joo Won dan bo young.

Chae Won berdia di tempatnya berdiri. Mata indahnya tak lepas memandangi pemandangan itu. Terlintas di otak gadis itu kenangan yang tak akan pernah ia lupakan.

Flashback     :     On

“Oppa, jangan lepaskan ya,” pinta Chae Won seraya menggerakkan kakinya diatas es, tempat ia dan Joo Won bermain ice skating. Joo Won tersenyum jahil, lalu melepaskan pegangannya pada tangan Chae Won saat gadis itu lengah.

“Oppa!” pekik Chae Won dengan posisinya yang aneh karena berusaha menjaga keseimbangan.

“Ayolah, berjalan saja. Jangan takut,” ujar Joo Won sembari meluncur kesana kemari mengejek Chae Won yang masih berusaha berjalan diatas permukaan es.

“Oppa, lihat! Aku bisa meluncur!” pekik Chae Won kegirangan saat ia dengan sukses meluncur tanpa bantuan kekasihnya itu. Namun kebahagiaan itu tak berlangsung lama, karena setelahnya gadis itu baru ingat kalau ia belum diajari Joo Won cara menghentikan aksi meluncurnya itu.

“Kyaa!” teriak Chae Won. Gerakannya tak terkendali.

BRUKK.            Gadis itu jatuh di sudut arena, setelah sebelumnya sempat menabrak pagar pembatas.

“Chae Won, kau tidak apa-apa? Mana yang sakit?” tanya Joo Won yang langsung menghampiri Chae Won dengan panik. Pria itu merasa bersalah tampaknya. Sementara Chae Won menanggapi pertanyaan Joo Won dengan membuang muka.

“Apa kau marah padaku? Tanya Joo Won ketika melihat reaksi Chae Won.

“Kau jahat. Sudah kubilang jangan lepaskan pegangannya,” lirih Chae Won.

“Maafkan aku. Ya?” bujuk Joo Won lembut, namun tak mendapat respon dari gadisnya. “Chae Won, mana yang sakit?” tanyanya lagi. Chae Won menunjuk bagian lutut dan tangannya.

“Ya ampun, sejak kapan pacarku yang cantik jadi manja begini?” ucap Joo Won sembari memijat bagian kaki Chae Won.

“Kau menyebalkan, oppa,” desis Chae Won dengan ekspresi sinisnya.

“Jangan marah lagi, cantik,” puji Joo Won yang membuat Chae Won tersenyum dan mengerucutkan bibirnya. Begitupun dengan Joo Won yang kini tersenyum lega.

“Sekarang, maukah kau berdansa denganku, tuan putri?” Joo Won mengulurkan tangannya, bergaya seperti seorang pangeran. Chae Won tersenyu, tak tahan akan rayuan kekasihnya. Tangannya menyambut uluran tangan Joo Won. Keduanya kembali berdiri, kemudian sambil berpegangan tangan, mereka berdansa ala kadarnya diatas licinnya es. Tak peduli dengan gerakan dansanya yang aneh juga tatapan orang sekitar. Keduanya tetap memasang senyum gembira, membuat kencan mereka saat itu bertaburan kebahagiaan.

Flashback     :     Off

***

            Wanita bernama lengkap Moon Chae Won tengah terdiam merenungi sesuatu di bangu taman yang ada di halaman bangunan. Dirinya memang memutuskan untuk menghindari pemandangan yang ada di dalam bangunan tadi. Terlalu sakit rasanya melihat Joo Won menggamit tangan wanita lain di depan matanya sendiri.

Lagi-lagi mata yang terlihat koSongitu mengeluarkan cairan bening yang tak berhenti mengalir. Chae Won mengusap kasar bagian matanya. Baru saja cairan itu membentuk anak sungai di pipinya saat ada sebuah pesan singkat masuk di handphonenya.

From  :  Shi Hoo oppa

Chae Won-ah, aku baru bisa menjemputmu setengah jam lagi

Sabar ya^^

Dan jangan coba-coba untuk naik taksi!!

            Chae Won menghela nafas membacanya, karena itu artinya ia harus bertahan lebih lama lagi di tempat yang bagaikan neraka untuknya.

“Hufft, menyebalkan sekali,” lirih Chae Won seraya mengibas-ngibaskan telapak tangannya didepan wajah, berusaha menghentikan airmatanya.

“Siapa yang menyebalkan?” suara itu berasal dari seorang lelaki yang tiba-tiba sudah berada dihadapan Chae Won. Alis Chae Won bertaut melihat kehadiran pria yang tak dikenalnya itu.

“Oh ya, boleh aku duduk disini?” tanya si pria yang tak mendapat respon apapun dari Chae Won.

“Diam adalah tanda setuju,” ucap pria itu lagi, lalu dengan santainya mengambil tempat duduk disebelah Chae Won. Sementara gadis itu menatapnya heran.

“Hei, kau belum menjawab pertanyaanku. Siapa yang menyebalkan, eoh?” pria itu bertanya lagi.

“Siapa kau sampai aku harus memberitahumu?” balas Chae Won sinis. Lelaki itu tertawa renyah menanggapi komentar tajam Chae Won.

“Aku? Aku adalah orang yang berjasa menemukan benda yang kurasa penting bagimu,” jawabnya seraya mengeluarkan gantungan bentuk merpati milik Chae Won.

“Itu punyaku. Kembalikan!” ujar Chae Won setelah memastikan benda silver yang dipegang pria aneh itu adalah miliknya. Tangan Chae Won berusaha menggapai gantungan handphonenya, namun tak sampai karena Joong Ki yang mengacungkannya tinggi-tinggi. Chae Won bahkan sudah mencoba melompat agar bisa mendapatkan barangnya kembali.

“Ayo ambil kalau bisa,” ejek Joong Ki menyebalkan.

“Ya! Jangan bermain-main de –“ high heels yang dipakai Chae Won untuk melompat-lompat membuat gadis itu kehilangan keseimbangan dan hampir jatuh kalau saja tidak ditahan oleh tangan Joong Ki. Moment itu terjadi sampai 10 detik, waktu yang cukup lama untuk Joong Ki menyadari jantungnya yang berdegup kencang secara tiba-tiba.

“Denganku,” Chae Won yang juga terbengong-bengong tanpa sadar melanjutkan kata-katanya yang terputus. Namun ada sesuatu yang disadari Chae Won setelah melihat wajah Joong Ki dari dekat.

“Kau.. apa namamu adalah SongJoong Ki?” tanya Chae Won.

“Ya? Darimana kau tahu?” respon Joong Ki yang agak terkejut. Chae Won mengeluarkan jam tangan yang ditemukannya di wastafel toilet wanita. Sedangkan joon ki terlihat terkejut awalnya, namun lama kelamaan tersenyum menyadari kebetulan itu. Kebetulan kalau mereka menemukan barang milik satu sama lain.

“Haha, kebetulan yang aneh,” tukas Joong Ki yang dijawab dengan senyuman oleh Chae Won.

“Maafkan aku. Ini milikmu, Moon Chae Won-ssi,” Joong Ki menyerahkan benda perak itu pada Chae Won.

“Dan ini jam tanganmu, Joong Ki-ssi,” Chae Won menyodorkan jam tangan itu pada pemiliknya . Joong Ki langsung melingkarkan benda penunjuk waktu itu di pergelangan tangan kirinya.

Chae Won dan Joong Ki kembali duduk di bangku taman. Peristiwa kebetulan tadi seakan menjadi pendamai diantara mereka. Kini keduanya asyik berbincang-bincang.

“Jadi, siapa pria yang kau tangisi, sampi matamu jadi seperti itu?” ujar Joong Ki menyinggung penyebab tangis Chae Won.

“Apa? Jadi sedari tadi kau memperhatikanku? Dan bagaimana kau tahu kalau yang kutangisi adalah pria?” Chae Won terheran-heran.

“Aku ini mengenal berbagai tipe wanita,” jawab Joong Ki yang direspon Chae Won dengan bibir membentuk huruf O.

“Jadi, apa kau mau menceritakannya padaku?” tanya Joong Ki. Ada sedikit paksaan dalam kata-katanya. Entahlah, pria itu juga bingung kenapa ia sangat ingin tahu lebih dalam tentang gadis bernama Moon Chae Won ini.

Chae Won terdiam. Dirinya sedang berusaha menimbang-nimbang untuk menceritakan pada Joong Ki atau tidak. “Kurasa tidakk ada salahnya. Lagipula siapa yang menjamin kami akan bertemu lagi setelah ini?” batin Chae Won.

“Kau yakin mau mendengarkanku?” tanya Chae Won memastikan. Joong Ki tampak berpikir mendengar pertanyaan wanita disampingnya, namun sejurus kemudian pria itu mengangguk yakin.

“Kenapa tidak?” balas Joong Ki. Chae Won menarik nafas, menyiaokan diri untuk bercerita.

“Kau tahu pengantin pria di dalam?” Joong Ki mengangguk menanggapi. “Pria itu adalah kekasihku. Ah, tidak, mantan kekasihku tepatnya. Gantungan merpati ini pemberiannya. Masing-masing dari kami punya satu dengan ukiran nama dibaliknya,” Chae Won mulai bercerita dengan mata yang terpaku pada gantungan merpatinya.

“Apa yang membuatmu begitu mencintainya?”

“Entahlah. Tapi kurasa karena dia adalah dewa penolongku. Dia datang saat aku terpuruk karena kematian ibuku juga ayahku yang tiba-tiba terserang stroke. Bagaikan penyelamat, ia yang adalah dokter di tempat ayahku dirawat, membantuku untuk bangkit sedikit demi sedikit. Kami memutuskan untuk menjalin hubungan. Semuanya berjalan dengan baik dan terasa amat menyenangkan bagiku. Memikirkan aku punya seseorang seperti dia saja sudah membuatku merasa beruntung. Sampai seminggu yang lalu, duniaku seperti dijungkirbalikkan. Joo Won membuat pengakuan. Sebenarnya dia sudah bertunangan dengan gadis lain jauh sebelum ia mengenalku. Dia bilang, ia mencintaiku, tapi ia tahu itu salah. Katanya ia bahkan sempat berpikir untuk membatalkan pernikahannya tapi segera kucegah. Aku sadar akulah yang pengganggu disini. Jadi akulah yang seharusnya mundur,” lagi-lagi mata gadis itu mengeluarkan airmata.

Joong Ki mengeraskan rahangnya. Pria itu tampak tidak tahan lagi mendengar cerita Chae Won. Ada rasa marah yang tiba-tiba muncul dihatinya setelah mendengar cerita gadis itu. Entah mengapa. Joong Ki memang seorang player, tapi ia tidak terima melihat gadis gadis sebaik Chae Won disakiti.

“Pria brengsek itu. Kenapa kau masih saja menangisinya?” tanya Joong Ki dengan nada yang meninggi karena menahan emosi.

“Karena aku belum bisa melupakannya,” jawab Chae Won di sela-sela tangisnya.

“Akan kubantu kau untuk melupakannya,” dengan cepat tangan Joong Ki merebut gantungan handphone dari tangan Chae Won, pria itu lalu berdiri dan meleparnya. Benda itu melayang jauh dan jatuh diantara semak-semak. Chae Won membelalakkan matanya. Kejadian tadi terlalu cepat smpai ia tidak sempat mecegah Joong Ki.

“Hey pria gila! Siapa yang mengizinkanmu membuangnya, huh?” teriak Chae Won kesal. Ia bahkan sampai berdiri saking kesalnya.

“Aku hanya membantumu. Bagaimana kau bisa melupakannya kalau kau masih mengharapkannya? Dan satu-satunya yang gila disini adalah kau! Wanita yang gila akan Moon Joo Won!” tanpa sadar Joong Ki jadi membentak Chae Won. Keinginannya untuk menyadarkan gadis itu membuatnya hilang kendali.

“Joong Ki-ssi! Kau tidak akan pernah mengerti perasaanku karena kau tidak pernah berada di posisiku!” teriak Chae Won penuh emosi. Airmatanya kembali meluncur bebas. Gadis itu memutuskan kembali duduk dengan tangisan yang semakin menjadi-jadi. Ia sudah tidak ingin menyembunyikan kesedihannya lagi. Ia sudah muak.

“Ya, aku memang tidak pernah merasakannya,” suara Joong Ki melembut dengan ata menerawang.

Hening. Joong Ki merasa bersalah pada Chae Won yang sudah tidak bergeming. Gadis itu menggosok-gosok bagian bahunya yang memang tidak tertutup kain. Joong Ki yang melihatnya langsung melepaskan jas hitam yang dikenakannya dan menyampirkannya di punggung Chae Won. Diluar dugaan Joong Ki, Chae Won sama sekali tidak menolak perlakuannya.

“Aku minta maaf, Chae Won-ssi. Tadi aku lepas kembali. Tidak seharusnya aku membuang gantungan milikmu,” sesal Joong Ki .

“Tidak. Aku yang berterima aksih padamu. Kalau kau tidak membuangnya, mungkin aku tidak akan pernah membuangnya dan terus mengharapkan Joo Won. Terima kasih Joong Ki-ssi. Kurasa tuhan telah mengutusmu untuk menyadarkanku,” Chae Won mengakhiri kalimatnya dengan sebuah senyum tulus. Senyum yang terlihat amat cantik di mata Joong Ki. Pria itu berusaha mengalihkan pandangannya dari menatap Chae Won. Hatinya terlalu senang melihat senyum cantik itu. Kini si player kena batunya.

Sebuah dering terdengar dari handphone Chae Won. Dengan cepat gadis itu mengusap tombol answer pada handphone layar sentuhnya dan menjawab panggilan masuk tersebut.

“Yeoboseyo oppa? Apa? Kau sudah sampai? Aku ada di..oppa? yeoboseyo? Oppa?” panggilan itu terputus tiba-tiba karena baterai handphone Chae Won yang habis. Gadis itu menggerutu kecil karena lupa men-charge handphonenya.

“Joong Ki-ssi, boleh aku meminjam handphonemu? Aku harus menghubungi kakak iParku,” pinta Chae Won. Joong Ki mengeluarkan benda tipis berwarna hitam dari saku celananya dan menyerahkannya pada Chae Won.

“Ya ampun, apa ini kebetulan lagi? Handphone kita memiliki model dan warna yang sama,” ujar Chae Won tidak percaya.

“Ya. Lagi-lagi,” tanggap Joong Ki.

Chae Won mengetikkan nomor yang sangat ia hafal, lalu menempelkan handphone Joong Ki pada telinganya.

“Oppa, ini aku Chae Won. Kau ada dimana? Apa? Disekitarku?” Chae Won berdiri dan melihat ke sekeliling untuk mencari keberadaan oppanya itu.

TIN! TIN! Sebuah mobil warna merah terang mengklakson Chae Won dan Joong Ki dari belakang. Sinar dari lampu depan mobil membuat keduanya harus menyipitkan mata untuk melihat mobil iseng itu. Chae Won tersenyum melihat jemputannya sudah datang.

“Joong Ki-ssi, ini kukembalikan,” Chae Won melepaskan jas Joong Ki yang dipakainya lalu menyerahkannya pada pria itu.

“Terima kasih atas jasmu ini. Terima kasih juga karena telah menyadarkanku juga menghiburku. Aku tidak akan pernah melupakanmu,” ujar Chae Won sambil tersenyum cantik. Joong Ki menahan nafas melihatnya. Tiba-tiba Joong Ki bereaksi menarik tangan Chae Won dan memeluk gadis itu. Chae Won membulatkan matanya, terkejut.

“Anggap ini pelukan sebagai teman. Chae Won-ssi, kau tidak boleh menangis lagi karena pria semacam Joo Won lagi, karena kau lebih cantik saat tersenyum,” bisik Joong Ki saat pria itu memeluk Chae Won. Chae Won melepaskan pelukan Joong Ki perlahan, lalu memukul bahu pria itu cukup keras.

“Dasar player!” cibir Chae Won bercanda. “Tentu saja tidak akan,joonh ki-ssi. Aku tidak akan menangisi dia lagi. Terima kasih sudah mengkhawatirkanku. Bye!” ucap Chae Won lalu berangsur-angsur masuk kedalam mobil.

“Sama-sama,” gumam Joong Ki seraya melambaikan tangannya sebagai tanda perpisahan pada Chae Won.

Tiba-tiba mata Joong Ki menangkap benda pada tangan yang ia gunakan untuk melambai. Pria itu baru sadar handphone Chae Won masih ditangannya, begitupun dengan handphonenya yang masih ada pada Chae Won. Keduanya lupa untuk menukarnya tadi.

Mobil merah itu masih di tempatnya, belum bergerak sedikitpun. Joong Ki bisa saja menukar handphonenya saat itu juga, namun ia mengurungkan niatnya sampai mobil itu akhirnya bergerak menjauh. Pria itu sadar insiden ini merupakan kesempatan baginya untuk bertemu lagi dengan Chae Won, wanita yang berhasil membuat player sepertinya berdebar-debar.

***

            “Oppa, kenapa lama sekali. Aku hampir saja mati karena menahan tangis disana,” protes Chae Won sesampainya ia didalam mobil.

“Kau ini. Seingatku kau menjadi pendiam sejak diputuskan Joo Won. Tapi kenapa sekarang kau kembali cerewt? Apa karena pria yang tadi memelukmu itu?” goda Shi Hoo sambil terus menyetir.

“Oppa, sejak kapan kau berubah jadi menyebalkan begini?” balas Chae Won untuk menutupi kegugupannya akibat perkataan Shi Hoo.

“Ya! Sopanlah sedikit pada kakak iparmu ini,” ucap Shi Hoo yang diikuti sentilannya pada dahi Chae Won.

“Aw!” pekik Chae Won seraya mengusap-usap dahinya yang terasa sakit. “Oppa, kau belum menjawab pertanyaanku. Kenapa telat menjemputku?” tanya Chae Won penasaran. Tiba-tiba Shi Hoo tersenyum

“Aku menemani eonnimu di rumah sakit. Katanya perutnya sakit, sepertinya ia mau melahirkan anak kami. Tapi setelah dokter bilang bayinya baru akan lahir beberapa jam lagi, aku buru-buru menjemputmu kesini,” jelas Shi Hoo dengan senyum yang terus terpasang.

“Apa? Geun Young eonni sudah akan melahirkan? Benarkah? Kya! Oppa, kau akan menjadi ayah! Chukhae!” seru Chae Won kegirangan. Lengan gadis itu hendak memeluk Shi Hoo dari samping sebagai ucapan selamat, namun gerakannya terhenti seketika ia melihat handphone yang masih digenggamnya.

“Ya ampun, ini handphone Joong Ki-ssi. Bagaimana aku bisa lupa begini?” rutuk gadis itu tiba-tiba. “Oppa, putar balik mobilnya ke tempat tadi. Handphoneku tertukar dengan pria tadi,”

“Tidak mau. Aku ingin segera sampai di rumah sakit. Kasihan Geun Young sendirian disana,” tolak Shi Hoo.

“Ayolah, oppa,” mohon Chae Won.

“Tidak. Lagipula kulihat handphone kalian sama baik merek, model maupun warnanya. Jadi anggap saja kalian tukaran. Masalah selesai,” Shi Hoo memberikan solusi sekenanya.

“Tapi didalamnya ada kartu memoriku yang isinya foto-fotoku bersama Joo Won oppa,” lirih Chae Won menunduk.

“Itu lebih bagus. Jadi kau lebih cepat melupakannya,” jawab Shi Hoo enteng. Chae Won menghela nafas. Apa yang dikatakan kakak iparnya emang benar. Ini yang terbaik, pikirnya.

Sepanjang perjalanan Chae Won jadi lebih diam. Karena iseng, akhirnya ia mengutak-atik handphone SongJoong Ki. Tangannya membuka menu pesan. Dan matanya seketika membulat melihat sebuah pesan dari nama kontak ‘Park bo young’ di handphone Joong Ki.

From  :   Park bo young

Oppa, maafkan aku. Aku ingin mengakhiri hubungan kita.

Selama ini aku sudah bertunangan, dan besok adalah hari pernikahanku.

Kuharap oppa datang. Mianhe.

Mulut Chae Won menganga tidak percaya. Tidak salah lagi, Park Bo Youngini adalah orang yang sama dengan Park Bo Youngistrinya Joo Won. Chae Won melihat tanggal pesan itu diterima. Kemarin. Pesan itu masuk kemarin. Itu artinya SongJoong Ki juga baru diputuskan kemarin. Chae Won jadi teringat perkataan kasarnya pada Joong Ki juga respon pria itu tadi

.

“Joong Ki-ssi! Kau tidak akan pernah mengerti perasaanku karena kau tidak pernah berada di posisiku!”

“Ya, aku memang tidak pernah merasakannya,”

.

Chae Won tersenyum pahit mengingatnya. Gadis itu merasa bersalah melihat kenyataan keadaan Joong Ki yang ternyata lebih parah darinya. Namun sejurus kemudian gadis itu tertawa keras mengingat jong ki yang mati-matian menghiburnya padahal pria itu jauh lebih menyedihkan.

“Dasar bodoh,” gumam Chae Won sembari tertawa keras. Shi Hoo menatap heran pada Chae Won sebelum akhirnya menghentikan mobilnya di pinggir jalan.

“Chae Won, kau tidak jadi gila hanya karena perkataanku tadi, kan?” tanya Shi Hoo panik melihat adik iparnya tertawa sendiri layaknya orang stres. Tangan pria itu menyentuh dahi Chae Won untuk mengukur suhu tubuh gadis itu.

“Oppa, kau ini apa-apaan sih? Aku tidak apa-apa. Kenapa kau menghentikan mobilnya?” tanya Chae Won masih mengumbar senyumnya.

“Kau yakin baik-baik saja?” tanya Shi Hoo memastikan.

“Tentu saja. Cepat jalankan mobilnya ke rumah sakit,”

“Rumah sakit? Rumah sakit jiwa maksudmu?” tanya Shi Hoo bodoh.

“Tentu saja rumah sakit tempat Geun Young eonni ingin melahirkan. Aku kan juga ingin melihat keponkanku lahir,” jawab Chae Won.

“Syukurlah, kau masih normal,” Shi Hoo menjalankan mobilnya kembali.

Chae Won mengalihkan pandangannya ke jendela mobil untuk melihat pemandangan diluar sana. Bibirnya membentuk senyum. Suasana hatinya sudah jauh lebih baik sekarang. Sejak seminggu lalu ia selalu memvonis dirinyalah yang paling menderita, padahal ternyata Joong Ki juga mengalami yang ia rasakan. Setidaknya ia lebih beruntung. Gadis itu merasa harus berterima kasih lagi pada Joong Ki.

~~~END~~~

26 tanggapan untuk “Unpredictable Meeting

  1. Chinguu… aq suka ff ini logh…
    Tp syg bgt ga dlajut,,,
    Tp sblumnya aq juga dpt bca unpredictable meeting tp cast berbeda…
    Aq rasa it punya author ini juga,,,
    Hohohotjor bisa tolong kirim aq linknya… dtambah dengan kelanjutan ff nee…
    Thx thooor

  2. Hihihi… baca ini gegara suka ChaeKi Couple ^^
    Aduuuh, di lanjut dong thor… ini gantung lho. Chaeki harus ktmu lagi ya.

  3. annyeong thor q readers baru nih..baru nemu ff ini tepatnya krn q bru suka chaeki couple (efek nonton nice guy, telat bngt kn..hee)
    q suka bngt ffnya..awalnya q pikir ini ff kok alurnya pelan bngt utk sebuah oneshoot tp pas slse baca q sdar klo ff ini certanya belum slse (menurutku sh)
    q pkir ff ini perlu sequel deh thor mengingat akhirnya yg ngegantung bngt..hee
    tp overall ff ini bagus..alurnya dan cara penggambarannya juga jelas bngt..keren deh thor..
    semangat author ^_^

    1. terusannya ada, tapi castnya minji..soalnya kebanyakan visitor blog ini queens jadi aku nerusinnya yang minji version deh..tapi kalau kau mau baca juga, judulnya ‘unpredictable dating’..maaf bikin bingung,hehe
      oh iya, aku bakal bikin sequel dari unpredictable dating kalau commentnya udah banyak..gomawo^^

  4. Halo, salam kenal 🙂
    Aku readers baru disini^^
    Aku suka ChaeKi couple, dan FF ini bagus banget!

    Keep writing, ya!
    Buat FF dengan main cast mereka lagi yah, hehee 😀

  5. thor, aku suka sih,,tapi bisa ngga, castnya diganti jadi jiyeon?ya?yaya?
    please thor..bikinin jiyeon ver. nya..ya?
    but it’s a good ff

  6. Anyeong jaemin datang~
    hahahaha saya bukan ilsung yang akan bertanya author makan apa. Saya juga bukan rinmi yang akan komen yang aneh aneh.
    Tapi saya binggung mau ngomong apa. Yang jelas~
    AKU SUKA FANFIC INI AKU SUKA.
    AKU MAU KOMEN 😀

    1. ngga dateng juga ngga apa2..hush!hush! haha *bercanda*
      terus anda bingung/ itu artinya anda lebih aneh dari il sung dan rin mi -_-
      aku juga suka siwon..aku mau siwon,haha

  7. Thor I am here, Daebak thor!
    Ceritanya bgus bngt. Walau saya sering heran sama jalan pikiran author:D hehe*evil laugh oh hanii*
    itu sebelum menjelang end kayaknya ada setitik pesawat yang mau jatuh dari kejauhan ya thor hahah:p

    1. iya, author juga tau anda disini-.-
      really? haha makasih..saya juga heran sama anda yg selalu terheran2 hehe *kyu’s evil laugh*
      ngga nanya saya makan berapa sendok sehari?
      bukan, itu bukan pesawat, tapi lobang tikus diliat dari jauh, haha..

  8. wahh, jadi itu toh penyebab chae won nangis terus..
    pantes, abis kayaknya joo won perhatian plus baik banget pas pacaran sama chae won
    tapi melepaskan yg baik (joo won) buat dapetin yg lebih baik lagi (joong ki) itu pilihan yg tepat, hahaha *evil laugh
    lanjuut thor, sequel~

    1. iya, bener, kan joo won cinta beneran, cuma karena keadaan akhirnya mereka putus,,
      haha, dasar.. mau yg ganteng–> joong ki
      sequel? ditampung ya sarannya

  9. ommo~
    chae won, why are you so sad girl?
    seru thor!! d(^^)b…bikin sequelnya thor, coz ini cerita kayaknya gantung amat
    tapi bagus..hehe

    1. wah,songnara readers baru ya? bangapseumnida~
      iya makasih,sequel ya? liat entar komen yg lain dulu deh ya
      setelah itu baru saya pikirkan sequelnya,hehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s